Menebar sejuta manfaat
Archive for the 'Entrepreneurship' Category
Feb 07 2010

Redefinisi Arti Sukses

“Andaikan dimasa depan nanti kamu jadi orang kaya, punya banyak uang, punya gedung bertingkat, punya segala-galanya. Apakah itu berarti kamu sudah sukses? BELUM TENTU! Kita hanya bisa tahu apakah kita sukses atau tidak di akhirat nanti, bukan di dunia.”

Beberapa minggu lalu saya terhenyak oleh pernyataan tersebut. Sebuah pernyataan yang disampaikan oleh mentor saya. Sebuah pernyataan yang mengingatkan kembali diri saya akan orientasi awal saya dalam berbisnis, yaitu untuk menebar manfaat yang seluas-luasnya ke seluruh penduduk bumi. Bisa dibilang beberapa waktu belakangan ini orientasi saya agak mengabur. Mulai terkikis oleh realitas-realitas dalam dunia usaha. Alhamdulillah saya diingatkan kembali dengan pernyataan tersebut. Makanya saya sangat bersyukur punya peer group yang selalu bisa mengingatkan saya agar tidak silau oleh kerlap-kerlip dunia.

Banyak sekali kita lihat pengusaha-pengusaha yang rela bermain kotor demi mendapatkan sekedar semilyar dua milyar (kayak dikit aje semilyar 2 milyar :p ). Coba saja lihat Anggodo brothers, dia rela mengeluarkan uang sekian banyak untuk menyuap pejabat demi kelancaran bisnisnya. Hal ini merupakan salah satu penyebab masih banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak begitu mengapresiasi profesi sebagai pengusaha. Para pengusaha dipandang sebagai golongan masyarakat elit yang culas. Golongan masyarakat yang bisa berada di puncak atas karena menghisap orang-orang di sekitarnya. Pengusaha-pengusaha seperti itu bisa lahir karena arti sukses dalam benaknya hanyalah uang dan harta dan juga uang serta harta. Tak ubahnya seperti karakter Mister Crab dalam kartun SpongeBob Squarepants yang rela melakukan apa saja demi uang. Terkait hal ini, Ibnu Hajar Rahimahullah pernah berkata:

“Budak dinar adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi. (Bila mendapatkannya), dia menjaganya seolah-olah dia menjadi khadim, pembantu, dan budak.”

Pengusaha dengan tipikal “Budak Dinar” seperti yang disebutkan diatas tadi mungkin saja bisa mendapatkan semua keinginannya di dunia. Dia bisa saja “sukses” di dunia, tapi di akhirat dia pasti jadi orang yang paling melarat. Di dunia mungkin dia jadi orang paling banyak mendapat untung, tapi di akhirat dia adalah orang yang paling merugi.

Untuk itu, buat teman-teman pengusaha semua, marilah kita luruskan niat kita dalam berbisnis. Jangan jadikan uang, harta dan kekayaan sebagai orientasi utamanya. Menjadikan hal itu sebagai orientasi utama tak akan pernah bisa membuat kita benar-benar hidup bahagia dunia akhirat. Kita akan terus terobsesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Lalu seandainya harta tersebut sudah tertumpuk di tangan kita, so what? mau apa lagi? Jadikanlah akhirat sebagai tujuan utama kita. Jadikanlah keridhoan Allah sebagai alasan kenapa kita memilih menjadi pengusaha. Menumpukan orientasi bisnis kita pada akhirat bisa dijamin akan membuat kita menjadi pengusaha yang sangat-sangat tangguh dan pantang menyerah.

So, mari kita redefinisi arti sukses. Sukses sebenarnya bukanlah di dunia melainkan di akhirat kelak!

Mari kita kejar akhirat, dan biarkan dunia mengejar-ngejar kita :)

Jun 18 2009

Cari modal untuk bisnis di bidang teknologi informasi (2)

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya disini. Kali ini saya akan menceritakan apa-apa saja yang disampaikan oleh sang techno venture tersebut kepada saya dalam acara UI Young and Smart Entrepreneur beberapa waktu yang lalu. Nama lengkapnya adalah Elwin Andririanto. Beliau adalah seorang pemilik perusahaan pemodal ventura di bidang teknologi. Ya, sebuah Venture Capital berbasis teknologi. Sesuatu yang sangat langka di Indonesia.

