Akhir-akhir ini isu-isu mengenai pemilihan “mahasiswa berprestasi” alias mapres dikampus saya sudah mulai memanas. Banyak sahabat-sahabat saya yang sudah mulai ngomporin teman-teman yang lain untuk ikutan ajang yang satu ini. Ada 4 orang yang saya tahu paling getol menggencarkan kampanya pemilihan mapres ini. Mereka adalah Sidicx, Ilman, Chandra dan Hening. Salut buat 4 orang tersebut, yang penuh semangat, yang penuh gairah untuk berprestasi. Jujur-sejujur-jujurnya saya agak ngiri sama mereka yang bisa ikut dalam ajang pemilihan mapres ini. Saya sendiri sebenarnya juga mau ikutan, tapi apa daya IPK tak sampai
eitss… tapi ini bukan kalimat putus asa. Ini bukan kalimat yang menhentikan saya untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi.
Secara realitas, memang nilai-nilai perkuliahan saya tidak terlalu dapat dibanggakan. Ada beberapa sahabat saya yang bilang bahwa saya ini aktivis generasi lama
yang sibuk ngurus ini itu tapi kuliahnya gak keurus. Jangan salah kawan, dalam hal kenyataan nilai yang saya dapat memang sih selevel sama aktivis-aktivis generasi lama. Tapi dalam hal semangat berprestasi, saya punya 100% jiwa aktivis generasi baru. Yang berorientasi pada prestasi, berorientasi pada kebermanfaatan nyata yang bisa diberikan pada orang lain. Saya bertekad bahwa suatu saat nanti, saya akan memberikan andil yang besar dalam rangka menumbuhkan dunia IT di Indonesia. That is a new generation activist’s soul.
Nah… seperti biasanya saya menekankan blog ini bukan untuk cerita-cerita pribadi saya, tapi lebih kearah artikel-artikel opini yang inspiratif dan bermanfaat buat yang membaca. Oleh karena itu, disini saya akan coba mengulas suatu aspek berbahaya tentang ajang pemilihan mapres ini. Apakah aspek berbahaya itu? sudah cukup tersirat dijudul tulisan ini. Simak aja deh ulasannya.
Tulisan ini saya beri judul Menjadi “Mahasiswa Berprestasi” atau Menjadi Mahasiswa yang Berprestasi. Apa sih maksudnya? begini penjelasannya. bagian yang pertama, menjadi “mahasiswa berprestasi”, itu maksudnya adalah mendapatkan gelar sebagai pemenang dalam ajang pemilihan mahasiswa berprestasi. Sementara pada bagian yang kedua itu maksudnya adalah benar-benar secara nyata menjadi mahasiswa yang berprestasi. Saya rasa dari paragraf ini saja sudah cukup untuk menggambarkan int tulisan saya.
Inti tulisan ini adalah, jangan sampai kita terjebak dalam orientasi yang salah. Jangan sampai orientasi kita hanya untuk mendapatkan gelar sebagai mahasiswa berprestasi. Orientasi kita harus tetap murni, yaitu menjadi mahasiswa yang berprestasi dan memberikan banyak manfaat buat orang lain dengan prestasi yang kita raih. Apalah artinya gelar mapres kalau pada kenyataannya kita tidak benar-benar berprestasi. Apalah artinya kalau ternyata gelar mapres yang kita dapatkan hanya karena CV yang kita utak-atik sedemikian cantik atau karena tulisan-tulisan yang dibuat menawan atau hanya karena presentasi yang berapi-api. Tapi diluar sana, didunia nyata, kita benar-benar kosong. Tak ada kebermanfaatan yang kita berikan pada orang lain. Sungguh sayang gelar tersebut. Berorientasilah pada prestasi yang sebenarnya dan gelar mapres tersebut akan dengan sendiriya melekat pada diri kita.
Tulisan ini juga sebagai penyemangat buat mereka (lebih tepatnya kami
) yang tidak bisa mengikuti ajang pemilihan mapres karena kendala syarat IPK. Saya tidak dapat memenuhi syarat tersebut, tapi saya tidak malu. Karena saya tahu, IPK yang saya raih itu cuma nilai semu yang tidak benar-benar menggambarkan apakah seseorang itu berprestasi atau tidak. IPK tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk terus berprestasi. Kita masih dapat menjadi pribadi prestatif tanpa perlu mengikuti ajang pemilihan tersebut. Coba lihat diluar sana, begitu banyak lomba-lomba yang bisa diikuti. Begitu banyak kesempatan riset yang bisa digeluti. Begitu banyak peluang bisnis yang bisa diraih. Begitu banyak kegiatan-kegiatan sosial yang bisa dijalankan. Semua itu dapat menjadi sarana bagi kita untuk menjadi mahasiswa berprestasi, mahasiswa yang benar-benar berprestasi. menebar manfaat untuk sejuta umat.
Be prestative!!
Category:
indonesian development,
kampus
Tags:
akademis,
bangga,
berprestasi,
bisnis,
IPK,
IT,
kuliah,
mahasiswa,
mapres,
perstatif,
prestasi,
riset,
semangat
239 views