Tulisan saya kali ini masih terkait dengan tulisan saya sebelumnya mengenai tragedi 1 juni yang terjadi di monas. Pada tulisan saya itu, ragam komentar berdatangan. Ada yang pro, kontra dan ada juga yang bingung mau memberikan komentar seperti apa. Pada tulisan tersebut, ada beberapa komentar yang saya perhatikan. Ada beberapa komentar yang mengatakan bahwa tulisan saya tidak imbang, ada yang mengatakan bahwa saya terlalu condong untuk menyalahkan FPI. Dan setelah saya perhatikan, saya juga sadar bahwa tulisan tersebut memang kurang adil. Terlalu menitikberatkan pada pengingatan kepada FPI tapi tidak membahas mengenai kesesatan ahmadiyah dan orang-orang tergabung dalam AKKBB. Memang sudah saya sadari kelemahan saya ketika menulis adalah saya seringkali tidak mampu menunagkan seluruh pemikiran saya dalam satu artikel yang utuh. Setiap kali saya menulis sesuatu, selalu saja ada bagian yang ada dalam pikiran saya yang tidak tertuang dalam tulisan. Akhirnya banyak pembaca tulisan saya yang salah paham. Maka pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menuangkan apa yang belum sempat tertuang dalam tulisan saya sebelumnya.
pada tulisan kali ini saya akan menitikberatkan pada bagaimana kita seharusnya umat muslim menyikapi tragedi tersebut. Intinya kita harus sadar bahwa memang kenyataannya yang salah dalam insiden tersebut bukan cuma FPI, tapi juga AKKBB yang telah secara gamblang dan sengaja melakukan provokasi. Aparat dalam hal ini juga punya kesalahan karena tidak menghentikan massa aksi AKKBB yang telah melanggar batas wilayah demonstrasinya. pemerintah juga punya kesalahan karena tidak bisa tegas menyikapi masalah ahmadiyah ini. Begitu banyak kesalahan yang dilakukan oleh berbagai pihak. Untuk itu, marilah kita sama-sama berintrospeksi.
Isu utama yang bergulir saat ini adalah pembubaran FPI. Semua mata kini sedang tertuju pada FPI. FPI kini seolah menjadi penyebab utama insiden tersebut. Seolah dalam insiden tersebut yang salah HANYA FPI. Saya setuju bahwa FPI telah melakukan kesalahan. Tapi INGAT! yang salah disini bukan cuma orang2 FPI (yang telah melakukan kekerasan, terlepas apapun alasannya). Tapi orang2 AKKBB juga salah. Bahkan mereka jauh lebih salah. AKKBB itu terdiri dari orang-orang yang membawa paham liberalisme dan pluralisme agama (bukan pluralisme tok) kedalam Indonesia. Mereka ingin kebebasan seluas-luasnya. Kebebasana yang sebenarnya tidak mungkin dapat diraih. Kebebasan seluas-luasnya itu cuma akan membentuk chaotic world dimana semua orang ingin bertindak semau dirinya sendiri tanpa memperhatikan hubungan dengan orang lain. Dan mereka ingin merendahkan arti agama menjadi sekedar kegiatan-kegiatan ritual tak bermakna. Mereka ingin menjauhkan norma-norma agama dari kehidupan sehari-hari. Mereka melakukan itu dengan dalih pluraslime agama. Mereka mengatakan bahwa semua agama sama. Mereka menganggap agama hanyalah seperangkat aturan-aturan untuk menjaga ruhani manusia. Oleh karena itu, mereka menganggap ahmadiyah tidak bermasalah. Mereka menganggap tidak ada yang salah dengan ahmadiyah karena memang pada dasarnya mereka menganggap semua agama dapat disamakan. Benar-benar sebuah pemikiran yang kacau. Mereka mendukung ahmadiyah dengan dalih kebebasan beragama. Padahal arti kebebasan bergama itu harus dibedakan dengan PENODAAN AGAMA. Kebebasan agama berarti masing-masing penganut agama yang sah di Indonesia bebas untuk melaksanakan aturan-aturan agamanya masing-masing. Sementara itu, Ahmadiyah yang mengaku bagian dari islam telah secara nyata menodai kesucian agama islam. Kalau mereka melepaskan diri dari agama islam dan membuat sebuah agama baru, maka mereka tetap salah karena Ahmadiyah tidak termasuk ajaran agama yang sah di Indonesia.
Sudah banyak pihak yang menyatakan bahwa inti masalah semua ini adalah lambatnya pemerintah dalam mengeluarkan SKB ahmadiyah ini. Oleh karena itu, seharusnya pemerintah fokus pada inti masalahnya. Ahmadiyah sudah jelas harus segera dibubarkan! OKI yang merupakan wadah persatuan umat muslim terbesar didunia saat ini sudah menyatakan secara resmi bahwa ahmadiyah adalah ajaran yang sesat. Sukarno dulu pernah secara tegas mengeluarkan peraturan mengenai larang penodaan terhadap agama. MUI telah menyatakan bahwa ahmadiyah itu sesat. Kenapa harus berlama-lama lagi mengulur-ulur waktu untuk mengeluarkan SKB tersebut? Satu-satunya hal yang menghambat pemerintah adalah tekanan dari tangan-tangan hitam yang bermain dibelakang. Tekanan itu datang dari kaum liberal (durrahman wahid dkk), datang dari amerika, datang dari konspirasi global zionis! Pemerintah harus bersikap tegas. Kalau kita ingin menjadi bangsa yang besar kita harus berani menghalau semua tekanan tersebut. Sayangnya pemerintah kita saat ini belum punya ketegasan tersebut. Pemerintah kita saat ini justru lebih memfokuskan diri pada FPI. Sedangkan akar masalahnya sendiri dibiarkan berlarut-larut. Intinya, AHMADIYAH HARUS SEGERA DIBUBARKAN!
Kepada seluruh umat islam, sadarilah kita saat ini telah diadu domba. Mereka (kaum liberalis) itu dengan upaya provokasinya itu berhasil mengadu domba kita. Mereka telah berhasil mengalihkan isu dari pembubaran ahmadiyah menjadi pembubaran FPI. Banyak dari kita umat islam yang ikut-ikutan menekan FPI. Akhirnya kita semua lupa dengan target awal kita yaitu pembubaran ahmadiyah. FPI tidak selayaknya dibubarkan, namun FPI harus tetap diingatkan. FPI harus tahu kapan harus bertindak secara tepat. Selesaikan pengingatan tersebut. Dan sekarang mari kita bawa kembali arus isu utama kepada isu-isu awal, yaitu pembubaran ahmadiyah.
