Menebar sejuta manfaat
Archive for the 'IT' Category
Jul 26 2009

Ketika Google-pun tak berdaya

Pernahkah Anda mencoba mencari suatu informasi di internet, kemudian Anda dengan penuh percaya diri datang ke ustadz Google untuk menanyakan perihal informasi tersebut? Anda berharap bisa menemukan informasi tersebut dengan mudah namun ternyata profesor Google yang selama ini diagung-agungkan banyak orang itu cuma bisa memberikan ratusan ribu link yang hampir sama sekali tidak ada kaitannya dengan apa yang sebenarnya ingin kita cari.

Well, itulah yang terjadi pada saya saat ini. Saya sedang mencoba mencari contoh template surat perjanjian kontrak usaha bersama untuk mulai memprofesionalisasikan (halah…) kerja perusahaan yang sudah saya bangun dengan darah dan pengorbanan sejak 3,5 tahun yang lalu, Univind, sebuah perusahaan web development. Sangat sulit buat saya untuk mendapatkan apa yang saya mau itu. Saya sudah coba jutaan keyword (hehehe… enggak deng, paling belasan doank) namun saya tidak juga berhasil mendapatkannya. Kenapa bisa begitu? Itu karena informasi yang saya inginkan itu sudah tertutup oleh bejibunnya informasi lain yang lebih populis yang terkait dengan kata kunci yang saya masukkan. Bingung ya? Begini… yang saya cari adalah contoh surat perjanjian usaha bersama untuk dipakai pada perusahaan yang saya bangun bersama rekan-rekan saya. Namun, semua kemungkinan keyword yang saya coba ternyata teralih ke surat kontrak kerjasama biasa antara klien dan penyedia jasa. Kalo surat kontrak begitu sih saya sudah sering pakai.

Karena sepertinya belum ada studi tentang permasalahan ini dan belum ada yang memberi istilah pada kondisi ini, maka saya klaim saja deh ini sebegai penemuan saya. Hohoho… kondisi ini saya beri istilah “Cloud-Vagued Information“. Beeuuhh… keren kan istilahnya. Artinya adalah informasi penting yang menjadi tersamar (Vagued Information) disebabkan sangat banyaknya informasi lain (Cloud Information) yang dikaitkan dengan informasi penting tadi.

Contoh yang paling gampang mengenai Cloud-Vagued Information adalah tentang bisnis internet. Coba saja anda ketikkan keyword “bisnis internet”, “online business” atau “bisnis online” dan sejenisnya. Maka hampir pasti Anda hanya akan mendapatkan daftar puluhan website-website referral marketing yang isinya penuh dengan janji-janji buta dengan font besar-besar dan warna-warni mencolok yang bikin sakit mata (ini contohnya). Padahal seharusnya bisnis internet itu jauh lebih luas daripada skema bisnis seperti itu (yang terkadang banyak banget yang cuma tipuan).

Contoh diatas tadi adalah contoh seriusnya. Sohib saya Agung pernah memberikan contoh yang lucu. Coba baca tulisannya disini. Beliau “menjebak” para pengguna search engine yang ingin mencari informasi tentang Manohara. Baca aja deh tulisannya baik-baik, lucu deh :)

Saya sendiri juga belum tahu apa yang harus kita lakukan jika menghadapi kondisi Cloud-Vagued Information ini. Sampai saat ini teknologi mesin pencari masih hanya memberikan informasi yang populis dan bukan informasi yang tepat. Walaupun memang dalam mayoritas kasus, informasi yang populis itu adalah informasi yang tepat. Namun dengan konsep ini, akan sangat sulit jadinya untuk mencari suatu informasi penting yang tertutup oleh jutaan informasi tak penting lainnya. Teknologi web masa depan seperti web semantic pun tampaknya juga masih akan menggunakan konsep ini sehingga masalah Cloud-Vagued Information ini akan tetap ada.

Eniwei, saya pikir masalah Cloud-Vagued Information ini bisa saja jadi salah satu solusi untuk memberantas pornografi di internet. Andaikan saja suatu saat nanti semua orang jadi baik (kapan ya… :roll: ), lalu mereka menulis banyak hal tentang pornografi di blog mereka. Tentang betapa berbahayanya pornografi, atau tentang edukasi seks atau hal lainnya mengenai pornografi tanpa menaruh gambar-gambar porno di blognya. Maka pasti setiap keyword “porn“, “sex” dan sejenisnya itu akan mengarah ke blog-blog mereka alih-alih ke website-website porno buatan para penjahat kelamin itu.

