Archive for the 'Politics' Category

Nov 17 2008

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat spanduk yang sangat bagus di dekat rumah saya yang bertuliskan seperti ini:

Ayo… Jadi Pengusaha!

Jadilah bagian dari solusi permasalahan pengangguran dan kemiskinan

Karya Aziz Peduli

Sebuah spanduk yang sederhana namun mengutarakan pesan yang sangat kuat dan berkualitas bukan?! Disitu tertulis karya aziz peduli, saya sendiri tidak tahu apa itu karya aziz peduli. Tapi saya sangat mengapresiasi spanduk yang mereka buat. Mereka tidak hendak menonjolkan golongan mereka. Dari spanduk itu terlihat sekali mereka benar-benar tulus dalam menyampaikan pesan tersebut. Subgguh spanduk yang sangat berkualitas. Jauh lebih berkualitas daripada spanduk-spanduk yang seperti dibawah ini yang belakangan banyak beredar di sudut-sudut kota. Bikin suasana kota makin riweh…

Merasa pernah lihat spanduk kayak gitu??? :p

Oct 20 2008

Pada tulisan sebelumnya disini: MustafaKamal.biz - Ayo Dukung Pengesahan RUU Pornografi, saya sudah menjabarkan kenapa kita harus mendukung RUU pornografi. Pada postingan kali ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita bisa mendukung RUU pornoografi sekarang juga. Tak perlu beranjak dari tempat duduk, tetaplah berada didepan komputermu. Lakukanlah hal-hal berikut:

1. email

Kirim dukungan Anda terhadap pengesahan RUU pornografi melalui email ke sahkan.ruupornografi@gmail.com. Silahkan tuliskana alasan Anda kenapa RUU ini perlu segera disahkan.

2. SMS

sekarang, coba tengok handphone Anda. kirim SMS dukungan Anda ke nomor 08552102650 atau nomor ini 081380123450

3. blog

Kalau Anda punya blog, silahkan posting isu ini di blog Anda. Ramaikan blogosphere Indonesia dengan dukungan terhadap RUU pornografi ini.

4. Petisi Online

silahkan buka halaman ini: http://www.petitiononline.com/RUU/petition.html, masukkan petisi online anda disana

5. Forum

Kalau Anda suka menjelajah di forum-forum online seperti kaskus dkk, coba buat postingan disana yang berisi ajakan untuk mendukung pengesahan RUU pornografi ini.

6. social network

Anda punya account di facebook, friendster, myspace, twitter, plurk dsb. Coba posting disana. Buat ajakan-ajakan sederhana melalui fasilitas apapun yang disediakan: buletin board, testimoni, microblogging dsb.

Sekian dulu. Mari kita lakukan propaganda online yang efektif untuk mendukung pengesahan RUU pornografi ini. Kenapa propaganda dukuangan seperti ini diperlukan? Karena sebelumnya, sudah banyak fax, email, SMS dan lain-lain yang isinya adlaah penolakan terhadap pengesahan RUU ini. Semua penolakan tersebut datang dari orang-orang yang memang ingin merusak moral bangsa. Disinyalir, semua penolakan tersebut berjalan terorganisir. Akhirnya lebih banyak penokakan yang sampai di telinga DPR daripada dukungan. Oleh karena itulah, kita-kita yang peduli dengan moral bangsa juga wajib memberikan dukungan seperti ini.

Filed under: Indonesian, Law, Life in Indonesia, Opinion, Politics     Tags: ,        

May 15 2008

Hari senin 12 mei 2008 lalu, saya berangkat dengan jaket kuning melekat ditubuh. Saya duduk diatap bis sambil meneriakkan orasi-orasi dan nyanyian-nyanyian khas aksi mahasiswa. Sesampainya di dekat patung tugu tani, saya mulai berjalan. Saya menjadi border dalam aksi tersebut. Saya ikuti setiap instruksi yang diturunkan dari komando aksi nasional tersebut. Saya masih dapat menikmati apa yang saya lakukan.

Paragraf pertama dari tulisan saya ini memang terlihat kontradiktif dengan apa yang saya tulis pada postingan saya yang sebelumnya: Arah pergerakan mahasiswa masa depan. Dalam postingan tersebut, saya jabarkan beberapa alasan saya kenapa saya tidak setuju dengan aksi tersebut. Saya tuliskan dengan gamblang bahwa pergerakan mahasiswa saat ini harus mencari arah lain, arah yang lebih efektif untuk menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam pembangunan bangsa. Saya katakan disana, bahwa selama ini kita mahasiswa telah salah arah. Namun, apa yang saya lakukan? saya justru ikuti aksi tersebut. Bahkan saya mampu menikmati apa yang saya lakukan disana. Melalui tulisan ini saya akan menjabarkan beberapa alasan kenapa saya tetap mengikuti aksi walaupun saya tidak setuju dengan upaya tersebut. Dan saya akan menekankan sekali lagi tentang pentingnya merubah arah gerak mahasiswa kedepan.

