IT, Entrepreneurship, Web, Internet, Motivation, Inspiration
May 15 2008

Aksi tetaplah tidak efektif

Hari senin 12 mei 2008 lalu, saya berangkat dengan jaket kuning melekat ditubuh. Saya duduk diatap bis sambil meneriakkan orasi-orasi dan nyanyian-nyanyian khas aksi mahasiswa. Sesampainya di dekat patung tugu tani, saya mulai berjalan. Saya menjadi border dalam aksi tersebut. Saya ikuti setiap instruksi yang diturunkan dari komando aksi nasional tersebut. Saya masih dapat menikmati apa yang saya lakukan.

Paragraf pertama dari tulisan saya ini memang terlihat kontradiktif dengan apa yang saya tulis pada postingan saya yang sebelumnya: Arah pergerakan mahasiswa masa depan. Dalam postingan tersebut, saya jabarkan beberapa alasan saya kenapa saya tidak setuju dengan aksi tersebut. Saya tuliskan dengan gamblang bahwa pergerakan mahasiswa saat ini harus mencari arah lain, arah yang lebih efektif untuk menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam pembangunan bangsa. Saya katakan disana, bahwa selama ini kita mahasiswa telah salah arah. Namun, apa yang saya lakukan? saya justru ikuti aksi tersebut. Bahkan saya mampu menikmati apa yang saya lakukan disana. Melalui tulisan ini saya akan menjabarkan beberapa alasan kenapa saya tetap mengikuti aksi walaupun saya tidak setuju dengan upaya tersebut. Dan saya akan menekankan sekali lagi tentang pentingnya merubah arah gerak mahasiswa kedepan.

Kenapa saya ikuti aksi tersebut walaupun saya tidak menyetujuinya??? pertama, ada satu komentar dalam postingan saya sebelumnya yang saya anggap cukup cerdas, ini dia komentarnya. Intinya, mas Arul, sang pemberi komentar tersebut mengatakan bahwa masing-masing kita punya cara yang berbeda untuk bergerak. Saya bisa terima hal tersebut. Mungkin memang ada tipe mahasiswa yang lebih tertarik pada kegiatan aksi demonstrasi turun kejalan (pengingatan pada pemerintah: social control). Ada juga tipe mahasiswa yang lebih senang bergerak konkrit yang dapat memberikan perubahan secara langsung (pemberdayaan masyarakat: agent of change). Saya setuju bahwa kedua peran tersebut harus dijalankan secara beriringan. Saya setuju kita harus tetap mengingatkan pemerintah disamping kita sebagai mahasiswa juga haru membantu pemerintah dengan aksi nyata langsung apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa untuk membantu memperbaiki kondisi bangsa. Tapi, saya tegaskan bahwa saya tetap tidak setuju dengan AKSI tersebut.

