Menebar sejuta manfaat
Jul 26 2009

Ketika Google-pun tak berdaya

Pernahkah Anda mencoba mencari suatu informasi di internet, kemudian Anda dengan penuh percaya diri datang ke ustadz Google untuk menanyakan perihal informasi tersebut? Anda berharap bisa menemukan informasi tersebut dengan mudah namun ternyata profesor Google yang selama ini diagung-agungkan banyak orang itu cuma bisa memberikan ratusan ribu link yang hampir sama sekali tidak ada kaitannya dengan apa yang sebenarnya ingin kita cari.

Well, itulah yang terjadi pada saya saat ini. Saya sedang mencoba mencari contoh template surat perjanjian kontrak usaha bersama untuk mulai memprofesionalisasikan (halah…) kerja perusahaan yang sudah saya bangun dengan darah dan pengorbanan sejak 3,5 tahun yang lalu, Univind, sebuah perusahaan web development. Sangat sulit buat saya untuk mendapatkan apa yang saya mau itu. Saya sudah coba jutaan keyword (hehehe… enggak deng, paling belasan doank) namun saya tidak juga berhasil mendapatkannya. Kenapa bisa begitu? Itu karena informasi yang saya inginkan itu sudah tertutup oleh bejibunnya informasi lain yang lebih populis yang terkait dengan kata kunci yang saya masukkan. Bingung ya? Begini… yang saya cari adalah contoh surat perjanjian usaha bersama untuk dipakai pada perusahaan yang saya bangun bersama rekan-rekan saya. Namun, semua kemungkinan keyword yang saya coba ternyata teralih ke surat kontrak kerjasama biasa antara klien dan penyedia jasa. Kalo surat kontrak begitu sih saya sudah sering pakai.

Karena sepertinya belum ada studi tentang permasalahan ini dan belum ada yang memberi istilah pada kondisi ini, maka saya klaim saja deh ini sebegai penemuan saya. Hohoho… kondisi ini saya beri istilah “Cloud-Vagued Information“. Beeuuhh… keren kan istilahnya. Artinya adalah informasi penting yang menjadi tersamar (Vagued Information) disebabkan sangat banyaknya informasi lain (Cloud Information) yang dikaitkan dengan informasi penting tadi.

Contoh yang paling gampang mengenai Cloud-Vagued Information adalah tentang bisnis internet. Coba saja anda ketikkan keyword “bisnis internet”, “online business” atau “bisnis online” dan sejenisnya. Maka hampir pasti Anda hanya akan mendapatkan daftar puluhan website-website referral marketing yang isinya penuh dengan janji-janji buta dengan font besar-besar dan warna-warni mencolok yang bikin sakit mata (ini contohnya). Padahal seharusnya bisnis internet itu jauh lebih luas daripada skema bisnis seperti itu (yang terkadang banyak banget yang cuma tipuan).

Contoh diatas tadi adalah contoh seriusnya. Sohib saya Agung pernah memberikan contoh yang lucu. Coba baca tulisannya disini. Beliau “menjebak” para pengguna search engine yang ingin mencari informasi tentang Manohara. Baca aja deh tulisannya baik-baik, lucu deh :)

Saya sendiri juga belum tahu apa yang harus kita lakukan jika menghadapi kondisi Cloud-Vagued Information ini. Sampai saat ini teknologi mesin pencari masih hanya memberikan informasi yang populis dan bukan informasi yang tepat. Walaupun memang dalam mayoritas kasus, informasi yang populis itu adalah informasi yang tepat. Namun dengan konsep ini, akan sangat sulit jadinya untuk mencari suatu informasi penting yang tertutup oleh jutaan informasi tak penting lainnya. Teknologi web masa depan seperti web semantic pun tampaknya juga masih akan menggunakan konsep ini sehingga masalah Cloud-Vagued Information ini akan tetap ada.