Contoh bisnis di bidang IT yang telah dimodali dan dibantu oleh Mas Elwin ini adalah Batik Fraktal dan Mobee Indonesia. Batik Fraktal merupakan penemuan seorang mahasiswa ITB yang memungkinkan kita untuk memunculkan pola-pola batik dari berbagai macam corak (batik jawa, batik bali, ulos, batik cina dsb) secara otomatis melalui komputer. Sementara Mobee merupakan perusahaan pembuat produk web renderer untuk perangkat mobile.

Mas Elwin ini adalah investor yang berbeda dengan investor-investor kebanyakan yang ada di Indonesia. Tidak seperti kebanyakan investor Indonesia yang ingin segera memetik hasil, Mas Elwin tahu betul bahwa bisnis di bidang IT itu butuh waktu penanaman yang lama sebelum bisa memetik hasilnya. Ini karena mas Elwin dulunya pernah bekerja di sebuah perusahaan produsen chip di Amerika. Semasa bekerja disana beliau sudah mengenal betul bagaimana berlangsungnya skema IT entrepreneurship di Amerika. Sebuah skema yang memungkinkan lahirnya begitu banyak perusahaan-perusahaan besar di bidang IT seperti Google, Sun, Microsoft dan lain sebagainya.

Pada saat acara kemarin mas Elwin menceritakan panjang lebar skema alur dana modal dari berbagai sumber sehingga bisa terkumpul ke Venture Capital yang kemudian akan didatangi oleh para calon entrepreneur kreatif yang ingin mewujudkan ide kreatifnya menjadi sebuah bisnis. Skema itulah yang tidak terjadi di Indonesia. Skema yang memang tampaknya masih sangat sulit dicapai dalam waktu dekat. Saya sendiri belum sepenuhnya paham dengan skema yang dijelaskan mas Elwin. Mas Elwin menceritakan mulai dari suku bunga, investment banking, family fund dan istilah-istilah lainnya yang bagi saya udah cukup njlimet. Walhasil, mohon maaf saya gak bisa menceritakan secara detail persis apa yang beliau ceritakan saat itu :p

Eniwei, kalau teman-teman punya ide bisnis di bidang IT. Kalau teman-teman membuat sebuah penemuan baru dibidang IT dan ingin menjadikannya sebuah bisnis. Mungkin bisa menghubungi mas Elwin ini untuk mendapatkan bantuan pemodalan dan pembimbingan. Mohon maaf saya tidak bisa memberikan informasi kontak mas Elwin secara terbuka di blog ini. Kalau teman-teman memang tertarik, silahkan japri saya saja elwat email atau YM atau handphone atau lewat manapun lah terserah.

Sukses selalu

Jun 10 2009

Cari modal untuk bisnis di bidang teknologi informasi?

Dulu saya pernah membuat tulisan berjudul Membangun Silicon Valley Indonesia. Disana saya menyampaikan bahwa ada dua faktor yang diperlukan untuk memunculkan tempat yang se-produktif Silicon Valley, yaitu kreativitas dan entrepreneurship. Urusan kreativitas bisa dibilang sebenarnya sudah dimiliki oleh bangsa kita. Yang masih kurang adalah entrepreneurship alias kewirausahaan.

Faktor entrepreneurship ini biasanya terhambat oleh urusan modal. Sulit bagi pejuang-pejuang IT di Indonesia yang punya jiwa kreatif untuk bisa mengimplementasikan hasil karyanya menjadi sebuah bisnis yang akan mendatangkan uang untuk negara kita tercinta ini. Di Silicon Valley sana, tak terhitung banyaknya Venture Capital (semacam perusahaan pemodal sekaligus inkubator bisnis) yang bersedia menanggung resiko besar untuk para mahasiswa-mahasiswa Amerika yang ingin menjajal ide kreatifnya untuk dibisniskan.