lho… giman sih? tadi katanya setuju, tapi koq tiba-tiba berubah lagi jadi gak setuju?? saya ingin tekankan bahwa saya setuju bahwa kita mahasiswa harus senantiasa mengingatkan pemerintah akan amanah-amanahnya. Tapi saya tidak setuju jika caranya dilakukan dengan sebuah aksi demonstrasi. Kenapa saya tidak setuju dengan metode tersebut. Beberapa alasannya sudah saya tuliskan dalam postingan saya yang sebelumnya. Nah… disini saya ingin menambahkan point-point kenapa saya tidak setuju dengan metode aksi demonstrasi turun kejalan pada suasana yang seperti ini. Aksi-aksi tersebut biasanya selalu mengarah pada perlawanan akan bentuk represi. Akhirnya, dalam aksi-aksi itu diperlukan cara-cara yang agak kasar. Contoh: pada aksi senin lalu, salah seorang ketua BEM SI membuat yel seperti ini “SBY-JK, LAWAN!!!”. Sekarang saya mempertanyakan lagi, sebenarnya apa yang perlu dilawan dari SBY JK, apakah kedua orang itu menyuruh militer untuk menembaki kita? apakah kedua orang itu mengintimidasi kita? entu tidak. Lalu apa yang perlu dilawan dari mereka? mereka tidak perlu perlawanan, mereka cuma butuh pengingatan, dan yang lebih penting lagi: sokongan. Akhirnya, kita mahasiswa terjebak dalam cara-cara yang tidak ahsan (baik) dalam memberikan pengingatan pada pemerintah. Cara-cara kasar seperti itu, saya tekankan sekali lagi hanya cocok untuk pemerintahan otoriter yang mengintimidasi rakyatnya sendiri. sleain itu, aksi mahasiswa ini juga semkain menumbuhkan arogansi kita sebagai mahasiswa. Seringkali kita pada saat melaksanakan aksi menuntut dengan tuntutan macam-macam. Biasanya kita minta orang yang berkepentingan untuk menemui kita. Biasanya juga, orang yang berkepntingan itu idak bisa menemui kita. entah karena takut atau karena memang sedang sibuk. Lalu biasanya mereka memberikan alternatif pertemuan. Misal, silahkan bertemu dengan bawahan saya terlebih dahulu. Atau mari kita diskusi tapi hanya sekian orang perwakilan saja. Nah… pada saat itulah, kita para mahasiswa yang emosinya sudah terlanjur meluap-luap dengan cuaca terik dan orasi-orasi emosional, akhirnya menjadi bersikap arogan. Biasanya aksi itu akan berujung seperti ini “KAMI TIDAK BUTUH KALIAN!! KALIAN SUDAH MEMBUKTIKAN BAHWA KALIAN PENGECUT blablabla…”. Lantas kalau sudah seperti itu, kita pergi mencari spot aksi lain. Setelah jadwal aksi sudah berjalan sampai akhir. lantas kita masing-masing pulang kembali kerumah. Mengerjakan kembali tugas2 kuliah kita yang masih terbengkalai. Akhirnya…. aksi-aksi tersebut benar-benar tidak membawa hasil, karena ketika kesempatan diskusi sudah terbuka, kita pergi begitu saja sambil terus bersampah serapah dalam orasi-orasi kita. Saya katakan pada rekan-rekan semua, bahwasanya kondisi aksi senin lalu ternyata tak jauh berbeda dengan skenario yang saya tuliskan diatas. SBY, melalui Andi malarangeng mengatakan silahkan bicara dulu dengan menteri-menteri terkait. Kita sudah diberi kesempatan untuuk berdiskusi dengan para menteri, tapi ternyata kita menolak mentah-mentah. Kita tetap memaksa SBY datang kemudian menandatangani lembara tugu rakyat yang isinya HANYA TUNTUTAN buat pak SBY. kasian betul pak SBY itu… sudah terliaht sekali dia bingung mengurus negeri ini, eh… kita mahasiswa malah tambaha bikin ngerecokin kebingungannnya beliau. Seharusnya kita bantu dia mengusir kebingungannya dengan mengatakan pada beliau: “Pak SBY, kami siap mensupport Anda dalam bidang-bidang yang kami kuasai. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu program-program anda akan kami coba kerjakan”

Wah… mas kamal ini gimana sih??? tulisannya panjang lebar menentang aksi tapi koq kemarin tetap ikut aksi? Ok… disini saya akan berikan jawabannya… Satu hal yang menjadi alasan saya kenapa ingin ikut aksi ini adlah saya ingin memberikan contoh pada sahabat-sahabat saya yang lain yang ada di fasilkom. Say sudah meliaht Fasilkom tidak tawazun, tidak seimbang. Terlalu menitikberatkan pada aspek keilmuan tapi aspek pengingatannya diabaikan sama sekali. Saya akui, Banyak, sangat banyak mahasiswa fasilkom yang merasa tidak punya tanggung jawab untuk mengingatkan pemerintah. Dikampus saya itu, lebih banyak orang yang ingin belaja tentang IT karena dia ingin dirinya jago dibidang IT. Dikampus saya, lebih banyak orang yang ingin berprestasi supaya dirinya bisa memberikan kebermanfaatan yang luas. Tapi sayangnya banyak dari mereka yang lupa dengan perannya yang lain, yaitu peran social control. bahkan para pejabat BEM Fasilkom pun banyak yang punya pandangan seperti itu (Ayo donk, sodara-sodara dan sahabat-shabat ku di BEM, be tawazun/seimbang dalam bergerak! Jalankan semua peran mahasiswa secara optimal). Dengan ikut aksi tersebut, saya ingin memberikan teladan pada teman-teman saya dikampus fasilkom. Untuk itulah, sesaat sebelum berangkat aksi itu, saya berjalan berkeliling sendiri dikampus saya dengan mengenakan jaket kuning yang ngejreng itu. Walhasil, banyak yg nanya “mo ngapain lu mal!!” :) Alhamdulillah, aksi yang saya ikuti itu memberikan pengaruh yang cukup besar buat beberapa orang sahabat saya. Semoga pergerakan mahasiswa dikampus saya kedepannya bisa lebih seimbang.