Kenapa saya ikuti aksi tersebut walaupun saya tidak menyetujuinya??? pertama, ada satu komentar dalam postingan saya sebelumnya yang saya anggap cukup cerdas, ini dia komentarnya. Intinya, mas Arul, sang pemberi komentar tersebut mengatakan bahwa masing-masing kita punya cara yang berbeda untuk bergerak. Saya bisa terima hal tersebut. Mungkin memang ada tipe mahasiswa yang lebih tertarik pada kegiatan aksi demonstrasi turun kejalan (pengingatan pada pemerintah: social control). Ada juga tipe mahasiswa yang lebih senang bergerak konkrit yang dapat memberikan perubahan secara langsung (pemberdayaan masyarakat: agent of change). Saya setuju bahwa kedua peran tersebut harus dijalankan secara beriringan. Saya setuju kita harus tetap mengingatkan pemerintah disamping kita sebagai mahasiswa juga haru membantu pemerintah dengan aksi nyata langsung apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa untuk membantu memperbaiki kondisi bangsa. Tapi, saya tegaskan bahwa saya tetap tidak setuju dengan AKSI tersebut.

lho… giman sih? tadi katanya setuju, tapi koq tiba-tiba berubah lagi jadi gak setuju?? saya ingin tekankan bahwa saya setuju bahwa kita mahasiswa harus senantiasa mengingatkan pemerintah akan amanah-amanahnya. Tapi saya tidak setuju jika caranya dilakukan dengan sebuah aksi demonstrasi. Kenapa saya tidak setuju dengan metode tersebut. Beberapa alasannya sudah saya tuliskan dalam postingan saya yang sebelumnya. Nah… disini saya ingin menambahkan point-point kenapa saya tidak setuju dengan metode aksi demonstrasi turun kejalan pada suasana yang seperti ini. Aksi-aksi tersebut biasanya selalu mengarah pada perlawanan akan bentuk represi. Akhirnya, dalam aksi-aksi itu diperlukan cara-cara yang agak kasar. Contoh: pada aksi senin lalu, salah seorang ketua BEM SI membuat yel seperti ini “SBY-JK, LAWAN!!!”. Sekarang saya mempertanyakan lagi, sebenarnya apa yang perlu dilawan dari SBY JK, apakah kedua orang itu menyuruh militer untuk menembaki kita? apakah kedua orang itu mengintimidasi kita? entu tidak. Lalu apa yang perlu dilawan dari mereka? mereka tidak perlu perlawanan, mereka cuma butuh pengingatan, dan yang lebih penting lagi: sokongan. Akhirnya, kita mahasiswa terjebak dalam cara-cara yang tidak ahsan (baik) dalam memberikan pengingatan pada pemerintah. Cara-cara kasar seperti itu, saya tekankan sekali lagi hanya cocok untuk pemerintahan otoriter yang mengintimidasi rakyatnya sendiri. sleain itu, aksi mahasiswa ini juga semkain menumbuhkan arogansi kita sebagai mahasiswa. Seringkali kita pada saat melaksanakan aksi menuntut dengan tuntutan macam-macam. Biasanya kita minta orang yang berkepentingan untuk menemui kita. Biasanya juga, orang yang berkepntingan itu idak bisa menemui kita. entah karena takut atau karena memang sedang sibuk. Lalu biasanya mereka memberikan alternatif pertemuan. Misal, silahkan bertemu dengan bawahan saya terlebih dahulu. Atau mari kita diskusi tapi hanya sekian orang perwakilan saja. Nah… pada saat itulah, kita para mahasiswa yang emosinya sudah terlanjur meluap-luap dengan cuaca terik dan orasi-orasi emosional, akhirnya menjadi bersikap arogan. Biasanya aksi itu akan berujung seperti ini “KAMI TIDAK BUTUH KALIAN!! KALIAN SUDAH MEMBUKTIKAN BAHWA KALIAN PENGECUT blablabla…”. Lantas kalau sudah seperti itu, kita pergi mencari spot aksi lain. Setelah jadwal aksi sudah berjalan sampai akhir. lantas kita masing-masing pulang kembali kerumah. Mengerjakan kembali tugas2 kuliah kita yang masih terbengkalai. Akhirnya…. aksi-aksi tersebut benar-benar tidak membawa hasil, karena ketika kesempatan diskusi sudah terbuka, kita pergi begitu saja sambil terus bersampah serapah dalam orasi-orasi kita. Saya katakan pada rekan-rekan semua, bahwasanya kondisi aksi senin lalu ternyata tak jauh berbeda dengan skenario yang saya tuliskan diatas. SBY, melalui Andi malarangeng mengatakan silahkan bicara dulu dengan menteri-menteri terkait. Kita sudah diberi kesempatan untuuk berdiskusi dengan para menteri, tapi ternyata kita menolak mentah-mentah. Kita tetap memaksa SBY datang kemudian menandatangani lembara tugu rakyat yang isinya HANYA TUNTUTAN buat pak SBY. kasian betul pak SBY itu… sudah terliaht sekali dia bingung mengurus negeri ini, eh… kita mahasiswa malah tambaha bikin ngerecokin kebingungannnya beliau. Seharusnya kita bantu dia mengusir kebingungannya dengan mengatakan pada beliau: “Pak SBY, kami siap mensupport Anda dalam bidang-bidang yang kami kuasai. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu program-program anda akan kami coba kerjakan”

