Archive for July, 2008

Jul 01 2008

Kemarin saya dan teman-teman maestromuda bersama pak valentino pergi bertandang ke rumah Bob Sadino di daerah Lebak Bulus. Barangkali ada yang belum kenal, Bob Sadino adalah salah seorang pengusaha sukses Indonesia yang punya ciri khas selalu tampil “sexy” dengan memakai celana pendek kemana-mana (:mrgreen: Peace Om Bob). Di umurnya yang mencapai 75 tahun itu om Bob sudah sedemikian sukses. Waktu saya pertama datang ke rumahnya aja sudah keliatan tuh suksesnya. Mobil-mobil mewah berbagai macam merek berjejer dengan nomor plat yang semuanya sama, yaitu 2121. Nomor yang sama juga dengan nomor rumahnya. Entah apa maksud nomor tersebut. Waktu ditanyakan ke om bob apa sih arti nomor tersebut, dia cuma bilang “nah itu dia… saya seneng aja biar banyak yang nanya…”. ?????????????????????? gitu deh… klo orang udah sukses, eksentrik :) Selain itu juga halaman belakang rumah beliau itu sangat-sangat luas, sampai ada lapangan berkudanya segala. Benar-benar rumah yang mewah deh pokoknya.

Saya sendiri datang ke pertemuan tersebut agak telat, yang jelas saat saya datang Om Bob langsung bilang seperti ini “hmmm… seharusnya saya bangga sama kalian, tapi setelah mendengar ucapan-ucapan kalian semua saya jadi kecewa. Hilang kebanggaan saya!”. Kita-kita jadi pada bingung. lalu Om Bob melanjutkan perkataannya, “Kalian semua itu terlalu sulit mikir! Kalian terlalu banyak mengeluarkan alasan-alasan akademis yang semuanya cuma menghambat kalian dalam berbisnis”. Kira-kira seperti itu ucapan beliau (redaksi pastinya sih saya lupa, tapi inti pembicaraannya seperti itu).

Kemudain selanjutnya beliau meminta pembantunya untuk membawa flip chart plus spidol. Saat peralatan sudah datang, beliau mulai menggambar-gambar diagram sambil terus menjelaskan diagram-diagram tersebut. Beliau menggambar 4 kuadran. Kuadran pertama yaitu kuadran akademis. Dia mengatakan bahwa inilah tempat kami semua bersemayam dan merasa nyaman dalam lingkup teoritis ini. Pada kuadran ini kita hanya sekdar TAU. Bahkan beliau menambahkan lebih tepatnya adalah SOK tau!! Kemudian selanjutnya dia menjelaskan kuadran selanjutnya, yang beliau sebut sebagai kuadran jalanan. Kuadran ini kata dia adalah kuadrana yang palingt berdarah-darah, kita harus kuat bertahan dalam kuadran ini 20-40 tahun dalam masa perjuangan sebelum kita bisa mencapai kesuksesan dan melangkah ke kuadran selanjutnya. Pada kuadran ini kita sudah masuk ke tataran BISA. Kuadran selanjutnya adalah kuadran kredibilitas, profesionalisme, responsibility. Pada kuadran ini kita sudah TERAMPIL. Kalau pada kuadran ini kita sudah mampu menggunakan keterampilan kita untuk membentuk kredibilitas, barulah kita bisa lanjut ke kuadran selanjutnya yaitu kuadran entrepreneur / profesional.

Penjelasan dari beliau ternyata sangat apik, saya tidak menyangka. Soalnya saya pikir sebelumnya Om Bob ini benar-benar “orang jalanan” yang gak ngerti bahasa-bahasa teoritis seperti itu. Tapi ternyata dia bisa juga menjelaskan hal-hal seperti itu. Dan satu hal lagi yang saya baru tahu, ternyata Om Bob ini fasih berbahasa inggris. Mungkin karena sudah saking lamanya bergelut dalam dunia usaha jadi dia banyak belajar dari jerih payah upayanya itu. Tapi, Om Bob seusai menjabarkan itu semua secara panjang lebar malah justru mengatakan bahwa apa yang dia jelaskan dari tadi itu sampah. “Hal-hal seperti inilah yang banyak menumpuk dalam otak kalian. Jadi otak kalian itu isinya sampah semua! Goblok!” waduuhh… bahasanya udah mulai ofensif tuh. Kita makin kebingungan ngadepin Om Bob.

Setelah selesai memberikan penjelasan tersebut, Om Bob tampaknya sengaja mau bikin bingung kami semua. Beliau mulai nanya “Masih relevan gak kalian kuliah???”. Salah seorang teman dari ITS (duh… lupa lagi namanya…) mencoba menjawab “masih om, karena….. bla bla bla…” Om Bob langsung membantah argumennya dengan mengatakan kamu lagi-lagi menggunakan alasan-alasan akademis. Om Bob terus menekan teman ITS tersebut, sampai dia kebingungan sendiri untuk menjawab apakah dia masih perlu kuliah atau tidak. Puas menekan rekan ITS, Om Bob mencari “mangsa” lain. Intinya Om Bob terus menekan kita dengan pertanyaan “ngapain kalian kuliah?”, “masih relevankah kalian kuliah?”, “Besok kalian segera cabut kuliah ya!”. Kita kebingungan setengah mati ngadepin tekanan dari Om Bob. “Mana jawaban kalian? ditanya kayak gitu aja pada bingung! kalian ini peinter2 tapi koq goblok amat…”. Om Bob bener-bener puas. Kata beliau “liat kan gimana caranya orang goblok bisa ngegoblok-goblokin orang pinter”.

Namun stelah sesi penekanan tersebut Om Bob mulai menjelaskan bahwa dia sengaja melakukan hal tersebut untuk mengubah paradigma kami semua tentang berbisnis. Beliau masih melihat paradigma yang salah diantara kami. Beliau bilang “saya ini sedang shifting your paradigm“. Paradigma yang masih melekat itu adalah untuk bisa sukses kita harus punya banyak ilmu terlebih dahulu. Oleh karena itu kita harus sekolah dulu sampai ke jejang tertinggi baru kemudian take action di lapangan. Om Bob melihat kebanyakan kita masih hanya berkhayal, masih sekedar berencana, hanya sekedar ingin. Tapi kebanyakan kita belum BERTINDAK!

Pengusaha sukses itu belajar sambil bertindak. Dia tidak menghabiskan waktunya dengan hanya berkutat pada teori-teori perkuliahan. Tapi dia langsung bertindak mencoba mengimplementasikan teori yang didapatnya itu langsung pada kehidupan nyata. Jadi dia belajar sambil bertindak. Dengan begitu dia tidak hanya TAU tapi juga BISA. Jangan sampai ilmu kita yang sudah tinggi ini membuat kita jadi arogan. Kita jadi enggan untuk mengambil sebuah peluang usaha yang seharusnya bisa kita manfaatkan karena kita merasa itu bukan bidang kita. Om Bob menyebut ini dengan istilah “Academic Arrogancy“. Dengan ilmu yang tinggi ini kita malah cenderung jadi arogan. Kita jadi sombong, jadi sok tinggi status. Padahal dalam hal skill, kita masih NOL BESAR.

Jadi… kalau bener2 mau jadi pengusaha, JANGAN KEBANYAKAN MIKIR! jalanin aja dulu, nanti baru belajar sambil ngejalanin bisnisnya.

Filed under: Business, Indonesian, enterpreneurship