Nov 21 2008
Eits… kata siapa ngedesain website cuma perlu memikirkan sisi artistiknya saja. Kalau Anda berpikir seperti itu, Anda salah total! Kenyataannya ada banyak sekali aspek yang harus diperhatikan dalam mendesain sebuah halaman web. Mulai dari sisi usability-nya, consumer behaviour-nya, waktu penggunaannya dan lain sebagainya. Satu sisi yang ingin saya bahas lebih detail disini adalah sisi kultural alias sisi kebudayaan.
Lho? apa hubungannya kebudayaan sama web desain? Tentu ada hubungannya. Kenyataannya, beda kebudayaan beda pula persepsi orang pada tampilan sebuah website. Contoh paling mudah adalah mengenai arah tulisan. Secara global, arah tulisan itu kan biasa dibaca dari kiri ke kanan. Tapi pada kebudayaan arab, arah tulisan itu dari kanan ke kiri. Perbedaan ini akan memberikan pengaruh tersendiri pada pengunjung website kita. Jika sang pengunjung tidak terbiasa dengan arah tulisan tersebut misalnya. Maka kedepannya, website kita tidak akan lagi dikunjungi oleh pengunjung tersebut.
Contoh lainnya sebenarnya banyak. Misal, persepsi masing-masing budaya terhadap warna itu berbeda-beda. Warna merah di Spanyol bisa diartikulasikan secara berbeda dengan warna merah di negeri Cina. Penggunaan animasi juga berbeda-beda pandangannya pada setiap lokasi/kebudayaan.
Saya menemukan sebuah makalah online yang membahas mengenai hal ini (itu makanya saya nulis tentang bginian ^^). Kalau ingin baca papernya silahkan klik disini. Paper itu merupakan hasil riset dari para penulisnya tentang behaviour yang dimiliki oleh web desainer dari Singapura dan Australia. Sang penulis membagi dua tipe user dalam sisi penerimaan mereka terhadap desain web, yaitu: Kolektivis dan Individualis. User kolektivis adalah user yang menyukai tampilan web yang standar-standar saja. Sama seperti kebanyakan web yang ada saat ini. Sementara individualis lebih menginginkan tampilan website yang bisa mereka kontrol sendiri untuk melakukan kustomisasi dan personalisasi. Pada paper tersebut disebutkan bahwa web desainer dari Singapura merupakan representasi user kolektivis sementara web desainer Australia merupakan representasi user individualis. Inilah tabel hasil risetnya. Silahkan dibaca
|
Karakteristik |
Sikap pengembang web |
|
|
Singapura |
Australia |
|
|
Penggunaan warna |
Menggunakan skema warna tertentu (tergantung pilihan perusahaan) |
Perusahaan tidak mempedulikan preferensi warna |
|
Representasi gambar |
Logo perusahaan sangat penting |
Prestise perusahaan lebih penting daripada sekedar logo |
|
Penggunaan simbol |
Tidak ada skema tertentu |
Tidak ada skema tertentu |
|
Penggunaan animasi |
Elemen penting |
Elemen yang tidak terlalu penting |
|
Penggunaan gambar |
Sangat sering dipakai |
Lebih banyak menggunakan teks |
|
Fungsionalitas website |
Pelanggan bukan pertimbangan utama |
Reaksi pelanggan berpengaruh besar bagi desain |
Jadi, intinya… kalau mau mendesain sebuah website, apalagi websitenya bersifat global. Coba buat banyak tampilan yang bisa terkustomisasi untuk masing-masing wilayah dengan kebudayaannya masing-masing.
Comments Off
Nov 21 2008
Eits… kata siapa ngedesain website cuma perlu memikirkan sisi artistiknya saja. Kalau Anda berpikir seperti itu, Anda salah total! Kenyataannya ada banyak sekali aspek yang harus diperhatikan dalam mendesain sebuah halaman web. Mulai dari sisi usability-nya, consumer behaviour-nya, waktu penggunaannya dan lain sebagainya. Satu sisi yang ingin saya bahas lebih detail disini adalah sisi kultural alias sisi kebudayaan.
Lho? apa hubungannya kebudayaan sama web desain? Tentu ada hubungannya. Kenyataannya, beda kebudayaan beda pula persepsi orang pada tampilan sebuah website. Contoh paling mudah adalah mengenai arah tulisan. Secara global, arah tulisan itu kan biasa dibaca dari kiri ke kanan. Tapi pada kebudayaan arab, arah tulisan itu dari kanan ke kiri. Perbedaan ini akan memberikan pengaruh tersendiri pada pengunjung website kita. Jika sang pengunjung tidak terbiasa dengan arah tulisan tersebut misalnya. Maka kedepannya, website kita tidak akan lagi dikunjungi oleh pengunjung tersebut.
