Menebar sejuta manfaat
May 06 2009

Haruskah mahasiswa IT jago pemrograman?

Di kalangan mahasiswa IT, isitlah jago pemrograman biasa dikatakan dengan frase yang lebih gampang disebut, yaitu jago ngoding. Apa itu ngoding? Ngoding itu bahasa keren dari nge-code. Tentu saja yang dimaksud disini adalah kode pemrograman. Itu sedikit penjelasan istilah, sekarang mari masuk ke topik intinya. Haruskah mahasiswa IT jago ngoding?

Dalam kurikulum standar bidang IT yanng dibuat oleh IEEE memang dikatakan bahwa kemampuan melakukan programming alias pemrograman alias nge-code alias ngoding itu termasuk kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua mahasiswa yang jurusan IT. Tak peduli apapun jurusan spesifiknya di bidang IT. Apakah dia berada jalur sistem informasi (salah satu jurusan di bidang IT yang lebih ke arah sosial), atau jurusan komputasional (lebih ke arah matematika saintifik) atau yang mengambil jurusan hardware, apalagi yang memang mengambil jurusan teknologi perangkat lunak. Semuanya digariskan untuk bisa menguasai pemrograman.

Lalu bagaimana kenyataan yang terjadi? Selama 3,5 tahun belakangan saya kuliah di jurusan IT di fasilkom UI tercinta ini saya menemukan tidak semua mahasiswa IT bisa ngoding. Bahkan seorang lulusan fakultas ilmu komputer UI sekalipun ada yang tidak berani mengambil sebuah proyek PHP kecil-kecilan hanya karena dia merasa tidak mampu ngoding. Banyak teman-teman saya di kampus yang sebenarnya benci ngoding. Tapi, seolah mereka terjebak oleh nasib mereka karena sudah terlanjur bercokol di jurusan ini. Akhirnya mereka, dengan setengah hati, mencoba belajar menjadi kodinger alias programmer yang baik. Namun, ada juga yang tak mau mengalah pada nasib mereka. Ada yang tetap bersikeras tak mau mengorbankan ketidaksukaan mereka pada baris-baris kode dengan tetap menjadi programmer setengah hati (yang satu ini termasuk saya :mrgreen: ). Golongan orang-orang seperti mereka ini pada akhirnya tersebar pada berbagai lingkup kerja lainnya. Ada yang menjadi konsultan, ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi desainer dan lain sebagainya. Dan mereka tetap dapat hidup bahagia tanpa harus dihantui oleh bayang-bayang baris kode pemrograman :)

Lalu, apakah itu berarti mahasiswa IT tidak mesti jago ngoding? tidak juga! Inilah pendapat saya. Seorang mahasiswa IT yang baik paling tidak harus memahami secara penuh KONSEP-KONSEP dasar pemrograman. Ingat, saya menekankan bahwa disini saya katakan KONSEP dan bukan bahasa pemrogramannya itu sendiri. Apa sih maksudnya konsep, contoh konsep itu misalnya konsep fungsi, loop, framework, OO, class/object, inheritance, declarative language, modular programming, kompilasi bahasa dan lain sebagainya. Itulah yang harus dipahami betul oleh seorang mahasiswa IT. Dengan bermodalkan pemahaman konsep yang mumpuni itu maka kita akan bisa dengan mudah mempelajari bahasa apapun: C, Java, C#, PHP, ASP, JSP, HTML, Javascript, Ajax, Pascal, Fortran, Assembly dsb.

Itulah alasan kenapa seharusnya kampus-kampus IT sebaiknya jangan mengajarkan satu bahasa tertentu pada mahasiswanya. Kalau begitu, nanti mereka akan bingung ketika harus berhadapan dengan bahasa lain. Saya sangat miris dengan kampus yang masih saja mengajarkan BAHASA Pascal, sementara tidak memberikan asupan KONSEP sama sekali. Kasihan sekali mahasiswa di kampus itu, sudah tidak mendapatkan asupan konsep, mereka juga hanya diajari bahasa JADUL yang sudah jarang dipakai lagi sekarang, Pascal.

Seharusnya kampus-kampus IT di seluruh Indonesia, baik yang kecil maupun yang besar. Lebih menitikberatkan pendidikannya pada konsep. Sehingga dewngan begitu, mahasiswanya akan lebih lincah dan lihai dalam menghadapi dunia kerja IT yang kejam ini :p Mereka bisa dengan percaya diri mengambil proyek berbahasa apapun. Dengan modal pemaahaman konsep yang kuat maka learning time mereka untuk satu bahasa baru bisa lebih cepat.

