Menebar sejuta manfaat
Apr 22 2009

Cara menghadapi klien yang tidak profesional

Dalam dunia bisnis, seringkali kita dituntut keras untuk berlaku profesional. Dalam dunia bisnis IT, biasanya yang berlaku tidak profesional adalah sang pemberi layanan alias sang pengusahanya itu sendiri. Ada saja berbagai macam bentuk ketidakprofesionalan yang terjadi. Contoh yang paling umum adalah keterlambatan penyelesaian proyek. Dalam sebuah proyek IT, hampir bisa dibilang lumrah kalau sebuah proyek tidak selesai tepat pada waktunya. Contoh lainnya adalah mengenai komunikasi. Pada tahap awal sebuah proyek IT, dibutuhkan komunikasi yang sangat intens antara pengembang (para jagoan-jagoan IT) dengan klien. Di Indonesia, proses komunikasi awal ini biasa dilakukan seadanya. Ini menunjukkan sebuah ketidakprofesionalan. Padahal fase ini merupakan fase yang sangat penting dalam pengembangan sebuah produk IT.

Tapi diluar itu semua, ada juga pengembang-pengembang IT yang profesionalitasnya terjaga. Mereka mampu menyelesaikan proyek tepat pada waktunya. Mereka mampu berkomunikasi dengan baik kepada para klien. Namun, apa jadinya kalau yang terjadi justru kliennya itu sendiri yang tidak profesional?

  • Sang pengembang berhasil menyelesaikan proyek tepat waktu. Tapi saat mau mengimplementasikan ke klien, ada saja masalah dan hambatan dari si klien yang membuat akhirnya waktu proyek jadi molor juga.
  • Sang pengembang minta waktu untuk pertemuan dengan klien terkait dengan requirement tambahan yang lebih jelas. Tapi si klien susah diajak meeting. Tapi si
  • Si klien tak henti-hentinya meminta requirement-requirement tambahan pada produk IT pesanannya padahal sudah ada kesepakatan baku yang dibuat diawal mengenai requirement dari sistem. Tapi si klien gak mau tahu. “Poko’e Nambah!”, kata klien :)

Itu dia beberapa contoh perilaku klien yang tidak profesional. Trus, bagaimana cara menghadapinya? saya menyarankan lakukan 5 hal berikut:

  1. sabar
  2. Sabar
  3. SaBaR
  4. SABAR :D
  5. Tekankan kembali kepada si klien mengenai perjanjian-perjanjian yang sudah dilakukan di awal.

Yup! 4 saran pertama cuma satu kata (eh salah ding… 4 kata :) ): SABAR! Sabar dulu yang paling utama. Mungkin kita akan merasa jengkel dengan kelakuan klien yang semakin lama semakin nyebelin dengan ketidakprofesionalannya itu. Tapi yah… mau bagaimana lagi? Terima saja dulu, layani saja dulu klien kita itu dengan sabar. Berikan service yang excellent buat sang klien. Dengan mempertahankan profesionalitas kita sambil menahan kesabaran kita menghadapi mereka, penilaian mereka pada kita akan sangat positif. Ini akan berimbas langsung pada hubungan jangka panjang.

Kalau sudah sabar level 4 tapi sang klien masih juga belum berubah barulah masuk ke cara kelima. Ingatkan atau bahkan tegaskan lagi kepada sang klien mengenai perjanjian-perjanjian yang sudah disepakati diawal. Kalau perlu buat perjanjian tambahan (addendum) untuk semakin menguatkan ikatan profesionalitas antara kita dengan klien.

Salam profesional (beuuhh….)

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


↑ Back to top