Di Indonesia, sebenarnya sudah ada dan bahkan cukup banyak pihak-pihak yang bersedia memberikan modal untuk para pengusaha. Tapi sayangnya, sedikit yang mau atau mengerti skema investasi di bidang IT. Berbisnis di bidang teknologi informasi ini butuh waktu yang lama sebelum akhirnya bisa memetik hasilnya. Lihat saja Sequioa Capital, salah satu Venture Capital pertama Google, yang bersedia memberikan sekian banyak modal kepada Google tanpa tahu persis bagaimana nantinya bisa mengkomersialkan Google. Waktu itu Google sama sekali belum berbentuk perusahaan yang punya keuntungan besar. Pada masa-masa awalnya, Google hanyalah sebuah halaman putih di rimba belantara web yang dilengkapi dengan sebuah textbox plus tombol bertuliskan search. Tidak lebih dari itu. Tak ada uang yang mengalir, tak ada prospek bisnis yang menjanjikan. Tapi kenapa Sequioa Capital tetap nekad memberikan dana untuk Google? Karena mereka tahu, besarnya prospek yang dimiliki Google. Mereka tahu bahwa akan banyak pengguna internet yang menggunakan Google. Jumlah pengguna yang massif inilah yang kemudian dilihat sebagai prospek. Bisa dibilang, prinsip para pemodal-pemodal IT di amerika itu: “Selama prospek penggunanya besar, Danai saja dulu, masalah uang pikirin nanti…“.

Nah… kebetulan saya (pada akhirnya) menemukan Techno Venture Capital aseli Indonesia. Pada saat acara UI Young and Smart Entrepreneur kemarin saya bertemu dengan salah satu (atau mungkin satu-satunya) pemilik Techno Venture Capital di Indonesia. Beliau mengerti betul bagaimana skema wirausaha IT di Amerika karena memang dulu beliau pernah bekerja disana. Dengan begitu, beliau tidak seperti investor-investor lain di Indonesia yang ingin segera memetik hasil. Beliau paham bahwa bisnis di bidang IT itu membutuhkan waktu yang lama untuk memetik hasilnya. Pada postingan selanjutnya nanti saya akan mencoba menceritakan lebih detail tentang apa yang beliau ceritakan ke saya pada acara tersebut.

Dijamin maknyuss ;-)

May 28 2009

Resep Sukses dari Pak Chairul Tandjung

Melanjutkan postingan saya yang berjudul Inspirasi Entrepreneurship dari Pak Chairul Tandjung. Saya ingin menyampaikan resep sukses yang disampaikan pak Chairul Tandjung saat menjadi pengisi seminar pembukaan UI Smart and Young Entrepreneur. Pada seminar itu, pak chairul tandjung memberikan 4 resep suksesnya. Ini dia:

Mulai dengan niat yang baik

Kalau kita ingin berbisnis, mulailah dengan niat yang baik. Niatkanlah usaha yang kita jalankan itu untuk memberi manfaat paling tidak untuk diri kita sendiri. Kalau sudah begitu berilah manfaat untuk keluarga kita. Dan yang jauh lebih baik lagi, niatkanlah bisnis kita untuk memberi manfaat pada orang lain.

Kerja keras

Pak Chairul tandjung bilang bahwa dulu waktu masih bujangan, beliau kerja 18 jam/hari. Wow… 8-O Saya cukup kaget mendengar hal itu. Itu berarti waktu istirahat pak Chairul dalam sehari hanya 3 jam. Setelah berkeluarga, barulah beliau mengurangi jam kerjanya menjadi 14 jam/hari (Tetep aja ya lebih banyak dari kebanyakan kita). Itu menunjukkan betapa kerasnya usaha yang ditempuh pak Chairul menuju kesuksesan. Memang begitulah jalan kesuksesan. Jalan itu membutuhkan pengorbanan yang besar dari kita.

