Menebar sejuta manfaat
May 25 2009

Indonesia Masa Depan Adalah Kegemilangan

Saya sangat tertegun membaca status salah satu friend saya di facebook. Friend yang satu ini adalah friend yang sangat istimewa. Dia adalah Shofwan Al-Banna Choiruzzad. Dia adalah senior saya di UI. Salah satu pentolan aktivis mahasiswa di UI ketika masih di kampus dulu. Dia adalah manusia dengan segudang prestasi. Prestasi mendunia. Salah satunya menjadi pemenang The 39th St Gallen Symposium.

“Mari percaya bahwa Indonesia masa depan adalah kisah tentang kegemilangan!” Shofwan Al-Banna Choiruzzad

Itu merupakan potongan dari status facebook-nya. Saat membaca kalimat itu saya tergetar. Sebuah kalimat penuh optimisme akan kejayaan Indonesia di masa depan. Sesuatu yang juga sudah lama saya impi-impikan. Sebuah pemikiran yang harusnya dipampatkan ke setiap sel otak seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita yakini dengan segenap jiwa kita bahwa negeri kita Indonesia tak akan selamanya terpuruk. Mari percaya bahwa kelak akan ada masanya saat Indonesia menjadi negara yang berdaya, bahkan adidaya.Negara pengayom dunia.

Jangan lagi ada pemikiran-pemikiran pesimis akan bangsa kita sendiri. Jangan lagi pernah mencemooh bangsa sendiri. “Orang indonesia mah … (some negative word)”, “Orang kita kan biasanya … (some negative word)”. Buang jauh semua kalimat-kalimat seperti itu yang selama ini banyak beredar di kalangan bangsa kita sendiri. Seolah kita mencaci maki diri kita sendiri.

Yakinlah bahwa suatu saat nanti Indonesia akan maju. Isi segenap benak kita dengan mimpi akan Indonesia yang madani. Penuhi pikiran kita dengan bayangan kondisi saat Nusantara berjaya. Gerakkan seluruh raga kita demi mencapai masa depan Indonesia yang penuh kegemilangan.

Feb 19 2008

Menjadi “Mahasiswa Berprestasi” atau Menjadi Mahasiwa yang Berprestasi

Akhir-akhir ini isu-isu mengenai pemilihan “mahasiswa berprestasi” alias mapres dikampus saya sudah mulai memanas. Banyak sahabat-sahabat saya yang sudah mulai ngomporin teman-teman yang lain untuk ikutan ajang yang satu ini. Ada 4 orang yang saya tahu paling getol menggencarkan kampanya pemilihan mapres ini. Mereka adalah Sidicx, Ilman, Chandra dan Hening. Salut buat 4 orang tersebut, yang penuh semangat, yang penuh gairah untuk berprestasi. Jujur-sejujur-jujurnya saya agak ngiri sama mereka yang bisa ikut dalam ajang pemilihan mapres ini. Saya sendiri sebenarnya juga mau ikutan, tapi apa daya IPK tak sampai :) eitss… tapi ini bukan kalimat putus asa. Ini bukan kalimat yang menhentikan saya untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi.

Secara realitas, memang nilai-nilai perkuliahan saya tidak terlalu dapat dibanggakan. Ada beberapa sahabat saya yang bilang bahwa saya ini aktivis generasi lama :) yang sibuk ngurus ini itu tapi kuliahnya gak keurus. Jangan salah kawan, dalam hal kenyataan nilai yang saya dapat memang sih selevel sama aktivis-aktivis generasi lama. Tapi dalam hal semangat berprestasi, saya punya 100% jiwa aktivis generasi baru. Yang berorientasi pada prestasi, berorientasi pada kebermanfaatan nyata yang bisa diberikan pada orang lain. Saya bertekad bahwa suatu saat nanti, saya akan memberikan andil yang besar dalam rangka menumbuhkan dunia IT di Indonesia.  That is a new generation activist’s soul.

Nah… seperti biasanya saya menekankan blog ini bukan untuk cerita-cerita pribadi saya, tapi lebih kearah artikel-artikel opini yang inspiratif dan bermanfaat buat yang membaca. Oleh karena itu, disini saya akan coba mengulas suatu aspek berbahaya tentang ajang pemilihan mapres ini. Apakah aspek berbahaya itu? sudah cukup tersirat dijudul tulisan ini. Simak aja deh ulasannya.

Tulisan ini saya beri judul Menjadi “Mahasiswa Berprestasi” atau Menjadi Mahasiswa yang Berprestasi.  Apa sih maksudnya? begini penjelasannya. bagian yang pertama, menjadi “mahasiswa berprestasi”, itu maksudnya adalah mendapatkan gelar  sebagai pemenang dalam ajang pemilihan mahasiswa berprestasi. Sementara pada bagian yang kedua itu maksudnya adalah benar-benar secara nyata menjadi mahasiswa yang berprestasi. Saya rasa dari paragraf ini saja sudah cukup untuk menggambarkan int tulisan saya.

