IT, Entrepreneurship, Web, Internet, Motivation, Inspiration
May 13 2009

Membangun Silicon Valley Indonesia

Apa yang sebenarnya terjadi di Silicon Valley? Kenapa tempat tersebut bisa menjadi pusat inovasi teknologi tinggi dunia? Kenapa bisa tumbuh begitu banyak perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia dari lembah tersebut? Kesuksesan wilayah tersebut didorong oleh dua faktor utama. Yaitu: kreatifitas inovasi dan entrepreneurship. Lalu bisakah kita membangun modal seperti itu di Indonesia? Mari ditelisik satu per satu.

Faktor pertama adalah kreatifitas dalam berinovasi. Di Lembah silikon tersebut terdapat sebuah universitas bernama Stanford University yang merupakan salah satu universitas terbesar didunia. Dari universitas tersebut banyak lahir perusahaan-perusahaan IT kelas dunia yang mampu merajai dunia IT. Mulai dari SUN Microsystem sampai dengan yang paling gress yaitu Google. Di Stanford, banyak sekali riset-riset yang merangsang inovasi teknologi tinggi. Kampus tersebut sangat produktif dalam menghasilkan produk-produk IT. Mahasiswa Stanford bisa dengan mudah menyalurkan berbagai ide inovatifnya untuk diimplementasikan secara nyata.

Faktor kedua adalah entreprenurship. Tanpa faktor ini, berbagai macam ide inovasi yang keluar dari elemen kampus tidak akan bisa berkembang. Tanpa faktor ini, semua kreasi tersebut hanya akan menjadi tumpukan laporan-laporan riset yang tidak terimplementasikan ke publik. Di lembah ini, terdapat begitu banyak capital venture dan angel investor yang berani mengeluarkan sejumlah besar uang uang untuk membiayai riset kreatif dari orang-orang di Stanford. Salah satu venture capital yang sangat terkenal adalah Sequoia Capital. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang telah membidani tumbuh kembangnya perusahaan-perusahaan IT seperti Yahoo, Google, Apple dsb (list lebih lengkap disini). Para angel investor di silicon valley bersedia mengambil resiko bersama sang kreator inovasi. Mereka bersedia membukakan peluang yang sangat besar untuk orang-orang yang punya ide inovatif. Mereka akan terus membantu menggiring perusahaan didikannya supaya bisa maju melesat dengan cepat. Dengan dukungan dari para venture capital inilah, IT entrepreneur di Silicon Valley dapat berkembang dengan mudah. Para inventor yang selama ini berkutat dikampus bisa melangkah sedikit keluar wilayah kampus untuk mencari dana, mendapat dukungan dan mengimplementasikan idenya.

Jika kita membandingkan kondisi tersebut dengan kondisi Indonesia, maka kita bisa menganalisis bagaimana sebenarnya langkah yang tepat untuk membuat model silicon valley di Indonesia. Menurut saya, di Indonesia, faktor pertama yaitu kreatifitas inovasi sebenarnya sudah dimiliki. Saya sangat yakin bahwa sebenarnya SDM IT di Indonesia itu mempunyai kualitas yang sangat tinggi (coba baca ini: harry.sufehmi.com – hacker Indonesia). Namun sayangnya, potensi besar dari SDM IT di Indonesia itu tidak terberdayakan sehingga banyak SDM IT Indonesia yang salah jalur. Ada yang memanfaatkan kepintarannya melalui jalur hitam (cracking, fraud dsb) dan ada juga yang akhirnya lebih tertarik untuk bekerja keluar negeri dan menyerahkan kecerdasan yang dimilikinya untuk perusahaan-perusahaan IT yang sudah besar seperti Microsoft, Oracle, Sun dsb. Hacker-hacker di Indonesia bisa dibilang termasuk hacker berkualitas.  Disamping itu, banyak pula orang Indonesia yang bekerja di Silicon Valley. Belum lagi kalau saya melihat kondisi di kampus saya, fasilkom UI. Beberapa waktu yang lalu, mahasiswa tingkat pertama di kampus saya diberi tugas mata kuliah DPBO (Dasar Pemrograman berorientasi objek) untuk membuat game. Mereka diberi kebebasan untuk membuat game apapun. Dan hasilnya terlihat sangat mengesankan. Hasil tugas mereka bisa dibilang outstanding. Itu membuktikan bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang sangat besar. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Asal potensi tersebut bisa diarahkan dengan baik, maka saya yakin IT di Indonesia dapat berkembang dengan sangat pesat.