Kerja cerdas

Kerja keras saja tentu tidak cukup. Coba lihat tukang gorengan atau tukang sayur atau tukang roti atau siapapun yang menjalankan usahanya sendiri di dekat rumah kita. Banyak pengusaha-pengusaha itu yang tidak pernah mengalami kemajuan dalam usahanya. Usahanya mandek di satu tempat, tidak pernah berkembang. Pengusaha-pengusaha informal itu biasanya adalah seorang pekerja keras, tapi mereka belum bekerja cerdas. Akhirnya usahany tidak berkembang. Pak Chairul Tandjung bilang bahwa bekerja keras saja tidak cukup. Kerja keras itu harus diiringi dengan kerja cerdas. Pak Chairul Tandjung memberikan contoh usahanya bekerja cerdas dengan salah satu usahanya sebagai penjual es krim. Dia membeli perusahaan es krim bernama Robin Baskin (Kalo gak salah). Usaha es krim itu sebelumnya berupa restoran khusus es krim. Positioning sebagai restoran es krim itu dinilai Pak Chairul sebagai strategi yang salah, karena duduk di restoran hanya untuk makan es krim bukanlah kultur orang Indonesia. Lalu Pak Chairul merubah total strategi penjualannya. Bukan lagi restoran melainkan kedai kecil. Dia menaruh kedai kecil itu di mal. Dia tidak menaruh 1 kedai untuk setiap mal melainkan 7 sampai 8 kedai. Kalau seseorang datang melewati salah satu kedai dan dia merasa tergiur dengan es krim itu, ada kemungkinan dia menunda dulu untuk membelinya. “Nanti ah… jalan-jalan dulu“. Nah nanti ketika sambil jalan-jalan ternyata ketemu lagi dengan kedai tersebut. Harapannya orang yang tadinya memang sudah tergiur akhirnya akan membeli. Itulah strategi dagang yang cerdas.

Hasil serahkan sama Yang Di Atas

Inilah resep terakhir yang diberikan Pak Chairul. Apabila kita sudah mulai dengan niat yang baik, lalu kita sudah bekerja sedemikian keras dan tak lupa juga bekerja cerdas, namun ternyata hasilnya belum juga memuaskan. Maka itulah takdir yang diberikan oleh Allah. Tak perlu disesali, tak perlu kecewa. Apapun hasil yang diberikan oleh Allah, terima saja dan syukuri. Yakini saja bahwa memang itulah yang terbaik untuk kita.

Okeh… segitu aja, semoga bermanfaat.

May 23 2009

usaha tanpa modal uang

Banyak orang yang ingin memulai usaha namun terhambat oleh modal uang. Mereka merasa tidak punya cukup modal (uang) untuk memulai usahanya. Padahal, uang bukanlah modal terpenting dalam berwirausaha. Banyak orang yang bisa memulai usaha tanpa modal uang sama sekali. Mereka mengandalkan kredibilitas dan integritas diri mereka sebagai modal utama mereka dalam berbisnis. Lalu bagaimana caranya bisa berbisnis tanpa modal uang? Berikut diantaranya:

Jadi penyalur

Kita bisa menjadi supplier produk tertentu kepada pihak tertentu tanpa modal uang. Dalam hal ini kita menjadi penengah antara pihak yang membutuhkan dengan pihak yang memiliki barang. Misal, pada sebuah tempat fotokopi, kita tahu mereka pasti membutuhkan supply kertas. Kebetulan kita tahu atau mengenal atau memiliki jaringan ke produsen kertas yang murah. Pada saat itulah kita bisa memanfaatkan posisi ini. Pertama, sampaikan kepada sang produsen bahwa kita berniat menjadi penyalur kertasnya. Minta sample kertas darinya. Kemudian datangi tempat fotokopi tadi, sodorkan kertas tersebut dan berikan penawaran sebaik mungkin. Buat mereka tertarik. Jika mereka tertarik, saat itu kita sudah bisa memulai usaha kita. Jadilah penengah dan ambil margin keuntungan dari setiap transaksi. Dan kita sudah memulai bisnis tanpa modal uang.Cara ini merupakan cara yang ditempuh Aristotle Onassis dalam mengawali bisnisnya.