Contoh lainnya sebenarnya banyak. Misal, persepsi masing-masing budaya terhadap warna itu berbeda-beda. Warna merah di Spanyol bisa diartikulasikan secara berbeda dengan warna merah di negeri Cina. Penggunaan animasi juga berbeda-beda pandangannya pada setiap lokasi/kebudayaan.
Saya menemukan sebuah makalah online yang membahas mengenai hal ini (itu makanya saya nulis tentang bginian ^^). Kalau ingin baca papernya silahkan klik disini. Paper itu merupakan hasil riset dari para penulisnya tentang behaviour yang dimiliki oleh web desainer dari Singapura dan Australia. Sang penulis membagi dua tipe user dalam sisi penerimaan mereka terhadap desain web, yaitu: Kolektivis dan Individualis. User kolektivis adalah user yang menyukai tampilan web yang standar-standar saja. Sama seperti kebanyakan web yang ada saat ini. Sementara individualis lebih menginginkan tampilan website yang bisa mereka kontrol sendiri untuk melakukan kustomisasi dan personalisasi. Pada paper tersebut disebutkan bahwa web desainer dari Singapura merupakan representasi user kolektivis sementara web desainer Australia merupakan representasi user individualis. Inilah tabel hasil risetnya. Silahkan dibaca
|
Karakteristik |
Sikap pengembang web |
|
|
Singapura |
Australia |
|
|
Penggunaan warna |
Menggunakan skema warna tertentu (tergantung pilihan perusahaan) |
Perusahaan tidak mempedulikan preferensi warna |
|
Representasi gambar |
Logo perusahaan sangat penting |
Prestise perusahaan lebih penting daripada sekedar logo |
|
Penggunaan simbol |
Tidak ada skema tertentu |
Tidak ada skema tertentu |
|
Penggunaan animasi |
Elemen penting |
Elemen yang tidak terlalu penting |
|
Penggunaan gambar |
Sangat sering dipakai |
Lebih banyak menggunakan teks |
|
Fungsionalitas website |
Pelanggan bukan pertimbangan utama |
Reaksi pelanggan berpengaruh besar bagi desain |
Jadi, intinya… kalau mau mendesain sebuah website, apalagi websitenya bersifat global. Coba buat banyak tampilan yang bisa terkustomisasi untuk masing-masing wilayah dengan kebudayaannya masing-masing.
Comments Off
Nov 17 2008
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat spanduk yang sangat bagus di dekat rumah saya yang bertuliskan seperti ini:
Jadilah bagian dari solusi permasalahan pengangguran dan kemiskinan
Karya Aziz Peduli
Sebuah spanduk yang sederhana namun mengutarakan pesan yang sangat kuat dan berkualitas bukan?! Disitu tertulis karya aziz peduli, saya sendiri tidak tahu apa itu karya aziz peduli. Tapi saya sangat mengapresiasi spanduk yang mereka buat. Mereka tidak hendak menonjolkan golongan mereka. Dari spanduk itu terlihat sekali mereka benar-benar tulus dalam menyampaikan pesan tersebut. Subgguh spanduk yang sangat berkualitas. Jauh lebih berkualitas daripada spanduk-spanduk yang seperti dibawah ini yang belakangan banyak beredar di sudut-sudut kota. Bikin suasana kota makin riweh…
Merasa pernah lihat spanduk kayak gitu??? :p
Nov 11 2008
Pada postingan sebelumnya univindblog membuat tulisan tentang apa itu microblogging dan disana saya menjanjikan akan membuat tulisan lanjutan mengenai manfaat dari microblogging ini. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mem-posting pernyataan seperti ini di plurk (plurk merupakan salah satu layanan microblogging) saya: “Ngeplurk gak produktif, stujuh gak?”. Dari plurk tersebut, ragam respons berdatangan. Ada yang setuju, ada yang tidak. Tapi kebnyakan melihat plurk sebagai seustua yang produktif. Walaupun disitu saya tidak mendapatkan jawaban pasti dimana letak produktifnya plurk itu? Akhirnya…. saya mencoba bertapa ke gunung semeru untuk bertemu dengan mbah joko kelongo (halah…). Intinya, saya mencoba menganalisis dan mencari-cari informasi yang menunjukkan penggunaan microblogging untuk hal-hal yang produktif. Dan inilah dia hasil meditasi saya:
1. Berbagi. Kalau yang satu ini sih memang fungsi dasar dari microblogging, yaitu untuk berbagi. Berbagi apapun yang kita ingin bagikan. Kita bisa berbagi link ke situs-situs menurut kita keren dan kita ingin orang lain juga melihatnya. Kita juga bisa berbagi pengalaman pribadi kita (apa yang kita suka, apa yang kita benci, sedang apa kita saat ini dsb). Kita juga bisa berbagi info dan gosip terbaru tentang temen-temen kita. Untuk urusan yang satu ini, baik atau tidaknya microblogging tergantung baik atau tidaknya konten yang di-share.