Sekian saja… wah panjang juga ya… harusnya jadi riset pasca sarjana saya aja nih…. bisa gak ya… hehe…

yowis, semoga bermanfaat :)

Jun 18 2009

Cari modal untuk bisnis di bidang teknologi informasi (2)

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya disini. Kali ini saya akan menceritakan apa-apa saja yang disampaikan oleh sang techno venture tersebut kepada saya dalam acara UI Young and Smart Entrepreneur beberapa waktu yang lalu. Nama lengkapnya adalah Elwin Andririanto. Beliau adalah seorang pemilik perusahaan pemodal ventura di bidang teknologi. Ya, sebuah Venture Capital berbasis teknologi. Sesuatu yang sangat langka di Indonesia.

Contoh bisnis di bidang IT yang telah dimodali dan dibantu oleh Mas Elwin ini adalah Batik Fraktal dan Mobee Indonesia. Batik Fraktal merupakan penemuan seorang mahasiswa ITB yang memungkinkan kita untuk memunculkan pola-pola batik dari berbagai macam corak (batik jawa, batik bali, ulos, batik cina dsb) secara otomatis melalui komputer. Sementara Mobee merupakan perusahaan pembuat produk web renderer untuk perangkat mobile.

Mas Elwin ini adalah investor yang berbeda dengan investor-investor kebanyakan yang ada di Indonesia. Tidak seperti kebanyakan investor Indonesia yang ingin segera memetik hasil, Mas Elwin tahu betul bahwa bisnis di bidang IT itu butuh waktu penanaman yang lama sebelum bisa memetik hasilnya. Ini karena mas Elwin dulunya pernah bekerja di sebuah perusahaan produsen chip di Amerika. Semasa bekerja disana beliau sudah mengenal betul bagaimana berlangsungnya skema IT entrepreneurship di Amerika. Sebuah skema yang memungkinkan lahirnya begitu banyak perusahaan-perusahaan besar di bidang IT seperti Google, Sun, Microsoft dan lain sebagainya.

Pada saat acara kemarin mas Elwin menceritakan panjang lebar skema alur dana modal dari berbagai sumber sehingga bisa terkumpul ke Venture Capital yang kemudian akan didatangi oleh para calon entrepreneur kreatif yang ingin mewujudkan ide kreatifnya menjadi sebuah bisnis. Skema itulah yang tidak terjadi di Indonesia. Skema yang memang tampaknya masih sangat sulit dicapai dalam waktu dekat. Saya sendiri belum sepenuhnya paham dengan skema yang dijelaskan mas Elwin. Mas Elwin menceritakan mulai dari suku bunga, investment banking, family fund dan istilah-istilah lainnya yang bagi saya udah cukup njlimet. Walhasil, mohon maaf saya gak bisa menceritakan secara detail persis apa yang beliau ceritakan saat itu :p

Eniwei, kalau teman-teman punya ide bisnis di bidang IT. Kalau teman-teman membuat sebuah penemuan baru dibidang IT dan ingin menjadikannya sebuah bisnis. Mungkin bisa menghubungi mas Elwin ini untuk mendapatkan bantuan pemodalan dan pembimbingan. Mohon maaf saya tidak bisa memberikan informasi kontak mas Elwin secara terbuka di blog ini. Kalau teman-teman memang tertarik, silahkan japri saya saja elwat email atau YM atau handphone atau lewat manapun lah terserah.

Sukses selalu

Jun 10 2009

Cari modal untuk bisnis di bidang teknologi informasi?

Dulu saya pernah membuat tulisan berjudul Membangun Silicon Valley Indonesia. Disana saya menyampaikan bahwa ada dua faktor yang diperlukan untuk memunculkan tempat yang se-produktif Silicon Valley, yaitu kreativitas dan entrepreneurship. Urusan kreativitas bisa dibilang sebenarnya sudah dimiliki oleh bangsa kita. Yang masih kurang adalah entrepreneurship alias kewirausahaan.

Faktor entrepreneurship ini biasanya terhambat oleh urusan modal. Sulit bagi pejuang-pejuang IT di Indonesia yang punya jiwa kreatif untuk bisa mengimplementasikan hasil karyanya menjadi sebuah bisnis yang akan mendatangkan uang untuk negara kita tercinta ini. Di Silicon Valley sana, tak terhitung banyaknya Venture Capital (semacam perusahaan pemodal sekaligus inkubator bisnis) yang bersedia menanggung resiko besar untuk para mahasiswa-mahasiswa Amerika yang ingin menjajal ide kreatifnya untuk dibisniskan.