Konsinyasi

Jika kita punya tempat, misalnya di rumah. Kita bisa memanfaatkan tempat tersebut untuk berbisnis konsinyasi. Ini adalah cara yang ditempuh kakak saya di rumah. Kebetulan rumah saya berada di pinggir jalan dan dekat dengan pasar Cipadu pusat tekstil Asia Tenggara (lebay :p ). Kakak saya berjualan bantal dan bed cover di rumah tanpa modal uang sama sekali. Dia hanya menawarkan kepada produsen bed cover yang dia kenal untuk menaruh barangnya di toko saya. Kakak saya itu hanya membantu menjualkan produk orang lain dan itu dia mulai tanpa modal uang. Saat ini usahanya iu bisa dibilang sudah cukup berkembang. Dengan sarana multiply di fia05.multiply.com, banyak orang dari luar jawa bahkan luar negeri yang memesan bantal dan/atau bed cover darinya.

Cari investor

Ini merupakan cara yang paling umum. Ini juga cara yang ditempuh oleh sang manusia terhebat sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW. Kala itu Nabi Muhammad memulai bisnisnya tanpa modal uang. Beliau hanya mengelola dana dari investor yang tidak lain tidak bukan adalah Siti Khadijah RA. Dengan integritas super tinggi, akhirnya beliau berhasil mengelola bisnisnya dengan gemilang dan mampu memutar dana investasi yang diberikan padanya berkali-kali lipat.

Patungan

Cara ini merupakan cara yang saya tempuh dulu waktu membangun perusahaan saya, Univind Web Development Company. Waktu memulai usaha saya itu, saya hampir tidak mengeluarkan uang sama sekali. Waktu itu malah justru saya baru kehilangan uang punya bapak saya yang harusnya dipakai untuk bayar kuliah. Kala itu, saya mengajak beberapa teman yang bisa diajak berbisnis. Akhirnya saya mendapatkan 5 manusia-manusia super yang hingga sekarang tetap menjadi rekan bisnis sekaligus sahabat-sahabat terdekat saya. Mereka adalah Yans, EkoIlman, Ikhlas dan Sipur. Untuk memulai bisnis itu, kami memerlukan dana untuk pembuatan kartu nama dan website. Untuk itu kami patungan masing-masing. Dan karena waktu itu saya belum punya uang, saya patungannya ngutang :p. Dan saya berhasil memulai bisnis tanpa modal uang.

Paling tidak itu empat cara berbisnis tanpa modal uang yang kepikiran di otak saya. Sebenarnya ada banyak lagi caranya. Dulu saya pernah ikut seminar bisnis dan disana disebutkan banyak sekali cara memulai usaha tanpa modal uang. Mungkin ada di antara Anda yang ingin menambahkan, sok atuh dipersilahkan ditulis di bagian komentar.

May 19 2009

Inspirasi Entrepreneurship dari Pak Chairul Tandjung

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar entrepreneur yang sangat keren. Seminar itu merupakan acara pembuka dari rangkaian program UI young and smart entrepreneur. Disana, saya mendapatkan banyak sekali inspirasi dari pembicara-pembicaranya yang hebat-hebat. Saya lupa daftar seluruh pembicara-pembicaranya. Catatannya ketinggalan di rumah. Jadi sekarang saya mau sedikit membagi apa yang saya dapatkan dari seminar itu. Pada postingan kali ini saya mau berbagi sharing yang saya dapat dari Pak Chairul Tandjung pemilik Para Group yang punya TransTV, Trans7, Bank Mega dan lain lain.