2. Mencari mentor bisnis. Ya! Kita bisa mencari mentor bisnis melalui layanan microblogging. Saya dapat inspirasinya dari sini: geekpreneur.com - new ways to find business mentor. Buat Anda yang sedang memulai suatu bisnis, tentu akan sangat baik kalau Anda bisa mencari dan mendapatkan satu atau beberapa orang mentor bisnis yang sudah lebih dulu sukses pada bidang yang Anda geluti. Dengan microblogging, kedekatan bisa muncul dengan lebih cepat. Walaupun tetap saja akan memakan sedikit waktu. Coba cari pengusaha sukses di bidang Anda yang punya account pada salah satu layanan microblogging. Ikuti terus micro blognya. Komentari setiap postingannya. Lama-kelamaan kedekatan itu akan terbentuk. Kalau sudah seperti ini peluang untuk bisa menjadi lebih dekat dan bisa bertemu secara tatap muka dan menjadi mentor yang sesungguhnya akan lebih besar. Namun, untuk saat ini, bidang yang masih memungkinkan untuk bisa mendapatkan mentor bisnis melalui cara ini hanyalah bidang IT terutama web. Anda tidak akan menemukan om Bob Sadino di layanan microblogging kan
?
3. Menggalang komunitas. Sama seperti blog, dengan microblogging kita juga bisa menggalang suara komunitas. Jika kita punya pendapat pada suatu isu tertentu dan kita bisa menggerakkan komunitas yang sudah terbentuk pada layanan microbloggin untuk mendukung pendapat kita. Ini dia satu contoh konkrit yang saya kutip dari blog media-ide:
Hal yang menarik terjadi di Plurk pertengahan Oktober kemarin, saat seorang blogger (yang merangkap pengguna Plurk) menemukan halaman dalam situs Diknas yang menampilkan lengkap seluruh data siswa berupa nama lengkap, alamat, serta sekolahnya, yang bebas diakses oleh semua orang. Tentunya ini hal yang berbahaya dan melanggar privacy anak dan orang tuanya. Bila data ini sampai ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, bukan tidak mungkin terjadi tindak pemerasan atau penculikan.
Banyak anggota dalam komunitas Plurk yang tergerak untuk memprotes keberadaan halaman ini. Mereka secara serentak menulis ungkapan protes di blog masing-masing. Sebagian mencoba menghubungi pihak Diknas dan Kominfo melalui surat resmi agar halaman ini segera dihilangkan. Tentunya, dalam setiap posting di blog, tidak ada dari mereka yang mencantumkan halaman berbahaya yang dimaksud, agar penyebaran tidak semakin meluas.
Melalui tindakan communal dalam komunitas ini, suara yang disampaikan menjadi semakin dominan. Secara bertahap, akhirnya halaman berbahaya itu akhirnya dihilangkan. Kini, akses ke halaman tersebut hanya dibatasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan saja. Mereka harus menghubungi pihak administrasi Diknas sebelum bisa mendapatkan datanya.