Wah… mas kamal ini gimana sih??? tulisannya panjang lebar menentang aksi tapi koq kemarin tetap ikut aksi? Ok… disini saya akan berikan jawabannya… Satu hal yang menjadi alasan saya kenapa ingin ikut aksi ini adlah saya ingin memberikan contoh pada sahabat-sahabat saya yang lain yang ada di fasilkom. Say sudah meliaht Fasilkom tidak tawazun, tidak seimbang. Terlalu menitikberatkan pada aspek keilmuan tapi aspek pengingatannya diabaikan sama sekali. Saya akui, Banyak, sangat banyak mahasiswa fasilkom yang merasa tidak punya tanggung jawab untuk mengingatkan pemerintah. Dikampus saya itu, lebih banyak orang yang ingin belaja tentang IT karena dia ingin dirinya jago dibidang IT. Dikampus saya, lebih banyak orang yang ingin berprestasi supaya dirinya bisa memberikan kebermanfaatan yang luas. Tapi sayangnya banyak dari mereka yang lupa dengan perannya yang lain, yaitu peran social control. bahkan para pejabat BEM Fasilkom pun banyak yang punya pandangan seperti itu (Ayo donk, sodara-sodara dan sahabat-shabat ku di BEM, be tawazun/seimbang dalam bergerak! Jalankan semua peran mahasiswa secara optimal). Dengan ikut aksi tersebut, saya ingin memberikan teladan pada teman-teman saya dikampus fasilkom. Untuk itulah, sesaat sebelum berangkat aksi itu, saya berjalan berkeliling sendiri dikampus saya dengan mengenakan jaket kuning yang ngejreng itu. Walhasil, banyak yg nanya “mo ngapain lu mal!!” :) Alhamdulillah, aksi yang saya ikuti itu memberikan pengaruh yang cukup besar buat beberapa orang sahabat saya. Semoga pergerakan mahasiswa dikampus saya kedepannya bisa lebih seimbang.

Sekarang, saya sudah menjabarkan bahwa aksi itu tidak efektif. tentunya saya tidak boleh hanya berkoar-koar saja berteriak-teraik bahwa aksi tidak efektif tanpa memberikan solusi jalan lain yang lebih efektif untuk mengingatkan pemerintah. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan mengundang tokoh politisi yang ingin kita ingatkan itu dalam diskusi yang lebih sopan dan konstruktif. Kita bisa saja mengundang sang presiden atau sang menteri untuk menjadi pembicara di seminar yang kita adakan. Dalam acara itu kita bisa memberikan pengingatan secara lebih elegan. Selain itu, kita juga bisa datangi media, untuk meminta slot khusus untuk menyampaikan pendapat kita. Kalau untuk menundukkan DPR/MPR saja kita bisa, apalagi kalau cuma sekedar meminta waktu pada media untuk memberikan pengingatan pada pemerintah sekaligus juga memberikan pencerdasan pada masyarakat. Ketahuilah… aksi sama sekali tidak mendidik masyarakat, lihatlah di daerah-daerah, mereka-mereka yang berusaha mengikuti cara kita dengan berdemosntrasi ternyata justru terseret pada sikap anarkisme. Kita, para mahasiswa insan intelektual bangsa mungkin bisa mengendalikan aksi secara kondusif dan tidak anarkis, Tapi mereka diluar sana yang tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting tuntutan mereka terpenuhi. Mereka pasti akan terodorng pada aksi anarkisme.