“Dengan nama dan no HP Anda saya bisa meramal bagaimana masa depan Anda nantinya” (SMS Dedi Korbujer)
“Tuntunan saya akan membawa hidup Anda menjadi lebih sukses… percayalah… bla bla bla” (SMS Ki Joko Bodo… amat)
“Saya akan melihat bagaimana masa depan Anda dan memberitahukan Anda apa yang seharusnya saya lakukan… bli bli bli” (SMS Mama Loreng)
“Saya akan memberikan informasi apa adanya, banyak peramal yang tidak suka dengan saya… ble ble ble” (SMS ‘pahlawan bertopeng’)
Astaghfirullah… Sekarang ini saya sudah jarang sekali nonton TV, sekalinya saya nonton, saya terhenyak. Banyak sekali iklan-iklan seperti itu bertebaran di televisi. Saya heran, kenapa iklan-iklan seperti itu bisa banyak bertebaran di televisi kita. Terang-terangan dan blak-blakan membawa kemusyrikan. Apakah itu berarti bahwa layanan SMS-SMS musyrik seperti itu memang digemari masyarakat? Apakah layanan SMS pembodohan itu memang merupakan usaha yang laris manis?
Kalau memang seperti itu, berarti memang masyarakat kita kini sudah mengalami pembodohan yang luar biasa. Kerusakan di masyarakat Indonesia kita ini sekarang bukan cuma berada pada tataran moral tapi juga aqidah. Kalau kondisinya seperti ini terus, maka Indonesia bisa kembali menjadi negeri jahiliyah yang gak akan pernah bisa maju menyaingi negara-negara lain yang sudah lama meninggalkan bentuk-bentuk tahayul seperti itu.
Pantas saja, di negeri ini isu-isu murahan begitu mudah tersebar lewat SMS. Tentang axis gereja setan lah… SMS santet lah… radiasi merah lah… dsb. Hal itu bisa terjadi karena memang aqidah yang dipegang oleh masyarakat sangat rapuh. Jadi gampang sekali percaya dengan isu-isu tersebut. sekalinya dapat SMS seperti itu, langsung saja dia menyebarkan SMS itu ke teman-temannya yang lain. Akhirnya… jadilah dia termasuk dalam jajaran orang-orang yang menyebarluaskan teror berupa isu murahan tersebut.
Seharusnya pemerintah dalam hal ini selaku regulator bisa membendung usaha-usaha pembodohan seperti itu. Pemerintah kan punya tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsa. Jadi, pemerintah punya kewajiban untuk memberantas bentuk-bentuk pembodohan seperti itu.
Selain menuntut pemerintah yang sekarang juga sudah pusing tujuh keliling dengan berbagai macam urusan lainnya. Kita, insan-insan cendekia alias orang-orang terpelajar di Indonesia harus ikut berpartisipasi membendung arus pembodohan tersebut di level akar rumput. Kita langsung cegah masyarakat supaya jangan mengakses layanan-layanan seperti itu. Kita himbau masyarakat secara langsung supaya jangan percaya dengan SMS-SMS kayak begitu. Dan yang lebih penting lagi, kita harus ikut turun membina aqidah dan akhlak masyarakat supaya bisa menjauh dari aroma-aroma tahayul seperti itu. Upaya ini tentunya butuh waktu yang lama. Sampai masyarakat Indonesia nantinya bisa benar-benar jadi bangsa yang cerdas dan maju.
Hari senin 12 mei 2008 lalu, saya berangkat dengan jaket kuning melekat ditubuh. Saya duduk diatap bis sambil meneriakkan orasi-orasi dan nyanyian-nyanyian khas aksi mahasiswa. Sesampainya di dekat patung tugu tani, saya mulai berjalan. Saya menjadi border dalam aksi tersebut. Saya ikuti setiap instruksi yang diturunkan dari komando aksi nasional tersebut. Saya masih dapat menikmati apa yang saya lakukan.
Paragraf pertama dari tulisan saya ini memang terlihat kontradiktif dengan apa yang saya tulis pada postingan saya yang sebelumnya: Arah pergerakan mahasiswa masa depan. Dalam postingan tersebut, saya jabarkan beberapa alasan saya kenapa saya tidak setuju dengan aksi tersebut. Saya tuliskan dengan gamblang bahwa pergerakan mahasiswa saat ini harus mencari arah lain, arah yang lebih efektif untuk menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam pembangunan bangsa. Saya katakan disana, bahwa selama ini kita mahasiswa telah salah arah. Namun, apa yang saya lakukan? saya justru ikuti aksi tersebut. Bahkan saya mampu menikmati apa yang saya lakukan disana. Melalui tulisan ini saya akan menjabarkan beberapa alasan kenapa saya tetap mengikuti aksi walaupun saya tidak setuju dengan upaya tersebut. Dan saya akan menekankan sekali lagi tentang pentingnya merubah arah gerak mahasiswa kedepan.
Kenapa saya ikuti aksi tersebut walaupun saya tidak menyetujuinya??? pertama, ada satu komentar dalam postingan saya sebelumnya yang saya anggap cukup cerdas, ini dia komentarnya. Intinya, mas Arul, sang pemberi komentar tersebut mengatakan bahwa masing-masing kita punya cara yang berbeda untuk bergerak. Saya bisa terima hal tersebut. Mungkin memang ada tipe mahasiswa yang lebih tertarik pada kegiatan aksi demonstrasi turun kejalan (pengingatan pada pemerintah: social control). Ada juga tipe mahasiswa yang lebih senang bergerak konkrit yang dapat memberikan perubahan secara langsung (pemberdayaan masyarakat: agent of change). Saya setuju bahwa kedua peran tersebut harus dijalankan secara beriringan. Saya setuju kita harus tetap mengingatkan pemerintah disamping kita sebagai mahasiswa juga haru membantu pemerintah dengan aksi nyata langsung apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa untuk membantu memperbaiki kondisi bangsa. Tapi, saya tegaskan bahwa saya tetap tidak setuju dengan AKSI tersebut.