Di Indonesia, sebenarnya sudah ada dan bahkan cukup banyak pihak-pihak yang bersedia memberikan modal untuk para pengusaha. Tapi sayangnya, sedikit yang mau atau mengerti skema investasi di bidang IT. Berbisnis di bidang teknologi informasi ini butuh waktu yang lama sebelum akhirnya bisa memetik hasilnya. Lihat saja Sequioa Capital, salah satu Venture Capital pertama Google, yang bersedia memberikan sekian banyak modal kepada Google tanpa tahu persis bagaimana nantinya bisa mengkomersialkan Google. Waktu itu Google sama sekali belum berbentuk perusahaan yang punya keuntungan besar. Pada masa-masa awalnya, Google hanyalah sebuah halaman putih di rimba belantara web yang dilengkapi dengan sebuah textbox plus tombol bertuliskan search. Tidak lebih dari itu. Tak ada uang yang mengalir, tak ada prospek bisnis yang menjanjikan. Tapi kenapa Sequioa Capital tetap nekad memberikan dana untuk Google? Karena mereka tahu, besarnya prospek yang dimiliki Google. Mereka tahu bahwa akan banyak pengguna internet yang menggunakan Google. Jumlah pengguna yang massif inilah yang kemudian dilihat sebagai prospek. Bisa dibilang, prinsip para pemodal-pemodal IT di amerika itu: “Selama prospek penggunanya besar, Danai saja dulu, masalah uang pikirin nanti…“.

Nah… kebetulan saya (pada akhirnya) menemukan Techno Venture Capital aseli Indonesia. Pada saat acara UI Young and Smart Entrepreneur kemarin saya bertemu dengan salah satu (atau mungkin satu-satunya) pemilik Techno Venture Capital di Indonesia. Beliau mengerti betul bagaimana skema wirausaha IT di Amerika karena memang dulu beliau pernah bekerja disana. Dengan begitu, beliau tidak seperti investor-investor lain di Indonesia yang ingin segera memetik hasil. Beliau paham bahwa bisnis di bidang IT itu membutuhkan waktu yang lama untuk memetik hasilnya. Pada postingan selanjutnya nanti saya akan mencoba menceritakan lebih detail tentang apa yang beliau ceritakan ke saya pada acara tersebut.

Dijamin maknyuss ;-)

May 14 2009

Tipe tulisan blog berkualitas

Beberapa waktu yang lalu saya ikut seminar yang salah satu pengisinya adalah salah satu pentolan blogger Indonesia, mas Budi Putra. Pada seminar tersebut mas Budi bercerita panjang lebar tentang blogging. Kenapa blogging itu baik? Bagaimana mendapatkan uang lewat blogging? Bagaimana ber-blogging ria secara bermanfaat dan lain sebagainya. Nah… pada postingan kali ini saya ingin membagi salah satu poinnya. Yaitu bagaimana membuat blog dengan tulisan yang berkualitas?

Dalam pemaparannya, mas Budi cuma menyampaikan 3 poin tipe tulisan blog berkualitas. Ketiga poin tersebut adalah:

Original

Postingan blog berkualitas hendaknya original alias self made alias ditulis dengan tangan sendiri (ya iyalah, masa sama tangan orang lain :) ). Maksudnya disini adalah tulisan yang dibuat di blog kita itu bukan sekedar tulisan copy paste dari blog atau situs lain. Blog juga hasil karya cipta. Kalau kita meng-copy paste berarti kita juga bisa termasuk melanggar hak cipta. Selain itu, yang dimaksud original disini juga termasuk tidak me-rewrite tulisan orang lain dengan penulisan yang agak dibeda-bedakan supaya tidak terlihat copas-nya. Ini juga tidak original. Contoh lainnya dari tulisan yang tidak original adalah men-translate mentah sebuah tulisan pada situs atau blog berbahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia tanpa izin yang punya tulisan. Ini juga termasuk tidak original. So, kalau mau buat tulisan di blog. Buatlah tulisan yang original benar-benar dari hasil daya pikir sendiri. Menggunakan referensi tentu tetap boleh. Asal jangan di kopi mentah begitu saja.

Bermanfaat

Ini dia yang paling saya suka. Saya suka kata-kata “bermanfaat bagi orang lain”. Di luar sana banyak sekali blog-blog yang bertebaran dan hanya diisi dengan curhat-curhat belaka. Well, saya sih tidak menyalahkan kalau blognya mau diisi apapun. Tapi akan jauh lebih baik kalau kita mengisinya dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat. kata mas Budi:

“Ngapain ngeblog kalau tulisannya cuma curhat2an doan, gak ada gunanya, paling pacar doank yang buka”

Seperti yang saya tulis pada postingan saya sebelumnya juga bahwa ngeblog itu adalah kegiatan yang gak guna dan buang buang waktu kecuali… (baca disini)

