Menebar sejuta manfaat
May 13 2009

Membangun Silicon Valley Indonesia

Apa yang sebenarnya terjadi di Silicon Valley? Kenapa tempat tersebut bisa menjadi pusat inovasi teknologi tinggi dunia? Kenapa bisa tumbuh begitu banyak perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia dari lembah tersebut? Kesuksesan wilayah tersebut didorong oleh dua faktor utama. Yaitu: kreatifitas inovasi dan entrepreneurship. Lalu bisakah kita membangun modal seperti itu di Indonesia? Mari ditelisik satu per satu.

Faktor pertama adalah kreatifitas dalam berinovasi. Di Lembah silikon tersebut terdapat sebuah universitas bernama Stanford University yang merupakan salah satu universitas terbesar didunia. Dari universitas tersebut banyak lahir perusahaan-perusahaan IT kelas dunia yang mampu merajai dunia IT. Mulai dari SUN Microsystem sampai dengan yang paling gress yaitu Google. Di Stanford, banyak sekali riset-riset yang merangsang inovasi teknologi tinggi. Kampus tersebut sangat produktif dalam menghasilkan produk-produk IT. Mahasiswa Stanford bisa dengan mudah menyalurkan berbagai ide inovatifnya untuk diimplementasikan secara nyata.

Faktor kedua adalah entreprenurship. Tanpa faktor ini, berbagai macam ide inovasi yang keluar dari elemen kampus tidak akan bisa berkembang. Tanpa faktor ini, semua kreasi tersebut hanya akan menjadi tumpukan laporan-laporan riset yang tidak terimplementasikan ke publik. Di lembah ini, terdapat begitu banyak capital venture dan angel investor yang berani mengeluarkan sejumlah besar uang uang untuk membiayai riset kreatif dari orang-orang di Stanford. Salah satu venture capital yang sangat terkenal adalah Sequoia Capital. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang telah membidani tumbuh kembangnya perusahaan-perusahaan IT seperti Yahoo, Google, Apple dsb (list lebih lengkap disini). Para angel investor di silicon valley bersedia mengambil resiko bersama sang kreator inovasi. Mereka bersedia membukakan peluang yang sangat besar untuk orang-orang yang punya ide inovatif. Mereka akan terus membantu menggiring perusahaan didikannya supaya bisa maju melesat dengan cepat. Dengan dukungan dari para venture capital inilah, IT entrepreneur di Silicon Valley dapat berkembang dengan mudah. Para inventor yang selama ini berkutat dikampus bisa melangkah sedikit keluar wilayah kampus untuk mencari dana, mendapat dukungan dan mengimplementasikan idenya.

Jika kita membandingkan kondisi tersebut dengan kondisi Indonesia, maka kita bisa menganalisis bagaimana sebenarnya langkah yang tepat untuk membuat model silicon valley di Indonesia. Menurut saya, di Indonesia, faktor pertama yaitu kreatifitas inovasi sebenarnya sudah dimiliki. Saya sangat yakin bahwa sebenarnya SDM IT di Indonesia itu mempunyai kualitas yang sangat tinggi (coba baca ini: harry.sufehmi.com – hacker Indonesia). Namun sayangnya, potensi besar dari SDM IT di Indonesia itu tidak terberdayakan sehingga banyak SDM IT Indonesia yang salah jalur. Ada yang memanfaatkan kepintarannya melalui jalur hitam (cracking, fraud dsb) dan ada juga yang akhirnya lebih tertarik untuk bekerja keluar negeri dan menyerahkan kecerdasan yang dimilikinya untuk perusahaan-perusahaan IT yang sudah besar seperti Microsoft, Oracle, Sun dsb. Hacker-hacker di Indonesia bisa dibilang termasuk hacker berkualitas.  Disamping itu, banyak pula orang Indonesia yang bekerja di Silicon Valley. Belum lagi kalau saya melihat kondisi di kampus saya, fasilkom UI. Beberapa waktu yang lalu, mahasiswa tingkat pertama di kampus saya diberi tugas mata kuliah DPBO (Dasar Pemrograman berorientasi objek) untuk membuat game. Mereka diberi kebebasan untuk membuat game apapun. Dan hasilnya terlihat sangat mengesankan. Hasil tugas mereka bisa dibilang outstanding. Itu membuktikan bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang sangat besar. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Asal potensi tersebut bisa diarahkan dengan baik, maka saya yakin IT di Indonesia dapat berkembang dengan sangat pesat.