Sekarang, saya sudah menjabarkan bahwa aksi itu tidak efektif. tentunya saya tidak boleh hanya berkoar-koar saja berteriak-teraik bahwa aksi tidak efektif tanpa memberikan solusi jalan lain yang lebih efektif untuk mengingatkan pemerintah. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan mengundang tokoh politisi yang ingin kita ingatkan itu dalam diskusi yang lebih sopan dan konstruktif. Kita bisa saja mengundang sang presiden atau sang menteri untuk menjadi pembicara di seminar yang kita adakan. Dalam acara itu kita bisa memberikan pengingatan secara lebih elegan. Selain itu, kita juga bisa datangi media, untuk meminta slot khusus untuk menyampaikan pendapat kita. Kalau untuk menundukkan DPR/MPR saja kita bisa, apalagi kalau cuma sekedar meminta waktu pada media untuk memberikan pengingatan pada pemerintah sekaligus juga memberikan pencerdasan pada masyarakat. Ketahuilah… aksi sama sekali tidak mendidik masyarakat, lihatlah di daerah-daerah, mereka-mereka yang berusaha mengikuti cara kita dengan berdemosntrasi ternyata justru terseret pada sikap anarkisme. Kita, para mahasiswa insan intelektual bangsa mungkin bisa mengendalikan aksi secara kondusif dan tidak anarkis, Tapi mereka diluar sana yang tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting tuntutan mereka terpenuhi. Mereka pasti akan terodorng pada aksi anarkisme.

Sebenarnya masih ada banyak sekali cara lain yang bisa kita lakukan untuk mengingatkan pemerintah dengan cara yang lebih elegan dan mendidik. Kita pasti bisa mengexplor semua cara tersebut. Syaratnya, kita para mahasiswa harus benar-benar bersatu. Kita harus sama-sama sepakat bahwa mahasiswa perlu merubah pola gerakannya. Dari situ baru kita bisa sama-sama memikirkan pola gerakan yang paling tepat dan cocok untuk kondisi Indonesia saat ini.

~ HIDUP RAKYAT INDONESIA

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

 Leave A Reply Here
Username*

Email*

Website

Comment

 There are 18 Responses to this post, want to join?

Leni said,  

untuk yang ini :
‘BEM SI membuat yel seperti ini “SBY-JK, LAWAN!!!”’
saya memang gak setuju, makanya kagak ikut teriak jg..

Nah, untuk..
“Kita harus sama-sama sepakat bahwa mahasiswa perlu merubah pola gerakannya”, sulit bung kamal, namanya juga manusia pasti beda-beda.

yang penting terus bergerak saja, saling mendukung. menurut saya aksi dan tindakan-tindakan lain yang konkret di luar aksi bisa saling melengkapi, top-down approach lah.. menyuarakan opini untuk elit + membantu kalangan alit

trus berjuang lah :-)

Andra said,  

@Leni

Nah, untuk..
“Kita harus sama-sama sepakat bahwa mahasiswa perlu merubah pola gerakannya”, sulit bung kamal, namanya juga manusia pasti beda-beda.

Menurut saya tidak sulit kalau ada yang dapat menyuarakan pola barunya itu dan mampu memimpin pergerakan baru dengan cerdas.
Saya percaya kok rata-rata mahasiswa UI dapat berpikir kritis.

fio said,  

saya setuju banget sama argumen2 kamal.. kita ini moral force, jadi harus memperhatikan moral kita ketika menyampaikan dan melakukan sesuatu, baik peringatan maupun dukungan.. dan aksi 12 Mei kemarin mengecewakan dari segi tersebut..

Jadi.. tugas kita semua untuk menjadi bagian dari social control dan agent of change tanpa melupakan moralitas dan intelektualitas..