Well Written

(yang bener Well Written apa Well Wrote ya?) Dulu, saya kalau ngeblog itu asal tulis aja. Yang penting tulis aja yang banyak. Tidak usah terlalu memikirkan desain, tampilan, typo-typo tulisan dan lain sebagainya. Walhasil, blog saya itu dari sisi tulisan memang banyak tapi dari sisi kualitasnya bisa di bilang rendah. Kalau dihitung jumlah typo pada tulisan-tulisan lama saya itu. Wuiiihh… mungkin ratusan… lebih… (hmm… aroma-aroma iklan nih… :) ) Dan setelah diberi tahu seperti itu akhirnya saya mencoba tobat. Barulah setelah itu saya mencoba untuk ngeblog secara lebih rapih. Saya mulai mencoba ngeblog dengan tulisan yang baik, terstruktur, tidak acak-acakan, pokoknya rapih deh. Dengan begitu para pembaca blog kita juga bisa membacanya dengan nyaman.

Oke, sekian saja sharing dari saya. Semoga kita bisa terus membuat blog-blog berkualitas yang bermanfaat buat orang lain.

Semoga bermanfaat.

May 13 2009

Membangun Silicon Valley Indonesia

Apa yang sebenarnya terjadi di Silicon Valley? Kenapa tempat tersebut bisa menjadi pusat inovasi teknologi tinggi dunia? Kenapa bisa tumbuh begitu banyak perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia dari lembah tersebut? Kesuksesan wilayah tersebut didorong oleh dua faktor utama. Yaitu: kreatifitas inovasi dan entrepreneurship. Lalu bisakah kita membangun modal seperti itu di Indonesia? Mari ditelisik satu per satu.

Faktor pertama adalah kreatifitas dalam berinovasi. Di Lembah silikon tersebut terdapat sebuah universitas bernama Stanford University yang merupakan salah satu universitas terbesar didunia. Dari universitas tersebut banyak lahir perusahaan-perusahaan IT kelas dunia yang mampu merajai dunia IT. Mulai dari SUN Microsystem sampai dengan yang paling gress yaitu Google. Di Stanford, banyak sekali riset-riset yang merangsang inovasi teknologi tinggi. Kampus tersebut sangat produktif dalam menghasilkan produk-produk IT. Mahasiswa Stanford bisa dengan mudah menyalurkan berbagai ide inovatifnya untuk diimplementasikan secara nyata.

Faktor kedua adalah entreprenurship. Tanpa faktor ini, berbagai macam ide inovasi yang keluar dari elemen kampus tidak akan bisa berkembang. Tanpa faktor ini, semua kreasi tersebut hanya akan menjadi tumpukan laporan-laporan riset yang tidak terimplementasikan ke publik. Di lembah ini, terdapat begitu banyak capital venture dan angel investor yang berani mengeluarkan sejumlah besar uang uang untuk membiayai riset kreatif dari orang-orang di Stanford. Salah satu venture capital yang sangat terkenal adalah Sequoia Capital. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang telah membidani tumbuh kembangnya perusahaan-perusahaan IT seperti Yahoo, Google, Apple dsb (list lebih lengkap disini). Para angel investor di silicon valley bersedia mengambil resiko bersama sang kreator inovasi. Mereka bersedia membukakan peluang yang sangat besar untuk orang-orang yang punya ide inovatif. Mereka akan terus membantu menggiring perusahaan didikannya supaya bisa maju melesat dengan cepat. Dengan dukungan dari para venture capital inilah, IT entrepreneur di Silicon Valley dapat berkembang dengan mudah. Para inventor yang selama ini berkutat dikampus bisa melangkah sedikit keluar wilayah kampus untuk mencari dana, mendapat dukungan dan mengimplementasikan idenya.

Jika kita membandingkan kondisi tersebut dengan kondisi Indonesia, maka kita bisa menganalisis bagaimana sebenarnya langkah yang tepat untuk membuat model silicon valley di Indonesia. Menurut saya, di Indonesia, faktor pertama yaitu kreatifitas inovasi sebenarnya sudah dimiliki. Saya sangat yakin bahwa sebenarnya SDM IT di Indonesia itu mempunyai kualitas yang sangat tinggi (coba baca ini: harry.sufehmi.com – hacker Indonesia). Namun sayangnya, potensi besar dari SDM IT di Indonesia itu tidak terberdayakan sehingga banyak SDM IT Indonesia yang salah jalur. Ada yang memanfaatkan kepintarannya melalui jalur hitam (cracking, fraud dsb) dan ada juga yang akhirnya lebih tertarik untuk bekerja keluar negeri dan menyerahkan kecerdasan yang dimilikinya untuk perusahaan-perusahaan IT yang sudah besar seperti Microsoft, Oracle, Sun dsb. Hacker-hacker di Indonesia bisa dibilang termasuk hacker berkualitas.  Disamping itu, banyak pula orang Indonesia yang bekerja di Silicon Valley. Belum lagi kalau saya melihat kondisi di kampus saya, fasilkom UI. Beberapa waktu yang lalu, mahasiswa tingkat pertama di kampus saya diberi tugas mata kuliah DPBO (Dasar Pemrograman berorientasi objek) untuk membuat game. Mereka diberi kebebasan untuk membuat game apapun. Dan hasilnya terlihat sangat mengesankan. Hasil tugas mereka bisa dibilang outstanding. Itu membuktikan bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang sangat besar. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Asal potensi tersebut bisa diarahkan dengan baik, maka saya yakin IT di Indonesia dapat berkembang dengan sangat pesat.