So, tenang saja, jadi mahasiswa IT gak harus jago ngoding koq. TAPI HARUS NGERTI KONSEPNYA!
OK, sekian saja, semoga bermanfaat :)

Jun 23 2008

Masa depan perusahaan mahasiswa

344 views

Melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya: Membangun silicon valley Indonesia. Pada tulisan itu saya mengatakan bahwa ada sebuah peluang besar yang memungkinkan terbentuknya iklim layaknya iklim yang terjadi di silcon valley, Amerika. Pada artikel tersebut saya katakan bahwa satu hal yang kurang dari orang-orang di Indonesia adalah entrepreneurship.

Akhir-akhir ini saya sering bertemu dengan pak valentino dinsi, seorang pengusaha sukses yang membuat buku “jangan mau seumur hidup jadi orang gajian”. Berdasarakan obrolan-obrolan saya dengan beliau, ternyata beliau telah lama mencari-cari SDM IT yang handal yang punya ide brilian tentang memanfaatkan IT untuk usaha. Alhamdulillah Allah mempertemukan pak valen dengan saya dan teman-teman saya yang sudah tergabung membentuk perusahaan bernama univind. Intinya beliau ingin memberikan investasi pada perusahaan saya itu. Pak valen berkata pada saya dan teman-teman saya “Anggaplah saya ini capital venture bagi kalian”. Ya… capital venture, saya menemukan capital venture untuk menumbuhkan perusahaan saya. Seperti yang saya nyatakan pada tulisan sebelumnya, bahwa di Indonesia itu sangat sulit mencari capital venture. Sangat sulit bagi mahasiswa yang mempunyai ide bisnis yang brilian untuk mencari penyokong bisnisnya kelak. Insya Allah kedepannya, perusahaan saya bisa lebih serius dalam bergerak dengan adanya pihak yang mau membantu baik dalam hal dana maupun jaringan.

(more…)

May 15 2008

Aksi tetaplah tidak efektif

Hari senin 12 mei 2008 lalu, saya berangkat dengan jaket kuning melekat ditubuh. Saya duduk diatap bis sambil meneriakkan orasi-orasi dan nyanyian-nyanyian khas aksi mahasiswa. Sesampainya di dekat patung tugu tani, saya mulai berjalan. Saya menjadi border dalam aksi tersebut. Saya ikuti setiap instruksi yang diturunkan dari komando aksi nasional tersebut. Saya masih dapat menikmati apa yang saya lakukan.

Paragraf pertama dari tulisan saya ini memang terlihat kontradiktif dengan apa yang saya tulis pada postingan saya yang sebelumnya: Arah pergerakan mahasiswa masa depan. Dalam postingan tersebut, saya jabarkan beberapa alasan saya kenapa saya tidak setuju dengan aksi tersebut. Saya tuliskan dengan gamblang bahwa pergerakan mahasiswa saat ini harus mencari arah lain, arah yang lebih efektif untuk menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam pembangunan bangsa. Saya katakan disana, bahwa selama ini kita mahasiswa telah salah arah. Namun, apa yang saya lakukan? saya justru ikuti aksi tersebut. Bahkan saya mampu menikmati apa yang saya lakukan disana. Melalui tulisan ini saya akan menjabarkan beberapa alasan kenapa saya tetap mengikuti aksi walaupun saya tidak setuju dengan upaya tersebut. Dan saya akan menekankan sekali lagi tentang pentingnya merubah arah gerak mahasiswa kedepan.

Kenapa saya ikuti aksi tersebut walaupun saya tidak menyetujuinya??? pertama, ada satu komentar dalam postingan saya sebelumnya yang saya anggap cukup cerdas, ini dia komentarnya. Intinya, mas Arul, sang pemberi komentar tersebut mengatakan bahwa masing-masing kita punya cara yang berbeda untuk bergerak. Saya bisa terima hal tersebut. Mungkin memang ada tipe mahasiswa yang lebih tertarik pada kegiatan aksi demonstrasi turun kejalan (pengingatan pada pemerintah: social control). Ada juga tipe mahasiswa yang lebih senang bergerak konkrit yang dapat memberikan perubahan secara langsung (pemberdayaan masyarakat: agent of change). Saya setuju bahwa kedua peran tersebut harus dijalankan secara beriringan. Saya setuju kita harus tetap mengingatkan pemerintah disamping kita sebagai mahasiswa juga haru membantu pemerintah dengan aksi nyata langsung apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa untuk membantu memperbaiki kondisi bangsa. Tapi, saya tegaskan bahwa saya tetap tidak setuju dengan AKSI tersebut.