Lalu bagaimana dengan kondisi entrepreneurship di Indonesia. Inilah yang saya lihat masih kurang berkembang. Sulit sekali bagi mereka yang punya ide inovatif untuk mendapatkan dana untuk risetnya. Kalaupun riset sudah dilakukan dan sudah ada hasil outputnya, biasanya tetap hanya berkutat dikampus. Hasil-hasil riset tersebut terpendam dan tak bisa berkembang karena tidak adanya pihak yang bersedia memberdayakan hasil riset tersebut untuk diimplementasikan di khalayak publik. Contoh konkrit dari kondisi ini adalah hasil riset lab JST (Jaringan Saraf Tiruan) di kampus saya. Yang saya tahu, lab riset tersebut sangat produktif, menghasilkan banyak produk-produk teknologi tinggi. Lab tersebut merupakan salah satu rujukan seluruh dunia untuk masalah neural network. Namun sayangnya hasil riset tersebut selama ini masih hanya berkutat dalam lingkup kampus. Seandainya ada pihak yang mau mendanai implementasi massifnya, pasti hasil riset tersebut akan lebih terasa manfaatnya.

Upaya untuk membangun model silicon valley di Indonesia sebenarnya sudah banyak, contohnya adalah: Bandung High Tech Valley, Bogor Cybertech Valley, Multimedia Infocom Resource di Yogyakarta dan Malang Information Techno Farm. Diantara 4 konsentrasi tersebut, mungkin yang paling serius digarap adalah BHTV (bandung High Tech Valley) yang digawangi oleh mas Budi Rahadjo. Mas Budi berpikir bahwa Bandung merupakan tempat paling kondusif untuk membangun model Silicon Valley Indonesia. Beliau berpikir seperti itu karena di Bandung sudah ada institusi riset seperti ITB, Unpad dsb yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi-inovasi kreatif layaknya Stanford University di Silicon Valley. Namun, saat ini proyek BHTV tersebut belum dapat berkembang karena kurangnya faktor yang kedua, faktor entrepreneurship. Kita masih sulit untuk menemukan capital venture yang mau membimbing para inovator dari kampus supaya produk inovatifnya dapat berkembang. Kita masih sulit menemukan angel investor yang berani mengambil resiko tinggi untuk membiayai ide yang belum tentu bisa sukses.

Faktor Entrepreneurship inilah yang harus kita dorong terus. Saya bersama teman-teman dari MaestroMuda juga sedang dan akan terus berusaha untuk menumbuhsuburkan iklim entrepreneurship di Indonesia. Semoga Indonesia bisa makin maju kedepannya.

May 06 2009

Haruskah mahasiswa IT jago pemrograman?

Di kalangan mahasiswa IT, isitlah jago pemrograman biasa dikatakan dengan frase yang lebih gampang disebut, yaitu jago ngoding. Apa itu ngoding? Ngoding itu bahasa keren dari nge-code. Tentu saja yang dimaksud disini adalah kode pemrograman. Itu sedikit penjelasan istilah, sekarang mari masuk ke topik intinya. Haruskah mahasiswa IT jago ngoding?

Dalam kurikulum standar bidang IT yanng dibuat oleh IEEE memang dikatakan bahwa kemampuan melakukan programming alias pemrograman alias nge-code alias ngoding itu termasuk kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua mahasiswa yang jurusan IT. Tak peduli apapun jurusan spesifiknya di bidang IT. Apakah dia berada jalur sistem informasi (salah satu jurusan di bidang IT yang lebih ke arah sosial), atau jurusan komputasional (lebih ke arah matematika saintifik) atau yang mengambil jurusan hardware, apalagi yang memang mengambil jurusan teknologi perangkat lunak. Semuanya digariskan untuk bisa menguasai pemrograman.