lho… giman sih? tadi katanya setuju, tapi koq tiba-tiba berubah lagi jadi gak setuju?? saya ingin tekankan bahwa saya setuju bahwa kita mahasiswa harus senantiasa mengingatkan pemerintah akan amanah-amanahnya. Tapi saya tidak setuju jika caranya dilakukan dengan sebuah aksi demonstrasi. Kenapa saya tidak setuju dengan metode tersebut. Beberapa alasannya sudah saya tuliskan dalam postingan saya yang sebelumnya. Nah… disini saya ingin menambahkan point-point kenapa saya tidak setuju dengan metode aksi demonstrasi turun kejalan pada suasana yang seperti ini. Aksi-aksi tersebut biasanya selalu mengarah pada perlawanan akan bentuk represi. Akhirnya, dalam aksi-aksi itu diperlukan cara-cara yang agak kasar. Contoh: pada aksi senin lalu, salah seorang ketua BEM SI membuat yel seperti ini “SBY-JK, LAWAN!!!”. Sekarang saya mempertanyakan lagi, sebenarnya apa yang perlu dilawan dari SBY JK, apakah kedua orang itu menyuruh militer untuk menembaki kita? apakah kedua orang itu mengintimidasi kita? entu tidak. Lalu apa yang perlu dilawan dari mereka? mereka tidak perlu perlawanan, mereka cuma butuh pengingatan, dan yang lebih penting lagi: sokongan. Akhirnya, kita mahasiswa terjebak dalam cara-cara yang tidak ahsan (baik) dalam memberikan pengingatan pada pemerintah. Cara-cara kasar seperti itu, saya tekankan sekali lagi hanya cocok untuk pemerintahan otoriter yang mengintimidasi rakyatnya sendiri. sleain itu, aksi mahasiswa ini juga semkain menumbuhkan arogansi kita sebagai mahasiswa. Seringkali kita pada saat melaksanakan aksi menuntut dengan tuntutan macam-macam. Biasanya kita minta orang yang berkepentingan untuk menemui kita. Biasanya juga, orang yang berkepntingan itu idak bisa menemui kita. entah karena takut atau karena memang sedang sibuk. Lalu biasanya mereka memberikan alternatif pertemuan. Misal, silahkan bertemu dengan bawahan saya terlebih dahulu. Atau mari kita diskusi tapi hanya sekian orang perwakilan saja. Nah… pada saat itulah, kita para mahasiswa yang emosinya sudah terlanjur meluap-luap dengan cuaca terik dan orasi-orasi emosional, akhirnya menjadi bersikap arogan. Biasanya aksi itu akan berujung seperti ini “KAMI TIDAK BUTUH KALIAN!! KALIAN SUDAH MEMBUKTIKAN BAHWA KALIAN PENGECUT blablabla…”. Lantas kalau sudah seperti itu, kita pergi mencari spot aksi lain. Setelah jadwal aksi sudah berjalan sampai akhir. lantas kita masing-masing pulang kembali kerumah. Mengerjakan kembali tugas2 kuliah kita yang masih terbengkalai. Akhirnya…. aksi-aksi tersebut benar-benar tidak membawa hasil, karena ketika kesempatan diskusi sudah terbuka, kita pergi begitu saja sambil terus bersampah serapah dalam orasi-orasi kita. Saya katakan pada rekan-rekan semua, bahwasanya kondisi aksi senin lalu ternyata tak jauh berbeda dengan skenario yang saya tuliskan diatas. SBY, melalui Andi malarangeng mengatakan silahkan bicara dulu dengan menteri-menteri terkait. Kita sudah diberi kesempatan untuuk berdiskusi dengan para menteri, tapi ternyata kita menolak mentah-mentah. Kita tetap memaksa SBY datang kemudian menandatangani lembara tugu rakyat yang isinya HANYA TUNTUTAN buat pak SBY. kasian betul pak SBY itu… sudah terliaht sekali dia bingung mengurus negeri ini, eh… kita mahasiswa malah tambaha bikin ngerecokin kebingungannnya beliau. Seharusnya kita bantu dia mengusir kebingungannya dengan mengatakan pada beliau: “Pak SBY, kami siap mensupport Anda dalam bidang-bidang yang kami kuasai. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu program-program anda akan kami coba kerjakan”
Wah… mas kamal ini gimana sih??? tulisannya panjang lebar menentang aksi tapi koq kemarin tetap ikut aksi? Ok… disini saya akan berikan jawabannya… Satu hal yang menjadi alasan saya kenapa ingin ikut aksi ini adlah saya ingin memberikan contoh pada sahabat-sahabat saya yang lain yang ada di fasilkom. Say sudah meliaht Fasilkom tidak tawazun, tidak seimbang. Terlalu menitikberatkan pada aspek keilmuan tapi aspek pengingatannya diabaikan sama sekali. Saya akui, Banyak, sangat banyak mahasiswa fasilkom yang merasa tidak punya tanggung jawab untuk mengingatkan pemerintah. Dikampus saya itu, lebih banyak orang yang ingin belaja tentang IT karena dia ingin dirinya jago dibidang IT. Dikampus saya, lebih banyak orang yang ingin berprestasi supaya dirinya bisa memberikan kebermanfaatan yang luas. Tapi sayangnya banyak dari mereka yang lupa dengan perannya yang lain, yaitu peran social control. bahkan para pejabat BEM Fasilkom pun banyak yang punya pandangan seperti itu (Ayo donk, sodara-sodara dan sahabat-shabat ku di BEM, be tawazun/seimbang dalam bergerak! Jalankan semua peran mahasiswa secara optimal). Dengan ikut aksi tersebut, saya ingin memberikan teladan pada teman-teman saya dikampus fasilkom. Untuk itulah, sesaat sebelum berangkat aksi itu, saya berjalan berkeliling sendiri dikampus saya dengan mengenakan jaket kuning yang ngejreng itu. Walhasil, banyak yg nanya “mo ngapain lu mal!!”
Alhamdulillah, aksi yang saya ikuti itu memberikan pengaruh yang cukup besar buat beberapa orang sahabat saya. Semoga pergerakan mahasiswa dikampus saya kedepannya bisa lebih seimbang.
Sekarang, saya sudah menjabarkan bahwa aksi itu tidak efektif. tentunya saya tidak boleh hanya berkoar-koar saja berteriak-teraik bahwa aksi tidak efektif tanpa memberikan solusi jalan lain yang lebih efektif untuk mengingatkan pemerintah. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan mengundang tokoh politisi yang ingin kita ingatkan itu dalam diskusi yang lebih sopan dan konstruktif. Kita bisa saja mengundang sang presiden atau sang menteri untuk menjadi pembicara di seminar yang kita adakan. Dalam acara itu kita bisa memberikan pengingatan secara lebih elegan. Selain itu, kita juga bisa datangi media, untuk meminta slot khusus untuk menyampaikan pendapat kita. Kalau untuk menundukkan DPR/MPR saja kita bisa, apalagi kalau cuma sekedar meminta waktu pada media untuk memberikan pengingatan pada pemerintah sekaligus juga memberikan pencerdasan pada masyarakat. Ketahuilah… aksi sama sekali tidak mendidik masyarakat, lihatlah di daerah-daerah, mereka-mereka yang berusaha mengikuti cara kita dengan berdemosntrasi ternyata justru terseret pada sikap anarkisme. Kita, para mahasiswa insan intelektual bangsa mungkin bisa mengendalikan aksi secara kondusif dan tidak anarkis, Tapi mereka diluar sana yang tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting tuntutan mereka terpenuhi. Mereka pasti akan terodorng pada aksi anarkisme.
Sebenarnya masih ada banyak sekali cara lain yang bisa kita lakukan untuk mengingatkan pemerintah dengan cara yang lebih elegan dan mendidik. Kita pasti bisa mengexplor semua cara tersebut. Syaratnya, kita para mahasiswa harus benar-benar bersatu. Kita harus sama-sama sepakat bahwa mahasiswa perlu merubah pola gerakannya. Dari situ baru kita bisa sama-sama memikirkan pola gerakan yang paling tepat dan cocok untuk kondisi Indonesia saat ini.