lho… giman sih? tadi katanya setuju, tapi koq tiba-tiba berubah lagi jadi gak setuju?? saya ingin tekankan bahwa saya setuju bahwa kita mahasiswa harus senantiasa mengingatkan pemerintah akan amanah-amanahnya. Tapi saya tidak setuju jika caranya dilakukan dengan sebuah aksi demonstrasi. Kenapa saya tidak setuju dengan metode tersebut. Beberapa alasannya sudah saya tuliskan dalam postingan saya yang sebelumnya. Nah… disini saya ingin menambahkan point-point kenapa saya tidak setuju dengan metode aksi demonstrasi turun kejalan pada suasana yang seperti ini. Aksi-aksi tersebut biasanya selalu mengarah pada perlawanan akan bentuk represi. Akhirnya, dalam aksi-aksi itu diperlukan cara-cara yang agak kasar. Contoh: pada aksi senin lalu, salah seorang ketua BEM SI membuat yel seperti ini “SBY-JK, LAWAN!!!”. Sekarang saya mempertanyakan lagi, sebenarnya apa yang perlu dilawan dari SBY JK, apakah kedua orang itu menyuruh militer untuk menembaki kita? apakah kedua orang itu mengintimidasi kita? entu tidak. Lalu apa yang perlu dilawan dari mereka? mereka tidak perlu perlawanan, mereka cuma butuh pengingatan, dan yang lebih penting lagi: sokongan. Akhirnya, kita mahasiswa terjebak dalam cara-cara yang tidak ahsan (baik) dalam memberikan pengingatan pada pemerintah. Cara-cara kasar seperti itu, saya tekankan sekali lagi hanya cocok untuk pemerintahan otoriter yang mengintimidasi rakyatnya sendiri. sleain itu, aksi mahasiswa ini juga semkain menumbuhkan arogansi kita sebagai mahasiswa. Seringkali kita pada saat melaksanakan aksi menuntut dengan tuntutan macam-macam. Biasanya kita minta orang yang berkepentingan untuk menemui kita. Biasanya juga, orang yang berkepntingan itu idak bisa menemui kita. entah karena takut atau karena memang sedang sibuk. Lalu biasanya mereka memberikan alternatif pertemuan. Misal, silahkan bertemu dengan bawahan saya terlebih dahulu. Atau mari kita diskusi tapi hanya sekian orang perwakilan saja. Nah… pada saat itulah, kita para mahasiswa yang emosinya sudah terlanjur meluap-luap dengan cuaca terik dan orasi-orasi emosional, akhirnya menjadi bersikap arogan. Biasanya aksi itu akan berujung seperti ini “KAMI TIDAK BUTUH KALIAN!! KALIAN SUDAH MEMBUKTIKAN BAHWA KALIAN PENGECUT blablabla…”. Lantas kalau sudah seperti itu, kita pergi mencari spot aksi lain. Setelah jadwal aksi sudah berjalan sampai akhir. lantas kita masing-masing pulang kembali kerumah. Mengerjakan kembali tugas2 kuliah kita yang masih terbengkalai. Akhirnya…. aksi-aksi tersebut benar-benar tidak membawa hasil, karena ketika kesempatan diskusi sudah terbuka, kita pergi begitu saja sambil terus bersampah serapah dalam orasi-orasi kita. Saya katakan pada rekan-rekan semua, bahwasanya kondisi aksi senin lalu ternyata tak jauh berbeda dengan skenario yang saya tuliskan diatas. SBY, melalui Andi malarangeng mengatakan silahkan bicara dulu dengan menteri-menteri terkait. Kita sudah diberi kesempatan untuuk berdiskusi dengan para menteri, tapi ternyata kita menolak mentah-mentah. Kita tetap memaksa SBY datang kemudian menandatangani lembara tugu rakyat yang isinya HANYA TUNTUTAN buat pak SBY. kasian betul pak SBY itu… sudah terliaht sekali dia bingung mengurus negeri ini, eh… kita mahasiswa malah tambaha bikin ngerecokin kebingungannnya beliau. Seharusnya kita bantu dia mengusir kebingungannya dengan mengatakan pada beliau: “Pak SBY, kami siap mensupport Anda dalam bidang-bidang yang kami kuasai. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu program-program anda akan kami coba kerjakan”

