IT, Entrepreneurship, Web, Internet, Motivation, Inspiration
May 03 2008

Arah pergerakan mahasiswa masa depan

Saya adalah seorang mahasiswa yang bercokol dikampus yang disebut-sebut sebagai kampus perjuangan. Kampus yang begitu mencolok dengan jaket kuningnya. Kampus yang dikatakan jika mahasiswanya turun kejalan maka hati-hati akan ada perubahan. Kampus Universitas Indonesia. Lebih spesifik lagi dikampus UI ini saya mendalami bidang kajian ilmu komputer di gedung bundar fasilkom UI.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai pergerakan mahasiswa saat ini. Tulisan saya ini merupakan respon terhadap beberapa aksi yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya belum lama ini. Begitu mirisnya saya melihat saudara-saudara seperjuangan saya yang rela tidur dijalanan demi menunjukkan perhatiannya pada bangsa. Tulisan ini juga merupakan jawaban atas pertanyaan beberapa orang sahabat saya yang menanyakan kenapa saya tidak pernah mau ikut aksi? kenapa tingkat
partisipasi fakultas saya dalam kegiatan-kegiatan seperti itu sangat kecil? Tulisan ini dibuat dengan harapan dapat memberikan pencerahan pada rekan-rekan mahasiswa bahwa sudah saatnya kita merubah arah pergerakan kita.

tercatat tanggal 21-23 maret lalu, BEM UI mengadakan konferensi BEM Seluruh Indonesia. Saya sendiri sudah lama mendengar isu akan diadakannya acara ini. Ketika mendengar isu ini saya merasa ada angin segar. Semoga acara ini bisa menjadi titik tolak perubahan pergerakan mahasiswa kedepan. Tapi ternyata hasil dari acara ini tidak seperti yang saya harapkan. Konferensi ini ternyata hanya menghasilkan (lagi-lagi) tuntutan terhadap pemerintah diantara sekian banyak tuntutan-tuntuan yang pernah dilayangkan mahasiswa pada pemerintah. Tuntutan ini diberi nama TUGU RAKYAT (Tujuh Gugatan Rakyat)
. Coba kita hitung berapa banyak sebenarnya tuntutan-tuntutan kita yang benar-benar diperhatikan oleh pemerintah. Memang ada, tapi sangat sedikit. Seharusnya pertemuan itu bukan cuma sekedar membahas permasalahan bangsa kemudian membuat tuntutan pada pemerintah. Seharusnya konferensi itu menghasilkan kesepahaman tentang apa yang bisa dan seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk memperbaiki bangsa ini. Hanya menuntut tidak akan membawa hasil apapun, tidak akan memberi perubahan yang nyata buat rakyat. Sebaliknya, hanya perbuatan konkrit lah yang bisa memberikan dampak nyata dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa kita. Yang dibutuhkan adalah Solusi konkrit, bukan cuma barisan point-point tuntutan.

Kemudian hasil konferensi ini di tindak lanjuti dengan aksi yang diberi tagline hiperbolis “kepung istana”. Aksi ini diikuti oleh kurang lebih 600 orang. Mereka bahkan sampai menginap didepan istana negara dan tidur dijalanan. Lalu apa? adakah perubahan yang berarti akibat aksi demonstrasi ini? apakah kini rakyat sudah mendapat kesejahteraan yang lebih baik? Apakah semua aksi kita itu diperhatikan oleh pemerintah? jawabannya tentu TIDAK. Dan saya sangat menyayangkan aksi mereka menginap dijalanan. Apakah tidurnya mereka di aspal itu benar-benar mampu membuat perubahan? tentu tidak. Padahal akan jauh lebih baik jika tenaga mereka dialihkan untuk berbuat sesuatu hal yang konkrit untuk mensejahterakan masyarakat.

Sadarilah aksi semacam itu kini sudah tidak efektif lagi. Aksi hanya diperlukan dalam suasana pemerintahan yang otoriter. Sehingga kita sebagai mahasiswa punya peran untuk melakukan represi politik pada pemerintah. Sementara kondisi politik Indonesia saat ini cenderung stabil. Iklim demokrasi berjalan dengan baik. Coba perhatikan, aksi-aksi mahasiswa yang benar-benar efektif dan mampu membawa perubahan adalah aksi yang membawa agenda besar untuk untuk melakukan perbaikan yang sifatnya mendesak dan butuh represifitas yang tinggi. Salah satu contohnya adalah aksi `98. Kalau saya jadi mahasiswa pada saat itu, tentu saya akan dengan sukarela ikut dalam aksi tersebut. Tapi dalam aksi-aksi lain yang tidak membawa tujuan perubahan besar, yang pada akhirnya hanya bertujuan menunjukkan eksistensi mahasiswa, saya tidak akan mengikutinya.