Baca lebih lengkapnya di: Media-ide.bajingloncat.com - Menggalang suara komunitas melalui microblogging
4. Pengenalan produk. Layanan microblogging jika digunakan secara hati-hati juga bisa digunakan untuk melakukan pengenalan produk secara lebih efektif. Sebenarnya yang lebih dipentingkan dalam pengenalan produk melalui microbloggin adalah respons dari komunitas. Dengan respons itu kita bisa terus memperbaiki produk yang kita jual. Ini jelas berbeda dengan model promosi jaman baheula dimana para customer dipaksa terima saja produk ini apa adanya. Kalau produsen ingin mengetahui pendapat customer itu akan membutuhkan waktu dan biaya. Dengan layanan microblogging, semua halangan itu bisa ditembus dengan mudah. Contoh konkrit dari penggunaan microblobbig untuk pengenalan produk ada pada aviary. Aviary adalah sebuah layanan image editing secara online (semacam photoshop online) yang dibuat oleh worth1000. Untuk mengenalkan produk barunya itu mereka membuat halaman microblogging pada websitenya yang merupakan hasil fetch dari account mereka di twitter@aviary. Pengenalan produk melalui microbloggin juga akan terasa lebih soft dan tidak merongrong customer dengan produk-produk mereka. Ini ada satu contoh bagus lagi. Yaitu kodak, yang memiliki Chief Blogger sendiri @kodakCB. Disana dia menulis bagaimana produknya itu dipakai dengan baik daripada merongrong customer dengan mengaku-aku bahwa produknya itu paling hebat. Ini dia contoh postingannya:
“Spent the weekend at the Toronto International Film Festival. Saw some great movies shot on Kodak film!”
5. Membuka jalur komunikasi antara para petinggi perusahaan dengan para pegawainya. Bahasa inggris gaulnya: Humanizing the Head Honcho. Para petinggi perusahaan itu biasanya bukanlah blogger yang baik. Kenapa? karena mereka sudah terlalu sibuk dengan segudang urusan mereka. Akhirnya mereka tidak punya waktu lagi untuk ngeblog dengan tulisan yang panjang-panjang. Padahal banyak tulisan-tulisan dilura sana yang menunjukkan betapa efektifnya fungsi blog sebagai pengganti email untuk membentuk hubungan antara petinggi perusahaan dengan para karyawannya. Microblogging bisa menjadi solusi atas permasalahan tersebut. Dengan microbloggin, seorang CEO tak perlu repot menulis panjang-panjang. Contoh konkrit dari poin ini ada pada perusahaan virtual.co.id yang dikepalai oleh mister nukman luthfie. Pak Nukman sudah sejak lama nge-plurk. Dan setiap postingan plurknya itu selalu ada beberapa karyawan virtual yang merespons plurknya. Biasanya dengan gaya bercanda. Ini jelas membentuk kedekatakan yang sangat kuat. Walaupun katakanlah sang bos besar jarang ada di kantor dan lebih banyak bepergian kesana-kemari.
Itulah 5 manfaat micrblogging hasil meditas dan pertapaan saya. Semoga bermanfaat dan selamat nge-(micro)blog 4 productivity ![]()
Comments Off
Nov 06 2008

Saya baru aja selesai baca buku sangat bagus berjudul “Muhammad Super Leader Super Manager”. Buku sirah (sejarah) itu menceritakan kehidupan nabi dalam berbagai macam aspek mulai dari pemimpin militer, pemimpin dunia pendidikan, pemimpin politik, pemimpin keluarga dan yang paling saya suka… pemimpin di bidang entrepreneurship. Cara Pak Muhammad Syafi’i Antonio menuliskan sirah ini juga sangat menarik. Gak kayak sirah-sirah lain yang bahasanya kaku, terlalu maksain ke-arab-arab-annya. Pada buku ini pak syafi’i menuliskannya dengan gaya tulisan-tulisan manajemen dan leadership. Itulah yang bikin buku ini jadi keren banget. Dan ada satu bab yang menurut saya sangat impresif, yaitu bab terakhir. Bab terakhir itulah yang mau saya share ke teman-teman semua lewat blog ini. Silahkan dibaca.
Nov 06 2008
Sebelum membahas apa itu micro blogging, Anda perlu tahu dulu apa itu blogging? Kalau sudah tahu, yowis silahkan lanjutkan bacaannya. Kalau belum tahu… silahkan baca artikel-artikel berikut terlebih dahulu:
OK, asumsi saya Anda sudah mengerti apa itu blogging. Nah… sekarang saatnya menjelaskan apa itu micro blogging. Micro blogging adalah blogging tapi dalam skala micro (yaah… klo cuman gitu doank sih semua juga ngerti :p). Tapi memang hanya sperti itulah pengertiannya.
Jika pada blogging kita bisa menulis apapun sesuka hati kita sepanjang apapun, maka pada micro blogging jumlah karakter dalam satu postingan kita akan dibatasi. Biasanya hanya sekitar 150 karakter.