~ HIDUP RAKYAT INDONESIA
Saya adalah seorang mahasiswa yang bercokol dikampus yang disebut-sebut sebagai kampus perjuangan. Kampus yang begitu mencolok dengan jaket kuningnya. Kampus yang dikatakan jika mahasiswanya turun kejalan maka hati-hati akan ada perubahan. Kampus Universitas Indonesia. Lebih spesifik lagi dikampus UI ini saya mendalami bidang kajian ilmu komputer di gedung bundar fasilkom UI.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai pergerakan mahasiswa saat ini. Tulisan saya ini merupakan respon terhadap beberapa aksi yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya belum lama ini. Begitu mirisnya saya melihat saudara-saudara seperjuangan saya yang rela tidur dijalanan demi menunjukkan perhatiannya pada bangsa. Tulisan ini juga merupakan jawaban atas pertanyaan beberapa orang sahabat saya yang menanyakan kenapa saya tidak pernah mau ikut aksi? kenapa tingkat
partisipasi fakultas saya dalam kegiatan-kegiatan seperti itu sangat kecil? Tulisan ini dibuat dengan harapan dapat memberikan pencerahan pada rekan-rekan mahasiswa bahwa sudah saatnya kita merubah arah pergerakan kita.
tercatat tanggal 21-23 maret lalu, BEM UI mengadakan konferensi BEM Seluruh Indonesia. Saya sendiri sudah lama mendengar isu akan diadakannya acara ini. Ketika mendengar isu ini saya merasa ada angin segar. Semoga acara ini bisa menjadi titik tolak perubahan pergerakan mahasiswa kedepan. Tapi ternyata hasil dari acara ini tidak seperti yang saya harapkan. Konferensi ini ternyata hanya menghasilkan (lagi-lagi) tuntutan terhadap pemerintah diantara sekian banyak tuntutan-tuntuan yang pernah dilayangkan mahasiswa pada pemerintah. Tuntutan ini diberi nama TUGU RAKYAT (Tujuh Gugatan Rakyat)
. Coba kita hitung berapa banyak sebenarnya tuntutan-tuntutan kita yang benar-benar diperhatikan oleh pemerintah. Memang ada, tapi sangat sedikit. Seharusnya pertemuan itu bukan cuma sekedar membahas permasalahan bangsa kemudian membuat tuntutan pada pemerintah. Seharusnya konferensi itu menghasilkan kesepahaman tentang apa yang bisa dan seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk memperbaiki bangsa ini. Hanya menuntut tidak akan membawa hasil apapun, tidak akan memberi perubahan yang nyata buat rakyat. Sebaliknya, hanya perbuatan konkrit lah yang bisa memberikan dampak nyata dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa kita. Yang dibutuhkan adalah Solusi konkrit, bukan cuma barisan point-point tuntutan.
Kemudian hasil konferensi ini di tindak lanjuti dengan aksi yang diberi tagline hiperbolis “kepung istana”. Aksi ini diikuti oleh kurang lebih 600 orang. Mereka bahkan sampai menginap didepan istana negara dan tidur dijalanan. Lalu apa? adakah perubahan yang berarti akibat aksi demonstrasi ini? apakah kini rakyat sudah mendapat kesejahteraan yang lebih baik? Apakah semua aksi kita itu diperhatikan oleh pemerintah? jawabannya tentu TIDAK. Dan saya sangat menyayangkan aksi mereka menginap dijalanan. Apakah tidurnya mereka di aspal itu benar-benar mampu membuat perubahan? tentu tidak. Padahal akan jauh lebih baik jika tenaga mereka dialihkan untuk berbuat sesuatu hal yang konkrit untuk mensejahterakan masyarakat.
Sadarilah aksi semacam itu kini sudah tidak efektif lagi. Aksi hanya diperlukan dalam suasana pemerintahan yang otoriter. Sehingga kita sebagai mahasiswa punya peran untuk melakukan represi politik pada pemerintah. Sementara kondisi politik Indonesia saat ini cenderung stabil. Iklim demokrasi berjalan dengan baik. Coba perhatikan, aksi-aksi mahasiswa yang benar-benar efektif dan mampu membawa perubahan adalah aksi yang membawa agenda besar untuk untuk melakukan perbaikan yang sifatnya mendesak dan butuh represifitas yang tinggi. Salah satu contohnya adalah aksi `98. Kalau saya jadi mahasiswa pada saat itu, tentu saya akan dengan sukarela ikut dalam aksi tersebut. Tapi dalam aksi-aksi lain yang tidak membawa tujuan perubahan besar, yang pada akhirnya hanya bertujuan menunjukkan eksistensi mahasiswa, saya tidak akan mengikutinya.
Dulu, kalaupun suatu aksi demonstrasi tidak membawa agenda perubahan yang besar. paling tidak media masih meliput aksi tersebut dengan serius. Sehingga gaungnya bisa benar-benar terlihat oleh publik. Dalam kondisi seperti ini, paling tidak aksi yang dilakukan mahasiswa masih bisa memberikan manfaat, yaitu masyarakat menjadi tahu bahwa mereka masih punya tumpuan. pasca 98 s/d tahun 2004-an, aksi mahasiswa masih bisa dijadikan sarana untuk menunjukkan perhatian kita para mahasiswa terhadap persoalan bangsa. Tapi coba lihat saat ini, banyak pihak yang sudah jemu dengan aksi-aksi tersebut. Rakyat sudah semakin skeptis dengan aksi-aksi yang kita lakukan. Media sudah tak lagi menganggap aksi-aksi mahasiswa sebagai berita yang patut disebarluaskan secara masif. Alhasil, demonstrasi mahasiswa kini benar-benar terasa kosong tak tak bermakna. Demonstrasi kini tidak lagi membawa agenda perubahan yang besar, hanya tuntutan demi tuntutan. Selain itu, demonstrasi kini juga sudah tidak mendapat perhatian publik. Sehingga upaya kita untuk menunjukkan perhatian kita pada bangsa ini juga menjadi tidak efektif.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita para mahasiswa merubah arah pergerakan kita. Kedepannya kita harus lebih banyak bergerak pada lahan yang benar-benar riil memberikan efek nyata buat masyarakat. Kita harus mulai memberdayakan potensi intelektual kita untuk memberikan solusi konkrit buat bangsa. Kegiatan-kegiatan aksi, demonstrasi dkk kini sudah tidak lagi diperlukan karena memang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Kegiatan-kegiatan seperti pembangunan desa (UI Comdev BEM UI), pembuatan blueprint jakarta (Pokja DKI BEM UI), pelatihan komputer gratis untuk rakyat (Pengmas On IT BEM fasilkomUI) dkk harus lebih diperbanyak. Riset-riset yang ditujukan untuk menghasilkan solusi bagi bangsa harus lebih intensif. PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) juga dapat menjadi sarana memberikan solusi konkrit untuk bangsa. Asalkan mahasiswa yang mengikutinya bukan cuma bertujuan untuk memenangkan lombanya tapi juga bertujuan untuk memberikan solusi konkrit permasalahan bangsa. Kedepannya, kita harus lebih banyak memberikan dukungan atas setiap kerja positif yang telah dilakukan pemerintah.