Dulu, kalaupun suatu aksi demonstrasi tidak membawa agenda perubahan yang besar. paling tidak media masih meliput aksi tersebut dengan serius. Sehingga gaungnya bisa benar-benar terlihat oleh publik. Dalam kondisi seperti ini, paling tidak aksi yang dilakukan mahasiswa masih bisa memberikan manfaat, yaitu masyarakat menjadi tahu bahwa mereka masih punya tumpuan. pasca 98 s/d tahun 2004-an, aksi mahasiswa masih bisa dijadikan sarana untuk menunjukkan perhatian kita para mahasiswa terhadap persoalan bangsa. Tapi coba lihat saat ini, banyak pihak yang sudah jemu dengan aksi-aksi tersebut. Rakyat sudah semakin skeptis dengan aksi-aksi yang kita lakukan. Media sudah tak lagi menganggap aksi-aksi mahasiswa sebagai berita yang patut disebarluaskan secara masif. Alhasil, demonstrasi mahasiswa kini benar-benar terasa kosong tak tak bermakna. Demonstrasi kini tidak lagi membawa agenda perubahan yang besar, hanya tuntutan demi tuntutan. Selain itu, demonstrasi kini juga sudah tidak mendapat perhatian publik. Sehingga upaya kita untuk menunjukkan perhatian kita pada bangsa ini juga menjadi tidak efektif.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita para mahasiswa merubah arah pergerakan kita. Kedepannya kita harus lebih banyak bergerak pada lahan yang benar-benar riil memberikan efek nyata buat masyarakat. Kita harus mulai memberdayakan potensi intelektual kita untuk memberikan solusi konkrit buat bangsa. Kegiatan-kegiatan aksi, demonstrasi dkk kini sudah tidak lagi diperlukan karena memang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kegiatan-kegiatan seperti pembangunan desa (UI Comdev BEM UI), pembuatan blueprint jakarta (Pokja DKI BEM UI), pelatihan komputer gratis untuk rakyat (Pengmas On IT BEM fasilkomUI) dkk harus lebih diperbanyak. Riset-riset yang ditujukan untuk menghasilkan solusi bagi bangsa harus lebih intensif. PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) juga dapat menjadi sarana memberikan solusi konkrit untuk bangsa. Asalkan mahasiswa yang mengikutinya bukan cuma bertujuan untuk memenangkan lombanya tapi juga bertujuan untuk memberikan solusi konkrit permasalahan bangsa. Kedepannya, kita harus lebih banyak memberikan dukungan atas setiap kerja positif yang telah dilakukan pemerintah.

Sejauh ini, saya lihat sudah ada satu kampus di Indonesia yang sudah sangat berhasil mengarahkan pergerakan kemahasiswaannya ke arah yang benar. Kampus itu adalah kampus IPB (Institut Pertanian Bogor). Salut saya untuk rekan-rekan mahasiswa di IPB yang telah memberikan banyak solusi konkrit untuk mengentaskan berbagai macam persoalan bangsa. Kampus saya sendiri, UI, yang dulu disebut sebagai barometer utama pergerakan kemahasiswaan nasional kini sudah tidak terasa lagi. Saya mengakui bahwa kami disini masih berkutat dengan model perjuangan gaya lama yang sudah tidak lagi relevan. Saat ini, kami para aktivis mahasiswa di UI sedang berusaha mengarahkan pergerakan kami ke arah yang sesuai.

Diluar semua itu, kita juga tak boleh lengah untuk terus mengingatkan pemerintah untuk melakukan perbaikan disana-sini. Kita harus mencari cara lain yang lebih efektif daripada demonstrasi. Cara yang lebih cocok untuk kondisi saat ini. Kalau memang suatu saat nanti, terbentuk kemabli iklim politis yang memaksa kita untuk turun kejalan maka ayo kita kemabli lagi kejalanan meneriakkan suar-suara lantang kita. Menggemakan idealisme kita. Menunjukkan perhatian kita pada rakyat. Tapi saat ini, bukan itu jalan yang harus kita tempuh. Kita harus mencari jalur lain yang lebih jelas. Jalur yang secara nyata akan membawa perbaikan pada Indonesia.