Sebenarnya masih ada banyak sekali cara lain yang bisa kita lakukan untuk mengingatkan pemerintah dengan cara yang lebih elegan dan mendidik. Kita pasti bisa mengexplor semua cara tersebut. Syaratnya, kita para mahasiswa harus benar-benar bersatu. Kita harus sama-sama sepakat bahwa mahasiswa perlu merubah pola gerakannya. Dari situ baru kita bisa sama-sama memikirkan pola gerakan yang paling tepat dan cocok untuk kondisi Indonesia saat ini.

~ HIDUP RAKYAT INDONESIA

May 03 2008

Saya adalah seorang mahasiswa yang bercokol dikampus yang disebut-sebut sebagai kampus perjuangan. Kampus yang begitu mencolok dengan jaket kuningnya. Kampus yang dikatakan jika mahasiswanya turun kejalan maka hati-hati akan ada perubahan. Kampus Universitas Indonesia. Lebih spesifik lagi dikampus UI ini saya mendalami bidang kajian ilmu komputer di gedung bundar fasilkom UI.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai pergerakan mahasiswa saat ini. Tulisan saya ini merupakan respon terhadap beberapa aksi yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya belum lama ini. Begitu mirisnya saya melihat saudara-saudara seperjuangan saya yang rela tidur dijalanan demi menunjukkan perhatiannya pada bangsa. Tulisan ini juga merupakan jawaban atas pertanyaan beberapa orang sahabat saya yang menanyakan kenapa saya tidak pernah mau ikut aksi? kenapa tingkat
partisipasi fakultas saya dalam kegiatan-kegiatan seperti itu sangat kecil? Tulisan ini dibuat dengan harapan dapat memberikan pencerahan pada rekan-rekan mahasiswa bahwa sudah saatnya kita merubah arah pergerakan kita.

tercatat tanggal 21-23 maret lalu, BEM UI mengadakan konferensi BEM Seluruh Indonesia. Saya sendiri sudah lama mendengar isu akan diadakannya acara ini. Ketika mendengar isu ini saya merasa ada angin segar. Semoga acara ini bisa menjadi titik tolak perubahan pergerakan mahasiswa kedepan. Tapi ternyata hasil dari acara ini tidak seperti yang saya harapkan. Konferensi ini ternyata hanya menghasilkan (lagi-lagi) tuntutan terhadap pemerintah diantara sekian banyak tuntutan-tuntuan yang pernah dilayangkan mahasiswa pada pemerintah. Tuntutan ini diberi nama TUGU RAKYAT (Tujuh Gugatan Rakyat)
. Coba kita hitung berapa banyak sebenarnya tuntutan-tuntutan kita yang benar-benar diperhatikan oleh pemerintah. Memang ada, tapi sangat sedikit. Seharusnya pertemuan itu bukan cuma sekedar membahas permasalahan bangsa kemudian membuat tuntutan pada pemerintah. Seharusnya konferensi itu menghasilkan kesepahaman tentang apa yang bisa dan seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk memperbaiki bangsa ini. Hanya menuntut tidak akan membawa hasil apapun, tidak akan memberi perubahan yang nyata buat rakyat. Sebaliknya, hanya perbuatan konkrit lah yang bisa memberikan dampak nyata dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa kita. Yang dibutuhkan adalah Solusi konkrit, bukan cuma barisan point-point tuntutan.

Kemudian hasil konferensi ini di tindak lanjuti dengan aksi yang diberi tagline hiperbolis “kepung istana”. Aksi ini diikuti oleh kurang lebih 600 orang. Mereka bahkan sampai menginap didepan istana negara dan tidur dijalanan. Lalu apa? adakah perubahan yang berarti akibat aksi demonstrasi ini? apakah kini rakyat sudah mendapat kesejahteraan yang lebih baik? Apakah semua aksi kita itu diperhatikan oleh pemerintah? jawabannya tentu TIDAK. Dan saya sangat menyayangkan aksi mereka menginap dijalanan. Apakah tidurnya mereka di aspal itu benar-benar mampu membuat perubahan? tentu tidak. Padahal akan jauh lebih baik jika tenaga mereka dialihkan untuk berbuat sesuatu hal yang konkrit untuk mensejahterakan masyarakat.

