Oct 20 2008
Sudah banyak mungkin orang yang membuat tulisan tentang ini di blognya. Maka disini saya tambahin lagi biar tambah banyak :p Begitulah… Yang namanya propaganda online memang indah. Dia bisa dilakukan secara cepat, murah dan lebih luas.
Sebelum saya mengulas apa saja yang bisa kita lakukan untuk mendukung RUU pornografi, maka sebaiknya kita baca terlebih dahulu teks lengkap dari RUU pornografi itu sendiri. Teks lengkapnya bisa dilihat disini.
Nah… setelah membaca teksnya, maka disini saya sodorkan beberapa alasan kenapa RUU pornografi harus didukung. Alasannya jelas, pornografi adalah suatu hal yang jelas-jelas merusak moral individu. Kerusakan individu secara kolektif ini akan menjelma menjadi kerusakan sosial kemasyarakatan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah bencana nasional bernama kerusakan moral bangsa. Dengan moral yang rusak, suatu bangsa tidak akan pernah bisa maju. Kalaupun memang maju, maka kemajuan yang dialaminya itu pasti semu. Kemajuan yang menyimpan benih-benih kehancuran jangka panjang. Seperti halnya yang terjadi pada krisis perbankan di amerika. Krisis itu juga berasal dari kerusakan moral masyarakatnya yang berupa ketamakan akan harta dunia. Oleh karena pornografi menghambat kemajuan bangsa kita, maka pornografi harus kita BERANTAS!
Saya yakin dengan argumen yang hanya seperti itu, pasti akan banyak orang yang mengeluarkan sejuta jurus untuk menghardik argumen saya. Saya yakin akan banyak orang yang menolak RUU pornografi (pendukung-pendukung pornografi) yang akan membalas argumen sederhana saya dengan ratusan argumen yang njlime tdan klise. Disini saya tidak akan menjawab secara personal, saya akan mereferensikan tulisan Ade Armando (Dosen FISIP UI) tentang 100 kekeliruan dalam wacana anti pornografi. Di internet, tulisan-tulisannya sudah banyak tersebar. Mulai dari milis, di-post ulang di blog, di online magazine dsb. Di blog ini saya akan coba singkat tulisannya.
1. RUU Pornografi ini bertentangan dengan hak asasi manusia karena masuk ke ranah moral pribadi yang seharusnya tidak diintervensi negara.
Argumen ini Salah karena nyatanya pornografi bukan cuma maslaah moral tapi juga akan berefek pada maslaah sosial kemasyarakatan. Dan klo dibilang bahwa moral itu urusan masing2 dan bukan urusan negara. Salah juga! Urusan moral ini nyatanya tercantum juga koq di Deklarasi universal HAM dan juga UUD 45.
2. RUU ini memiliki agenda penegakan syariah.
Kalau memang merupakan penegakan syariah, maka dari dulu semua majalah porno akan dibredel. Wanita-wanita tak berjilbab akan dihukum dsb.
3. RUU ini merupakan bentuk kriminalisasi perempuan.
Nyatanya yang banyak kena hukuman dari RUU pornografi ini adalah kaum adam. Yaitu, para penjahat yang membuat, mendistribusikan atau memiliki konten2 porno. Perempuan yang dihukum cuma perempuan yang memang sengaja tampil.
4. Definisi pornografi dalam RUU sangat tidak jelas.
Wajar itu, KUHP juga gak jelas koq. Coba cek “mencemarkan nama baik” atau “melanggar kesusilaan”. Jelas gak tuh!?
5. RUU ini mengancam kebhinekaan
hmm… semua pasala yang dibilang mengganggu adat istiadat itu sudah dihapus
6. RUU ini akan mengatur cara berpakaian.
Kate siapee… gak ada sama sekali didalam RUU ini tentang tata cara berpakaian.
7.RUU ini berpotensi mendorong lahirnya aksi-aksi anarkis masyarakat.
Di RUU ini justru masyarakat dikasih batasan yang jelas koq supaya gak anarkis. Masyarakat cuma boleh melaporkan pelanggaran UU, menggugat ke pengadilan, melakukan sosialisasi peraturan, dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat.
8. RUU ini tidak perlu karena sudah ada perangkat hukum yang lain untuk mengerem pornografi.
Perangkat hukum lain kaga cukup. Coba aja liat KUHP yang udah uzur sampe-sampe orang yang melanggar asusila cuma dikasi denda goceng kurang gopek.
9. RUU Pornografi tidak perlu, yang diperlukan adalah mendidik masyarakat.
Mendidik masyarakt perlu, tapi klo cuma mengandalakan pendidikan di masyarakat tanpa adanya tindakan preventif. Smaa aja bohong.