Eniwei, saya pikir masalah Cloud-Vagued Information ini bisa saja jadi salah satu solusi untuk memberantas pornografi di internet. Andaikan saja suatu saat nanti semua orang jadi baik (kapan ya… :roll: ), lalu mereka menulis banyak hal tentang pornografi di blog mereka. Tentang betapa berbahayanya pornografi, atau tentang edukasi seks atau hal lainnya mengenai pornografi tanpa menaruh gambar-gambar porno di blognya. Maka pasti setiap keyword “porn“, “sex” dan sejenisnya itu akan mengarah ke blog-blog mereka alih-alih ke website-website porno buatan para penjahat kelamin itu.

Sekian saja… wah panjang juga ya… harusnya jadi riset pasca sarjana saya aja nih…. bisa gak ya… hehe…

yowis, semoga bermanfaat :)

May 13 2009

Membangun Silicon Valley Indonesia

Apa yang sebenarnya terjadi di Silicon Valley? Kenapa tempat tersebut bisa menjadi pusat inovasi teknologi tinggi dunia? Kenapa bisa tumbuh begitu banyak perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia dari lembah tersebut? Kesuksesan wilayah tersebut didorong oleh dua faktor utama. Yaitu: kreatifitas inovasi dan entrepreneurship. Lalu bisakah kita membangun modal seperti itu di Indonesia? Mari ditelisik satu per satu.

Faktor pertama adalah kreatifitas dalam berinovasi. Di Lembah silikon tersebut terdapat sebuah universitas bernama Stanford University yang merupakan salah satu universitas terbesar didunia. Dari universitas tersebut banyak lahir perusahaan-perusahaan IT kelas dunia yang mampu merajai dunia IT. Mulai dari SUN Microsystem sampai dengan yang paling gress yaitu Google. Di Stanford, banyak sekali riset-riset yang merangsang inovasi teknologi tinggi. Kampus tersebut sangat produktif dalam menghasilkan produk-produk IT. Mahasiswa Stanford bisa dengan mudah menyalurkan berbagai ide inovatifnya untuk diimplementasikan secara nyata.

Faktor kedua adalah entreprenurship. Tanpa faktor ini, berbagai macam ide inovasi yang keluar dari elemen kampus tidak akan bisa berkembang. Tanpa faktor ini, semua kreasi tersebut hanya akan menjadi tumpukan laporan-laporan riset yang tidak terimplementasikan ke publik. Di lembah ini, terdapat begitu banyak capital venture dan angel investor yang berani mengeluarkan sejumlah besar uang uang untuk membiayai riset kreatif dari orang-orang di Stanford. Salah satu venture capital yang sangat terkenal adalah Sequoia Capital. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang telah membidani tumbuh kembangnya perusahaan-perusahaan IT seperti Yahoo, Google, Apple dsb (list lebih lengkap disini). Para angel investor di silicon valley bersedia mengambil resiko bersama sang kreator inovasi. Mereka bersedia membukakan peluang yang sangat besar untuk orang-orang yang punya ide inovatif. Mereka akan terus membantu menggiring perusahaan didikannya supaya bisa maju melesat dengan cepat. Dengan dukungan dari para venture capital inilah, IT entrepreneur di Silicon Valley dapat berkembang dengan mudah. Para inventor yang selama ini berkutat dikampus bisa melangkah sedikit keluar wilayah kampus untuk mencari dana, mendapat dukungan dan mengimplementasikan idenya.