Sadarilah aksi semacam itu kini sudah tidak efektif lagi. Aksi hanya diperlukan dalam suasana pemerintahan yang otoriter. Sehingga kita sebagai mahasiswa punya peran untuk melakukan represi politik pada pemerintah. Sementara kondisi politik Indonesia saat ini cenderung stabil. Iklim demokrasi berjalan dengan baik. Coba perhatikan, aksi-aksi mahasiswa yang benar-benar efektif dan mampu membawa perubahan adalah aksi yang membawa agenda besar untuk untuk melakukan perbaikan yang sifatnya mendesak dan butuh represifitas yang tinggi. Salah satu contohnya adalah aksi `98. Kalau saya jadi mahasiswa pada saat itu, tentu saya akan dengan sukarela ikut dalam aksi tersebut. Tapi dalam aksi-aksi lain yang tidak membawa tujuan perubahan besar, yang pada akhirnya hanya bertujuan menunjukkan eksistensi mahasiswa, saya tidak akan mengikutinya.

Dulu, kalaupun suatu aksi demonstrasi tidak membawa agenda perubahan yang besar. paling tidak media masih meliput aksi tersebut dengan serius. Sehingga gaungnya bisa benar-benar terlihat oleh publik. Dalam kondisi seperti ini, paling tidak aksi yang dilakukan mahasiswa masih bisa memberikan manfaat, yaitu masyarakat menjadi tahu bahwa mereka masih punya tumpuan. pasca 98 s/d tahun 2004-an, aksi mahasiswa masih bisa dijadikan sarana untuk menunjukkan perhatian kita para mahasiswa terhadap persoalan bangsa. Tapi coba lihat saat ini, banyak pihak yang sudah jemu dengan aksi-aksi tersebut. Rakyat sudah semakin skeptis dengan aksi-aksi yang kita lakukan. Media sudah tak lagi menganggap aksi-aksi mahasiswa sebagai berita yang patut disebarluaskan secara masif. Alhasil, demonstrasi mahasiswa kini benar-benar terasa kosong tak tak bermakna. Demonstrasi kini tidak lagi membawa agenda perubahan yang besar, hanya tuntutan demi tuntutan. Selain itu, demonstrasi kini juga sudah tidak mendapat perhatian publik. Sehingga upaya kita untuk menunjukkan perhatian kita pada bangsa ini juga menjadi tidak efektif.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita para mahasiswa merubah arah pergerakan kita. Kedepannya kita harus lebih banyak bergerak pada lahan yang benar-benar riil memberikan efek nyata buat masyarakat. Kita harus mulai memberdayakan potensi intelektual kita untuk memberikan solusi konkrit buat bangsa. Kegiatan-kegiatan aksi, demonstrasi dkk kini sudah tidak lagi diperlukan karena memang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kegiatan-kegiatan seperti pembangunan desa (UI Comdev BEM UI), pembuatan blueprint jakarta (Pokja DKI BEM UI), pelatihan komputer gratis untuk rakyat (Pengmas On IT BEM fasilkomUI) dkk harus lebih diperbanyak. Riset-riset yang ditujukan untuk menghasilkan solusi bagi bangsa harus lebih intensif. PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) juga dapat menjadi sarana memberikan solusi konkrit untuk bangsa. Asalkan mahasiswa yang mengikutinya bukan cuma bertujuan untuk memenangkan lombanya tapi juga bertujuan untuk memberikan solusi konkrit permasalahan bangsa. Kedepannya, kita harus lebih banyak memberikan dukungan atas setiap kerja positif yang telah dilakukan pemerintah.

Sejauh ini, saya lihat sudah ada satu kampus di Indonesia yang sudah sangat berhasil mengarahkan pergerakan kemahasiswaannya ke arah yang benar. Kampus itu adalah kampus IPB (Institut Pertanian Bogor). Salut saya untuk rekan-rekan mahasiswa di IPB yang telah memberikan banyak solusi konkrit untuk mengentaskan berbagai macam persoalan bangsa. Kampus saya sendiri, UI, yang dulu disebut sebagai barometer utama pergerakan kemahasiswaan nasional kini sudah tidak terasa lagi. Saya mengakui bahwa kami disini masih berkutat dengan model perjuangan gaya lama yang sudah tidak lagi relevan. Saat ini, kami para aktivis mahasiswa di UI sedang berusaha mengarahkan pergerakan kami ke arah yang sesuai.