Lalu bagaimana dengan kondisi entrepreneurship di Indonesia. Inilah yang saya lihat masih kurang berkembang. Sulit sekali bagi mereka yang punya ide inovatif untuk mendapatkan dana untuk risetnya. Kalaupun riset sudah dilakukan dan sudah ada hasil outputnya, biasanya tetap hanya berkutat dikampus. Hasil-hasil riset tersebut terpendam dan tak bisa berkembang karena tidak adanya pihak yang bersedia memberdayakan hasil riset tersebut untuk diimplementasikan di khalayak publik. Contoh konkrit dari kondisi ini adalah hasil riset lab JST (Jaringan Saraf Tiruan) di kampus saya. Yang saya tahu, lab riset tersebut sangat produktif, menghasilkan banyak produk-produk teknologi tinggi. Lab tersebut merupakan salah satu rujukan seluruh dunia untuk masalah neural network. Namun sayangnya hasil riset tersebut selama ini masih hanya berkutat dalam lingkup kampus. Seandainya ada pihak yang mau mendanai implementasi massifnya, pasti hasil riset tersebut akan lebih terasa manfaatnya.

Upaya untuk membangun model silicon valley di Indonesia sebenarnya sudah banyak, contohnya adalah: Bandung High Tech Valley, Bogor Cybertech Valley, Multimedia Infocom Resource di Yogyakarta dan Malang Information Techno Farm. Diantara 4 konsentrasi tersebut, mungkin yang paling serius digarap adalah BHTV (bandung High Tech Valley) yang digawangi oleh mas Budi Rahadjo. Mas Budi berpikir bahwa Bandung merupakan tempat paling kondusif untuk membangun model Silicon Valley Indonesia. Beliau berpikir seperti itu karena di Bandung sudah ada institusi riset seperti ITB, Unpad dsb yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi-inovasi kreatif layaknya Stanford University di Silicon Valley. Namun, saat ini proyek BHTV tersebut belum dapat berkembang karena kurangnya faktor yang kedua, faktor entrepreneurship. Kita masih sulit untuk menemukan capital venture yang mau membimbing para inovator dari kampus supaya produk inovatifnya dapat berkembang. Kita masih sulit menemukan angel investor yang berani mengambil resiko tinggi untuk membiayai ide yang belum tentu bisa sukses.

Faktor Entrepreneurship inilah yang harus kita dorong terus. Saya bersama teman-teman dari MaestroMuda juga sedang dan akan terus berusaha untuk menumbuhsuburkan iklim entrepreneurship di Indonesia. Semoga Indonesia bisa makin maju kedepannya.

Jun 16 2008

Protected: Membangun Silicon Valley Indonesia (1)

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Apr 02 2008

antara roy suryo, depkominfo, UU ITE dan prospek IT Indonesia

mungkin sudah banyak yang tahu, beberapa waktu yang lalu situs depkominfo di-hack sama seorang hacker (yaialah, masak sama blogger :) ). Sang hacker yang gaka tau apakah dia juga blogger melakukan aksi deface pada situs depkominfo itu berisi ucapan selamat pada pemerintah atas disahkannya UU ITE yangbener-bener laghi heboh saat ini. Dan satu hal yang membuat aksi deface nya itu kontroversial adalah karena sang hacker memasang foto roy suryo yang lagi bergaya dengan sangat aneh (tentunya itu hasil editan potosop, bisa diliat metadatanya kan mas roy? :) )