Lalu bagaimana kenyataan yang terjadi? Selama 3,5 tahun belakangan saya kuliah di jurusan IT di fasilkom UI tercinta ini saya menemukan tidak semua mahasiswa IT bisa ngoding. Bahkan seorang lulusan fakultas ilmu komputer UI sekalipun ada yang tidak berani mengambil sebuah proyek PHP kecil-kecilan hanya karena dia merasa tidak mampu ngoding. Banyak teman-teman saya di kampus yang sebenarnya benci ngoding. Tapi, seolah mereka terjebak oleh nasib mereka karena sudah terlanjur bercokol di jurusan ini. Akhirnya mereka, dengan setengah hati, mencoba belajar menjadi kodinger alias programmer yang baik. Namun, ada juga yang tak mau mengalah pada nasib mereka. Ada yang tetap bersikeras tak mau mengorbankan ketidaksukaan mereka pada baris-baris kode dengan tetap menjadi programmer setengah hati (yang satu ini termasuk saya :mrgreen: ). Golongan orang-orang seperti mereka ini pada akhirnya tersebar pada berbagai lingkup kerja lainnya. Ada yang menjadi konsultan, ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi desainer dan lain sebagainya. Dan mereka tetap dapat hidup bahagia tanpa harus dihantui oleh bayang-bayang baris kode pemrograman :)

Lalu, apakah itu berarti mahasiswa IT tidak mesti jago ngoding? tidak juga! Inilah pendapat saya. Seorang mahasiswa IT yang baik paling tidak harus memahami secara penuh KONSEP-KONSEP dasar pemrograman. Ingat, saya menekankan bahwa disini saya katakan KONSEP dan bukan bahasa pemrogramannya itu sendiri. Apa sih maksudnya konsep, contoh konsep itu misalnya konsep fungsi, loop, framework, OO, class/object, inheritance, declarative language, modular programming, kompilasi bahasa dan lain sebagainya. Itulah yang harus dipahami betul oleh seorang mahasiswa IT. Dengan bermodalkan pemahaman konsep yang mumpuni itu maka kita akan bisa dengan mudah mempelajari bahasa apapun: C, Java, C#, PHP, ASP, JSP, HTML, Javascript, Ajax, Pascal, Fortran, Assembly dsb.

Itulah alasan kenapa seharusnya kampus-kampus IT sebaiknya jangan mengajarkan satu bahasa tertentu pada mahasiswanya. Kalau begitu, nanti mereka akan bingung ketika harus berhadapan dengan bahasa lain. Saya sangat miris dengan kampus yang masih saja mengajarkan BAHASA Pascal, sementara tidak memberikan asupan KONSEP sama sekali. Kasihan sekali mahasiswa di kampus itu, sudah tidak mendapatkan asupan konsep, mereka juga hanya diajari bahasa JADUL yang sudah jarang dipakai lagi sekarang, Pascal.

Seharusnya kampus-kampus IT di seluruh Indonesia, baik yang kecil maupun yang besar. Lebih menitikberatkan pendidikannya pada konsep. Sehingga dewngan begitu, mahasiswanya akan lebih lincah dan lihai dalam menghadapi dunia kerja IT yang kejam ini :p Mereka bisa dengan percaya diri mengambil proyek berbahasa apapun. Dengan modal pemaahaman konsep yang kuat maka learning time mereka untuk satu bahasa baru bisa lebih cepat.

So, tenang saja, jadi mahasiswa IT gak harus jago ngoding koq. TAPI HARUS NGERTI KONSEPNYA!
OK, sekian saja, semoga bermanfaat :)

Apr 20 2009

Teknologi tak harus canggih, yang penting bermanfaat

Barusan saya melihat salah satu berita terbaru di detikinet mengenai TI Khas Indonesia yang Bikin Kagum Dunia Internasional. Berita itu menunjukkan pada kita bagaimana perjuangan pak Onno W Purbo untuk memajukan IT di Indonesia. Cara-cara yang selama ini dijalankan pak Onno sebenarnya gak bisa dibilang canggih-canggih amat. Coba saja lihat salah satu hasil ide kreatifnya, WajanBolic. Idenya sederhana, menggunakan wajan sebagai pengganti media parabolik untuk memantulkan gelombang yang nantinya bisa membuat internet kita bisa lebih ngebut. Coba pikirkan juga dengan RT/RW-net. Itu kan cuma sekedar “patungan” se-RT/RW untuk mendapat akses internet yang bisa dipakai bersama-sama. Bukan ide yang terlalu wah… Bukan juga ide yang fantastis secara teknologi. Tapi itu ide yang BOMBASTIS (lebay dikit :p ) jika dilihat dari sisi kebermanfaatan.