10. RUU ini mengancam para seniman.
Didalam RUU pornografi ini, alasan seni dan budaya itu dikecualikan.
Untuk itulah kita harus mendukung pengesahan RUU ini. Tidak ada lagi alasan. Mari kita dukung pengesahan RUU pornografi! Dan kalau mau konkrit dalam mendukung, tidak hanya berteriak dalam hati “ayo dukung”, maka silahkan baca postingan saya yang ini: Dukung RUU pornografi lewat dunia maya, SEKARANG JUGA!
May 03 2008
Saya adalah seorang mahasiswa yang bercokol dikampus yang disebut-sebut sebagai kampus perjuangan. Kampus yang begitu mencolok dengan jaket kuningnya. Kampus yang dikatakan jika mahasiswanya turun kejalan maka hati-hati akan ada perubahan. Kampus Universitas Indonesia. Lebih spesifik lagi dikampus UI ini saya mendalami bidang kajian ilmu komputer di gedung bundar fasilkom UI.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai pergerakan mahasiswa saat ini. Tulisan saya ini merupakan respon terhadap beberapa aksi yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya belum lama ini. Begitu mirisnya saya melihat saudara-saudara seperjuangan saya yang rela tidur dijalanan demi menunjukkan perhatiannya pada bangsa. Tulisan ini juga merupakan jawaban atas pertanyaan beberapa orang sahabat saya yang menanyakan kenapa saya tidak pernah mau ikut aksi? kenapa tingkat
partisipasi fakultas saya dalam kegiatan-kegiatan seperti itu sangat kecil? Tulisan ini dibuat dengan harapan dapat memberikan pencerahan pada rekan-rekan mahasiswa bahwa sudah saatnya kita merubah arah pergerakan kita.
tercatat tanggal 21-23 maret lalu, BEM UI mengadakan konferensi BEM Seluruh Indonesia. Saya sendiri sudah lama mendengar isu akan diadakannya acara ini. Ketika mendengar isu ini saya merasa ada angin segar. Semoga acara ini bisa menjadi titik tolak perubahan pergerakan mahasiswa kedepan. Tapi ternyata hasil dari acara ini tidak seperti yang saya harapkan. Konferensi ini ternyata hanya menghasilkan (lagi-lagi) tuntutan terhadap pemerintah diantara sekian banyak tuntutan-tuntuan yang pernah dilayangkan mahasiswa pada pemerintah. Tuntutan ini diberi nama TUGU RAKYAT (Tujuh Gugatan Rakyat)
. Coba kita hitung berapa banyak sebenarnya tuntutan-tuntutan kita yang benar-benar diperhatikan oleh pemerintah. Memang ada, tapi sangat sedikit. Seharusnya pertemuan itu bukan cuma sekedar membahas permasalahan bangsa kemudian membuat tuntutan pada pemerintah. Seharusnya konferensi itu menghasilkan kesepahaman tentang apa yang bisa dan seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk memperbaiki bangsa ini. Hanya menuntut tidak akan membawa hasil apapun, tidak akan memberi perubahan yang nyata buat rakyat. Sebaliknya, hanya perbuatan konkrit lah yang bisa memberikan dampak nyata dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa kita. Yang dibutuhkan adalah Solusi konkrit, bukan cuma barisan point-point tuntutan.
Kemudian hasil konferensi ini di tindak lanjuti dengan aksi yang diberi tagline hiperbolis “kepung istana”. Aksi ini diikuti oleh kurang lebih 600 orang. Mereka bahkan sampai menginap didepan istana negara dan tidur dijalanan. Lalu apa? adakah perubahan yang berarti akibat aksi demonstrasi ini? apakah kini rakyat sudah mendapat kesejahteraan yang lebih baik? Apakah semua aksi kita itu diperhatikan oleh pemerintah? jawabannya tentu TIDAK. Dan saya sangat menyayangkan aksi mereka menginap dijalanan. Apakah tidurnya mereka di aspal itu benar-benar mampu membuat perubahan? tentu tidak. Padahal akan jauh lebih baik jika tenaga mereka dialihkan untuk berbuat sesuatu hal yang konkrit untuk mensejahterakan masyarakat.
