May 27 2008
“Dengan nama dan no HP Anda saya bisa meramal bagaimana masa depan Anda nantinya” (SMS Dedi Korbujer)
“Tuntunan saya akan membawa hidup Anda menjadi lebih sukses… percayalah… bla bla bla” (SMS Ki Joko Bodo… amat)
“Saya akan melihat bagaimana masa depan Anda dan memberitahukan Anda apa yang seharusnya saya lakukan… bli bli bli” (SMS Mama Loreng)
“Saya akan memberikan informasi apa adanya, banyak peramal yang tidak suka dengan saya… ble ble ble” (SMS ‘pahlawan bertopeng’)
Astaghfirullah… Sekarang ini saya sudah jarang sekali nonton TV, sekalinya saya nonton, saya terhenyak. Banyak sekali iklan-iklan seperti itu bertebaran di televisi. Saya heran, kenapa iklan-iklan seperti itu bisa banyak bertebaran di televisi kita. Terang-terangan dan blak-blakan membawa kemusyrikan. Apakah itu berarti bahwa layanan SMS-SMS musyrik seperti itu memang digemari masyarakat? Apakah layanan SMS pembodohan itu memang merupakan usaha yang laris manis?
Kalau memang seperti itu, berarti memang masyarakat kita kini sudah mengalami pembodohan yang luar biasa. Kerusakan di masyarakat Indonesia kita ini sekarang bukan cuma berada pada tataran moral tapi juga aqidah. Kalau kondisinya seperti ini terus, maka Indonesia bisa kembali menjadi negeri jahiliyah yang gak akan pernah bisa maju menyaingi negara-negara lain yang sudah lama meninggalkan bentuk-bentuk tahayul seperti itu.
Pantas saja, di negeri ini isu-isu murahan begitu mudah tersebar lewat SMS. Tentang axis gereja setan lah… SMS santet lah… radiasi merah lah… dsb. Hal itu bisa terjadi karena memang aqidah yang dipegang oleh masyarakat sangat rapuh. Jadi gampang sekali percaya dengan isu-isu tersebut. sekalinya dapat SMS seperti itu, langsung saja dia menyebarkan SMS itu ke teman-temannya yang lain. Akhirnya… jadilah dia termasuk dalam jajaran orang-orang yang menyebarluaskan teror berupa isu murahan tersebut.
Seharusnya pemerintah dalam hal ini selaku regulator bisa membendung usaha-usaha pembodohan seperti itu. Pemerintah kan punya tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsa. Jadi, pemerintah punya kewajiban untuk memberantas bentuk-bentuk pembodohan seperti itu.
Selain menuntut pemerintah yang sekarang juga sudah pusing tujuh keliling dengan berbagai macam urusan lainnya. Kita, insan-insan cendekia alias orang-orang terpelajar di Indonesia harus ikut berpartisipasi membendung arus pembodohan tersebut di level akar rumput. Kita langsung cegah masyarakat supaya jangan mengakses layanan-layanan seperti itu. Kita himbau masyarakat secara langsung supaya jangan percaya dengan SMS-SMS kayak begitu. Dan yang lebih penting lagi, kita harus ikut turun membina aqidah dan akhlak masyarakat supaya bisa menjauh dari aroma-aroma tahayul seperti itu. Upaya ini tentunya butuh waktu yang lama. Sampai masyarakat Indonesia nantinya bisa benar-benar jadi bangsa yang cerdas dan maju.