Wah… mas kamal ini gimana sih??? tulisannya panjang lebar menentang aksi tapi koq kemarin tetap ikut aksi? Ok… disini saya akan berikan jawabannya… Satu hal yang menjadi alasan saya kenapa ingin ikut aksi ini adlah saya ingin memberikan contoh pada sahabat-sahabat saya yang lain yang ada di fasilkom. Say sudah meliaht Fasilkom tidak tawazun, tidak seimbang. Terlalu menitikberatkan pada aspek keilmuan tapi aspek pengingatannya diabaikan sama sekali. Saya akui, Banyak, sangat banyak mahasiswa fasilkom yang merasa tidak punya tanggung jawab untuk mengingatkan pemerintah. Dikampus saya itu, lebih banyak orang yang ingin belaja tentang IT karena dia ingin dirinya jago dibidang IT. Dikampus saya, lebih banyak orang yang ingin berprestasi supaya dirinya bisa memberikan kebermanfaatan yang luas. Tapi sayangnya banyak dari mereka yang lupa dengan perannya yang lain, yaitu peran social control. bahkan para pejabat BEM Fasilkom pun banyak yang punya pandangan seperti itu (Ayo donk, sodara-sodara dan sahabat-shabat ku di BEM, be tawazun/seimbang dalam bergerak! Jalankan semua peran mahasiswa secara optimal). Dengan ikut aksi tersebut, saya ingin memberikan teladan pada teman-teman saya dikampus fasilkom. Untuk itulah, sesaat sebelum berangkat aksi itu, saya berjalan berkeliling sendiri dikampus saya dengan mengenakan jaket kuning yang ngejreng itu. Walhasil, banyak yg nanya “mo ngapain lu mal!!” :) Alhamdulillah, aksi yang saya ikuti itu memberikan pengaruh yang cukup besar buat beberapa orang sahabat saya. Semoga pergerakan mahasiswa dikampus saya kedepannya bisa lebih seimbang.

Sekarang, saya sudah menjabarkan bahwa aksi itu tidak efektif. tentunya saya tidak boleh hanya berkoar-koar saja berteriak-teraik bahwa aksi tidak efektif tanpa memberikan solusi jalan lain yang lebih efektif untuk mengingatkan pemerintah. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan mengundang tokoh politisi yang ingin kita ingatkan itu dalam diskusi yang lebih sopan dan konstruktif. Kita bisa saja mengundang sang presiden atau sang menteri untuk menjadi pembicara di seminar yang kita adakan. Dalam acara itu kita bisa memberikan pengingatan secara lebih elegan. Selain itu, kita juga bisa datangi media, untuk meminta slot khusus untuk menyampaikan pendapat kita. Kalau untuk menundukkan DPR/MPR saja kita bisa, apalagi kalau cuma sekedar meminta waktu pada media untuk memberikan pengingatan pada pemerintah sekaligus juga memberikan pencerdasan pada masyarakat. Ketahuilah… aksi sama sekali tidak mendidik masyarakat, lihatlah di daerah-daerah, mereka-mereka yang berusaha mengikuti cara kita dengan berdemosntrasi ternyata justru terseret pada sikap anarkisme. Kita, para mahasiswa insan intelektual bangsa mungkin bisa mengendalikan aksi secara kondusif dan tidak anarkis, Tapi mereka diluar sana yang tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting tuntutan mereka terpenuhi. Mereka pasti akan terodorng pada aksi anarkisme.

Sebenarnya masih ada banyak sekali cara lain yang bisa kita lakukan untuk mengingatkan pemerintah dengan cara yang lebih elegan dan mendidik. Kita pasti bisa mengexplor semua cara tersebut. Syaratnya, kita para mahasiswa harus benar-benar bersatu. Kita harus sama-sama sepakat bahwa mahasiswa perlu merubah pola gerakannya. Dari situ baru kita bisa sama-sama memikirkan pola gerakan yang paling tepat dan cocok untuk kondisi Indonesia saat ini.

~ HIDUP RAKYAT INDONESIA

May 03 2008

Arah pergerakan mahasiswa masa depan

Saya adalah seorang mahasiswa yang bercokol dikampus yang disebut-sebut sebagai kampus perjuangan. Kampus yang begitu mencolok dengan jaket kuningnya. Kampus yang dikatakan jika mahasiswanya turun kejalan maka hati-hati akan ada perubahan. Kampus Universitas Indonesia. Lebih spesifik lagi dikampus UI ini saya mendalami bidang kajian ilmu komputer di gedung bundar fasilkom UI.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai pergerakan mahasiswa saat ini. Tulisan saya ini merupakan respon terhadap beberapa aksi yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya belum lama ini. Begitu mirisnya saya melihat saudara-saudara seperjuangan saya yang rela tidur dijalanan demi menunjukkan perhatiannya pada bangsa. Tulisan ini juga merupakan jawaban atas pertanyaan beberapa orang sahabat saya yang menanyakan kenapa saya tidak pernah mau ikut aksi? kenapa tingkat
partisipasi fakultas saya dalam kegiatan-kegiatan seperti itu sangat kecil? Tulisan ini dibuat dengan harapan dapat memberikan pencerahan pada rekan-rekan mahasiswa bahwa sudah saatnya kita merubah arah pergerakan kita.