Jika kita membandingkan kondisi tersebut dengan kondisi Indonesia, maka kita bisa menganalisis bagaimana sebenarnya langkah yang tepat untuk membuat model silicon valley di Indonesia. Menurut saya, di Indonesia, faktor pertama yaitu kreatifitas inovasi sebenarnya sudah dimiliki. Saya sangat yakin bahwa sebenarnya SDM IT di Indonesia itu mempunyai kualitas yang sangat tinggi (coba baca ini: harry.sufehmi.com – hacker Indonesia). Namun sayangnya, potensi besar dari SDM IT di Indonesia itu tidak terberdayakan sehingga banyak SDM IT Indonesia yang salah jalur. Ada yang memanfaatkan kepintarannya melalui jalur hitam (cracking, fraud dsb) dan ada juga yang akhirnya lebih tertarik untuk bekerja keluar negeri dan menyerahkan kecerdasan yang dimilikinya untuk perusahaan-perusahaan IT yang sudah besar seperti Microsoft, Oracle, Sun dsb. Hacker-hacker di Indonesia bisa dibilang termasuk hacker berkualitas.  Disamping itu, banyak pula orang Indonesia yang bekerja di Silicon Valley. Belum lagi kalau saya melihat kondisi di kampus saya, fasilkom UI. Beberapa waktu yang lalu, mahasiswa tingkat pertama di kampus saya diberi tugas mata kuliah DPBO (Dasar Pemrograman berorientasi objek) untuk membuat game. Mereka diberi kebebasan untuk membuat game apapun. Dan hasilnya terlihat sangat mengesankan. Hasil tugas mereka bisa dibilang outstanding. Itu membuktikan bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang sangat besar. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Asal potensi tersebut bisa diarahkan dengan baik, maka saya yakin IT di Indonesia dapat berkembang dengan sangat pesat.

Lalu bagaimana dengan kondisi entrepreneurship di Indonesia. Inilah yang saya lihat masih kurang berkembang. Sulit sekali bagi mereka yang punya ide inovatif untuk mendapatkan dana untuk risetnya. Kalaupun riset sudah dilakukan dan sudah ada hasil outputnya, biasanya tetap hanya berkutat dikampus. Hasil-hasil riset tersebut terpendam dan tak bisa berkembang karena tidak adanya pihak yang bersedia memberdayakan hasil riset tersebut untuk diimplementasikan di khalayak publik. Contoh konkrit dari kondisi ini adalah hasil riset lab JST (Jaringan Saraf Tiruan) di kampus saya. Yang saya tahu, lab riset tersebut sangat produktif, menghasilkan banyak produk-produk teknologi tinggi. Lab tersebut merupakan salah satu rujukan seluruh dunia untuk masalah neural network. Namun sayangnya hasil riset tersebut selama ini masih hanya berkutat dalam lingkup kampus. Seandainya ada pihak yang mau mendanai implementasi massifnya, pasti hasil riset tersebut akan lebih terasa manfaatnya.

Upaya untuk membangun model silicon valley di Indonesia sebenarnya sudah banyak, contohnya adalah: Bandung High Tech Valley, Bogor Cybertech Valley, Multimedia Infocom Resource di Yogyakarta dan Malang Information Techno Farm. Diantara 4 konsentrasi tersebut, mungkin yang paling serius digarap adalah BHTV (bandung High Tech Valley) yang digawangi oleh mas Budi Rahadjo. Mas Budi berpikir bahwa Bandung merupakan tempat paling kondusif untuk membangun model Silicon Valley Indonesia. Beliau berpikir seperti itu karena di Bandung sudah ada institusi riset seperti ITB, Unpad dsb yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi-inovasi kreatif layaknya Stanford University di Silicon Valley. Namun, saat ini proyek BHTV tersebut belum dapat berkembang karena kurangnya faktor yang kedua, faktor entrepreneurship. Kita masih sulit untuk menemukan capital venture yang mau membimbing para inovator dari kampus supaya produk inovatifnya dapat berkembang. Kita masih sulit menemukan angel investor yang berani mengambil resiko tinggi untuk membiayai ide yang belum tentu bisa sukses.

Faktor Entrepreneurship inilah yang harus kita dorong terus. Saya bersama teman-teman dari MaestroMuda juga sedang dan akan terus berusaha untuk menumbuhsuburkan iklim entrepreneurship di Indonesia. Semoga Indonesia bisa makin maju kedepannya.

Jun 16 2008

Protected: Membangun Silicon Valley Indonesia (1)

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Apr 29 2008

web 2.0 itu bukan teknologi baru

Setelah sekian lama tidak menulis tentang IT, kali ini saya mau mencoba back to my core competence: IT especially web engineering. Kali ini saya membuat artikel mengenai web 2.0. Tentang salah kaprah terhadap definisi yang sebenarnya.