Diluar semua itu, kita juga tak boleh lengah untuk terus mengingatkan pemerintah untuk melakukan perbaikan disana-sini. Kita harus mencari cara lain yang lebih efektif daripada demonstrasi. Cara yang lebih cocok untuk kondisi saat ini. Kalau memang suatu saat nanti, terbentuk kemabli iklim politis yang memaksa kita untuk turun kejalan maka ayo kita kemabli lagi kejalanan meneriakkan suar-suara lantang kita. Menggemakan idealisme kita. Menunjukkan perhatian kita pada rakyat. Tapi saat ini, bukan itu jalan yang harus kita tempuh. Kita harus mencari jalur lain yang lebih jelas. Jalur yang secara nyata akan membawa perbaikan pada Indonesia.

Semoga kita para mahasisa Indonesia dapat terus menjalankan perannya pada bangsa ini. Semoga kita dapat terus memberikan kontribusi aktif kita pada upaya perbaikan bangsa Indonesia.

Hidup Bangsaku!
Hidup Rakyat Indonesia!

~”hidup mahasiswa!” hanyalah seruan arogansi eksistensial mahasiswa pada rakyat Indonesia.

Jan 19 2008

Tulisan ini merupakan tindak lanjut dari dua tulisan sebelumnya yaitu:

Setelah saya pikir-pikir, dua tulisan tersebut saling terkait.Bagaimana keterkaitannya, baca terus tulisan ini sampai selesai. Kalau pada 2 tulisn diatas saya hanya membahas MASALAH, maka kali ini saya akan membahas SOLUSI.
——————————————
kita mulai dari sini:

Ada orang yang memberikan komentar seperti dibawah ini (atau bisa lihat langsung disini) pada tulisan saya yang tentang suharto: (harus diapakan suharto?)

wadauuw…
bukan main!!

benarkah segala kejahatan yang telah dilakukannya begitu kejamnya??
benarkah apa yang telah diperbuatnya begitu tak berharga??
benarkah itu semua bukan cuma disebabkan oleh propaganda media dan hasil pemikiran opportunis yang sebenarnya tidak kenal benar-benar apa yang telah terjadi??
atau karena kebebasan itu sehingga semua tentangnya bisa demikian buruk??

bagi kami yang merasakan langsung bagaimana menjalani hidup menjadi rakyat kecil…
betapa kami merindukan kembali berada di masa2 dulu ketika beliau memerintah.
kami merasa sangat susah berada di jaman baru ini..
barangkali tak berlebihan jika kami begitu membenci reformasi..
jangan anda anggap semua orang berpikiran sama dengan anda tentang pak harto.
para pencetus reformasi ini sebenarnya orang-orang yang tidak punya konsep yang jelas tentang apa yang seharusnya dilakukan setelah cara lama dihancurkan, sehingga beginilah jadinya.
setelah tahu ternyata tidak mudah membangun semuanya, satu persatu minggir sebagai orang-orang yang gagal memimpin.
dan kami, rakyatlah yang menjadi korbannya.
wahai para bloggers, sadarlah bahwa anda termakan oleh provokasi dunia barat yang sebenarnya selalu ingin kita selalu dibawahnya. dengan jalan demokrasi atau bukan, seharusnya kita bangga memiliki cara sendiri dalam memakmurkan rakyat kita. jika demokrasi macam begini cuma membikin masyarakat jauh lebih susah dibanding zaman orde baru, apa kalian senang?
BEGITULAH TIPE MASYARAKAT INDONESIA..
ORIENTASINYA KABUR DAN TAK BISA MERUMUSKAN DENGAN JELAS APA YANG SEBENARNYA MEREKA BUTUHKAN..
SAYA BERDOA UNTUK KEHANCURAN REFORMASI!!
HANCURLAH REFORMASI YANG TIDAK BERMUTU DAN GANTILAH DENGAN FORMAT BARU TATA EKONOMI YANG MEMBUAT KAMI MUDAH MENDAPATKAN PEKERJAAN DAN TIDAK KESULITAN MENJALANI KEHIDUPAN DI NEGARA TERCINTA INI!

Komentar tersebut menunjukkan bahwa dia tidak benar-benar mengerti masalah yang sebenarnya terjadi di Indonesia selama kurun waktu orde baru berlangsung. Pada jaman suharto, segala sesuatu memang terlihat sangat stabil. Tidak ada masalah yang berarti. Rakyat merasa tentram dan sejahtera. Tapi sayangnya itu semua cuma tampilan luar.
Bagaimana kedok yang sebenarnya?