Lahhh… apa untungnya blogging kayak gini? mau nulis aja koq dibatasi segala… Micro blogging memang ada bukan untuk ditulis dengan berbagai macam tulisan yang panjang-panjang dari kita. Micro blogging hanya dipakai untuk men-share berbagai macam aspek kehidupan kita. Misal: apa yang sedang kita lakukan, taushiyah2 singkat, atau misalnya kita menemukan sebuah konten menarik di internet dan kita ingin mensharenya ke teman yang lain. Untuk hal-hal seperti itu, blogging memang terlalu rumit dan tidak perlu. Untuk itulah lahir micro blogging.
Micro blogging ini pertama kali dipopulerkan oleh twitter. Twitter menyediakan layanan sederhana hanya untuk menuliskan apa yang sedang kita lakukan saat ini. Hanya itu… namun dengan fitur mini-nya itu twitter teryata mampu mendatangkan member yang maxi. Tak disangka ternyata banyak orang yang tertarik menggunakan layanan sederhana ini. Di Indonesia sendiri, layanan twitter tidak begitu populer. Namun, secara global, twitter sudah kadung menjadi raja dari micro blogging platform. Maklum, namanya juga pelopor.
Mengikuti kesuksesan twitter akhirnya banyak bermunculan layanan-layanan lain yang sejenis. Salah satu yang cukup populer adalah plurk. Plurk memberikan layanan micro blogging dalam format timeline yang unik. Dibandingkan twitter, layanan plurk ini di Indonesia tampaknya lebih populer.
Di Indonesia muncul kronologger.com yang dibuat oleh mister kukuhTW. Di Indonesia, bisa dibilang kronologger ini lebih populer dibandingkan twitter karena disini kronologger mendapat dukungan dari beberapa komunitas dunia maya. Salah satunya adalah Asia Blogging Network.
Pada tulisan selanjutnya, univind.blog akan coba mengulas apa sebenarnya manfaat dari microblogging ini? apakah hanya untuk senang-senang atau ternyata memang ada manfaatnya? Tunggu saja tanggal mainnya…
Comments Off
Oct 31 2008
Kemampuan pencarian mesin mencari yang satu ini memang makin lama makin tak tertandingi. Dia bisa mengindex jutaan website dengan sangat cepat. Dia bisa mengindex dokumen PDF. Dan yang terbaru, dia juga bisa mengindex dokumen hasil scan!
Hari kamis lalu google telah mengumumkan bahwa kini mesin pencarinya itu bisa membaca dokumen hasil scan. Itu berarti mesin pencari google kini bisa membaca teks yang terdapat dalam suatu dokumen image. Google kini bisa beraksi dengan sistem OCR (Optical Character recognition).
Dengan begitu jangkauan hasil pencarian kita akan semakin akurat. Pasalany, banyak juga paper-paper ilmiah yang di-upload dalam bentuk PDF yang merupakan hasil scan dari versi cetaknya. Tanpa teknologi OCR ini, kita tidak akan pernah bisa menemukan dokumen tersebut dengan Google.
Ini dia beberapa contoh:
Comments Off
Oct 28 2008
Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel yang sangat inspiratif dari mas romi disini. Mas romi mengawali tulisannya itu dengan tiga kalimat yang menurut saya sangat keren dan provokatif. Dan saya tertarik untuk mengupas kalimat yang kedua:
Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan!
Saya sepenuhnya sepakat! Saya sebagai mahasiswa banyak juga melihat para mahasiswa “pen-teriak” itu justru dalam kesehariannya tampak tidak lebih menyedihkan daripada rakyat itu sendiri (dalam hal kepribadian). Kalau seorang mahasiswa benar-benar ingin menjadi aktivis pejuang, maka dia harus selesai dengan dirinya sendiri, terutama dalam urusan finansial.
Selain itu, sebagai mahasiswa kita memang sudah seharusnya mandiri dari orang tua. Pada saat mahasiswa inilah saat yang paling tepat bagi kita untuk belajar mandiri. Jangan sampai kita pontang-panting nanti setelah lulus berusaha mencari kerja untuk penghidupan sehari-hari. Jangan sampai setelah lulus nanti kita masih bergantung pada ortu kita.
Ada banyak hal yang bisa dikerjakan oleh kita para mahasiswa untuk mulai belajar hidup mandiri dan mendapatkan penghasilan. Banyak yang mengandalkan beasiswa untuk menyokong baik kuliah maupun kehidupan sehari-harinya. Namun, menurut saya, kita sebagai insan cendekia harusnya bisa lebih kreatif untuk mencari dana sendiri daripada bergantung sepenuhnya pada beasiswa. Biarlah beasiswa itu mengalir pada orang-orang seperti lintang, ikal, mahar dkk
Manusia-manusia cerdas yang belum menemukan akses pada beasiswa pendidikan yang baik. Sementara kita yang berada di kampus, sudah bisa memanfaatkan banyak potensi di kampus kita untuk menjalankan bisnis.