Lalu bagaimana dengan kondisi entrepreneurship di Indonesia. Inilah yang saya lihat masih kurang berkembang. Sulit sekali bagi mereka yang punya ide inovatif untuk mendapatkan dana untuk risetnya. Kalaupun riset sudah dilakukan dan sudah ada hasil outputnya, biasanya tetap hanya berkutat dikampus. Hasil-hasil riset tersebut terpendam dan tak bisa berkembang karena tidak adanya pihak yang bersedia memberdayakan hasil riset tersebut untuk diimplementasikan di khalayak publik. Contoh konkrit dari kondisi ini adalah hasil riset lab JST (Jaringan Saraf Tiruan) di kampus saya. Yang saya tahu, lab riset tersebut sangat produktif, menghasilkan banyak produk-produk teknologi tinggi. Lab tersebut merupakan salah satu rujukan seluruh dunia untuk masalah neural network. Namun sayangnya hasil riset tersebut selama ini masih hanya berkutat dalam lingkup kampus. Seandainya ada pihak yang mau mendanai implementasi massifnya, pasti hasil riset tersebut akan lebih terasa manfaatnya.

Upaya untuk membangun model silicon valley di Indonesia sebenarnya sudah banyak, contohnya adalah: Bandung High Tech Valley, Bogor Cybertech Valley, Multimedia Infocom Resource di Yogyakarta dan Malang Information Techno Farm. Diantara 4 konsentrasi tersebut, mungkin yang paling serius digarap adalah BHTV (bandung High Tech Valley) yang digawangi oleh mas Budi Rahadjo. Mas Budi berpikir bahwa Bandung merupakan tempat paling kondusif untuk membangun model Silicon Valley Indonesia. Beliau berpikir seperti itu karena di Bandung sudah ada institusi riset seperti ITB, Unpad dsb yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi-inovasi kreatif layaknya Stanford University di Silicon Valley. Namun, saat ini proyek BHTV tersebut belum dapat berkembang karena kurangnya faktor yang kedua, faktor entrepreneurship. Kita masih sulit untuk menemukan capital venture yang mau membimbing para inovator dari kampus supaya produk inovatifnya dapat berkembang. Kita masih sulit menemukan angel investor yang berani mengambil resiko tinggi untuk membiayai ide yang belum tentu bisa sukses.

Faktor Entrepreneurship inilah yang harus kita dorong terus. Saya bersama teman-teman dari MaestroMuda juga sedang dan akan terus berusaha untuk menumbuhsuburkan iklim entrepreneurship di Indonesia. Semoga Indonesia bisa makin maju kedepannya.

May 06 2009

Haruskah mahasiswa IT jago pemrograman?

Di kalangan mahasiswa IT, isitlah jago pemrograman biasa dikatakan dengan frase yang lebih gampang disebut, yaitu jago ngoding. Apa itu ngoding? Ngoding itu bahasa keren dari nge-code. Tentu saja yang dimaksud disini adalah kode pemrograman. Itu sedikit penjelasan istilah, sekarang mari masuk ke topik intinya. Haruskah mahasiswa IT jago ngoding?

Dalam kurikulum standar bidang IT yanng dibuat oleh IEEE memang dikatakan bahwa kemampuan melakukan programming alias pemrograman alias nge-code alias ngoding itu termasuk kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua mahasiswa yang jurusan IT. Tak peduli apapun jurusan spesifiknya di bidang IT. Apakah dia berada jalur sistem informasi (salah satu jurusan di bidang IT yang lebih ke arah sosial), atau jurusan komputasional (lebih ke arah matematika saintifik) atau yang mengambil jurusan hardware, apalagi yang memang mengambil jurusan teknologi perangkat lunak. Semuanya digariskan untuk bisa menguasai pemrograman.