Sejauh ini, saya lihat sudah ada satu kampus di Indonesia yang sudah sangat berhasil mengarahkan pergerakan kemahasiswaannya ke arah yang benar. Kampus itu adalah kampus IPB (Institut Pertanian Bogor). Salut saya untuk rekan-rekan mahasiswa di IPB yang telah memberikan banyak solusi konkrit untuk mengentaskan berbagai macam persoalan bangsa. Kampus saya sendiri, UI, yang dulu disebut sebagai barometer utama pergerakan kemahasiswaan nasional kini sudah tidak terasa lagi. Saya mengakui bahwa kami disini masih berkutat dengan model perjuangan gaya lama yang sudah tidak lagi relevan. Saat ini, kami para aktivis mahasiswa di UI sedang berusaha mengarahkan pergerakan kami ke arah yang sesuai.
Diluar semua itu, kita juga tak boleh lengah untuk terus mengingatkan pemerintah untuk melakukan perbaikan disana-sini. Kita harus mencari cara lain yang lebih efektif daripada demonstrasi. Cara yang lebih cocok untuk kondisi saat ini. Kalau memang suatu saat nanti, terbentuk kemabli iklim politis yang memaksa kita untuk turun kejalan maka ayo kita kemabli lagi kejalanan meneriakkan suar-suara lantang kita. Menggemakan idealisme kita. Menunjukkan perhatian kita pada rakyat. Tapi saat ini, bukan itu jalan yang harus kita tempuh. Kita harus mencari jalur lain yang lebih jelas. Jalur yang secara nyata akan membawa perbaikan pada Indonesia.
Semoga kita para mahasisa Indonesia dapat terus menjalankan perannya pada bangsa ini. Semoga kita dapat terus memberikan kontribusi aktif kita pada upaya perbaikan bangsa Indonesia.
Hidup Bangsaku!
Hidup Rakyat Indonesia!
~”hidup mahasiswa!” hanyalah seruan arogansi eksistensial mahasiswa pada rakyat Indonesia.
Saya baru saja pulang dari acara diskusi sharing dan silaturahmi antara pak M Nuh (depkominfo) dengan para blogger. Pertemuan tersebut terasa sangat menarik, begitu banyak pertanyaan, kritik dan juga saran yang dilemparkan para peserta pada pihak depkominfo terkait Undang-undang yang baru saja keluar, yaitu UU ITE. Para pejabat depkominfo (pak M Nuh, pak edmon, pak basuki dan pak nurcahya (klo gak salah, agak lupa namanya)) juga menerima dengan hangat setiap pernyataan yang dikeluarkan para peserta. Intinya acara silaturahim ini berjalan dengan sangat hangat, komunikatif, aspiratif dan menyenangkan.
Disini saya ingin mengomentari beberapa pernyataan yang muncul dalam acara tersebut yang saya anggap bagus dan berbobot.
pertama
pertanyaan dari mas boy avianto. Beliau mengatakan bahwa dia merasa bangsa kita seperti bangsa yang kerdil dan tidak dewasa karena melakukan pemblokiran pada situs youtube hanya karena satu entri film berjudul “fitna” yang notabene hanya satu bagian sangat kecil dibandingkan video-video lain di youtube yang juga memiliki kebermanfaatan yang besar. Beliau melanjutkan, “daripada kita berbuat seperti itu, akan jauh lebih baik jika kita mendorong anak bangsa ini untuk membuat konten-konten positif. Contoh: alih-alih memblokir youtube mungkin lebih baik jika depkominfo mendorong masyarakat untuk membuat film anti-fitna yang lebih positif”
atas komentar tersebut, depkominfo menjawab
pak Nuh: Tentu saja kita akan mendorong peningkatan konten-konten positif di Internet, tapi itu bukan berarti kita membiarkan yang negatif toh…
pak basuki: kita ini sedang beramar ma’ruf nahi munkar. Kita dituntut untuk beramar ma’ruf dengan menyerukan masyarakat untuk membuat dan membuka konten-konten positif. Tapi diluar itu, kita tidak boleh lupa dengan nahi munkar-nya donk. Kita ber nahi munkar dengan cara memblokir situs-situs negatif seperti itu.
kedua
mas eko (bener gak sih namanya :p ). beliau adalah orang yang dijadikan kambing hitam oleh seorang “tokoh” (!pakar) telematika Indonesia sebagai dalang dibalik pen-deface-an situs depkominfo. Disana beliau mengadukan perihal penuduhan tersebut kepada depkominfo. Beliau bertanya apakah penuduhan tersebut bisa dibenarkan secara hukum? Beliau juga bahkan memutarkan rekaman wawancara sang tokoh di salah satu stasiun radio sebagi bukti pengkambinghitamannya. Pada saat mas eko ini memutarkan rekaman tersebut segenap ruangan menjadi hening dan serius. Semua orang-benar mendengarkan dengan seksama isi rekaman suara tersebut. Pada akhirnya, beliau meminta penegasan dari menkominfo mengenai posisi blogger sebagai part of the family.
jawaban pak nuh: Ternyata pak nuh agak kuper juga
beliau benar-benar baru tahu mengenai kasus blogger yang dituduh oleh seorang tokoh telematika itu dari rekaman yang diputarkan pada acara silaturahmi tersebut. Tapi, intinya pak nuh mengaskan bahwa blogger sebagai sebuah komunitas adalah part of the family, dan bukan part of the enemy. Blogger merupakan salah satu komunitas yang harus dibangun dan diberdayakan sebagai sebuah potensi bagi bangsa.
Sebenarnya masih banyak, obrolan-obrolan menarik yang diperbicangkan pada acara tersebut. Tapi karena saya sama sekali tidak mencatat akhirnya semua yang ditulis diatas hanya berdasarkan ingatan saya saja. Lagipula saya yakin diluar sana akan banyak blogger-blogger senior macem mas romi, mas harry sufehmi, mas budi putra, mas priyadi, mas riyogarta dll yang akan menuliskan review dari acara diskusi tersebut.
Satu lagi quote terakhir yang sangat saya appreciate dari Pak Nuh. Beliau mengatakan bahwa momen-momen silaturahmi seperti ini, forum-forum sharing seperti ini harus terus dihidupkan. Pak Nuh mengatakan bahwa pihaknya akan terus membuka forum-forum keterbukaan seperti itu yang akan memperluas ide pengembangan IT di Indonesia.