Pak Chairul Tandjung, Beliau adalah satu-satunya pengusaha yang pernah saya ikuti seminarnya yang sudah membangun bisnisnya mulai dari bisnis mikro sampai bisa menjadi level korporat. Pengusaha-pengusaha lain yang sering mengisi seminar biasanya belum sampai tingkatan korporat (Cuma tetep aja udah sukses). Satu hal yang tidak saya sangka-sangka adalah bahwa Pak Chairul Tandjung ini sama sekali tidak punya background bisnis. Dia kuliah di jurusan yang jauh sekali dari yang namanya bisnis-bisnisan. Beliau kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Pak Chairul Tandjung memulai kiprah usahanya sejak pertama kuliah. Waktu itu, beliau cuma bisnis fotokopian aja. Beliau bilang bahwa beliau dulu adalah ketua angkatan. Suatu saat di suatu mata kuliah di jurusannya, ada yang mewajibkan mahasiswa untuk memiliki diklat yang sudah diberikan dosen. Mahasiswa harus mem-fotokopinya sendiri. Kala itu (tahun 81-an kalau tidak salah), harga fotokopian di sekitar FKG UI adalah 500 rupiah. Kemudian beliau bilang bahwa beliau kenal seorang teman yang punya usaha percetakan dan mau memberi jasa fotokopi itu hanya dengan 150 rupiah. Walhasil, Pak Chairul berpikir ini adalah peluang bisnis. Maka, dia tawarkan jasa fotokopi itu ke teman-temannya seharga 300 rupiah. Tentu saja semua temannya tertarik, akhirnya 100 orang temannya itu menggunakan jasa fotokopinya. Dan itulah 15.000 (profit Rp. 150 x 100 orang) pertama yang dia dapatkan dari hasil usahanya sendiri. Pak Chairul bahwa uang pertama itu sangat penting, jauh lebih penting daripada 1 milyar kedua. Karena apa? karena uang pertama yang kita dapatkan dari hasil usaha kita itu akan menumbuhkan kepercayaan diri yang besar pada kita untuk melanjutkan bisnis kita.

Usahanya itu terus berlanjut sampai dia bisa mengancam melobi pihak dekanat kampusnya supaya bisa memberikan ruang kosong dibawah tangga di kampusnya sebagai tempat untuknya membuka usaha fotokopi. Jadilah pak chairul tandjung itu sebagai orang pertama yang punya usaha fotokopi di bawah tangga di kampus UI. Kini, sudah banyak tempat fotokopi semacam itu di UI. Dari sini kita bisa melihat bagaimana seharusnya kita senantiasa mampu mencari titik-titik peluang usaha dan segera memanfaatkannya.

Pada tahun ke empat beliau kuliah, akhirnya beliau bisa punya satu toko alat-alat kedokteran sendiri di daerah Senen. Namun, toko tersebut gagal merugi karena tempatnya itu sering jadi markas para aktivis mahasiswa disana. Beliau bilang teman-teman sesama aktivisnya itu gak tau diri juga (dengan nada bencana tentunya ;-) ) saat numpang di toko miliknya sampai-sampai toko itu bankrut dan harus ditutup. Pak Chairul menceritakan itu dengan sangat santai. Cara beliau bercerita menunjukkan pada kita bahwa kegagalan adalah hal yang sangat biasa dalam berwirausaha. Tak perlulah berlama-lama frustasi akan kegagalan-kegagalan itu. Pak Chairul juga tak lantas menyalahkan teman-temannya atas kebankrutan usahanya. Beliau hanya terus bangkit dan bergerak lagi.

Hmm… sebenarnya masih banyak yang ingin saya share dari apa yang disampaikan pak Chairul Tandjung. Tapi sepertinya postingan ini sudah kepanjangan. Jadi tunggu saja lanjutannya pada postingan selanjutnya ya… ;-)

May 10 2009

Usaha modal dengkul adalah MITOS!

Saat ini sedang ada semacam acara kontes sekaligus pelatihan entrepreneurship yang diadakan oleh Universitas Indonesia. Saya termasuk salah satu pesertanya. Acara itu diberi nama: UI Young and Smart Entrepreneur. Sampai sini masih belum ada masalah. Slogan acara ini adalah: Peluang wirausaha modal dengkul. Nah… Ini dia yang bermasalah. Slogan itu terlalu lebay :p

Kalimat dengan rangkaian kata-kata seperti ini memang banyak sekali meliputi buku-buku, seminar, website atau apapun itu yang berkaitan dengan entrepreneurship. Kalimat-kalimat bombastis bin fantastis itu dengan jumlahnya yang banyak dan beredar dimana-mana telah berhasil menutupi hakikat sebenarnya dari jalan entrepreneurship. Banyak yang akhirnya terpesona oleh semboyan-semboyan kulit tersebut yang memang sengaja dibuat cantik dan menawan. Akhirnya mereka terjebak dengan cara-cara bisnis yang sembrono dan tidak benar-benar terarah.