Semua harus seimbang.. begitu pula dengan pergerakan..

when we can do both, why not? :)

kamal87 said,  

@leni: klo ngumpulin semuanya secara total tentu gak bisa mbak leni, tapi yg kita bentuk adlah mainstreamnya… pas 98 itu juga kan gak semua mahasiswa turun kan, tapi mainstreamnya berhasil dibentuk dengan kuat. Nah… kita saat ini juga sudah saatnya membentuk mainstream yg kuat yang arahnya benar-benar tepat

kamal87 said,  

@Andra: sip, btul andra. makanya memang saya yakin jalannya masih panjang sih. gak bisa tuh ujug2 tahun ini juga berubah arah gerak pergerakan mahasiswa. yg jelas kedepannya saya yakin arah pergerakan mahasiwa akan bergerak ke arah sini (arah yg saya tulis). namun perubahannya emang pelan-epaln. Untuk itu, wacana2 seperti ini perlu dimaintain untuk dinaikkan perlahan-lahan supaya nanti tiba saatnya benar-benar muncul satu momen pas untuk benar-benar secara total merubaha pola gerakan kemahasiswaan

kamal87 said,  

@fio: sip, klo gitu…. mari menyuarakan perubahan :)

Bagoes said,  

wah gimana kesannya ikut aksi turun ke jalan seperti itu?
saya mah terus terang waktu kuliah ga pernah ikutan yg ky gituh (ga tau karena waktu itu adem ayem aja, apa ga tau karena saya yg ga pernah *mau* ikutan yg ky gituh, pdhl waktu kurun waktu itu khan BBM naik tinggi banget, dari Rp 2.400,-/liter menjadi Rp 4.500,-/liter)
Eniwei… saya setuju dengan pendapat Bung Kamal yg bilang bahwa menyuarakan ide atwpun gagasan haruslah lebih terdidik, misalnya membuka forum dsb, bukan melalui aksi turun ke jalan yg ujung2nya pasti tindakan anarkis… :D

kunderemp said,  

Dan BBM tetap naik….
Ayo.. kita jajan!
Bukan demi perut kita
tetapi demi perut mereka yang hidup dari menjajakan makanan.

dana said,  

Setelah saya baca ceritamu ini, kok rasanya demo 12 mei itu cuma sekedar buat teriak-teriak menumpahkan emosi ya? Habis itu sudah, kembali kekegiatan kuliah.

kamal87 said,  

@bagoes: gimana rasanya? seperti yg ditulis… saya sih bisa menikmatinya… tapi saya tetap berpendapat aksi itu gak efektif

kamal87 said,  

@kunderemp: lucu juga seruannya :) ayo kita jajan

kamal87 said,  

@dana: tujuan nya jelas bukan cuma skedar menumpahkan emosi, tapi karena cara dan kondisinya seperti itu akhirnya terlihat seperti itu

aRuL said,  

Maaf mas kamal baru baca tulisannya yang ini :D
mengenai ungkapan2 yang diucapkan selama aksi itu, setau saya memang dibuat seperti itu, untuk menekan jikalau cuman berkata dengan memberikan perbaikan saja kadang tidak didengar.
analoginya seperti marah :)

aksi anarkis itu muncul dari peserta aksi bisa juga dari luar, istilahnya provokator :D nah seperti itu yang diwaspadai.
Yah sama-sama jalan2 sama2 saling mengingatkan untuk cara-cara penyampaian aspirasi cari yang terbaik dan manfaatkan.
Sip…

tri said,  

bukannya maju m,ukndurnya suatu negara itu dilihat dari seberapa pedulinya mahasiswa menyatakan sikap terhadap perubahan negerinya????mungkin dengan aksi adalah salah satu cara kita untuk menyatakan sikap bahwa kita menentang dan dengan itu semua orang-orang jadi tau ternyata di negeri tersebut masih ada yang tidak setuju…betu??

Sasya Hasyim said,  

Simpan jaket kuningmu adik, karena pemakai jaket kuning sekarang beda dengan pemakai-pemakai jaket kuning era 1997/98. Kamu dan kalian bisa seperti kami. Bergabung dengan Gerakan dan Mahasiswa antar / lintas Generasi. Cari sendiri. FY, Ferry Yulianto adalah pemberani, penuntut hak-hak rakyat. Kalian harus solidaritas dia. Karena saat ini FY dan kawan-kawan sedang dikambing-hitamkan oleh Syamsir Siregar, penjilat pantat dan diperalat SBY. Si gaek Syamsir Siregar sulit cari duit dan mau menjilati pantat SBY.

SBY, SUTANTO HARUS MUNDUR MEMIKUL TANGGUNG JAWAB MORAL DAN HUKUM
SBY MELANGGAR UUD 1945. AMIEN DKK PENGECUT.