Meskipun sederhana dan tidak memerlukan intelijensi IT tingkat tinggi sekelas profesor, kenyataannya hasil karya-karya pak Onno mampu mengundang decak kagum dunia internasional. Dari apa yang dilakukan oleh pak Onno, kita belajar menyadari bahwa yang penting dari sebuah teknologi bukanlah sejauh apa kecanggihan teknologi tersebut melainkan seberapa besar kebermanfaatan yang bisa diberikan oleh teknologi tersebut.

Di kampus saya, Fasilkom UI, banyak sekali hasil-hasil riset tingkat tinggi yang digawangi oleh dosen-dosen saya para profesor-profesor IT kelas berat. Contoh yang paling kentara di kampus saya itu ada pada lab Jaringan Syaraf Tiruan (JST). Beberapa teman saya ikut andil menjadi pelaksana risetnya. Namun, yang saya tahu hanya sedikit dari hasil riset IT tingkat tinggi itu yang benar-benar serius diimplementasikan ke dunia nyata. Hasil-hasil riset itu lebih banyak “ngerem” di lab-lab kampus saya.

Paradigma pemikiran teknologi-tidak-harus-canggih-yang-penting-bermanfaat itu juga sangat cocok buat kita orang Indonesia (yang kebetulan masih miskin). Dengan kondisi kita yang masih miskin, kita harus pinter-pinter memanfaatkan teknologi sedemikian rupa supaya kita bisa membuatnya dengan murah tanpa kehilangan kebermanfaatan yang bisa diberikannya. Tul gak…

“Orang Indonesia itu memang miskin, tapi bukan berarti bodoh. Perangkat yang kita buat tidak harus canggih, namun yang pasti harus bermanfaat,” -  Onno W. Purbo

Begitu kata pak Onno. Sebuah quote yang sederhana namun mengundang sejuta makna (halah…). Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Semoga kedepannya kita bangsa Indonesia bisa menjadi pionir teknologi-teknologi yang bisa memberikan kebermanfaatan yang luas tidak hanya bagi orang Indonesia, tapi juga seluruh penduduk bumi.

Viva IT Indonesia!!!

Jun 16 2008

Protected: Membangun Silicon Valley Indonesia (1)

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Dec 29 2007

SDM IT yang gak suka IT vs SDM non IT yang cinta IT

Ada seorang teman saya satu kampus di fasilkom yang apabila ditanya sesuatu tentang IT, dengan tegas dia bilang tidak tahu. Jika diajak untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan yang banyak menyentuh aspek IT, dia juga pasti menolak mentah-mentah. Fenomena seperti ini cukup banyak terjadi dikalangan SDM IT di Indonesia. Sebaliknya banyak pula SDM yang latar belakang pendidikannya sebenarnya bukan IT tapi lebih punya ketertarikan pada bidang IT, bahkan mereka biasanya justru lebih ke-IT-IT-an daripada SDM IT itu sendiri. Sebagian besar latar belakang mereka adalah berasal dari jurusan matematika (MIPA) atau elektro (Teknik). Diluar itu ada juga SDM yang berasal dari jurusan ekonomi, budaya, bahkan ilmu sosial politik, yang akhirnya malah terjun kedunia IT setelah memasuki dunia kerja.

untuk SDM IT yang tidak ke-IT-IT-an biasanya mengarahkan dirinya pada bidang sistem informasi. Dimana memang bidang ICT yang satu ini lebih banyak menyentuh aspek manajerial dari suatu sistem IT daripada aspek teknikal IT-nya. Disini, pemahaman terhadap aspek teknikal IT cenderung tidak terlalu dibutuhkan, walaupun TETAP perlu. Sementara itu, mereka yang tidak berasal dari jurusan IT dan tertarik pada IT biasanya lebih tertarik pada aspek teknikalnya. Biasanya orang-orang seperti ini akan menggali kompetensinya sendiri dibidang IT. Dia akan belajar programming sendiri, dia akan belajar hacking sendiri dll dia akan belajar dari berbagai sumber semisal kursus, buku dan khususnya internet.