Semoga kedepannya IT di Indonesia bisa maju. Lebih maju daripada Malaysia, China, India bahkan amerka sekalipun. amin.
mungkin sudah banyak yang tahu, beberapa waktu yang lalu situs depkominfo di-hack sama seorang hacker (yaialah, masak sama blogger
). Sang hacker yang gaka tau apakah dia juga blogger melakukan aksi deface pada situs depkominfo itu berisi ucapan selamat pada pemerintah atas disahkannya UU ITE yangbener-bener laghi heboh saat ini. Dan satu hal yang membuat aksi deface nya itu kontroversial adalah karena sang hacker memasang foto roy suryo yang lagi bergaya dengan sangat aneh (tentunya itu hasil editan potosop, bisa diliat metadatanya kan mas roy?
)
Walhasil, atas aksi hackingnya itu sang surya jadi murka. Dia menuduh bahwa pelaku aksi tersebut adlah hacker (yap, klo yg ini sudah jelas) dan blogger (lha… darimana asal usulnya nih??). Mungkin kecdepan, saran buat mas roy, coba hilangkanlah tendensi sinisme negatifnya pada para blogger. Katanya mas enda mau ngajak pak roy berdialog ya? gimana kabar terakhirnya saya belum tahu.
anyway, di postingan kali ini saya bukan mau mengulas tentang aksi sama-sama tidak dewasa dianatar semua pihak. Pada postingan kali ini saya mau membahas tentang UU ITE, dan pengaruhnya bagi perkembangan IT Indonesia dimasa depan.
Entah kenapa banyak orang yang merasa skeptis dengan diberlakukannya UU ITE ini. Padahal hukumnya sendir belum benar-benar dijalankan. Kalau saya sendiri melihat UU ITE ini akan membawa banyak dampak positif bagi perkembangan IT di Indonesia. Berikut beberapa diantaranya:
4 point diatas sudah cukup untuk memberikan gambaran akan cerahnya prospek IT Indonesia dimasa mendatang. Saya sangat yakin suatu saat nanti Indonesia mampu emnjadi negara yang menguasai teknologi IT. Saya sangat yakin Indonesia mampu seperti malaysia, Cina dan India yang melakukan percepatan besar-besaran pada penguasaan teknologi. Mari kita sama-sama optimis akan perkembangan IT di Indonesia. Untuk Indonesia yang lebih maju, lebih hi-tech, lebih berdaya.
Akhir-akhir ini saya semakin muak melihat judul-judul tulisan yang nongkrong di jajaran 100 top-post nya id.wordpress.com. Saya banyak meliHat judul-judul seperti ini:
(linknya sengaja tidak dimasukkan, entar malah nambah traffic mereka lagi) dst. Itu yang masuk di top-post, belom lagi blog-blog kecil sampah tak berguna yang jumlahnya jauh lebih banyak lagi yang ikut mempublikasikan konten-konten kotor tersebut.
Dan Alhamdulillah sekarang pemerintah sudah mulai bergerak konkrit memberantas konten pornografi yang jumlahnya sudah membludak di Indonesia. Seperti kita semua tahu, di Indonesia tidak ada satupun mekanisme pembatasan konten yang membuat netter-netter Indonesia dapat dengan mudah mengakses situs2 porno tersebut, dan juga membuat mayoritas akses internet diwarnet-warnet itu mengarah pada situs porno. Pemerintah dalam hal ini departemen komunikasi dan informasi akan mulai serius dalam menangkal konten-konten negatif yang berseliwera dijagad web Indonesia, berikut cuplikan berita nya:
Kabar gembira untuk keluarga Indonesia. Pemerintah dalam hal ini
Depkominfo sedang menyiapkan perangkat hokum dan software untuk
menangkap akses porno di internetImageHidayatullah. com–Departemen Komunikasi dan Informasi
(Depkominfo) menyiapkan aturan dan piranti lunak (software) untuk
menangkal akses ke berbagai situs internet yang dinilai berdampak
negatif bagi perkembangan psikologis masyarakat.“Internet tidak hanya berdampak positif untuk dijadikan bahan menambah
pengetahuan, tetapi di sisi lain dampak negatif dan anti-produktif
ketika pengguna memanfaatkan internet untuk mengunduh (download) situs
yang tidak bermanfaat,” kata Menkominfo Muhammad Nuh, di sela Rapat
Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin
(17/3) kemarin.Menurut Nuh, tiga hal yang disiapkan Depkominfo untuk meminimalisasi
masyarakat untuk akses konten internet yang tidak layak, pertama,
level grass root (akar rumput), meningkatkan dan menumbuhkan kesadaran
tentang self censoring ataupun self filtering, yaitu kemampuan mandiri
dalam memilah situs yang baik dan layak.“Cara ini mensyaratkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat harus
terus dilakukan, di samping harus disiapkan secara cuma-cuma atau
gratis men-down load software di website Depkominfo,” kata Nuh.Kedua, pada level jaringan terbatas (limited network), seperti
struktur jaringan teknologi informasi di lingkungan kampus, lembaga
pendidikan, departemen. “Struktur jaringan pemanfaatan atau penggunaan
internetnya dapat diawasi dan dibloking situs-situs negatif,” katanya.Ketiga, di tingkat tertinggi, pemerintah akan bekerja sama dengan
perusahaan penyelenggara jasa internet (ISP) untuk memblok trafik
terhadap situs-situs negatif.“Pemblokiran ini bukan pada konten, karena ini akan lebih sulit tetapi
dilakukan pemblokiran pada semua situs yang ditengarai bermuatan
negatif,” ujarnya.Menurutnya, pemblokiran ini bukan upaya menghambat masyarakat di dalam
mengakses berbagai informasi, tetapi lebih pada upaya menghambat
masyarakat dari pengaruh negatif. “Beberapa negara juga melakukan hal
yang sama memblok situs negatif agar tidak bisa diakses,” kata mantan
Rektor ITS ini.Ia mencontohkan di China router di backbone nasional dapat memblok
situs-situs yang berbahaya baik untuk ideologi negara maupun
pornografi.“Bukan hanya itu, di negara tirai bambu itu, situs pencarian semacam
Google. MSN Spacenya Microsoft di-bloking untuk self censorship situs
tersebut,” kata Nuh. [ant/www.hidayatull ah.com]http://hidayatullah .com/index. php?option= com_content& task=view& id=6548&Itemid= 65
Intinya adalah depkominfo yang saat ini dipimpin oleh pak M. Nuh mantan rektor ITS berencana akan membuat regulasi yang ketat untuk memberantas konten-konten negatif yang ada di internet Indonesia. Saya sangat bersemangat mendengar berita ini, dan semangat saya menjadi bertambah besar melihat komentar rekan-rekan saya dimilis MIFTA mengenai rencana pemerintah ini. Berikut beberapa komentarnya
Agus Nizami (Ketua MIFTA)
> Alhamdulillah.
