presiden vs tukang sampah
Saya, saya adalah presiden republik Indonesia. Kini saya baru saja selesai berpidato. Dielu-elukan oleh para pendukung saya.
Saya, saya adalah seorang pemungut sampah di TPA Bantar Gebang. Kini saya sedang mengais sampah-sampah untuk saya jual nanti.
Selesai berpidato, saya langsung beranjak ke dalam limosin yang sudah disediakan oleh negara. Saya nikmati perjalanan saya yang lancar terbebas dari kemacetan didalam mobil dengan jok yang empuk dan AC yang menyejukkan. Pulang kembali ke istana kepresidenan yang mewah.
Setelah keranjang sampah saya penuh, saya lantas pulang kembali ke gubuk saya yang kumuh. Saya harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk bisa sampai ke gubuk saya. Belum lagi saya harus tersingkir oleh iring-iringan kepresidenan yang sedang melaju. Saya dipaksa untuk mencari jalan lain yang lebih jauh.
Kini saya sudah sampai di istana kepresidenan. Seperti biasa saya dibuat kagum oleh arsitektur dari istana tersebut. Gerbang yang besar, masuk melewati taman hijau yang rindang. Pintu masuk yang megah. Ruangan lobi yang begitu apang dengan berbagai macam aksesoris yang mempercantik ruangan tersebut. Hingga akhirnya saya sampai dikamar pribadi saya.
Peluh sudah sedemikian deras. Baju ini telah dibasahi oleh keringat saya yang bau setelah seharian bekerja ditempat sampah dan berjalan puluhan kilometer di cuaca yang terik. Kini saya sudah sampai di gubuk saya yang reot dibantaran kali dibawah jalan layang. Gubuk ini saya buat dengan kardus yang saya minta dari suatu sebuah toko grosir. Ukurannya sangat kecil. 5×5 meter. Disana saya tinggal dengan istri dan 4 orang anak saya. Tak ada hiasan, tak ada kemewahan. Hanya ada satu bilik kecil sebagai kamar mandi dan satu ruang besar untuk seluruh keluarga yang berfungsi sebagai ruang tidur+ruang santai+ruang makan+dapur.
Saya langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan kembali badan saya yang seharian bekerja memikirkan kritikan pedas seorang lawan politik saya. Dikamar mandi ini, saya langsung menjatuhkan diri di bath tub yang didalamnya sudah tersedia air hangat. Sungguh sangat menenangkan pikiran.
Sesampainya di wisma kardus ini, saya langsung pergi ke bilik kamar mandi diluar untuk sedikit membasahi badan saya. Disana, air yang tersedia agak kehitam-hitaman. Banyak sekali jentik nyamuk disana.
Kini badan saya sudah segar. Lalu saya mengenakan setelan kemeja+celana bahan santai yang baru dibuat oleh tim rumah tangga istana kepresidenan khusus untuk saya. Masih terlihat sangat apik, digosok dengan rapih. Membuat saya tampil elegan malam itu.
Selesai membasuh tubuh, saya lantas pergi ke sudut lain rumah saya untuk mengambil pakaian yang ada diatas jemuran. Pakaian yang saya pakai adalah kaos belel favorit saya yang sudah dipenuhi dengan berbagai tambalan dan juga sarung lusuh yang saya dapat sebagai hadiah perkawinan saya 20 tahun yang lalu.
Badan sudah segar, penampilan sudah rapi. Sekarang saatnya makan malam. Dari kamar saya lantas beranjak ke ruang makan yang ada disisi lain istana. Diruang makan tersebut telah tersedia setumpuk makanan berbagai macam lauk pauk dan sayur mayur yang tersedia. Saya tinggal memilih makanan apa yang akan saya makan malam ini. Malam ini saya memilih untuk memakan nasi+ayam balado ditemani dengan sop daging yang hangat. Selesai makan saya langsung menenggak segelas susu yang sudah tersedia.
Selesai bersih-bersih, saya langsung kembali ke ruang utama keluarga saya untuk menanyakan pada istri saya apakah ada yang bisa saya makan hari ini. Untunglah dia bilang ya, saya sudah sangat lapar karena tidak makan seharian. Saya diberikan oleh istri saya setangkup kecil nasi pera’ dan sepotong tahu. Tak lupa kecap manis dan garam menemani makan malam saya.