tercatat tanggal 21-23 maret lalu, BEM UI mengadakan konferensi BEM Seluruh Indonesia. Saya sendiri sudah lama mendengar isu akan diadakannya acara ini. Ketika mendengar isu ini saya merasa ada angin segar. Semoga acara ini bisa menjadi titik tolak perubahan pergerakan mahasiswa kedepan. Tapi ternyata hasil dari acara ini tidak seperti yang saya harapkan. Konferensi ini ternyata hanya menghasilkan (lagi-lagi) tuntutan terhadap pemerintah diantara sekian banyak tuntutan-tuntuan yang pernah dilayangkan mahasiswa pada pemerintah. Tuntutan ini diberi nama TUGU RAKYAT (Tujuh Gugatan Rakyat)
. Coba kita hitung berapa banyak sebenarnya tuntutan-tuntutan kita yang benar-benar diperhatikan oleh pemerintah. Memang ada, tapi sangat sedikit. Seharusnya pertemuan itu bukan cuma sekedar membahas permasalahan bangsa kemudian membuat tuntutan pada pemerintah. Seharusnya konferensi itu menghasilkan kesepahaman tentang apa yang bisa dan seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk memperbaiki bangsa ini. Hanya menuntut tidak akan membawa hasil apapun, tidak akan memberi perubahan yang nyata buat rakyat. Sebaliknya, hanya perbuatan konkrit lah yang bisa memberikan dampak nyata dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa kita. Yang dibutuhkan adalah Solusi konkrit, bukan cuma barisan point-point tuntutan.

Kemudian hasil konferensi ini di tindak lanjuti dengan aksi yang diberi tagline hiperbolis “kepung istana”. Aksi ini diikuti oleh kurang lebih 600 orang. Mereka bahkan sampai menginap didepan istana negara dan tidur dijalanan. Lalu apa? adakah perubahan yang berarti akibat aksi demonstrasi ini? apakah kini rakyat sudah mendapat kesejahteraan yang lebih baik? Apakah semua aksi kita itu diperhatikan oleh pemerintah? jawabannya tentu TIDAK. Dan saya sangat menyayangkan aksi mereka menginap dijalanan. Apakah tidurnya mereka di aspal itu benar-benar mampu membuat perubahan? tentu tidak. Padahal akan jauh lebih baik jika tenaga mereka dialihkan untuk berbuat sesuatu hal yang konkrit untuk mensejahterakan masyarakat.

Sadarilah aksi semacam itu kini sudah tidak efektif lagi. Aksi hanya diperlukan dalam suasana pemerintahan yang otoriter. Sehingga kita sebagai mahasiswa punya peran untuk melakukan represi politik pada pemerintah. Sementara kondisi politik Indonesia saat ini cenderung stabil. Iklim demokrasi berjalan dengan baik. Coba perhatikan, aksi-aksi mahasiswa yang benar-benar efektif dan mampu membawa perubahan adalah aksi yang membawa agenda besar untuk untuk melakukan perbaikan yang sifatnya mendesak dan butuh represifitas yang tinggi. Salah satu contohnya adalah aksi `98. Kalau saya jadi mahasiswa pada saat itu, tentu saya akan dengan sukarela ikut dalam aksi tersebut. Tapi dalam aksi-aksi lain yang tidak membawa tujuan perubahan besar, yang pada akhirnya hanya bertujuan menunjukkan eksistensi mahasiswa, saya tidak akan mengikutinya.

Dulu, kalaupun suatu aksi demonstrasi tidak membawa agenda perubahan yang besar. paling tidak media masih meliput aksi tersebut dengan serius. Sehingga gaungnya bisa benar-benar terlihat oleh publik. Dalam kondisi seperti ini, paling tidak aksi yang dilakukan mahasiswa masih bisa memberikan manfaat, yaitu masyarakat menjadi tahu bahwa mereka masih punya tumpuan. pasca 98 s/d tahun 2004-an, aksi mahasiswa masih bisa dijadikan sarana untuk menunjukkan perhatian kita para mahasiswa terhadap persoalan bangsa. Tapi coba lihat saat ini, banyak pihak yang sudah jemu dengan aksi-aksi tersebut. Rakyat sudah semakin skeptis dengan aksi-aksi yang kita lakukan. Media sudah tak lagi menganggap aksi-aksi mahasiswa sebagai berita yang patut disebarluaskan secara masif. Alhasil, demonstrasi mahasiswa kini benar-benar terasa kosong tak tak bermakna. Demonstrasi kini tidak lagi membawa agenda perubahan yang besar, hanya tuntutan demi tuntutan. Selain itu, demonstrasi kini juga sudah tidak mendapat perhatian publik. Sehingga upaya kita untuk menunjukkan perhatian kita pada bangsa ini juga menjadi tidak efektif.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita para mahasiswa merubah arah pergerakan kita. Kedepannya kita harus lebih banyak bergerak pada lahan yang benar-benar riil memberikan efek nyata buat masyarakat. Kita harus mulai memberdayakan potensi intelektual kita untuk memberikan solusi konkrit buat bangsa. Kegiatan-kegiatan aksi, demonstrasi dkk kini sudah tidak lagi diperlukan karena memang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kegiatan-kegiatan seperti pembangunan desa (UI Comdev BEM UI), pembuatan blueprint jakarta (Pokja DKI BEM UI), pelatihan komputer gratis untuk rakyat (Pengmas On IT BEM fasilkomUI) dkk harus lebih diperbanyak. Riset-riset yang ditujukan untuk menghasilkan solusi bagi bangsa harus lebih intensif. PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) juga dapat menjadi sarana memberikan solusi konkrit untuk bangsa. Asalkan mahasiswa yang mengikutinya bukan cuma bertujuan untuk memenangkan lombanya tapi juga bertujuan untuk memberikan solusi konkrit permasalahan bangsa. Kedepannya, kita harus lebih banyak memberikan dukungan atas setiap kerja positif yang telah dilakukan pemerintah.