Lalu bagaimana kenyataan yang terjadi? Selama 3,5 tahun belakangan saya kuliah di jurusan IT di fasilkom UI tercinta ini saya menemukan tidak semua mahasiswa IT bisa ngoding. Bahkan seorang lulusan fakultas ilmu komputer UI sekalipun ada yang tidak berani mengambil sebuah proyek PHP kecil-kecilan hanya karena dia merasa tidak mampu ngoding. Banyak teman-teman saya di kampus yang sebenarnya benci ngoding. Tapi, seolah mereka terjebak oleh nasib mereka karena sudah terlanjur bercokol di jurusan ini. Akhirnya mereka, dengan setengah hati, mencoba belajar menjadi kodinger alias programmer yang baik. Namun, ada juga yang tak mau mengalah pada nasib mereka. Ada yang tetap bersikeras tak mau mengorbankan ketidaksukaan mereka pada baris-baris kode dengan tetap menjadi programmer setengah hati (yang satu ini termasuk saya :mrgreen: ). Golongan orang-orang seperti mereka ini pada akhirnya tersebar pada berbagai lingkup kerja lainnya. Ada yang menjadi konsultan, ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi desainer dan lain sebagainya. Dan mereka tetap dapat hidup bahagia tanpa harus dihantui oleh bayang-bayang baris kode pemrograman :)

Lalu, apakah itu berarti mahasiswa IT tidak mesti jago ngoding? tidak juga! Inilah pendapat saya. Seorang mahasiswa IT yang baik paling tidak harus memahami secara penuh KONSEP-KONSEP dasar pemrograman. Ingat, saya menekankan bahwa disini saya katakan KONSEP dan bukan bahasa pemrogramannya itu sendiri. Apa sih maksudnya konsep, contoh konsep itu misalnya konsep fungsi, loop, framework, OO, class/object, inheritance, declarative language, modular programming, kompilasi bahasa dan lain sebagainya. Itulah yang harus dipahami betul oleh seorang mahasiswa IT. Dengan bermodalkan pemahaman konsep yang mumpuni itu maka kita akan bisa dengan mudah mempelajari bahasa apapun: C, Java, C#, PHP, ASP, JSP, HTML, Javascript, Ajax, Pascal, Fortran, Assembly dsb.

Itulah alasan kenapa seharusnya kampus-kampus IT sebaiknya jangan mengajarkan satu bahasa tertentu pada mahasiswanya. Kalau begitu, nanti mereka akan bingung ketika harus berhadapan dengan bahasa lain. Saya sangat miris dengan kampus yang masih saja mengajarkan BAHASA Pascal, sementara tidak memberikan asupan KONSEP sama sekali. Kasihan sekali mahasiswa di kampus itu, sudah tidak mendapatkan asupan konsep, mereka juga hanya diajari bahasa JADUL yang sudah jarang dipakai lagi sekarang, Pascal.

Seharusnya kampus-kampus IT di seluruh Indonesia, baik yang kecil maupun yang besar. Lebih menitikberatkan pendidikannya pada konsep. Sehingga dewngan begitu, mahasiswanya akan lebih lincah dan lihai dalam menghadapi dunia kerja IT yang kejam ini :p Mereka bisa dengan percaya diri mengambil proyek berbahasa apapun. Dengan modal pemaahaman konsep yang kuat maka learning time mereka untuk satu bahasa baru bisa lebih cepat.

So, tenang saja, jadi mahasiswa IT gak harus jago ngoding koq. TAPI HARUS NGERTI KONSEPNYA!
OK, sekian saja, semoga bermanfaat :)

Apr 30 2009

Flatind wordpress template

589 views

This post has been moved to asingle page at here

Apr 26 2009

Facebook sebagai media pembelajaran

Tadi pagi saya menonton acara talk show di TV One mengenai pemanfaatan IT di dunia pendidikan. Lebih spesifik lagi yaitu pemanfaatan facebook sebagai media pembelajaran baru. Ada dua narasumber yang diundang pada acara talkshow tersebut. Yang pertama adalah kepala sekolah Harapan Ibu sementara yang satu lagi saya tidak tahu karena saya juga nontonnya telat pas ditengah-tengah.

Perbicangannya menurut saya sangat menarik. Tentang bagaimana memanfaatkan facebook sebagai media pembelajaran. Selama ini facebook lebih banyak dipakai untuk sekedar bersenang-senang, bersilaturrahim sama teman, atau sekedar ajang narsis-narsisan. Sampai saat ini, banyak pihak yang memandang facebook secara negatif. Mereka berpikir bahwa keberadaan facebook bisa menurunkan kinerja pegawai. Ada juga yang bilang facebook itu berbahaya karena bisa digunakan sebagai sarana pelecehan dan pencemaran nama baik dengan maraknya group-group “say-no-to” disana.