Cara lain yang juga mudah adalah mengajar. Pada semester pertama dulu, saya juga pernah beberapa kali mengajar privat. Saya mendaftar di banyak sekali lembaga privat, saya juga menyatakan pada teman-teman saya bahwa saya ingin mengajar privat. Alhamdulillah, beberapa tawaran mengajar menghampiri saya. Baik itu dari lembaga maupun dari teman-teman saya langsung.
Namun, mengajar bukanlah solusi final. Saya tetap menyerukan kepada seluruh mahasiswa untuk berbisnis, menjalankan usaha. Berbisnis itu berbeda dengan mengajar. Mengajar itu sifatnya active income, sementara ketika berbisnis kita membangun passive income. Kalau kita hanya menggantungkan penghasilan kita dari hasil mengajar maka perlahan-lahan pasti kita akan sulit mengatur waktu. Semakin banyak kita butuh uang, semakin banyak waktu yang harus kita korbankan untuk mengajar. Kalau sudah terlalu sibuk mengajar, akan sulit mengatur waktu supaya kuliah tetap lancar, apalagi untuk menjadi aktivis yang sibuk disana-sini, ikut bermacam-macam organisasi, mengelola berbagai kepanitiaan, mengisi pengajian disana-sini, ikut demonstrasi dsb dsb dsb…
Ada seorang sahabat saya yang awalnya menggantungkan sepenuhnya biaya kuliah dan biaya hidupnya dengan mengajar. Dia punya murid sampai 7+ orang. Setiap hari selalu ada murid yang dia sambangi. Waktunya habis untuk mengajar privat. Akhirnya, dia jadi tidak bisa tawazun alias tidak bisa seimbang dalam mengelola kehidupannya. Kuliahnya perlahan terbengkalai, organisasi terpaksa dia tinggalkan. Kalau sudah begitu, dia tidak akan bisa menikmati masa mahasiswanya. Untuk itulah saya menyerukan kepada seluruh mahasiswa, BERBISNISLAH!
Berikut ini 6 alasan kenapa mahasiswa harus berbisnis:
Jadi… Mari berbisnis! Gimana caranya?
Baca ini: tips membangun perusahaan
Oct 28 2008
Sesuai dengan postingan univind.blog yang ini: blog.univind.com - rahasia besar bisnis web hosting di Indonesia, disitu saya menjanjikan akan membuat tulisan lanjutan, maka inilah dia tulisan lanjutannya. Sebuah tips untuk menetukan mana usaha web hosting yang profesional dan mana yang non profesional.
Sebelumnya saya ingin tekankan dulu, bahwa baik yang profesional maupun tidak profesional itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangannya sudah sempat saya ulas di postingan yang sebelumnya. Makanya dibaca ya…
Jadi, postingan kali ini hanya untuk memberi tips buat Anda yang ingin menggunakan jasa web hosting profesional supaya tidak tertipu dan malah menggunakan web hosting yang biasa-biasa saja.
Sebenarnya agak sulit untuk membedakan mana web hosting yang profesional dan mana yang bukan. Tips-tips yang ada dibawah ini tidak sepenuhnya akurat. Namun, bisa jadi pedoman untuk menebak mana web hosting yang profesional dan mana yang bukan.
Ini dia tipsnya…
Sekian saja tipsnya, semoga bermanfaat.
Comments Off
Oct 26 2008
Social Bookmarking vs Aggregator. Pada tahu Digg dan Delicious kan? Buat yang belum tahu, itu adalah website social bookmarking di Amerika. Sudah seminggu belakangan, saya berpikir tentang kenapa di Indonesia nggak ada social bookmarking asli Indonesia ya? Pemikiran saya ini “terjawab” dengan postingan mas Amir Karimuddin ini. Ini tulisan lama punya, 30 Juli 2007. Tapi tulisan dan diskusinya tetep relevan untuk saat ini.
Gunakanlah Social Bookmarking Buatan Indonesia!. Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Mas Amir menuliskan beberapa website social bookmark yang memang menyasar pangsa pasar blogger Indonesia. Sayang, beberapa yang ditulis di sana sudah menutup layanannya. Kapan Indonesia punya website Social Bookmark yang mantab seperti Digg dan Delicious?
Comments Off