Sebenarnya bagaimanakah imbas dari kondisi seperti itu? apakah kondisi yang seperti itu akan memberi dampak positif bagi pertumbuhan IT di Indoensia, ataukah tidak berpengaruh, atau malah justru meruntuhkan kekokohan sendi-sendi pembangunan IT di Indonesia? berikut ulasannya dari saya:

SDM IT yang tidak berjiwa IT

kita mulai dulu dari SDM IT yang tidak berjiwa IT. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa SDM IT yang seperti ini cenderung akan memilih sistem informasi sebagai bidang minat jurusannya. Disinilah muncul permasalahan, sebagian besar orang yang memilih bidang minat sistem informasi itu bertipe seperti ini. Hasilnya, banyak spesialis IT bidang Sistem Informasi yang tidak benar-benar kompeten dalam bidangnya. Memang jurusan sistem informasi itu tidak terlalu membutuhkan pemahaman yang mendalam akan aspek teknikal IT, tapi biar bagaimanapun pemahaman tersebut tetap diperlukan supaya SDM yg bersangkutan dapat seutuhnya mengerti tentang apa yang dia kelola.

  • Apa jadinya kalau mereka tidak tahu bagaimana suatu server dapat bekerja (aspek teknikal IT) sehingga cocok dengan pengimplementasian bussiness process di suatu organisasi (aspek sistem informasi)?

kondisi yang seperti itu akan mengurangi tingkat produktifitas dan kreatifitas dari SDM yang bersangkutan. Tidak bisa produktif karena dia cenderung tidak ingin mempelajari suatu teknologi baru yang muncul yang dapat diimplementasikan pada suatu organisasi. Tidak kreatif karena dia akan terpaku pada batasan-batasan teknologi yang dia ketahui saja sehingga tidak bisa memanfaatkan teknologi lain yang mungkin lebih canggih untuk diimplemetasikan. Sementara SDM-SDM yang seperti ini cenderung tidak ingin mempelajari aspek teknikal dari suatu teknologi baru yang belum dia tahu. Akhirnya, SDM yang seperti ini terancam tergilas oleh putaran zaman. tergilas oleh inovasi teknologi yang terus berjalan. Dan bagaimana efeknya pada tataran makro? Apa jadinya kalau sebagian besar SDM Sistem informasi di Indonesia seperti itu? yang terjadi adalah munculnya banyak inkompetensi SDM dibidang ini. SDM-SDM Sistem informasi dari Indonesia akan berkualitas rendah, sehingga akan berdampak secara tidak langsung pada citra SDM IT secara umum di Indonesia.

SDM non IT yang cinta IT

Sekarang kita coba telaah tentang mereka yang tidak punya kesempatan untuk mendalami IT dikampus, tapi punya ketertarika yang tinggi pada bidang IT. Seperti yang telah saya katakan tadi bahwa mereka biasanya merupakan self learner yang baik. Mereka mampu menggali kompetensi dibidang IT secara mandiri melalui berbagai sumber-sumber informal. Dan mereka cenderung mampu menguasai berbagai aspek teknis IT yang memang mereka sukai, banyak dari mereka yang bahkan lebih jago dibandingkan dengan SDM IT yang memang benar-benar berasal dari jurusan IT. Namun sayangnya, karena mereka tidak mendapatkan pendidikan formal dibidang IT, maka banyak dari mereka yang akhirnya hanya mengetahui kulit luar dari IT itu sendiri. Dan biasanya mereka mempunyai kompetensi yang sangat tinggi pada berbagai aspek teknikal dari IT tapi mereka tidak tahu menahu tentang bagaimana pengoptimalan yang bisa dilakukan dari implementasi IT yang bersangkutan. Misal: mereka cenderung sangat jago dalam hal programming terutama pemahaman terhadap suatu bahasa, tapi mereka tidak terlalu pandai dalam hal implementasi algoritma yg baik dalam suatu bahasa pemrograman. Mereka mampu membuat sebuah sistem informasi, tapi mereka tidak mampu membuat pola database yang baik untuk sistem informasi tersebut. Mereka mampu membuat sebuah desktop software tapi mereka tidak mampu mengimplementasikan algoritma yang canggih untuk aplikasi yang dibuat olehnya. Mereka mampu membuat software-software kecil tapi tidak bisa membuat software-software profesional yang butuh sistematika software engineering yang baik. Mereka tahu PHP, MySQL, Java, ASP, hacking dll tapi mereka tidak tahu perancangan database, software engineering, artificial intelligence, organisasi arsitektur komputer dll. Mereka jago teknis tapi mereka payah konsep.