Sejauh ini, saya lihat sudah ada satu kampus di Indonesia yang sudah sangat berhasil mengarahkan pergerakan kemahasiswaannya ke arah yang benar. Kampus itu adalah kampus IPB (Institut Pertanian Bogor). Salut saya untuk rekan-rekan mahasiswa di IPB yang telah memberikan banyak solusi konkrit untuk mengentaskan berbagai macam persoalan bangsa. Kampus saya sendiri, UI, yang dulu disebut sebagai barometer utama pergerakan kemahasiswaan nasional kini sudah tidak terasa lagi. Saya mengakui bahwa kami disini masih berkutat dengan model perjuangan gaya lama yang sudah tidak lagi relevan. Saat ini, kami para aktivis mahasiswa di UI sedang berusaha mengarahkan pergerakan kami ke arah yang sesuai.

Diluar semua itu, kita juga tak boleh lengah untuk terus mengingatkan pemerintah untuk melakukan perbaikan disana-sini. Kita harus mencari cara lain yang lebih efektif daripada demonstrasi. Cara yang lebih cocok untuk kondisi saat ini. Kalau memang suatu saat nanti, terbentuk kemabli iklim politis yang memaksa kita untuk turun kejalan maka ayo kita kemabli lagi kejalanan meneriakkan suar-suara lantang kita. Menggemakan idealisme kita. Menunjukkan perhatian kita pada rakyat. Tapi saat ini, bukan itu jalan yang harus kita tempuh. Kita harus mencari jalur lain yang lebih jelas. Jalur yang secara nyata akan membawa perbaikan pada Indonesia.

Semoga kita para mahasisa Indonesia dapat terus menjalankan perannya pada bangsa ini. Semoga kita dapat terus memberikan kontribusi aktif kita pada upaya perbaikan bangsa Indonesia.

Hidup Bangsaku!
Hidup Rakyat Indonesia!

~”hidup mahasiswa!” hanyalah seruan arogansi eksistensial mahasiswa pada rakyat Indonesia.

Feb 19 2008

Menjadi “Mahasiswa Berprestasi” atau Menjadi Mahasiwa yang Berprestasi

Akhir-akhir ini isu-isu mengenai pemilihan “mahasiswa berprestasi” alias mapres dikampus saya sudah mulai memanas. Banyak sahabat-sahabat saya yang sudah mulai ngomporin teman-teman yang lain untuk ikutan ajang yang satu ini. Ada 4 orang yang saya tahu paling getol menggencarkan kampanya pemilihan mapres ini. Mereka adalah Sidicx, Ilman, Chandra dan Hening. Salut buat 4 orang tersebut, yang penuh semangat, yang penuh gairah untuk berprestasi. Jujur-sejujur-jujurnya saya agak ngiri sama mereka yang bisa ikut dalam ajang pemilihan mapres ini. Saya sendiri sebenarnya juga mau ikutan, tapi apa daya IPK tak sampai :) eitss… tapi ini bukan kalimat putus asa. Ini bukan kalimat yang menhentikan saya untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi.

Secara realitas, memang nilai-nilai perkuliahan saya tidak terlalu dapat dibanggakan. Ada beberapa sahabat saya yang bilang bahwa saya ini aktivis generasi lama :) yang sibuk ngurus ini itu tapi kuliahnya gak keurus. Jangan salah kawan, dalam hal kenyataan nilai yang saya dapat memang sih selevel sama aktivis-aktivis generasi lama. Tapi dalam hal semangat berprestasi, saya punya 100% jiwa aktivis generasi baru. Yang berorientasi pada prestasi, berorientasi pada kebermanfaatan nyata yang bisa diberikan pada orang lain. Saya bertekad bahwa suatu saat nanti, saya akan memberikan andil yang besar dalam rangka menumbuhkan dunia IT di Indonesia.  That is a new generation activist’s soul.