Ini sebuah kasus kejahatan dari iceberg kejahatan di Indonesdia. Kasus teranyar. Orangtua Maftuh takut pada aparat keamanan. Menurut informasi dari tetangganya, orangtua Maftuh didatangi beberapa orang kemungkinan anggota polisi memintanya jenazah Maftuh tidak digali atau diotopsi. Informasi lain menyebut orangtuya Maftuh “dibungkam”, diberi sejumlah uang, untuk maksud tersebut. Mahasiswa Universitas Nasional, Maftuh Fauzi, tewas beberapa hari setelah dirawat di RS akibat pukulan keras polisi ketika terjadi bentrok dalam demo anarkis antara mahasiswa Unas dengan kelompok polisi yang melakukan kekeasan beberapa minggu yang lalu. Jurubicara RS Pertamina menuduh Maftuh tewas akibat HIV, fitnah yang sangat keji.
IDI harus memaksa orangtua Maftuh merelakan jenazah Maftuh digali untuk diotopsi. Jurubicara dokter RS Pertamina yang menyatakan Maftuh tewas akibat HIV harus segera diinvestigasi untuk menemukan siapa di balik perintah fitnah tersebut dan supaya aparat pelaku perintah memberikan keterangan palsu melanggar hukum atau kode etik kedokteran itu kepada banyak wartawan harus disidang diadili termasuk jurubicara RS Pertamina tersebut. Agar memberi efek jera dan pembelajaran, jrubicara dan pelaku yang memerintahkan keterangan palsu tersebut harus dipenjarakan. Banyak sudah keterangan-keterangan palsu yang selalu diberikan oleh RS Pertamina. Contoh gamblang adalah ketika Suharto dahulu hendak diadili maka keterangan palsu selalu muncul yang menyatakan bahwa Suharto “sakit permanen” padahal waktu itu Suharto masih sehat bugar.
SBYdan Sutanto hendaknya mundur memikul tanggung jawab sengaja membiarkan terus tanpa muncul jera berbagai kekerasan dan penyiksaan, yang menyebabkan, kasus terbaru, tewasnya Maftuh oleh aparat keamanan dalam hal ini polisi. Hukum tertinggi dari seluruh sumber hukum terpenting setelah Pancasila yaitu UUD 1945 pada dasarnya menyatakan Presiden, Kapolri, aparat keamanan khususnya harus menjunjung tingi HAM. UUD 1945 bukan hasil rekarasa kelas teri peraturan-peraturan buruk sarat kepentingan yang akhir-akhir ini dibuat Presiden dan DPR.
UUD 1945 berdasarkan Deklarasi HAM Universal PBB yang tidak boleh dilanggar. Kekerasan dan penyiksaan melanggar hukum nasional dan internasional. Dalam hukum internasional dinyatakan sangat jelas: Torture and violence are totally banned under international law (Kekerasan dan penyiksaan dilarang total oleh hukum internasional). Bahkan itu telah diperkuat resolusi terbaru Dewan HAM Internasional di Jenewa pekan lalu yang menegaskan “absoulte prohibition on violence and torture as well as cruel, inhuman and degradading treatment”. Sebanyak 145 negara anggota PBB menandatangani Kovensi Kekerasan dan Penyiksaan tersebut, mereka mematuhi, menaati, kecuali pemerintah Indonesia.
Akan tetapi, pemerintah Indonesia sejak Suharto hingga SBY saat ini terus gile karena masih terus saja dan selalu membiarkan aparat keamanan, anggota polisi utamanya, melakukan kekerasan terhadap warga negara dan rakyat termasuk mahasiswa yang berjuang membela hak-hak rakyat. UUD 1945 mengamanatkan rakyat Indonesia pun harus mendapat hak-hak ekonomi, sosial, pendidikan, beragama dan berkeyakinan, sesuai standar universal, standar internasional, sebagaimana dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945, yang diambil dari Deklarasi Universal PBB. Aapakah rezim Indonesia seperti ini, dari waktu ke waktu, yang berkuasa h-a-n-y-a untuk memperkaya diri dan kelompok, dibiarkan terus berkuasa? Dimana para intelektual dan cendekiawan bangsa ini? Mengapa kita mahasiswa nggak didukung menghentikan mereka? Kenapa kita semua tinggal diam? Kapan rakyat menikmati kehidupan layak seperti bangsa-bangsa lain? Rakyat dibunuh pelan-pelan oleh kebijakan membunuh oleh rezim feodal penjajajah bangsa sendiri.
Dimana — sesungguhnya kami tak sudi panggil kalian pak atau tuan, “pak” Amien Rais? Dimana “pak” Mochtar Pakpahan? Dimana “tuan” Jimly Assidiqie? Tiiiiiduuur kali ya. Kenapa facade democracy and fake democracy SBY-JK kalian biarkan. Tatkala situasi sudah begitu sangat buruk, ini berkepanjangan dan begini terus, dimana People Power, dimana Impeachment? Apa saudara taruh di ketiak saudara? Pengecut. Opportunis. Tunggu bencana besar buatan mahasiswa dan penunggang.