Lalu bagaimana efeknya secara makro? Saat ini di Indonesia, jumlah SDM IT yang tersedia masih sangat jauh dari cukup untuk mengisi pos-pos pekerjaan yang bisa disediakan. Akhirnya banyak SDM non IT yang pindah jalur didunia kerja dengan memilih pekerjaan yang berkaitan dengan IT. Kondisi seperti ini juga akan memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan IT di Indonesia. Dengan munculnya SDM-SDM ‘karbitan’ ini (no offense, udah bingung nih milih bahasa/ punya usulan bahas yang lebih halus :) ) Maka banyak produk-produk IT yang dihasilkan menjadi berkualitas rendah. Kode pemrograman tidak terformalisasi, pola database tida teratur dsb. Akhirnya, Indonesia sulit menghasilkan suatu produk IT yang berkaulitas tinggi, dan ini nantinya akan kembali ke kredibilitas produk IT di Indonesia. Contoh yang menarik adalah aplikasi ERP bermerek SAP, dimana banyak pihak Indonesia (BUMN, Swasta dll) yang sudah miskin ini rela mengeluarkan uang miliaran bahkan triliunan rupiah supaya dapat memakai aplikasi ini. Kenapa mereka rela, karena mereka tidak punya pilihan, mereka tidak percaya dengan produk-produk sejenis yang dihasilkan didalam negeri. Padahal produk-produk yang sejenis dengan SAP itu cenderung mudah dibuat tapi sulit dikelola. Itulah permasalahan kita di Indonesia, kita mungkin bisa saja membuat aplikasi sejenis dengan kondisi SDM yg seperti ini, tapi kondisi SDM seperti ini tidak akan bisa membuat kita mampu mengelola keberlangsungan aplikasi ini dengan baik. Hasilnya? Begitu banyak rupiah yang akhirnya mengalir keluar negeri dan pergi meninggalkan Indoensia yang semakin lama semakin miskin.

Begitulah dilema kondisi SDM IT di Indonesia. Namun permasalahan ini bukan hanya untuk kita renungi, bukan cuma untuk kita pahami, tapi juga untuk kita cari solusinya. Solusi yang paling efektif adalah sadarkan diri Anda sendiri. Jika anda merasa sebagai salah satu tipe SDM dari dua tipe SDM diatas, maka pikirkanlah solusinya. Kelola kompetensi pribadi anda dengan baik. Supaya benar-benar dapat menjadi seorang profesional dibidang IT dan memberikan banyak manfaat buat orang lain.

jika anda SDM IT yang tidak suka IT: cintailah IT! Anda sdah terlanjur masuk didunia ini. Anda sudah punya kesempatan besar untuk mengobok-obok wilayah kompetensi ini. Jangan disia-siakan!Galilah kompetensi IT anda supaya bisa benar-benar memberikan kontribusi maksimum untuk pertumbuhan IT di Indonesia

jika anda SDM non IT yang suka dengan IT: pelajarilah IT lebih dalam, coba pelajari IT dari slide-slide perkuliahan IT yang banyak terdapat di Internet (kira-kira bakal ngerti gak ya ^_^). Kalau memungkinkan, cobalah untuk masuk dijurusan IT. Kalau tidak memungkinkan, ya… mau bagaimana lagi :) gali saja terus kompetensi Anda. Dan jangan terlalu banyak berkutat pada aspek teknis, cobalah ambil satu topik IT yang menarik bagi Anda lalu pelajari konsep-konsepnya. Dengan begitu Anda benar-benar mempunyai spesialisasi dibidang IT dan Anda juga punya senajat yang ampuh berupa pemahaman teknis untuk mengimplementasikan konsep yang sudah anda dalami dalam wujud nyata yang bermanfaat didunia nyata.