Banyak orang yang mengatakan bahwa web 2.0 itu adalah teknologi versi baru dari web. Banyak yang menyangka bahwa web2.0 merupakan wujud web yang lebih canggih dengan berbagai macam kemampuan-kemampuan yang belum ada pada web versi sebelumnya, web 1.0 tentunya. Tahukah Anda bahwa ternyata, semua itu Salah! Web 2.0 bukanlah teknologi baru. Web 2.0 sudah ada bahkan sejak awal mula internet muncul.

Kenyataannya web 2.0 hanyalah sebuah terminologi baru dalam dunia web yang digembar-gemborkan. Web 2.0 hanyalah sebuah metode atau cara baru dalam memberdayakan web. Terminologi web 2.0 ini pertama kali dicetuskan oleh o’reilly media pada tahun 2003. Terminologi ini mengacu pada pemanfaatan web yang belakangan semakin meluas. Dulu, web hanya berisi setumpuk informasi-informasi statis yang hanya bisa dibaca oleh pengunjung. Sekarang, web telah berubah menjadi dunia interaktif yang melibatkan partisipasi aktif dari pengunjung website yang bersangkutan. Contoh: pengunjung bisa ikut memasukkan konten, bermain game, memberi komentar dan sebagainya. Intinya, web 2.0 adalah sebuah terminologi yang dibuat untuk memberi istilah pada arus baru penggunaan web yang ada belakangan ini.

Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwa web 2.0 adalah sebuah teknologi baru didunia web. Pernyataan itu jelas salah. Teknologi adri web itu sendiri masih belum banyak berubah sejak awal mula munculnya web. HTML, CSS, javascript dan AJAX dsb itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Teknologinya sudah ada sejak lama, namun pemanfaatan teknologi tersebut baru akhir-akhir ini saja bergerak kearah pembentukan aplikasi web yang interaktif. AJAX sendiri baru dipopulerkan oleh Google dengan Google Suggest-nya.

Web 2.0 itu hanya sebuah istilah marketing. Tim berners lee (sang pencipta web) sendiri mengatakan bahwa web 2.0 itu hanyalah sebuah “piece of jargon“. Berikut kutipan perkataannya tim berners lee dalam sebuah wawncara podcast:

“Nobody really knows what it means, if Web 2.0 for you is blogs and wikis, then that is people to people. But that was what the Web was supposed to be all along.”

Intinya, web 2.0 bukanlah sebuah teknologi baru. Web 2.0 hanyalah sebuah terminologi baru.

Jan 24 2008

rss + web crawler = web clipper

oke…. setelah sekian lama berberat-berat ria dengan tulisan-tulisan berat macam:

sekarang saatnya kembali lagi ke kompetensi murni saya sebagai orang IT. Kalau memang ingin menjadi SDM IT yang benar-benar expert, maka saya juga harus menguasai aspek-aspek teknis dari IT itu sendiri, sesuai dengan tulisan saya disini: SDM IT yang gak suka IT vs SDM non IT yang cinta IT . Kalau tidak saya cuma akan jadi sapi ompong yang keras suara lenguhannya tapi gak bisa menggigit :) Oleh karena itu kali ini saya ingin menulis sesuatu yang menyentuh ke aspek teknis dari suatu teknologi dibidang internet, yaitu web clipper. Tentunya disini saya tidak akan membahasakannya dengan segala macam kode-kode aneh yang tidak Anda mengerti. Saya akan menjelaskkanya dengan bahasa manusia, jadi ya… teknis tapi gak teknis-teknis amat :)

Apa itu web clipper? Kalau dilihat dari judulnya dapat dilihat bahwa web clipper bisa dibilang merupakan kombinasi dari dua jenis teknologi web yang berbeda yaitu RSS (Really Simple Syndication) dan web crawler. Sebelum masuk ke penjelasan tentang apa itu web clipper, saya akan menjelaskan sedikit tentang dua teknologi yang saya sebutkan diatas,