Sadarilah aksi semacam itu kini sudah tidak efektif lagi. Aksi hanya diperlukan dalam suasana pemerintahan yang otoriter. Sehingga kita sebagai mahasiswa punya peran untuk melakukan represi politik pada pemerintah. Sementara kondisi politik Indonesia saat ini cenderung stabil. Iklim demokrasi berjalan dengan baik. Coba perhatikan, aksi-aksi mahasiswa yang benar-benar efektif dan mampu membawa perubahan adalah aksi yang membawa agenda besar untuk untuk melakukan perbaikan yang sifatnya mendesak dan butuh represifitas yang tinggi. Salah satu contohnya adalah aksi `98. Kalau saya jadi mahasiswa pada saat itu, tentu saya akan dengan sukarela ikut dalam aksi tersebut. Tapi dalam aksi-aksi lain yang tidak membawa tujuan perubahan besar, yang pada akhirnya hanya bertujuan menunjukkan eksistensi mahasiswa, saya tidak akan mengikutinya.
Dulu, kalaupun suatu aksi demonstrasi tidak membawa agenda perubahan yang besar. paling tidak media masih meliput aksi tersebut dengan serius. Sehingga gaungnya bisa benar-benar terlihat oleh publik. Dalam kondisi seperti ini, paling tidak aksi yang dilakukan mahasiswa masih bisa memberikan manfaat, yaitu masyarakat menjadi tahu bahwa mereka masih punya tumpuan. pasca 98 s/d tahun 2004-an, aksi mahasiswa masih bisa dijadikan sarana untuk menunjukkan perhatian kita para mahasiswa terhadap persoalan bangsa. Tapi coba lihat saat ini, banyak pihak yang sudah jemu dengan aksi-aksi tersebut. Rakyat sudah semakin skeptis dengan aksi-aksi yang kita lakukan. Media sudah tak lagi menganggap aksi-aksi mahasiswa sebagai berita yang patut disebarluaskan secara masif. Alhasil, demonstrasi mahasiswa kini benar-benar terasa kosong tak tak bermakna. Demonstrasi kini tidak lagi membawa agenda perubahan yang besar, hanya tuntutan demi tuntutan. Selain itu, demonstrasi kini juga sudah tidak mendapat perhatian publik. Sehingga upaya kita untuk menunjukkan perhatian kita pada bangsa ini juga menjadi tidak efektif.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita para mahasiswa merubah arah pergerakan kita. Kedepannya kita harus lebih banyak bergerak pada lahan yang benar-benar riil memberikan efek nyata buat masyarakat. Kita harus mulai memberdayakan potensi intelektual kita untuk memberikan solusi konkrit buat bangsa. Kegiatan-kegiatan aksi, demonstrasi dkk kini sudah tidak lagi diperlukan karena memang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kegiatan-kegiatan seperti pembangunan desa (UI Comdev BEM UI), pembuatan blueprint jakarta (Pokja DKI BEM UI), pelatihan komputer gratis untuk rakyat (Pengmas On IT BEM fasilkomUI) dkk harus lebih diperbanyak. Riset-riset yang ditujukan untuk menghasilkan solusi bagi bangsa harus lebih intensif. PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) juga dapat menjadi sarana memberikan solusi konkrit untuk bangsa. Asalkan mahasiswa yang mengikutinya bukan cuma bertujuan untuk memenangkan lombanya tapi juga bertujuan untuk memberikan solusi konkrit permasalahan bangsa. Kedepannya, kita harus lebih banyak memberikan dukungan atas setiap kerja positif yang telah dilakukan pemerintah.
Sejauh ini, saya lihat sudah ada satu kampus di Indonesia yang sudah sangat berhasil mengarahkan pergerakan kemahasiswaannya ke arah yang benar. Kampus itu adalah kampus IPB (Institut Pertanian Bogor). Salut saya untuk rekan-rekan mahasiswa di IPB yang telah memberikan banyak solusi konkrit untuk mengentaskan berbagai macam persoalan bangsa. Kampus saya sendiri, UI, yang dulu disebut sebagai barometer utama pergerakan kemahasiswaan nasional kini sudah tidak terasa lagi. Saya mengakui bahwa kami disini masih berkutat dengan model perjuangan gaya lama yang sudah tidak lagi relevan. Saat ini, kami para aktivis mahasiswa di UI sedang berusaha mengarahkan pergerakan kami ke arah yang sesuai.
Diluar semua itu, kita juga tak boleh lengah untuk terus mengingatkan pemerintah untuk melakukan perbaikan disana-sini. Kita harus mencari cara lain yang lebih efektif daripada demonstrasi. Cara yang lebih cocok untuk kondisi saat ini. Kalau memang suatu saat nanti, terbentuk kemabli iklim politis yang memaksa kita untuk turun kejalan maka ayo kita kemabli lagi kejalanan meneriakkan suar-suara lantang kita. Menggemakan idealisme kita. Menunjukkan perhatian kita pada rakyat. Tapi saat ini, bukan itu jalan yang harus kita tempuh. Kita harus mencari jalur lain yang lebih jelas. Jalur yang secara nyata akan membawa perbaikan pada Indonesia.