Diluar sisi negatif itu, facebook tetap memiliki banyak manfaat, jauh lebih banyak ketimbang mudharat-nya. Efek negatif itu muncul hanya karena oknum-oknum tertentu yang tidak menggunakan teknologi sebagaimana mestinya.

Nah… Lalu bagaimana sih caranya memanfaatkan facebook sebagai sarana pembelajaran?

Ada banyak sarana dan fitur-fitur facebook yang bisa dipakai untuk menunjang sarana pembelajaran. Berikut beberapa contohnya:

  • Facebook Share. Ini merupakan fitur dasar di facebook. Fitur ini pastinya juga bisa digunakan sebagai sarana untuk membantu pembelajaran. Siapapun bisa men-share apapun (tulisan singkat, link, gambar, video dsb) ke semua teman-temannya.
  • Facebook Quiz. saat ini sudah banyak quiz-quiz yang beredar di facebook. Rata-rata hanya quiz yang dibuat untuk sekedar iseng. Fitur ini sejatinya bisa dipakai untuk melakukan quiz online. Sang guru bisa membuat quiz-nya dengan mudah kemudian menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan quiz tersebut.
  • Facebook Note. Dengan sarana ini sang guru bisa memancing murid-muridnya  saling berdiskusi mengenai topik tertentu. Sang guru cukup membuat note disana kemudian men-tag (“men-tag” bahasa Indonesianya yang enak didenger apa ya??) seluruh muridnya untuk memancing diskusi.
  • Facebook Apps. Dengan fitur ini hampir segalanya bisa dilakukan. Salah satunya adalah  dengan membuat sebuah game edutainment pada platform facebook Apps ini. Salah satu contoh Facebook Apps game edutainment yang cukup terkenal dan banyak dimainkan adalah Geo Challenge. Sebuah aplikasi game untuk menguji pengetahuan geografis dari pemain-pemainnya.

Paling tidak itu 4 contoh pemanfaatan facebook sebagai media bantu pembelajaran. Tentunya pemanfaatan facebook ini pasti akan digandrungi oleh para murid karena disana mereka bisa belajar sambil bersenang-senang.

Apr 24 2009

Ngeblog cuma berguna kalau…

Ditulis secara konsisten

Blog yang tidak diisi secara konsisten tidak akan bisa benar-benar memberikan manfaat. Baik buat kita sendiri maupun buat orang lain. Blog yang diisi terus secara konsisten akan bisa terus bertumbuh. Konsisten yang saya maksud disini bukan berarti harus terus update sehari sekali. Seberapa sering frekuensinya menurut saya tidak terlalu masalah. Walaupun kita cuma bisa update 2 minggu sekali tapi jika dilakukan konsisten pasti hasilnya jauh lebih baik daripada blog yang diisi dengan semangat penuh diawal tapi pelan-pelan memudar. Coba tengok website 24ways.org, website itu hanya di-update pada bulan Desember setiap tahunnya. Tapi karena update-nya benar-benar berjalan konsisten, akhirnya blog itu bisa benar-benar eksis.

Diluar sana, banyak orang yang sudah membuat blog. Pada awalnya dia semangat mengisi blognya. Dua minggu berlalu, frekuensinya mulai menurun. 1 bulan berjalan, cuma ada 1 update post. Itupun isinya “Wahhh… udah lama gak apdet blog… udah ah gitu aja, cuma skedar apdet :p”. 2 bulan… sepi… 4 bulan….. MATI!

Akhirnya blog itu ditinggalkan, bukan cuma oleh pembacanya tapi juga oleh penulisnya. Jadilah blog itu sebagai kontributor halaman-halaman hampa di dunia maya (Saahh… bahasanya :) ).

Diisi dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat

Jangan isi blog kita dengan curhat-curhat pribadi! Apalagi kalau curhatnya cuma berisi keluhan. Hampir tidak ada satupun orang yang suka membaca blog seperti itu. Isilah blog kita itu dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Bisa berupa ilmu yang kita punya. Bisa juga pengalaman kita yang inspiratif. Taushiyah alias nasihat juga boleh. Bisa juga sesuatu yang menghibur. Pokoknya apapun yang bermanfaat buat orang lain yang membacanya.

Dulu, saya pernah punya blog yang isinya cuma curhat-curhat pribadi saya saja. Lama-lama saya bosan mengisi blog itu, terasa buang-buang waktu. Lalu saya pindah ke blog baru di kamal87.wordpress.com, disana saya merubah strategi saya. Tujuan saya ngeblog saya rubah total kalau yang sebelumnya sekedar catatan harian saja, sekarang saya ingin memberi manfaat buat orang lain. Setelah beberapa update postingan pada blog tersebut, banyak yang berkomentar positif pada postingan saya. Akhirnya saya jadi makin bersemangat. Semangat dalam ngeblog dan semangat juga dalam memberikan manfaat buat orang lain.

