Aug 25 2008
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat email forward-an dari milis yang menceritakan tentang betapa bersahajanya kehidupan sang pemimpi Iran, Ahmadinejad. Mungkin Anda juga sudah pernah melihat email tersebut. Jadi saya tidak akan menjelaskan bagaimana cara hidup bersahajanya sang Ahmdinejad. Dalam email tersebut sang forwarder menambahkan dengan kalimat: “Semoga kita bisa mendapat pemimpin yang seperti ini nanti”.
Saya melihat banyak sekali orang yang berharap, dan sayangnya hanya berharap, akan mendapatkan pemimpin yang baik. Pemimpin yang sederhana, jujur, amanah, profesional dan segala macam kebaikan lainnya. Tapi saya juga banyak melihat mereka yang menyampaikan harapan tersebut ternyata dirinya sendiri termasuk orang yang tidak sederhana, tidak jujur, tidak amanah dsb. Banyak dari mereka yang ingin mendapatkan pemimpin yang sempurna sementara mereka sendiri seolah tak ingin berusaha menyempurnakan dirinya sendiri.
Itulah yang ingin saya angkat kali ini. Banyak dari kita yang bisanya hanya terus merongrong pemimpin kita jika dia melakukan kesalahan, sekecil apapun kesalahan itu. Lalu saat kita merasa frustasi dengan pemimpin tersebut, kita mulai berharap lagi, dan sayangnya HANYA berharap, suatu saat nanti kita akan medapatkan pemimpin yang lebih baik dari pemimpin yang sekarang. Paradigma seperti itu sebenarnya tidak salah. Tentu wajar bagi kita kalau kita ingin mendapatkan pemimpin yang baik. Wajar kalau kita ingin suapay kita dipipin dengan baik. Tapi menjadi tidak wajar kalau kita hanya bisa meminta dan berharap sementara kita sendiri sama sekali tak berusaha untuk tidak meminta dari orang lain dan berharap akan diri kita sendiri.
Sadarilah, negeri kita ini tidak cuma butuh pemimpin yang baik tapi juga butuh RAKYAT yang baik. Sehebat apapun pemimpin Indonesia kelak, tapi jika 200 juta warganya berakhlak buruk, maka negeri ini dijamin tetap tidak akan bisa maju. Memang betul jika dikatakan bahwa pemimpin yang baik akan mampu menghantarkan seluruh rakyatnya supaya menjadi baik. Tapi bukan itu yang ingin saya tekankan disini. Yang ingin saya tekankan adalah: Kalau Anda ingin Indonesia menjadi negeri yang kokoh, maka perkokohlah juga diri Anda sendiri.
Jangan cuma mengeluh dengan buruknya kondisi Indonesia saat ini. Jangan cuma merungut dengan kinerja pemimpin yang buruk. Indonesia tidak butuh 1 orang hebat untuk dijadikan pemimpin. Indonesia butuh ribuan bahkan jutaan orang hebat untuk jadi pemimpin di semua lininya masing-masing. Bahkan Indonesia butuh seluruh rakyatnya menjadi hebat, cerdas, berkepribadian kuat, serta dekat dengan Allah supaya bisa menjadi pemimpin. Paling tidak pemimpin bagi dirinya sendiri.
Possibly Related posts:
There are 6 Responses to this post, want to join?
sependapat…..sebagai pengikut seharusnya tidak hanya mengeluh…dan menuntut banyak pada pemimpinnya…..kita harus bertanya pada diri sendiri apa yang terbaik bisa dilakukan buat bangsa ini…..pemimpin yang baik sangat ditentukan oleh pengikutnya yang baik pula…..
betul itu
Setuju…. masyarakat kita (mungkin kita sendiri) sering menyalahkan pemimpin, padahal mungkin diri kita lah salah satu faktor sumber masalah yang ada…
Mungkin contoh yang bagus kayak pasukannya Al Fatih, adanya sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya jundi
Mantab nih tulisan.
Cara paling lambat melihat kualitas pemimpin adalah dengan cara melihat rakyatnya.
Ada kalimat menarik dari Jendral Tzun Zu (yang saya edit dikit):
Kalau sang Jendral bilang “berharap”, ayo kita ganti dengan kata “berusaha”!
Backpack ke Bali, yuk maen ke Ubud
Kata iklan, mending ke Jogja
Ibadah tak cuma sholat dan sujud
Tapi juga gerakan tuk MERDEKA
@faruk: pasukan al fatih tuh yang mana ya??
@agung firmansyah: yap, betul. daripada hanya terus mengaharapkan orang lain, mending kita perbaiki dulu diri kita. tul gak?
Leave A Reply Here