Inti tulisan ini adalah, jangan sampai kita terjebak dalam orientasi yang salah. Jangan sampai orientasi kita hanya untuk mendapatkan gelar sebagai mahasiswa berprestasi. Orientasi kita harus tetap murni, yaitu menjadi mahasiswa yang berprestasi dan memberikan banyak manfaat buat orang lain dengan prestasi yang kita raih. Apalah artinya gelar mapres kalau pada kenyataannya kita tidak benar-benar berprestasi. Apalah artinya kalau ternyata gelar mapres yang kita dapatkan hanya karena CV yang kita utak-atik sedemikian cantik atau karena tulisan-tulisan yang dibuat menawan atau hanya karena presentasi yang berapi-api. Tapi diluar sana, didunia nyata, kita benar-benar kosong. Tak ada kebermanfaatan yang kita berikan pada orang lain. Sungguh sayang gelar tersebut. Berorientasilah pada prestasi yang sebenarnya dan gelar mapres tersebut akan dengan sendiriya melekat pada diri kita.
Tulisan ini juga sebagai penyemangat buat mereka (lebih tepatnya kami :) ) yang tidak bisa mengikuti ajang pemilihan mapres karena kendala syarat IPK. Saya tidak dapat memenuhi syarat tersebut, tapi saya tidak malu. Karena saya tahu, IPK yang saya raih itu cuma nilai semu yang tidak benar-benar menggambarkan apakah seseorang itu berprestasi atau tidak. IPK tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk terus berprestasi. Kita masih dapat menjadi pribadi prestatif tanpa perlu mengikuti ajang pemilihan tersebut. Coba lihat diluar sana, begitu banyak lomba-lomba yang bisa diikuti. Begitu banyak kesempatan riset yang bisa digeluti. Begitu banyak peluang bisnis yang bisa diraih. Begitu banyak kegiatan-kegiatan sosial yang bisa dijalankan. Semua itu dapat menjadi sarana bagi kita untuk menjadi mahasiswa berprestasi, mahasiswa yang benar-benar berprestasi. menebar manfaat untuk sejuta umat.

Be prestative!! 

Jan 09 2008

Ayo manfaatkan liburan dengan kegiatan yang prestatif dan produktif

Masa-masa awal liburan saya sudah dipenuhi dengan banyak agenda senang-senang. agenda jalan-jalan ke berbagai tempat, meskipun memang agenda jalan-jalannya selalu diiringi dengan agenda lain yang cukup penting. 3 hari yang lalu saya pergi ke sukabumi dalam rangka rapat kerja perusahaan saya univind, sekaligus team building. Pulang dari sukabumi hari minggu sore, malamnya saya istirahat. kemudian senin paginya saya berangkat lagi ke puncak dalam rangka Evaluasi Paruh Tahun BEM Fasilkom dan kemudian dilanjutkan dengan pergi studi banding ke STT telkom. Sungguh senang bertemu teman-teman di STT telkom yang telah menyambut kami dengan sangat-sangat hangat dan akrab. Disana saya berkenalan dengan mas bijak (ketua HMIF STT telkom), mas justin (ketua java user group STT Telkom), dan masih banyak lagi teman-teman yang lain.

Semua agenda senang-senang tersebut tentunya sudah sangat berhasil me-refresh mental dan fisik saya yang selama semester kemarin telah dibombardir dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan perkuliahan dan organisasi. Namun kita mesti hati-hati menghadapi suasana serba luang seperti ini. Kebanyakan kita akan mengalami euphoria pada saat liburan. Kita akan mengatakan “ini saatnya balas dendam”, dan kemudian menghambur-haburkan waktu liburan hanya untuk kegiatan-kegiatan yang kurang produktif seperti download membabi buta, menghabiskan semua manga yang belum sempat terbaca, menonton semua DVD/film hasil donlotan yang belum tuntas, jalan-jalan terus sepanjang liburan, TIDUR dll.

Jangan sampai waktu yang sangat lapang ini kita sia-siakan. Jangan sampai liburan ini hanya digunakan untuk melampiaskan semua keinginan kita bersenang-senang yang telah terpendam lama. Ayo kita manfaatkan waktu luang ini untuk berbagai macam kegiatan prestatif. Manfaatkan liburan ini untuk menggali kompetensi yang benar-benar kita minati sendiri. Jadikan liburan ini liburan yang produktif dan prestatif.

Saya sendiri sudah punya beberapa rencana-rencana yang akan saya lakukan selama liburan, berikut beberapa diantaranya:

  1. launching islamipedia (apa itu islamipedia? tunggu tanggal mainnya)
  2. mengulang kembali semua hapalan yang sudah mulai terlupakan, sekaligus menambah hapalan minimal 2 surat selama liburan
  3. memberikan pelatihan web design di fisip
  4. mulai mencoba mengadakan kursus komputer gratis dirumah (home course)
  5. menghabiskan semua bacaan buku yang selama ini tersendat-sendat
  6. menuntaskan berbagai amanah di univind, sekolah, kampus dll
  7. belajar set up server sendiri
  8. belajar berenang, liburan ini harus sudah bisa berenang
  9. menyelesaikan tontonan avatar book 3 :) biar bagaimanapun kita tidak boleh jadi orang yang terlalu strict dengan meninggalkan semua hal yang kita sukai atas nama produktifitas. Tentunya kita sebagai manusia biasa juga butuh hiburan, istirahat, rasa santai dsb. Intinya asal jangan sampai yang kayak begini jadi dominan disepanjang liburan kita.

jadi,
AYO KITA MANFAATKAN LIBURAN KITA UNTUK KEGIATAN YANG PRESTATIS DAN PRODUKTIF. Jangan sia-siakan liburan ini untuk kegiatan yang gak banyak gunanya.


↑ Back to top