Semoga kita para mahasisa Indonesia dapat terus menjalankan perannya pada bangsa ini. Semoga kita dapat terus memberikan kontribusi aktif kita pada upaya perbaikan bangsa Indonesia.

Hidup Bangsaku!
Hidup Rakyat Indonesia!

~”hidup mahasiswa!” hanyalah seruan arogansi eksistensial mahasiswa pada rakyat Indonesia.

Dec 13 2007

blog kolaborasi Malaysia Indonesia

semalam saya nonton acara topik malam nya SCTV. Kebetulan waktu itu sedang membahas tentang pasang surut hubungan diplomatis Indonesia dan Malaysia. Dan acara tersebut juga secara khusus menyoroti banyaknya blog-blog atau situs-situs yang dibuat khusus untuk saling mencemooh bangsa lain.

  • ihateindon.blogspot.com
  • malingsia.com

Sebenarnya kalau dari saya pribadi sudah tidak ingin lagi membahas tentang ribut-ribut Indonesia vs Malaysia diblog saya. kenapa? karena dengan begitu saya jadi termasuk orang yang terbawa arus yang cuma bisa mengeluarkan opini mentah tanpa solusi konkrit untuk menyelesaikan masalah ini. NAMUN, ada satu hal yang sangat menarik dari sedikit potongan diskusi pada acara topik malam tersebut. yaitu tentang blog kolaborasi Indonesia Malaysia.

Kebetulan yang diundang pada acara tersebut untuk menjadi narasumber adalah om enda nasution sang presiden blogger Indonesia. Awalnya diskusi tersebut juga saya rasa biasa-biasa saja. Hanya mengupas lebih dalam tentang konflik ini. Awalnya saya juga tak terlalu berniat untuk memperhatikan dengan seksama acara tersebut (berhubung lagi ngerjain tugas juga dan besoknya ada ujian). Tapi ketika sang pembawa acara menanyakan pada om enda seperti ini “adakah SOLUSI KONKRIT yang bisa dilakukan para blogger untuk menyelesaikan masalah ini?” Dan saya cukup amaze dengan jawaban dari om enda. Beliau bilang “saya sedang mengusahakan supaya nanti akan ada blog atau situs kolaborasi antara para blogger malaysia dan Indonesia yang isinya tentang bagaimana memajukan kedua negara, mengeratkan hubungan kedua negara dll Saya sudah menghubungi beberapa teman blogger saya dari malaysia untuk membuat blog kolaborasi tersebut”

Sampai dititik itu, baru saya semangat dan serius nontonnya. Ini baru keren. Solusi yang sangat konkrit. Postitif buat kedua negara. Tentunya kalau blog tersebut nanti benar-benar muncul dan bisa meluas. Maka pasti banyak imbas positif buat kita semua, buat warga Indonesia, buat warga malaysia, pokoknya buat kita semua deh… harapannya blog ini nanti gaungnya bisa melebihi blog-blog murahan yang dibuat oleh orang pengecut yang tidak bertanggung jawab setelah mencoba mengadu domba dua negara tetangga ini.

buat mas enda, AYO segera direalisasikan mas ide bagusnya itu. Saya yakin pasti banyak yang nge-support. betul gak? apakah Anda semua termasuk orang yang men-support hal tersebut, atau malah justru tidak setuju dan lebih suka hubungan kita dengan malaysia terus memanas?

baca tulisan terkait disini:

Kenapa kalian terus mencerca malaysia

Dec 07 2007

kenapa kalian terus mencerca malaysia

Sebelumnya ingin saya pastikan anda tahu bahwa saya ini orang Indonesia tulen. Saya cinta negeri saya dan saya ingin memajukannya. Saya ingin membangun Indonesia menjadi lebih maju daripada seluruh negara lain dimuka bumi ini.
Telah kita ketahui bersama bahwa negara tetangga kita telah banyak mencuri berbagai aset yang kita miliki. mulai dari pulau sampai dengan kesenian. Banyak kekayaan negeri Indonesia yang diakui oleh malaysia.

