Nov 06 2008

Saya baru aja selesai baca buku sangat bagus berjudul “Muhammad Super Leader Super Manager”. Buku sirah (sejarah) itu menceritakan kehidupan nabi dalam berbagai macam aspek mulai dari pemimpin militer, pemimpin dunia pendidikan, pemimpin politik, pemimpin keluarga dan yang paling saya suka… pemimpin di bidang entrepreneurship. Cara Pak Muhammad Syafi’i Antonio menuliskan sirah ini juga sangat menarik. Gak kayak sirah-sirah lain yang bahasanya kaku, terlalu maksain ke-arab-arab-annya. Pada buku ini pak syafi’i menuliskannya dengan gaya tulisan-tulisan manajemen dan leadership. Itulah yang bikin buku ini jadi keren banget. Dan ada satu bab yang menurut saya sangat impresif, yaitu bab terakhir. Bab terakhir itulah yang mau saya share ke teman-teman semua lewat blog ini. Silahkan dibaca.
Aug 25 2008
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat email forward-an dari milis yang menceritakan tentang betapa bersahajanya kehidupan sang pemimpi Iran, Ahmadinejad. Mungkin Anda juga sudah pernah melihat email tersebut. Jadi saya tidak akan menjelaskan bagaimana cara hidup bersahajanya sang Ahmdinejad. Dalam email tersebut sang forwarder menambahkan dengan kalimat: “Semoga kita bisa mendapat pemimpin yang seperti ini nanti”.
Saya melihat banyak sekali orang yang berharap, dan sayangnya hanya berharap, akan mendapatkan pemimpin yang baik. Pemimpin yang sederhana, jujur, amanah, profesional dan segala macam kebaikan lainnya. Tapi saya juga banyak melihat mereka yang menyampaikan harapan tersebut ternyata dirinya sendiri termasuk orang yang tidak sederhana, tidak jujur, tidak amanah dsb. Banyak dari mereka yang ingin mendapatkan pemimpin yang sempurna sementara mereka sendiri seolah tak ingin berusaha menyempurnakan dirinya sendiri.
Itulah yang ingin saya angkat kali ini. Banyak dari kita yang bisanya hanya terus merongrong pemimpin kita jika dia melakukan kesalahan, sekecil apapun kesalahan itu. Lalu saat kita merasa frustasi dengan pemimpin tersebut, kita mulai berharap lagi, dan sayangnya HANYA berharap, suatu saat nanti kita akan medapatkan pemimpin yang lebih baik dari pemimpin yang sekarang. Paradigma seperti itu sebenarnya tidak salah. Tentu wajar bagi kita kalau kita ingin mendapatkan pemimpin yang baik. Wajar kalau kita ingin suapay kita dipipin dengan baik. Tapi menjadi tidak wajar kalau kita hanya bisa meminta dan berharap sementara kita sendiri sama sekali tak berusaha untuk tidak meminta dari orang lain dan berharap akan diri kita sendiri.
Sadarilah, negeri kita ini tidak cuma butuh pemimpin yang baik tapi juga butuh RAKYAT yang baik. Sehebat apapun pemimpin Indonesia kelak, tapi jika 200 juta warganya berakhlak buruk, maka negeri ini dijamin tetap tidak akan bisa maju. Memang betul jika dikatakan bahwa pemimpin yang baik akan mampu menghantarkan seluruh rakyatnya supaya menjadi baik. Tapi bukan itu yang ingin saya tekankan disini. Yang ingin saya tekankan adalah: Kalau Anda ingin Indonesia menjadi negeri yang kokoh, maka perkokohlah juga diri Anda sendiri.
Jangan cuma mengeluh dengan buruknya kondisi Indonesia saat ini. Jangan cuma merungut dengan kinerja pemimpin yang buruk. Indonesia tidak butuh 1 orang hebat untuk dijadikan pemimpin. Indonesia butuh ribuan bahkan jutaan orang hebat untuk jadi pemimpin di semua lininya masing-masing. Bahkan Indonesia butuh seluruh rakyatnya menjadi hebat, cerdas, berkepribadian kuat, serta dekat dengan Allah supaya bisa menjadi pemimpin. Paling tidak pemimpin bagi dirinya sendiri.
Jan 12 2008
Bapak Indonesia yang satu ini sekarang sedang tersengal-sengal mempertahankan hidupnya. Sudah kira-kira 8 hari dari sekarang beliau memasuki masa kritis. Malaikat maut seolah-olah sudah bersiap-siap digaris start untuk melaju ke RSPP untuk melakukan tugasnya.
Mantan Pemimpin negeri yang satu ini memang penuh kontroversi. Sampai saat ini, masih banyak orang yang mengutuk kebiadabannya pada masa orde baru yang meluluhlantakkan tatanan kemajuan negeri Indonesia. Tapi disamping itu, banyak juga yang mulai merasa kasihan padanya dan dengan berbesar hati memaafkan segunung kesalahannya dimasa lampau.
Orang-orang yang masih benci pada suharto mengatakan pada mereka yang memaafkannya sebagai orang yang tidak mengerti hukum. Mereka dianggap sebagai orang yang tidak mengerti betapa bangsa ini telah dirusak oleh presiden kita yang satu ini. Dibalik itu, mereka yang memaafkannya mengatakan bahwa orang yang masih saja merongrong Suharto adalah orang yang tidak punya rasa kemanusiaan, tidak punya belas kasihan dsb.
Sebenarnya bagaimana sih sebaiknya kita menyikapi hal ini? Kalau saya sendiri berpendapat bahwa 2 sikap diatas itu sama-sama benar. Sebagai individu yang sudah sedemikian tak berdaya, Suharto sudah selayaknya dimaafkan saja. Namuan sebagai seorang yang pernah melakukan kejahatan besar pada rakyatnya, kejahatannya harus tetap diproses secara hukum.
Suharto kini adalah seorang tua yang sedang sakit kritis yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Suharto kini bukan lagi seorang diktator yang menghisap darah bangsanya sendiri. Dengan kondisi seperti itu, sudah tidak mungkin lagi bagi kita untuk menghukumnya secara pribadi, memasukkannya ke penjara, menghukum mati dsb. Biarlah Allah yang mengazabnya nanti kalau memang benar dia melakukan semua kejahatan tersebut.
Namun biar bagaimanapun, kejahatan yang pernah dilakukannya harus diberantas semaksimal mungkin. Semua uang rakyat yang terampas harus segera dicari kembali, dihimpun kembali untuk kemudian dikembalikan pada rakyat Indonesia yang saat ini juga jauh lebih parah kondisinya daripada suharto. Semua kroni-kroninya yang dulu juga ikut menghisap uang rakyat harus segera ditumpas. Mereka yang pergi melarikan diri harus dikejar. Dihukum sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya. Sadarilah negeri ini jauh lebih sengsara daripada kesengsaraan yang saat ini dialami oleh suharto.
Intinya, maafkanlah suharto sebagai seorang individu. Tapi jangan maafkan kejahatannya. kejahatan yang dilakukan olehnya dan semua konco-konconya harus diproses. Uang rakyat harus kembali pada rakyat.