Semoga kita para mahasisa Indonesia dapat terus menjalankan perannya pada bangsa ini. Semoga kita dapat terus memberikan kontribusi aktif kita pada upaya perbaikan bangsa Indonesia.
Hidup Bangsaku!
Hidup Rakyat Indonesia!
~”hidup mahasiswa!” hanyalah seruan arogansi eksistensial mahasiswa pada rakyat Indonesia.
Feb 04 2008
Saya, saya adalah presiden republik Indonesia. Kini saya baru saja selesai berpidato. Dielu-elukan oleh para pendukung saya.
Saya, saya adalah seorang pemungut sampah di TPA Bantar Gebang. Kini saya sedang mengais sampah-sampah untuk saya jual nanti.
Selesai berpidato, saya langsung beranjak ke dalam limosin yang sudah disediakan oleh negara. Saya nikmati perjalanan saya yang lancar terbebas dari kemacetan didalam mobil dengan jok yang empuk dan AC yang menyejukkan. Pulang kembali ke istana kepresidenan yang mewah.
Setelah keranjang sampah saya penuh, saya lantas pulang kembali ke gubuk saya yang kumuh. Saya harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk bisa sampai ke gubuk saya. Belum lagi saya harus tersingkir oleh iring-iringan kepresidenan yang sedang melaju. Saya dipaksa untuk mencari jalan lain yang lebih jauh.
Kini saya sudah sampai di istana kepresidenan. Seperti biasa saya dibuat kagum oleh arsitektur dari istana tersebut. Gerbang yang besar, masuk melewati taman hijau yang rindang. Pintu masuk yang megah. Ruangan lobi yang begitu apang dengan berbagai macam aksesoris yang mempercantik ruangan tersebut. Hingga akhirnya saya sampai dikamar pribadi saya.
Peluh sudah sedemikian deras. Baju ini telah dibasahi oleh keringat saya yang bau setelah seharian bekerja ditempat sampah dan berjalan puluhan kilometer di cuaca yang terik. Kini saya sudah sampai di gubuk saya yang reot dibantaran kali dibawah jalan layang. Gubuk ini saya buat dengan kardus yang saya minta dari suatu sebuah toko grosir. Ukurannya sangat kecil. 5×5 meter. Disana saya tinggal dengan istri dan 4 orang anak saya. Tak ada hiasan, tak ada kemewahan. Hanya ada satu bilik kecil sebagai kamar mandi dan satu ruang besar untuk seluruh keluarga yang berfungsi sebagai ruang tidur+ruang santai+ruang makan+dapur.
Saya langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan kembali badan saya yang seharian bekerja memikirkan kritikan pedas seorang lawan politik saya. Dikamar mandi ini, saya langsung menjatuhkan diri di bath tub yang didalamnya sudah tersedia air hangat. Sungguh sangat menenangkan pikiran.
Sesampainya di wisma kardus ini, saya langsung pergi ke bilik kamar mandi diluar untuk sedikit membasahi badan saya. Disana, air yang tersedia agak kehitam-hitaman. Banyak sekali jentik nyamuk disana.
Kini badan saya sudah segar. Lalu saya mengenakan setelan kemeja+celana bahan santai yang baru dibuat oleh tim rumah tangga istana kepresidenan khusus untuk saya. Masih terlihat sangat apik, digosok dengan rapih. Membuat saya tampil elegan malam itu.
Selesai membasuh tubuh, saya lantas pergi ke sudut lain rumah saya untuk mengambil pakaian yang ada diatas jemuran. Pakaian yang saya pakai adalah kaos belel favorit saya yang sudah dipenuhi dengan berbagai tambalan dan juga sarung lusuh yang saya dapat sebagai hadiah perkawinan saya 20 tahun yang lalu.
Badan sudah segar, penampilan sudah rapi. Sekarang saatnya makan malam. Dari kamar saya lantas beranjak ke ruang makan yang ada disisi lain istana. Diruang makan tersebut telah tersedia setumpuk makanan berbagai macam lauk pauk dan sayur mayur yang tersedia. Saya tinggal memilih makanan apa yang akan saya makan malam ini. Malam ini saya memilih untuk memakan nasi+ayam balado ditemani dengan sop daging yang hangat. Selesai makan saya langsung menenggak segelas susu yang sudah tersedia.