Nah… seperti biasanya saya menekankan blog ini bukan untuk cerita-cerita pribadi saya, tapi lebih kearah artikel-artikel opini yang inspiratif dan bermanfaat buat yang membaca. Oleh karena itu, disini saya akan coba mengulas suatu aspek berbahaya tentang ajang pemilihan mapres ini. Apakah aspek berbahaya itu? sudah cukup tersirat dijudul tulisan ini. Simak aja deh ulasannya.

Tulisan ini saya beri judul Menjadi “Mahasiswa Berprestasi” atau Menjadi Mahasiswa yang Berprestasi.  Apa sih maksudnya? begini penjelasannya. bagian yang pertama, menjadi “mahasiswa berprestasi”, itu maksudnya adalah mendapatkan gelar  sebagai pemenang dalam ajang pemilihan mahasiswa berprestasi. Sementara pada bagian yang kedua itu maksudnya adalah benar-benar secara nyata menjadi mahasiswa yang berprestasi. Saya rasa dari paragraf ini saja sudah cukup untuk menggambarkan int tulisan saya.

Inti tulisan ini adalah, jangan sampai kita terjebak dalam orientasi yang salah. Jangan sampai orientasi kita hanya untuk mendapatkan gelar sebagai mahasiswa berprestasi. Orientasi kita harus tetap murni, yaitu menjadi mahasiswa yang berprestasi dan memberikan banyak manfaat buat orang lain dengan prestasi yang kita raih. Apalah artinya gelar mapres kalau pada kenyataannya kita tidak benar-benar berprestasi. Apalah artinya kalau ternyata gelar mapres yang kita dapatkan hanya karena CV yang kita utak-atik sedemikian cantik atau karena tulisan-tulisan yang dibuat menawan atau hanya karena presentasi yang berapi-api. Tapi diluar sana, didunia nyata, kita benar-benar kosong. Tak ada kebermanfaatan yang kita berikan pada orang lain. Sungguh sayang gelar tersebut. Berorientasilah pada prestasi yang sebenarnya dan gelar mapres tersebut akan dengan sendiriya melekat pada diri kita.
Tulisan ini juga sebagai penyemangat buat mereka (lebih tepatnya kami :) ) yang tidak bisa mengikuti ajang pemilihan mapres karena kendala syarat IPK. Saya tidak dapat memenuhi syarat tersebut, tapi saya tidak malu. Karena saya tahu, IPK yang saya raih itu cuma nilai semu yang tidak benar-benar menggambarkan apakah seseorang itu berprestasi atau tidak. IPK tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk terus berprestasi. Kita masih dapat menjadi pribadi prestatif tanpa perlu mengikuti ajang pemilihan tersebut. Coba lihat diluar sana, begitu banyak lomba-lomba yang bisa diikuti. Begitu banyak kesempatan riset yang bisa digeluti. Begitu banyak peluang bisnis yang bisa diraih. Begitu banyak kegiatan-kegiatan sosial yang bisa dijalankan. Semua itu dapat menjadi sarana bagi kita untuk menjadi mahasiswa berprestasi, mahasiswa yang benar-benar berprestasi. menebar manfaat untuk sejuta umat.

Be prestative!! 

Dec 03 2007

Tips membangun perusahaan

Sesuai dengan tulisan saya sebelumnya yang ini

http://kamal87.wordpress.com/2007/11/22/enterpreneurship-di-kampus/ 

dimana disitu saya menjanjikan akan menulis tips dan trik untuk membangun perusahaan bagi mahasiswa. Maka pada kesempatan kali ini saya akan coba menuliskannya.

Sebelum dimulai, saya ingin meluruskan dulu pandangan kita tentang perusahaan disini. Jangan menganggap bahwa yang namanya perusahaan itu yang punya struktur pengorganisasian kompleks, harus punya banyak modal, harus menyiapkan infrastruktur dulu dsb. Anggaplah perusahaan ini hanya sebagai sebuah tim yang akan terus disolidkan. Di amerika sudah banyak perusahaan-perusahaan yang hanya dijalankan oleh DUA orang saja. Jadi, gak usah mikir terlalu ribet tentang wujud perusahaan disini.