Melalui tulisan ini ingin saya tegaskan bahwa di dunia ini tidak pernah ada satupun bisnis yang hanya bermodalkan DENGKUL. Dengkul disini tentu saja bukan dalam artian sebenarnya. Gak mungkin juga kan cuma pake dengkul bisa bisnis :p. Kalimat itu menunjukkan seolah-olah bisnis itu tidak membutuhkan modal apapun sampai-sampai dengkul sekalipun bisa dijadikan modal.

Kenyataannya, sama sekali tidak begitu! Berbisnis adalah jalan yang penuh halangan dan rintangan. Ibaratnya Sun Go Kong yang lagi mencari kitab suci di barat :p. Untuk terjun sebagai pengusaha, seseorang harus memiliki banyak MODAL. Namun, pengertian modal disini harus diubah. Banyak orang yang berpikir bahwa modal itu berarti UANG. Pemikiran seperti SALAH BESAR. Modal terbesar para pengusaha adalah KREDIBILITAS dan INTEGRITAS pribadinya. Mereka mengerahkan segenap potensi yang mereka miliki untuk mulai menjalankan bisnis. Dan tentu saja tidak hanya bermodalkan dengkul.

Jadi, buang jauh pemikiran bahwa usaha bisa dilakukan dengan modal dengkul. Jangan mudah percaya dengan ribuan slogan-slogan cantik yang menghiasi berbagai macam momen dan event-event entrepreneurship. Sadari betul-betul bahwa bisnis membutuhkan modal yang besar, dan modal itu bukan uang, melainkan Integritas dan kredibilitas diri. Untuk itu, bangunlah integritas dan kredibilitas diri dari sekarang. Berperilakulah dengan akhlak yang baik. Pada saat itu, barulah kita bisa menjadi entrepreneur yang Insya Allah sukses. Amiiin :)

Sekian saja. Semoga bermanfaat.

Apr 29 2009

Jangan beli buku entrepreneurship best seller

Sebelum saya diprotes oleh penulis, penerbit dan penjual buku-buku entrepreneurship best seller, izinkan saya mengklarifikasi terlebih dahulu. Tulisan ini saya tujukan khusus untuk mereka yang sudah menjalankan usahanya. Bukan untuk mereka yang masih mencari-cari motivasi untuk berwirausaha.

Kalau Anda memang sudah berhasil menembus halangan pertama untuk pindah kuadran sebagai entrepreneur, halangan untuk segera memulai usaha, maka ikutilah saran saya: Jangan beli buku entrepreneurship best seller! Kenapa begitu? Karena hampir semua buku-buku tersebut tak akan membawa ilmu baru yang berguna untuk Anda dalam menjalankan bisnis. Ya, mayoritas buku-buku entrepreneurship yang mampu melesat menjadi buku best seller adalah buku-buku yang hanya berisi motivasi-motivasi entrepreneurship belaka. Tidak salah koq, sama sekali tidak salah. Buku-buku seperti itu biar bagaimanapun memang tetap diperlukan. Diluar sana ada banyak sekali orang yang perlu dimotivasi untuk terjun ke dunia penuh ranjau ini, entrepreneurship.

Jumlah orang yang bisa menembus halangan pertama untuk pindah kuadran itu memang sedikit. Orang-orang yang sedikit ini lebih membutuhkan ilmu manajemen bisnis ketimbang motivasi entrepreneurship. Oleh karena itu, buku-buku terkait pengelolaan bisnis memang sedikit dan memang tak akan pernah bisa menjadi buku best seller.