Selesai bersih-bersih, saya langsung kembali ke ruang utama keluarga saya untuk menanyakan pada istri saya apakah ada yang bisa saya makan hari ini. Untunglah dia bilang ya, saya sudah sangat lapar karena tidak makan seharian. Saya diberikan oleh istri saya setangkup kecil nasi pera’ dan sepotong tahu. Tak lupa kecap manis dan garam menemani makan malam saya.
Perut saya sudah terisi. sekarang saya bisa berpikir lenih jernih. Saya kembali ke ruang kerja saya untuk mengkaji ulang rencana penggusuran total semua lingkungan kumuh yang ada di ibukota. Saya coba pikirkan matang-matang. Saya memutuskan bahwa memang ibukota Indonesia ini harus dibersihkan dari wilayah-wilayah seperti itu. Supaya kota ini bisa menjadi kota yang memiliki daya tarik pada wisatawan. Malam ini saya telah mebuat keputusannya. Saya berikan izin pada gubernur jakarta untuk menggusur semua lingkungan kumuh yang ada di Jakarta.
Belum sampai perut ini kenyang, makanan yang ada diatas piring seng saya sudah habis. Setelah itu saya bersantai dengan seluruh keluarga saya sambil membicarakan dengan penuh kekhawatiran tentang rencana pemda ibukota untuk menggusur lingkungan saya. Menurut gosip yang beredar, penggusuran itu akan segera dilaksanakan begitu turun izin dari presiden. Oleh karena itu, saya masih berharap-harap cemas semoga izin tersebut tidak turun. Malam ini, kami benar-benar dalam suasana kalut. kami ta tahu bagaimana nasib kami esok. Mungkin saja penggusuran itu dilakukan esok hari. Jika memang izin dari presiden sudah turun.
Selanjutnya saya minta pada sekretaris saya untuk membuat surat izin tersebut malam ini juga dan segera mengirimkannya ke gubernur Jakarta. Lalu, saya kembali ke kamar saya untuk tidur. Saya harus beristirahat. Agenda besok adalah rapat kabinet terbatas mengenai permasalahan lingkungan terutama rencana implementasi pengolahan sampah modern. Dan selanjutnya adalah konferensi pers mengani fitnah seseorang terhadap saya mengenai pernikahan saya.
Waktu sudah pukul 9 malam. Kami sekeluarga pun segera tidur bersama dalam satu ruangan tersebut. Kami harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan penggusuran esok hari. Saya akan menunggu dirumah sampai jam 8 pagi. Jika sampai jam segitu belum ada penggusuran maka besar kemungkinan penggusuran itu dilain hari.
Saya langsung berbaring diatas kasur saya yang empuk. Dilingkupi oleh selimut yang tebal dan wangi. bersandar pada bantal yang empuk. Membuat tidur saya menjadi sangat nyenyak. Membuat saya melupakan semua kepenatan kerja sehari-hari.
Kami sekeluarga tidur tergelatak dilantai tanah yang dialas karpet plastik. Sambir berbaring saya terus memikirkan bagaimana nasib keluarga saya kedepannya. Perlahan-lahan kekalutan tersebut membawa saya pada rasa kantuk yang semakin dalam, hingga akhirnya saya mulai memejamkan mata.
Saya bangun pagi dengan perasaan yang sangat segar. Saya siap menjalankan semua agenda hari ini. Dimeja samping tempat tidur saya sudah ada secangkir teh hangat yang siap diminum beserta beberapa makan kecil. Saya langsung melahapnya.
Pukul 06.30 pagi, saya terkejut karena didepan rumah saya sudah ada 2 buldozer yang siap merobohkan gubuk lingkungan saya. Baru saja saya hendak memilah-milah sampah yang saya kumpulkan kemarin. Akhirnya saya membatalkan urusan saya memilah-milah sampah untuk mengahadang para penggusur lingkungan saya. Saya mencoba bicara dengan petugas yang bekerja, mereka tidak mau mendengar. Pukul 07.00 datanglah perintah eksekusi penggusuran. Akhirnya, saya dan para tetangga saya hanya bisa terpana melihat tempat tinggal kami terluluh lantakkan. Kini kami tak punya lagi tempat tinggal. Kami tak tahu lagi harus kemana. Yang jelas hari ini, kami akan menjadi gelandangan ditengah kota. Kami akan kesana kemari mencari tempat untuk berteduh. Kami, rakyat jelata Indonesia, telah jatuh… dijatuhkan oleh kekuasaan. kami tak berdaya. Kami ini bodoh, kami tak tahu bagaimana membela diri kami. Kami pasrah. Kami lemah…