Keadaan yang sebenarnya sungguh sangat kacau. Potensi krisis moneter telah terjadi sejak lama. Sejak soeharto dan kroni-kroninya secara membabi buta berhutang pada pihak lain dengan alasan pembangunan. Potensi disintegrasi juga sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Kasus ambon, itu sebenarnya sudah terjadi sejak zaman suharto. Bagaimana pula dengan potensi diktator? kita dapat melihat kekejaman pemerintahannya pada peristiwa pembantaian massal di tanjung priuk. Belum lagi, potensi pembusukan birokrasi, pemeliharaan budaya korupsi dikalangan birokrasi. Semua itu terus tumbuh secara perlahan tapi pasti pada zaman soeharto. Walaupun memang tetap saja jasa soeharto bagi pembangunan negeri ini juga cukup  besar.

Lalu kenapa selama ini kita tidak pernah tahu hal tersebut?
Karena tentu saja, pemerintahan soeharto telah dengan cangat cantik menutupi semua cacat tersebut. Waktu itu media masih sepenuhnya dikendalikan pemerintah. Masih ingat kan dengan program berita “dunia dalam berita” yang dipaksakan untuk ditayangkan pada seluruh stasiun televisi. Coba lihat berita yang muncul disana, kebanyakan berita-berita tentang betapa suksesnya pemerintahan orde baru. Semua cacat disembunyikan dengan sangat rapi.

Soeharto, pada masa pemerintahannya telah merakit bom waktu yang sedemikian besar. Dan kini, bom waktu itu telah meledak dengan sangat keras mengguncangkan setiap sendi kehidupan bangsa Indonesia.

Dan bukti paling konkrit dari kejahatan orde baru ialah apa yang dialami sahabat saya di kejaksaan (baca ceritanya disini: busuknya pengadilan di Indonesia). Kejaksaan dengan budaya korupsi yang seperti itu merupakan salah satu dari sekian banyak produk busuk hasil karya para golongan karya di orde baru. Sulit sekali memperbaiki birokrasi yang telah rusak oleh korupsi yang telah membudaya itu.

Tapi dibalik semua itu, kita harus tetap yakin bahwa Indonesia dapat membaik. Perbaikan birokrasi memang sulit, tapi BISA!! Bagaimana caranya? tentunya kita tidak akan bisa memperbaikinya dalam jangka waktu yang sebentar. Upaya menghantam keras birokasi tersebut dengan hantaman yang sekeras-kerasnya tidak akan berhasil. Katakanlah, tiba-tiba sang presiden langsung turun tangan membersihkan sebuah kejaksaan negeri. Budaya korupsi tersebut akan hilang sesaat untuk kemudian kembali tumbuh subur sesuai dengan alur pembentukan awalnya.

Lalu bagaimana caranya supaya kita dapat memberantas kemungkaran tersebut? Satu-satunya cara paling efektif adlaah dengan memasukkan satu-persatu orang-orang yang bersih dan jujur pada lembaga birokrasi yang dimaksud. Tentunya ini akan butuh waktu yang sangat lama. Kita tidak akan bisa semerta-merta mengganti seluruh orang-orang biadab dengan orang-orang baik dalam satu waktu. Kita harus masukkan satu-persatu. Semua orang tersebut harus menempuh jenjang karir didalam sana supaya dapat memiliki posisi strategis. Semakin banyak jumlah mereka yang jujur masuk dan semakin banyak pula orang-orang tua dzholim yang sudah pensiun menikmati uang hasil kebiadabannya. Perlahan tapi pasti lembaga yang dimaksud akan terus membaik. Namun, memang selama perjalanannya, orang-orang baik dan jujur yang dimasukkan kesana harus dijaga dan juga mampu menjaga dirinya sendiri. Mentalnya harus kuat menghadapi tekanan birokrasi yang kotor. Jangan sampai ketika mereka masuk kesana, mereka justru tercemar dan ikut-ikutan bertingkah seperti para pelaku koruptor busuk tersebut. Dan kita juga perlu memanipulasi supaya mereka yang masuk kesana tidak tersingkir oleh birokrasi yang berlumpur. Supaya mereka tidak dikucilkan.