Kalau Anda sudah memulai usaha Anda, maka jangan hampiri rak-rak buku best seller yang biasanya diletakkan ditempat strategis di toko buku. Hampirilah pojok-pojok toko buku yang sepi dimana disana terpampang buku-buku bertema manajemen bisnis. Buku-buku itu memang pasti membosankan, tidak segemerlap buku-buku motivasi yang penuh luapan-luapan gairah dan semangat. Namun, bukan luapan gairah itu yang Anda butuhkan saat Anda sudah memulai usaha Anda. Yang lebih Anda butuhkan adalah ilmu. Bagaimana caranya mengelola dan mengembangkan bisnis atau usaha yang sudah Anda jalani dengan baik.

Tapi sesekali bolehlah baca buku-buku motivasi seperti itu. Lumayan buat ngejaga ruhiyah bisnis :p

Apr 22 2009

Cara menghadapi klien yang tidak profesional

Dalam dunia bisnis, seringkali kita dituntut keras untuk berlaku profesional. Dalam dunia bisnis IT, biasanya yang berlaku tidak profesional adalah sang pemberi layanan alias sang pengusahanya itu sendiri. Ada saja berbagai macam bentuk ketidakprofesionalan yang terjadi. Contoh yang paling umum adalah keterlambatan penyelesaian proyek. Dalam sebuah proyek IT, hampir bisa dibilang lumrah kalau sebuah proyek tidak selesai tepat pada waktunya. Contoh lainnya adalah mengenai komunikasi. Pada tahap awal sebuah proyek IT, dibutuhkan komunikasi yang sangat intens antara pengembang (para jagoan-jagoan IT) dengan klien. Di Indonesia, proses komunikasi awal ini biasa dilakukan seadanya. Ini menunjukkan sebuah ketidakprofesionalan. Padahal fase ini merupakan fase yang sangat penting dalam pengembangan sebuah produk IT.

Tapi diluar itu semua, ada juga pengembang-pengembang IT yang profesionalitasnya terjaga. Mereka mampu menyelesaikan proyek tepat pada waktunya. Mereka mampu berkomunikasi dengan baik kepada para klien. Namun, apa jadinya kalau yang terjadi justru kliennya itu sendiri yang tidak profesional?

  • Sang pengembang berhasil menyelesaikan proyek tepat waktu. Tapi saat mau mengimplementasikan ke klien, ada saja masalah dan hambatan dari si klien yang membuat akhirnya waktu proyek jadi molor juga.
  • Sang pengembang minta waktu untuk pertemuan dengan klien terkait dengan requirement tambahan yang lebih jelas. Tapi si klien susah diajak meeting. Tapi si
  • Si klien tak henti-hentinya meminta requirement-requirement tambahan pada produk IT pesanannya padahal sudah ada kesepakatan baku yang dibuat diawal mengenai requirement dari sistem. Tapi si klien gak mau tahu. “Poko’e Nambah!”, kata klien :)

Itu dia beberapa contoh perilaku klien yang tidak profesional. Trus, bagaimana cara menghadapinya? saya menyarankan lakukan 5 hal berikut:

  1. sabar
  2. Sabar
  3. SaBaR
  4. SABAR :D
  5. Tekankan kembali kepada si klien mengenai perjanjian-perjanjian yang sudah dilakukan di awal.

Yup! 4 saran pertama cuma satu kata (eh salah ding… 4 kata :) ): SABAR! Sabar dulu yang paling utama. Mungkin kita akan merasa jengkel dengan kelakuan klien yang semakin lama semakin nyebelin dengan ketidakprofesionalannya itu. Tapi yah… mau bagaimana lagi? Terima saja dulu, layani saja dulu klien kita itu dengan sabar. Berikan service yang excellent buat sang klien. Dengan mempertahankan profesionalitas kita sambil menahan kesabaran kita menghadapi mereka, penilaian mereka pada kita akan sangat positif. Ini akan berimbas langsung pada hubungan jangka panjang.

Kalau sudah sabar level 4 tapi sang klien masih juga belum berubah barulah masuk ke cara kelima. Ingatkan atau bahkan tegaskan lagi kepada sang klien mengenai perjanjian-perjanjian yang sudah disepakati diawal. Kalau perlu buat perjanjian tambahan (addendum) untuk semakin menguatkan ikatan profesionalitas antara kita dengan klien.

Salam profesional (beuuhh….)


↑ Back to top