Perut saya sudah terisi. sekarang saya bisa berpikir lenih jernih. Saya kembali ke ruang kerja saya untuk mengkaji ulang rencana penggusuran total semua lingkungan kumuh yang ada di ibukota. Saya coba pikirkan matang-matang. Saya memutuskan bahwa memang ibukota Indonesia ini harus dibersihkan dari wilayah-wilayah seperti itu. Supaya kota ini bisa menjadi kota yang memiliki daya tarik pada wisatawan. Malam ini saya telah mebuat keputusannya. Saya berikan izin pada gubernur jakarta untuk menggusur semua lingkungan kumuh yang ada di Jakarta.
Belum sampai perut ini kenyang, makanan yang ada diatas piring seng saya sudah habis. Setelah itu saya bersantai dengan seluruh keluarga saya sambil membicarakan dengan penuh kekhawatiran tentang rencana pemda ibukota untuk menggusur lingkungan saya. Menurut gosip yang beredar, penggusuran itu akan segera dilaksanakan begitu turun izin dari presiden. Oleh karena itu, saya masih berharap-harap cemas semoga izin tersebut tidak turun. Malam ini, kami benar-benar dalam suasana kalut. kami ta tahu bagaimana nasib kami esok. Mungkin saja penggusuran itu dilakukan esok hari. Jika memang izin dari presiden sudah turun.
Selanjutnya saya minta pada sekretaris saya untuk membuat surat izin tersebut malam ini juga dan segera mengirimkannya ke gubernur Jakarta. Lalu, saya kembali ke kamar saya untuk tidur. Saya harus beristirahat. Agenda besok adalah rapat kabinet terbatas mengenai permasalahan lingkungan terutama rencana implementasi pengolahan sampah modern. Dan selanjutnya adalah konferensi pers mengani fitnah seseorang terhadap saya mengenai pernikahan saya.
Waktu sudah pukul 9 malam. Kami sekeluarga pun segera tidur bersama dalam satu ruangan tersebut. Kami harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan penggusuran esok hari. Saya akan menunggu dirumah sampai jam 8 pagi. Jika sampai jam segitu belum ada penggusuran maka besar kemungkinan penggusuran itu dilain hari.
Saya langsung berbaring diatas kasur saya yang empuk. Dilingkupi oleh selimut yang tebal dan wangi. bersandar pada bantal yang empuk. Membuat tidur saya menjadi sangat nyenyak. Membuat saya melupakan semua kepenatan kerja sehari-hari.
Kami sekeluarga tidur tergelatak dilantai tanah yang dialas karpet plastik. Sambir berbaring saya terus memikirkan bagaimana nasib keluarga saya kedepannya. Perlahan-lahan kekalutan tersebut membawa saya pada rasa kantuk yang semakin dalam, hingga akhirnya saya mulai memejamkan mata.
Saya bangun pagi dengan perasaan yang sangat segar. Saya siap menjalankan semua agenda hari ini. Dimeja samping tempat tidur saya sudah ada secangkir teh hangat yang siap diminum beserta beberapa makan kecil. Saya langsung melahapnya.
Pukul 06.30 pagi, saya terkejut karena didepan rumah saya sudah ada 2 buldozer yang siap merobohkan gubuk lingkungan saya. Baru saja saya hendak memilah-milah sampah yang saya kumpulkan kemarin. Akhirnya saya membatalkan urusan saya memilah-milah sampah untuk mengahadang para penggusur lingkungan saya. Saya mencoba bicara dengan petugas yang bekerja, mereka tidak mau mendengar. Pukul 07.00 datanglah perintah eksekusi penggusuran. Akhirnya, saya dan para tetangga saya hanya bisa terpana melihat tempat tinggal kami terluluh lantakkan. Kini kami tak punya lagi tempat tinggal. Kami tak tahu lagi harus kemana. Yang jelas hari ini, kami akan menjadi gelandangan ditengah kota. Kami akan kesana kemari mencari tempat untuk berteduh. Kami, rakyat jelata Indonesia, telah jatuh… dijatuhkan oleh kekuasaan. kami tak berdaya. Kami ini bodoh, kami tak tahu bagaimana membela diri kami. Kami pasrah. Kami lemah…