  • pulau sipadan ligitan
  • hak cipta batik
  • kesenian reog ponorogo
  • dll

Kita sebagai warga negara Indonesia saya rasa wajar jika merasa tidak enak karena kekayaan budaya negerinya telah dicuri oleh bangsa lain. Namun, saya melihat suatu sikap yang sangat berlebihan dari bangsa Indonesia. Saya sendiri agak merasa kecewa dengan penyikapan dari berbagai elemen masyarakat Indonesia terhadap aksi tetangga kita malaysia. Banyak rakyat Indonesia yang menumpahkan ketidaksenangannya pada malaysia dengan cara-cara yang buruk, cara-cara yang sangat tidak bersahaja, cara-cara yang justru menurunkan martabat kita sebagai sebuah bangsa.

Coba liat beberapa situs berikut

mereka semua mencaci-maki malaysia secara membabi buta. Sebagian besar rakyatIndonesia menyerapahi malaysia dengan bahasa-bahasa yang sangat tidak etis. Mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas. mulai dari kalangan akar rumput sampai kalangan elit. mulai dari kalangan preman samapai kalangan ustadz. hampir semuanya satu suara dalam mencerca malaysia. Bahkan ada sebagian rakyat Indonesia yang sampai menyatakan perang pada malaysia. Dan yang lebih saya heran lagi, banyak orang-orang yang saya pandang sebagai orang terhormat, berpribadi ustadz, punya prestasi Internasional dll juga ikut mencerca malaysia.

Maka disini saya katakan pada seluruh rakyat Indonesia, saya tidak setuju dengan kalian semua, kalian yang terus mencerca malaysia tanpa batasan-batasan etika, kalian yang hanya bisa menyerapahi malaysia tanpa memberikan kontribusi nyata demi kemajuan Indonesia. Sikap kita semua yang sudah terlalu berlebihan terhadap aksi malaysia itu justru menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kerdil, bangsa yang tidak berjiwa besar. Toh itu semua terjadi juga karena kesalahan kita sendiri yang tidak bisa memanfaatkan kekayaan potensi negeri kita. Maka jangan bertambah marah jika banyak pula rakyat malaysia yang membalsa penyikapan kita juga dengan cara yang tidak etis. jangan marah jika mereka menyebut kita sebagai “negeri para kuli”, “negeri budak” dsb…

Seharusnya penyikapan terbaik kita atas aksi pencurian yang dilakukan oleh malaysia itu adalah melakukan suatu kerja konkrit untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Jangan hanya berkutat pada caci-maki, jangan cuma bisa bersumpah serapah, jangan hanya bisa menelan kekesalan tersebut kemudian memuntahkannya dalam bentuk perkataan-perkataan yang sarkastik. Oleh karena itu berhentilah bersumpah serapah! berhnetilah mencaci-maki! Mulai sekarang lakukan suatu kontribusi nyata demi kemajuan Indonesia. Mari bangun kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Sadarilah bahwa bangsa kita ini sedang terpuruk.

Sadarilah betapa buruknya citra bangsa kita dimata dunia. kakak saya yang pernah berada di jerman pernah bercerita ke saya bahwa banyak warga Indonesia disana yang apanila ditanya berasal dari mana, maka banyak yang akan menjawab berasal dari malaysia. Kenapa? karena ketika kita mengatakan bahwa kita berasala dari Indonesia, maka banyak orang luar yang akan melihat kita dengan rendah.

  • “ohh… yang negeri korup itu ya?”,
  • “oh… yang presidennya dinobatkan jadi orang terkorup sedunia itu ya?”,
  • “ohh… land of terrorism ya?”,
  • “ohh… negeri polutif itu ya?”
  • “ohh… negeri pengekspor pembantu itu ya”

cuma ini yg tersisa

  • “ohh… yang ada bali nya ya?”

percayalah, seperti itulah reaksi orang luar saat berbicara dengan orang Indonesia yang tinggal disana. Mereka secara eksplisit berkata seperti itu didepan warga Indonesia sendiri. Kaka saya sendiri pernah mengalami hal tersebut. wajar saja banyak warga Indonesia yang tidak mau mengakui bahwa dia adalah orang Indonesia asli.

Sungguh sangat miris mendegar cerita kakak saya. Sungguh sangat miris melihat kenyataan betapa rendahnya bangsa Indonesia dimata dunia. Oleh karena itu, sekali lagi saya tekankan:

Berhentilah mencaci-maki
berhentilah bersumpah serapah
lakukan aksi nyata
berikan kontribusi maksimum
untuk kemajuan Indonesia

INDONESIA, BANGKITLAH!!!!

baca tulisan terkait disini

SOLUSI KONKRET: Blog Kolaborasi Indonesia Malaysia


↑ Back to top