> Dan pemblokiran pada situs menurut saya akan membuat pengelola situs untuk
> berhati-hati agar situsnya tidak dimanfaatkan untuk menyebarluaskan
> pornografi atau hal negatif lainnya.
>
> Wassalam
——–
Bayu Widyasanyata
pemerintah sudah menyelesaikan satu langkah..di level strategis.
nah sekarang di level teknisnya, mudah2an MIFTA bisa berkontribusi disini.apa itu?
“URL Blacklist” — baik internasional maupun LOKAL.
nah lokal ini yg menurut saya juga tak kalah beratnya untuk dilengkapi.contoh s/w komersialnya, misal urlblacklist. com, yg sdh compatible dng
squid atau dansguardian.nah untuk lokal, nanti MIFTA bisa buat site yg bisa dikerjakan bersama
berisi URLBlacklist “made in Indonesia” yang berisi URL-URL porno
buatan Indonesia.
misal, apa ada di “cerita seru” di URLBlacklist. com ?
*saya belum sempat coba.. mudah2an bisa nanti malam dansguardian – di
lab saya![]()
nanti ada submitternya, dan juga verifiernya.
nanti bisa juga kerjasama dng project “Jangan Bugil Di Depan Kamera”,
mungkin mereka punya listnya juga. atau project senada yg lain…saya yakin, database lokal Indonesia ini pasti diminati para ISP.
Insya Allah…ada yg berminat memulai?
——
Hendra
> Sekedar masukan, selain melakukan “black campaign” terhadap
> situs2 porno dkk tsb, kita juga perlu melakukan “soft
> campaign” atau “hard campaign” terhadap keberadaan situs2
> yang bercontent positif. Situs2 yg baik tersebut hrs
> disosialisasikan ke masyarakat (sekolah, kampus, kantor,
> warnet, dll). Artinya kita juga butuh daftar directory situs2
> Indonesia. Jadi masyarakat tahu bahwa anak bangsa Indonesia
> itu punya situs bermanfaat yang banyak sekali. Sekaligus
> memotivasi agar masyarakat juga bisa membuat content positif
> di mana saja, dan Indonesia menjadi “upload nation” setelah
> bertahun2 lamanya menjadi “download nation”.
>
> wassalam, hendra
> www.hdn.or.id
——
Romi Satria Wahono
Saya sudah provokasi dengan kenyataan bahwa China yang komunis saja berani
menangkap ratusan orang pembuat situs porno, juga secara progresif memblok
situs-situs porno. Indonesia yang negara religius kok kayak gini![]()
Saya sajikan peta dan kondisi pornografi di Indonesia, termasuk beberapa
portal, forum diskusi dan komunitas yang intens membantu maraknya konten
pornografi![]()
Salam,
—
Romi Satria Wahono
http://romisatriawahono.net
http://ilmukomputer.com
…………………………………………………………………….
Dan masih banyak lagi yang lainnya, masing2 mengeluarkan ide-ide yang sangat bagus. Kalau mau tahu komentar-komentar lengkapnya, daftar aja sana ke milisnya: mifta-perjuangan@yahoogroups.com
Dari komentar tersebut saya melihat sebuah semangat yang sangat besar dari para praktisi didunia IT untuk memberantas pornografi di internet yang selama ini sudah berperan serta dalam pendangkalan akhlak bangsa secara sistematis dan perlahan-lahan. Oleh karena itu, saya juga ingin menularkan semangat ini kepada teman-teman blogger semua bahwa bersama kita bisa (kayak pernah denger ya :p ) memberantas pornografi di Indonesia. Berikut saya akan coba merangkum pendapat-pendapat yang tertulis diatas dan juga saya akan menyumbangkan pemikiran saya tentang bagaimana caranya membumihanguskan pornografi di Indonesia:
Kalau kita semua bisa kompak bergerak maka dijamin 100% kita akan bisa menekan jumlah konten-konten negatif yang “menguasai” dunia maya Indonesia. Pemerintah sudah bergerak, sekarang mana rakyatnya? jangan cuma bisa nuntut tanpa berkontribusi aktif membantu pemerintah memberantas pornografi di Indonesia.
Siapapun Anda, dimanapun Anda, apapun keahlian Anda…
MARI KITA BERKONTRIBUSI AKTIF MEMBERANTAS PORNOGRAFI DI INDONESIA!!
untuk diikutkan dalam lomba writerspirit entri blog di fasilkom. Untuk melengkapi tulisan LKTM saya yang bertopik: Gerakan Sepeda Kampus. Untuk berpartisipasi dalam gerakan global mengurangi dampak global warming.
Jangan bayangkan masa depan itu akan berwarna silver futuristik. Jangan bayangkan masa depan akan dipenuhi dengan bangunan-bangunan beton berkilau. Jangan bayangkan kendaraan masa depan adalah mobil yang bisa terbang melayang kemana-mana.
Masa depan akan berwarna hijau segar. Masa depan akan dipenuhi pepohonan yang rimbun menyejukkan. Kendaraan yang paling cocok untuk kehidupan masa depan adalah sepeda. Kenapa sepeda? berikut penjelasannya.
Sumber daya alam yang tersedia dibumi ini tentu jumlahnya terbatas. Termasuk juga didalamnya sumber daya bahan bakar fosil yang jumlahnya kini kian menipis. Selama ini kita telah sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk menyokong kehidupan kita selaku umat manusia. Kita telah menguras semua warisan bumi itu hingga hampir habis. Berbagai macam industri bergantung pada bahan bakar tersebut. Kendaraan yang selama ini kita pergunakan pun juga memanfaatkan bahan bakar fosil tersebut. Lalu Bagaimana jadinya nanti apabila bahan bakar fosil tersebut sudah benar-benar habis dari muka bumi ini. Tentu kita harus mencari cara lain agar dapat melepaskan ketergantungan kita pada bahan bakar tersebut.
Dibalik itu, pemanfaatan kita selama ini pada bahan bakar fosil ternyata juga memberi andil pada perusakan bumi. Bahan bakar fosil yang kita pakai itu telah menjadi sumber gas-gas beracun yang kini sudah memadati atmosfer kita. Asap-asap yang keluar dari kendaraan kita saat ini perlahan-lahan terus merobek ozon dilangit kita. Hal itu membuat pancaran ultraviolet matahari dapat menyengat langsung berbagai macam makhluk yang hidup dibumi, termasuk kita, manusia. Asap-asap tersebut juga menahan panas yang terpantul dari bumi. Membuat bumi kita jadi makin panas. Kalau seperti ini terus, bumi ini tak akan layak lagi menjadi kediaman manusia. Kita harus mencari cara lain untuk menjadikan bumi kita bumi yang lebih segar. Bumi yang bisa ditinggali dengan nyaman oleh kita dan semua makhluk hidup dibumi.