Dengan begitu, blog bisa bermanfaat bukan cuma buat pembacanya tapi juga buat kita pribadi.

Dipublikasikan ke orang lain

Bagi saya blog yang tidak dipublikasikan itu kayak sayur tanpa garam (dangdut abis :p ). Katakanlah kita sudah mengisi blog dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat secara konsisten. Namun, kalau isi tulisannya tidak kita publikasikan atau sebarluaskan ke orang lain. Lantas buat apa kita membuat tulisan itu. Sebarkanlah setiap update postingan kita ke berbagai tempat. Ke milis-milis, forum, website online bookmark (technorati, lintasberita, infogue, delicious dkk), Social network (facebook, friendster, liveconnector dkk), microblog (twitter, plurk, koprol dkk) dan lain sebagainya. Supaya semakin banyak orang yang membacanya.

Sekian saja tiga tips dari saya untuk ngeblog yang bermanfaat. Percayalah! Kalau kita tidak menjalankan tiga tips ini, aktivitas ngeblog kita tidak lain dan tidak bukan cuma aktivitas yang buang-buang waktu. Setuju?

Apr 20 2009

Teknologi tak harus canggih, yang penting bermanfaat

Barusan saya melihat salah satu berita terbaru di detikinet mengenai TI Khas Indonesia yang Bikin Kagum Dunia Internasional. Berita itu menunjukkan pada kita bagaimana perjuangan pak Onno W Purbo untuk memajukan IT di Indonesia. Cara-cara yang selama ini dijalankan pak Onno sebenarnya gak bisa dibilang canggih-canggih amat. Coba saja lihat salah satu hasil ide kreatifnya, WajanBolic. Idenya sederhana, menggunakan wajan sebagai pengganti media parabolik untuk memantulkan gelombang yang nantinya bisa membuat internet kita bisa lebih ngebut. Coba pikirkan juga dengan RT/RW-net. Itu kan cuma sekedar “patungan” se-RT/RW untuk mendapat akses internet yang bisa dipakai bersama-sama. Bukan ide yang terlalu wah… Bukan juga ide yang fantastis secara teknologi. Tapi itu ide yang BOMBASTIS (lebay dikit :p ) jika dilihat dari sisi kebermanfaatan.

Meskipun sederhana dan tidak memerlukan intelijensi IT tingkat tinggi sekelas profesor, kenyataannya hasil karya-karya pak Onno mampu mengundang decak kagum dunia internasional. Dari apa yang dilakukan oleh pak Onno, kita belajar menyadari bahwa yang penting dari sebuah teknologi bukanlah sejauh apa kecanggihan teknologi tersebut melainkan seberapa besar kebermanfaatan yang bisa diberikan oleh teknologi tersebut.

Di kampus saya, Fasilkom UI, banyak sekali hasil-hasil riset tingkat tinggi yang digawangi oleh dosen-dosen saya para profesor-profesor IT kelas berat. Contoh yang paling kentara di kampus saya itu ada pada lab Jaringan Syaraf Tiruan (JST). Beberapa teman saya ikut andil menjadi pelaksana risetnya. Namun, yang saya tahu hanya sedikit dari hasil riset IT tingkat tinggi itu yang benar-benar serius diimplementasikan ke dunia nyata. Hasil-hasil riset itu lebih banyak “ngerem” di lab-lab kampus saya.

Paradigma pemikiran teknologi-tidak-harus-canggih-yang-penting-bermanfaat itu juga sangat cocok buat kita orang Indonesia (yang kebetulan masih miskin). Dengan kondisi kita yang masih miskin, kita harus pinter-pinter memanfaatkan teknologi sedemikian rupa supaya kita bisa membuatnya dengan murah tanpa kehilangan kebermanfaatan yang bisa diberikannya. Tul gak…

“Orang Indonesia itu memang miskin, tapi bukan berarti bodoh. Perangkat yang kita buat tidak harus canggih, namun yang pasti harus bermanfaat,” -  Onno W. Purbo

Begitu kata pak Onno. Sebuah quote yang sederhana namun mengundang sejuta makna (halah…). Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Semoga kedepannya kita bangsa Indonesia bisa menjadi pionir teknologi-teknologi yang bisa memberikan kebermanfaatan yang luas tidak hanya bagi orang Indonesia, tapi juga seluruh penduduk bumi.

Viva IT Indonesia!!!


↑ Back to top