OK, ini dia tipsnya, tips ini saya sarikan dari apa yang saya lakukan ketika membangun univind

  1. Jangan kelamaan mikir!! Banyak orang yang sudah berniat membangun sebuah perusahaan harus mengurungkan niatnya karena terlalu banyak yang dia pikirkan. Semakin lama kita berpikir, maka keragu-raguan akan semakin meningkat. Akhirnya malah tidak jadi membuat perusahaan dan terlena dengan kehidupan standar yang sudah dijalani sekarang.
  2. Segera buat institusionalisasi perusahaan. Apa sih maksudnya institusionalisasi? maksudnya adalah segera tentukan nama perusahaan, struktur perusahaan, ruang lingkup perusahaan. Tidak usah terlalu sempurna, yang penting ada dulu. Keberadaan formalitas-formalitas tersebut akan mendorong kita untuk serius menjalankan bisnis kita.
  3. Buang semua rasa takut. Ketika kita ingin membuat perusahaan, pasti banyak muncul pikiran-pikiran negatif yang muncul di otak kita. Saya katakan, segera buang pikiran tersebut.
  4. Kumpulkan keberanian dan kenekatan. Dulu ketika awal membangun univind (dulu bernama apaDonk) saya menentukan lingkup perusahaan saya adalah web design. padahal waktu itu saya sama sekali tidak punya keahlian dibidang tersebut. tapi, ya itulah… waktu itu saya super nekad. Yang penting ada dan jalan dulu. entar belajar pelan-pelan.
  5. Cari partner yang kompeten, kalau yang satu ini sebenarnya opsional. Banyak pengusaha yang memulai usahanya sendiri dan bisa sukses. Tapi, percayalah… dengan keberadaan partner atau teman kita bisa saling mengisi. Ini adalah hal pertama yang saya lakukan dulu ketika membangun univind. waktu itu saya masih diliputi keraguan untuk membangun perusahaan. lantas saya ajak beberapa teman saya untuk membangun perusahaan. Dari situ saya merasa punya kekuatan lebih untuk mulai bergerak. Sekarang, teman-teman saya itu bahkan lebih semangat daripada saya dalam menjalankan univind :)
  6. Jangan terhalang oleh modal uang. Banyak orang yang beralasan tidak mau usaha karena tidak punya modal. padahal uang bukan modal paling penting yang harus dimiliki. Modal yang paling penting adalah keberanian, kenekatan, integritas, komitmen, konsistensi dsb. Kalau masalah uang itu sih gampang. Modal uang bisa dicari melalui banyak cara. Nanti saya akan tulis, tips dan trik untuk membuat usaha tanpa modal uang. Dulu waktu saya mulai merintis univind, jujur waktu itu saya sedang tidak punya uang (bahkan baru saja kehilangan uang 1 juta rupiah). Dan itulah gunanya mencari teman, Kita bisa mengumpulkan modal uang dari teman-teman kita.
  7. Bersiaplah untuk berkorban. Ketika awal membentuk perusahaan, pasti perusahaan kita itu menyita banyak sekali waktu dan pikiran kita. Jadi… siaplah berkorban. siapkan diri anda untuk terus bekerja 24 jam. Kurangi jam tidur. Pokoknya berikan pengorbanan yang besar untuk perusahaan anda.
  8. Setelah perusahaan sudah terbentuk. Jalankan perusahaan tersebut dengan komitmen yang tinggi dan juga konsisten dalam bekerja. Jangan mudah menyerah. Dalam perjalanannya nanti anda akan menemukan banyak masalah dalam perusahaan anda. Bersabarlah, jangan mudah menyerah dengan masalah tersebut. Univind atau lebih tepatnya apaDonk pada masa-masa awalnya itu isinya cuma masalah doank. Hampir enam bulan sesudah saya mendeklarasikan apaDonk saya belum juga mendapatkan penghasilan. Internal tim apadonk juga pada tidak semangat menjalankan perusahaan. Sampai waktu itu ada selentingan “bubarin aja deh nih apadonk… gak ada gunanya”. Waktu itu saya sempat berpikir untuk membubarkan apadonk. Tapi setelah saya pikir2 lagi, kalau apadonk saya bubarin sekarang, trus apa gunanya semua perjuangan saya selama enam bulan belakangan. Saya tidak mau perjuangan saya sia-sia. Akhirnya apadonk terus berjalan walaupun terseok-seok, mengalami banyak kegagalan. Tapi semua kegagalan tersebutlah yang akhirnya membuat kami semua di univind (kamal, eko, ikhlas, sipur, yans, ilman) punya semangat yang lebih keras dari baja. Kita semua di univind sekarang bisa dibilang sudah cukup tahan banting.

mungkin segitu aja dulu tips dari saya. sebenarnya masih banyak sekali yang ingin saya share kepada teman-teman semua tentang perjuangan saya membangun univind. Saya berharap tulisan ini bisa memotivasi teman-teman semua untuk membangun perusahaan sendiri.

Jangan takut jadi pengusaha
salam enterpreneur!


↑ Back to top