Sekian saja ya ulasannya. Semoga bermanfaat

Nov 22 2007

enterpreneurship di kampus

Dikampus saya, fasilkom UI sudah banyak perusahaan-perusahaan yang dibuat oleh para mahasiswa yang penuh semangat, penuh keberanian untuk bergerak didunia enterpreneurship melawan perusahaan-perusahaan lain yang sudah well developed. Paling tidak ada 5 perusahaan yang saya tahu keberadaannya, ini dia:

  1. univind.com, ini adalah perusahaan saya sendiri. perusahaan ini saya bangun kira2 dua tahun yang lalu ketika saya masih duduk di semester 2. saat ini, perusahaan saya masih memfokuskan diri pada web development.
  2. jakarta computer, perusahaan ini berdiri hampir berbarengan dengan perusahaan saya. perusahaan ini digawangi oleh dado csui04. mereka lebih memfokuskan diri pada penyediaan hardware. amun sekarang perusahaan ini sudah tidak berjalan lagi. Orang-orangnya telah membentuk perusahaan-perusahaannya sendiri
  3. Jaffa, perusahaan ini dibangun oleh franova, mahasiswa csui04. cakupan layanannya tidak jauh berbeda dengan perusahaan saya. Mereka bergerak dibidang web development dan information system.
  4. make n touch (bner gak yah tulisannya), perusahaan ini dibangun oleh teman seangkatan saya, ichsan csui05. perusahaan ini sudah berbentuk CV. perusahaan ini bisa dibilang sangat bagus perkembangannya karena jaringan dan modal awal yang dimilikinya cukup besar.
  5. metafor, kalau yang satu ini saya baru tahu. perusahaan ini dibentuk oleh angkatan 2006. kayaknya sih bosnya si Ishara csui06. bagaimana perkembangannya saya masih belum terlalu tahu.

Diluar yang saya tahu itu, mungkin masih banyak lagi perusahaan-perusahaan mahasiswa yang sudah terbentuk dan berjalan secara diam-diam ( tau2 udah kaya aja :) ). itu juga baru perusahaan yang terbentuk difakultas saya. Belum lagi kalau perusahaan2 yang terbentuk di UI keseluruhan. Saya yakin jumlahnya sangat banyak.

Tumbuh suburnya jiwa enterpreneurship dikalangan mahasiswa ini tentunya merupakan suatu hal yang sangat positif. Saya merasa punya keyakinan besar bahwa suatu saat nanti perusahaan-perusahaan yang dibangun oleh para mahasiswa itu akan mampu menjadi perusahaan yang besar. Kenapa? karena memang perusahaan-perusahaan yang dibangun oleh para mahasiswa sebagian besar dijalankan dengan pola yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan konvensional yang selama ini sudah exist. Kebanyakan mereka secara alamiah menggunakan pola baru dalam menjalankan perusahaan. Dibuku “Change!” buatannya om rhenald kasali, disitu om rhenald menceritakan tentang arus gelombang baru korporasi. Salah satu point yang dituliskan disana mengenai pola baru korporasi adalah korporasi tersebut berjalan secara “campus-liked“. Sudah banyak perusahaan di Amerika yang sekarang sudah berjalan dengan pola yang baru, contoh yang paling terkenal adalah google. Dimana google dengan style barunya itu berhasil mengobok-obok microsoft yang bergerak dengan pola yang lama, kaku dan tegang.

Jadi, dengan ini saya mengajak teman-teman mahasiswa semuanya. AYO KITA TUMBUHKAN JIWA ENTERPRENEURSHIP KITA untuk kemajuan Indonesia. Yakinlah kita pasti akan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang sudah terlanjur besar di Indonesia, di Dunia. Karena sebagian besar perusahaan besar yang sudah ada saat ini masih berjalan dengan pola konvensional. mari manfaatkan kondisi ini.

 

Pada tulisan berikutnya saya akan coba kasih tips buat teman-teman semua yang udah gak tahan untuk membangun sebuah perusahaan. Berhubung sudah banyak juga mahasiswa yang nanya ke saya atau teman-teman seperjuangan saya di Univind tentang bagaimana memulai suatu perusahaan. Saya akan beritahu apa saja sih sebenarnya yang benar-benar diperlukan untuk mulai membangun perusahaan yang segar. Perusahaan yang berjalan dengan pola yang baru. Tunggu tanggal mainnya.


↑ Back to top