RSS (Really Simple Syndication), merupakan sebuah teknologi untuk menarik konten dari suatu situs ke situs kita sendiri. Contoh: csui05 blog aggregator (merupakan aggregator blog teman-teman saya di fasilkom UI 2005). Situs tersebut menarik konten blog dari semua teman saya satu angkatan untuk ditampilka disitus tersebut. Blog ini juga termasuk blog yang di-aggregate (ditarik konten tulisannya) di situs tersebut. Supaya konten tulisan dari suatu situs dapat ditarik, maka situs tersebut harus mengaktifkan fitur RSS-nya, kebanyakan blog engine (wordpress, blogger dll) yang beredar dijagad maya saat ini sudah memiliki fitur RSS sehingga semua blog tersebut bisa di-aggregate. Untuk dapat menarik isi sebuah situs kedalam situs yang kita buat, kita cukup meng-copy link RSS dari situs yang bersangkutan kedalam RSS engine yang kita miliki disitus kita. Nanti engine tersebut akan secara rutin mengecek apakah ada tulisan baru yang bisa diambil atau tidak? jika ada, maka engine tersebut akan meng-copy tulisan tersebut untuk diitampilkan disitus kita.

Web Crawler, kalau yang satu ini adalah teknologi memungkinkan komputer kita secara otomatis menjelajahi dunia maya. Aplikasi web crawler ini akan “merangkak” terus menjelajahi setiap sudut internet. Dia akan mengunjungi setiap halaman web dan kemudian merambah semua link yang ada dalam halaman web tersebut. Saat ini, didunia ada satu web crawler yang jangkauannya sudah paling luas, yaitu web crawler nya mbah google, Katanya sih google telah berhasil merambah semua halaman web yang ada di Internet yang jumlah mencapai (kurang lebih) 8 milyar. Dengan aplikasi ini, kita dapat terus memantau perkembangan berbagai halaman web yang ada di jagad maya.

Sekarang baru masuk ke penjelasan tentang apa itu web clipper. Web clipper merupakan kombinasi dari dua teknologi diatas. Jika kita perhatikan, dua teknologi diatas kan punya kelemahan. Untuk teknologi RSS, kita hanya bisa menarik konten web yang memang menyediakan link rss nya ke publik. Bagaimana dengan situs-situs yang tidak ada fitur RSS nya? Untuk itulah dibuat teknologi yang namanya web clipper. Web clipper mampu merambah suatu situs dan kemudian menarik konten dari situs tersebut walaupun situs tersebut tidak memiliki fitur RSS. Saya akan menjelaskan cara kerja dengan studi kasus berikut:

Situs detik.com yang merupakan situs berita terbesar di Indonesia, itu tidak memiliki fitur RSS. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat mengambil berita-berita yang mucul disana? Kita akan menariknya secara manual, setiap situs berita punya format sendiri dalam hal penulisan berita. Pada situs detik.com, tanggal dan waktu diletakkan diatas judul, Judul ditulisan dengan huruf yang besar baru kemudian dibagian bawah judul diletakkan isi beritanya. Jika kita mengklik judul berita tersebut maka kita akan mendapatkan format baku penulisan berita di detik.com secara utuh. Format baku tersebut nantinya akan kita kustomasikan secara khusus pada web clipper yang kita buat, supaya web clipper tersebut dapat menampilkan isi situs detik.com sesuai dengan format yang ada di detik.com. Oleh karena itu, memang agak rumit untuk membuat web clipper karena kita harus membuat satu web clipper sendiri untuk satu satu situs dengan format penulisan tertentu. Dengan RSS, kita tidak perlu memikirkan hal tersebut karena RSS menyeragamkan format penulisan situs yang menggunakan fiturnya.

Sekian saja penjelasan tentang web clipper, Kalau ada yang kurang jelas langsung tanya aja deh…

Semoga bermanfaat :)


↑ Back to top