Memang akan butuh waktu yang sangat lama untuk melakukan hal tersebut. Paling cepat kita butuh waktu 10 tahun untuk memperbaiki SATU lembaga. Bagaimana dengan ratusan lembaga lain yang juga harus dibersihkan? Mungkin butuh waktu 1 atau 2 generasi untuk memperbaiki Indonesia. “Merusak jauh lebih mudah daripada memperbaiki”. Indonesia telah dirusak secara perlahan-lahan dalam kurun waktu 1 generasi. Itu berarti kita harus sabar dalam memperbaiki kondisi Indonesia kita. Kalau perusakan Indonesia dilakukan dalam kurun waktu 1 generasi, maka perbaikannya akan membutuhkan lebih lama dari itu.

Dan sekarang yang jadi pertanyaan adalah bagaimana menghasilkan SDM-SDM handala yang bersih dan jujur. Kalau ingin tahu jawabannya maka pergilah ke pengajian-pengajian yang ada di pelosok-pelosok perkampungan, tengoklah program mentoring keagamaan yang ada di sekolah, lihatlah program-program pengembangan karakter yang dilakukan untuk para anak muda. Jangan pernah meremehkan kegiatan-kegiatan seperti itu, kegiatan yang terlihat tampak kecil signifikansinya bagi bangsa. Justru inilah cara paling konkrit dan pasti untuk memperbaiki bangsa kita yang sedang terpuruk ini. Jika ini dijalankan secara serius dan massif maka hasilnya akan benar-benar mampu menghasilkan SDM-SDM yang profesional dan amanah yang mampu membawa negeri kita dari lembah kenistaan, menuju puncak kejayaan.

————

Ini dia yang saya maksud dengan ground voice alias suara akar rumput pada tulisan saya yang ini: potensi dan manfaat blog 

Jan 12 2008

Bapak Indonesia yang satu ini sekarang sedang tersengal-sengal mempertahankan hidupnya. Sudah kira-kira 8 hari dari sekarang beliau memasuki masa kritis. Malaikat maut seolah-olah sudah bersiap-siap digaris start untuk melaju ke RSPP untuk melakukan tugasnya.

Mantan Pemimpin negeri yang satu ini memang penuh kontroversi. Sampai saat ini, masih banyak orang yang mengutuk kebiadabannya pada masa orde baru yang meluluhlantakkan tatanan kemajuan negeri Indonesia. Tapi disamping itu, banyak juga yang mulai merasa kasihan padanya dan dengan berbesar hati memaafkan segunung kesalahannya dimasa lampau.

Orang-orang yang masih benci pada suharto mengatakan pada mereka yang memaafkannya sebagai orang yang tidak mengerti hukum. Mereka dianggap sebagai orang yang tidak mengerti betapa bangsa ini telah dirusak oleh presiden kita yang satu ini. Dibalik itu, mereka yang memaafkannya mengatakan bahwa orang yang masih saja merongrong Suharto adalah orang yang tidak punya rasa kemanusiaan, tidak punya belas kasihan dsb.

Sebenarnya bagaimana sih sebaiknya kita menyikapi hal ini? Kalau saya sendiri berpendapat bahwa 2 sikap diatas itu sama-sama benar. Sebagai individu yang sudah sedemikian tak berdaya, Suharto sudah selayaknya dimaafkan saja. Namuan sebagai seorang yang pernah melakukan kejahatan besar pada rakyatnya, kejahatannya harus tetap diproses secara hukum.

Suharto kini adalah seorang tua yang sedang sakit kritis yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Suharto kini bukan lagi seorang diktator yang menghisap darah bangsanya sendiri. Dengan kondisi seperti itu, sudah tidak mungkin lagi bagi kita untuk menghukumnya secara pribadi, memasukkannya ke penjara, menghukum mati dsb. Biarlah Allah yang mengazabnya nanti kalau memang benar dia melakukan semua kejahatan tersebut.

Namun biar bagaimanapun, kejahatan yang pernah dilakukannya harus diberantas semaksimal mungkin. Semua uang rakyat yang terampas harus segera dicari kembali, dihimpun kembali untuk kemudian dikembalikan pada rakyat Indonesia yang saat ini juga jauh lebih parah kondisinya daripada suharto. Semua kroni-kroninya yang dulu juga ikut menghisap uang rakyat harus segera ditumpas. Mereka yang pergi melarikan diri harus dikejar. Dihukum sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya. Sadarilah negeri ini jauh lebih sengsara daripada kesengsaraan yang saat ini dialami oleh suharto.

Intinya, maafkanlah suharto sebagai seorang individu. Tapi jangan maafkan kejahatannya. kejahatan yang dilakukan olehnya dan semua konco-konconya harus diproses. Uang rakyat harus kembali pada rakyat.