Perjalanan kita dijalan-jalan kota kini terasa amat menyesakkan. Asap-asap hitam menyeruak masuk kedalam paru-paru kita. Debu-debu jalanan menyelinap masuk dalam hidung kita. Mata kita semakin pedih memerah selama berada dijalan. Panas menyengat membuat kita semakin tersiksa. Kita harus mencari moda transportasi lain yang dapat membuat setiap perjalanan kita terasa menyenangkan.
Sepeda, menjadi jawaban atas semua permasalahan diatas. Sepeda tidak sedikitpun mengeluarkan emisi perusak bumi. Sepeda menghilangkan ketergangtungan kita akan bahan bakar fosil. Sepeda akan membuat jalan-jalan raya dibumi lebih segar dan tenang. Dengan mengendarai sepeda kita sekaligus berolahraga, menyehatkan badan kita. Alih-alih merusak badan kita melalui perjalanan dengan kendaraan bermotor dengan asap, debu dan panas yang membuat badan kita semakin rusak.
permasalahan satu-satunya mengenai sepeda adalah dia tidak dapat mencapai kecepatan yang tinggi. Saya rasa itu bukan masalah. Sangat mungkin bagi kita untuk membuat sepeda berkecepatan tinggi hanya dengan kayuhan yang standar.
Bayangkanlah, suatu saat nanti dimasa depan. Semua orang berangkat ke kantor atau ke kampus atau ke sekolah menggunakan sepeda. Alih-alih disesaki oleh bus, mobil pribadi atau motor, jalan-jalan dimasa depan akan dipenuhi oleh sepeda yang melaju dengan kencang tapi santai. Setiap jalan raya diselingi oleh kanopi pepohonan yang rindang yang membuat perjalanan kita senantiasa sejuk. Tak ada lagi tabrakan-tabrakan maut yang mengundang banyak korban. Semua terasa asri, sejuk dan segar. Ya, itulah masa depan yang kita nanti-nantikan. Masa depan yang hijau.
Akhir-akhir ini isu-isu mengenai pemilihan “mahasiswa berprestasi” alias mapres dikampus saya sudah mulai memanas. Banyak sahabat-sahabat saya yang sudah mulai ngomporin teman-teman yang lain untuk ikutan ajang yang satu ini. Ada 4 orang yang saya tahu paling getol menggencarkan kampanya pemilihan mapres ini. Mereka adalah Sidicx, Ilman, Chandra dan Hening. Salut buat 4 orang tersebut, yang penuh semangat, yang penuh gairah untuk berprestasi. Jujur-sejujur-jujurnya saya agak ngiri sama mereka yang bisa ikut dalam ajang pemilihan mapres ini. Saya sendiri sebenarnya juga mau ikutan, tapi apa daya IPK tak sampai
eitss… tapi ini bukan kalimat putus asa. Ini bukan kalimat yang menhentikan saya untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi.
Secara realitas, memang nilai-nilai perkuliahan saya tidak terlalu dapat dibanggakan. Ada beberapa sahabat saya yang bilang bahwa saya ini aktivis generasi lama
yang sibuk ngurus ini itu tapi kuliahnya gak keurus. Jangan salah kawan, dalam hal kenyataan nilai yang saya dapat memang sih selevel sama aktivis-aktivis generasi lama. Tapi dalam hal semangat berprestasi, saya punya 100% jiwa aktivis generasi baru. Yang berorientasi pada prestasi, berorientasi pada kebermanfaatan nyata yang bisa diberikan pada orang lain. Saya bertekad bahwa suatu saat nanti, saya akan memberikan andil yang besar dalam rangka menumbuhkan dunia IT di Indonesia. That is a new generation activist’s soul.
Nah… seperti biasanya saya menekankan blog ini bukan untuk cerita-cerita pribadi saya, tapi lebih kearah artikel-artikel opini yang inspiratif dan bermanfaat buat yang membaca. Oleh karena itu, disini saya akan coba mengulas suatu aspek berbahaya tentang ajang pemilihan mapres ini. Apakah aspek berbahaya itu? sudah cukup tersirat dijudul tulisan ini. Simak aja deh ulasannya.
Tulisan ini saya beri judul Menjadi “Mahasiswa Berprestasi” atau Menjadi Mahasiswa yang Berprestasi. Apa sih maksudnya? begini penjelasannya. bagian yang pertama, menjadi “mahasiswa berprestasi”, itu maksudnya adalah mendapatkan gelar sebagai pemenang dalam ajang pemilihan mahasiswa berprestasi. Sementara pada bagian yang kedua itu maksudnya adalah benar-benar secara nyata menjadi mahasiswa yang berprestasi. Saya rasa dari paragraf ini saja sudah cukup untuk menggambarkan int tulisan saya.
Inti tulisan ini adalah, jangan sampai kita terjebak dalam orientasi yang salah. Jangan sampai orientasi kita hanya untuk mendapatkan gelar sebagai mahasiswa berprestasi. Orientasi kita harus tetap murni, yaitu menjadi mahasiswa yang berprestasi dan memberikan banyak manfaat buat orang lain dengan prestasi yang kita raih. Apalah artinya gelar mapres kalau pada kenyataannya kita tidak benar-benar berprestasi. Apalah artinya kalau ternyata gelar mapres yang kita dapatkan hanya karena CV yang kita utak-atik sedemikian cantik atau karena tulisan-tulisan yang dibuat menawan atau hanya karena presentasi yang berapi-api. Tapi diluar sana, didunia nyata, kita benar-benar kosong. Tak ada kebermanfaatan yang kita berikan pada orang lain. Sungguh sayang gelar tersebut. Berorientasilah pada prestasi yang sebenarnya dan gelar mapres tersebut akan dengan sendiriya melekat pada diri kita.
Tulisan ini juga sebagai penyemangat buat mereka (lebih tepatnya kami
) yang tidak bisa mengikuti ajang pemilihan mapres karena kendala syarat IPK. Saya tidak dapat memenuhi syarat tersebut, tapi saya tidak malu. Karena saya tahu, IPK yang saya raih itu cuma nilai semu yang tidak benar-benar menggambarkan apakah seseorang itu berprestasi atau tidak. IPK tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk terus berprestasi. Kita masih dapat menjadi pribadi prestatif tanpa perlu mengikuti ajang pemilihan tersebut. Coba lihat diluar sana, begitu banyak lomba-lomba yang bisa diikuti. Begitu banyak kesempatan riset yang bisa digeluti. Begitu banyak peluang bisnis yang bisa diraih. Begitu banyak kegiatan-kegiatan sosial yang bisa dijalankan. Semua itu dapat menjadi sarana bagi kita untuk menjadi mahasiswa berprestasi, mahasiswa yang benar-benar berprestasi. menebar manfaat untuk sejuta umat.
Be prestative!!