Walhasil, atas aksi hackingnya itu sang surya jadi murka. Dia menuduh bahwa pelaku aksi tersebut adlah hacker (yap, klo yg ini sudah jelas) dan blogger (lha… darimana asal usulnya nih??). Mungkin kecdepan, saran buat mas roy, coba hilangkanlah tendensi sinisme negatifnya pada para blogger. Katanya mas enda mau ngajak pak roy berdialog ya? gimana kabar terakhirnya saya belum tahu.

anyway, di postingan kali ini saya bukan mau mengulas tentang aksi sama-sama tidak dewasa dianatar semua pihak. Pada postingan kali ini saya mau membahas tentang UU ITE, dan pengaruhnya bagi perkembangan IT Indonesia dimasa depan.

Entah kenapa banyak orang yang merasa skeptis dengan diberlakukannya UU ITE ini. Padahal hukumnya sendir belum benar-benar dijalankan. Kalau saya sendiri melihat UU ITE ini akan membawa banyak dampak positif bagi perkembangan IT di Indonesia. Berikut beberapa diantaranya:

  1. Selama ini, banyak penyedia jasa layanan web financial yang enggan memberikan layananny di Indoensia. Kenapa? karena payung hukum di Indonesia untuk transaksi finansial melalui internet belum jelas, bahkan belum ada. Akibatnya, hacker-hacker bisa dengan mudah berkeliaran melakukan aksi perampokan dinegerinya sendiri. Alhamdulillah dengan berjalannya UU ITE. Sekarang transaksi online macam itu akan dijamin kemananannya oleh pemerintah. Dengan begitu kepercayaan penyedia jasa layanan web financial internasional akan mulai tumbuh. Mereka akan mulai masuk ke Indonesia. Paypal sudah mulai masuk. Kalau merek semua sudah masuk. Dijamin, para pengguna internet di Indonesia bisa lebih memberdayakan sumber daya informasi tak terbatas ini secara lebih positif.
  2. Pornografi akan diberantas. Dengan adanya pemberantasan pornografi ini. Maka konten-konten web Indonesia akan terdorong pada hal-hal yang positif. Sehingga konten web Indonesia akan penuh anfaat buat rakyatnya. Ini jelas merupakan angin segar bagi dunia internet Indonesia yang tentunya akan berimbas pula pada perkembangan IT yang lebih positif.
  3. Pemabajakan sudah dipastikan akan terus berkurang. Kontrolling terhadap pembajakan akan menjadi lebih besar dengan adanya UU ini. Dengan begitu tingkat pembajakan di Indonesia akan berkurang. Hal ini akan mendorong tumbuhnya industri software dalam negeri. Dan ini merupakan salah satu faktor pertumbuhan IT yang positif.
  4. Pembangunan infrastruktur IT saat ini sudah benar-benar digencarkan oelh pemerintah terutama depkominfo. Bahkan pak nuh sudah mengatakan bahwa beliau akan membawa internet sampai ke pelosok desa. Infrastruktur IT merupaakan salah satu masalah utama kenapa IT di Indonesia sulit berkemabng. Dengan adanya diversifikasi infrstruktur secara massif seperti ini. Maka IT di Indonesia akan bisa maju terus.

4 point diatas sudah cukup untuk memberikan gambaran akan cerahnya prospek IT Indonesia dimasa mendatang. Saya sangat yakin suatu saat nanti Indonesia mampu emnjadi negara yang menguasai teknologi IT. Saya sangat yakin Indonesia mampu seperti malaysia, Cina dan India yang melakukan percepatan besar-besaran pada penguasaan teknologi. Mari kita sama-sama optimis akan perkembangan IT di Indonesia. Untuk Indonesia yang lebih maju, lebih hi-tech, lebih berdaya.


↑ Back to top