ERA BANCI SBY-JK SUDAH SELESAI, KITA TUTUP TEATER MEREKA
KITA DAHSYATKAN GERAKAN PELENGSERAN SBY-JK. TAK BISA DITAWAR LAGI.
MARI KITA TUTUP PERMAINAN SANDIWARA SBY-JK
Kemarin 25 Juni 2008, si banci SBY masih harmoko pula, hari-hari omong-kosong. SBY minta masyarakat agar tak lakukan kerusuhan, rayuan gombal orang kepepet. SBY sendirilah penyebab kerusuhan masif yang segera terjadi setelah dia dengan memuakkan ambil kebijakan ngacau menaikkan tinggi harga-harga BBM yang memicu melambungnnya harga sembako, harga semen dll, ongkos angkutan umum dll. Gila.
Pemerintahan si banci itu makin buat ribuan pejabat dan pegawai negeri ini sangat berani korupsi dan ber-KKN ria canggih. Orang-orang birokrat amatiran itu merampas uang negara yang berarti uang rakyat. Mereka kini menjadi sangat kaya-kaya, rata-rata memiliki 3-4 rumah. Dua rumah sebelumnya untuk anak-anak mereka yang sudah besar dan sebagian sudah berumah-tangga. Dua rumah baru biasanya di kawasan elit. Mobil-mobil mereka pun bagus. Tentu tak mengapa kalau itu diperoleh dengan halal. Semua itu faktanya dari hasil mencuri canggih uang rakyat. Uang anggaran. Uang proyek. Terjadi sangat masif di level pejabat atas hingga menengah. Luarbiasa. Korupsi gila itu menjadi-jadi setelah Indonesia dipegang si banci lemah gemulai SBY dan si makelar, pengusaha, JK.
Korupsi tingkat pusat hingga daerah kian mendahsyat. Otonomi dibuat sebagai upaya bodoh sistem negara untuk lepas tanggung jawab, pusat ingin lepas dari membiayai daerah, hingga mencipta raja-raja baru, gubernur-gubernur dan bupati-bupati maling bersama kelompok mereka. Jumlah korupsi mencapai triliunan rupiah. Itu pun baru yang selesai diaudit BPK. Korupsi sistemis dan membudaya ini tentu saja terjadi lantaran presidennya lemah gemulai tak tegas seperti SBY, yang dibeking makelar busuk-licik JK. Semua ini meludeskan uang rakyat. SBY bahkanmenggunakan dana-dana sumbangan dari yang terakhir Australia, Kevin Ruud, untuk mulai money politic, padahal dana itu diberikan bukan untuk maksud itu.
Korupsi kini terjadi mencapai rekor pada pemerintahan yang dibeking dan dikendalikan rapi militer dan kepolisian melalui SBY. Rakyat miskin dan mahasiswa hanya dihibur dengan uang receh BLT / BKM. Kembali-kembali rakyat tertipu ditipu SBY. SBY-JK pintar sandiwara, mereka magang lama dalam pemerintahan gaya Orba. Indonesia tak lebih dari sebuah junta, pemerintahan militer, Myanmar. Bajunya yang berbeda. Lebih bebas. Bebas mengungkapkan pendapat. Media-media televisi sangat buruk tanpa perjuangan nyata membela rakyat. Seakan-akan media televisi itu membela rakyat namun yang terjadi hanya menyuarakan fakta yang diputar balikkan atau hanya menghantam demonstran, sementara kekerasan polisi tidak dibahas, malah aktivis berinisial FJ dipojokkan dan kalau perludikambing-hitamkan. Sementara Syamsir Siregar, kepala BIN, menuduh sesukanya FJ. Cara-cara kambing hitam orang-orang legasi Orba.
Negeri ini masih militeristik dengan sedikit modifikasi di sana-sini. Begitu Megawati yang naif, bodoh dan polos itu, tidak terpilih menjadi presiden 2004, dengan ditandai berbagai bom termasuk bom dahsyat depan Kedubes Australia di Jakarta serta pembunuhan Munir, maka praktis Indonesia kembali ke pangkuan militer, dengan pendekatan dan siasat halus menyelewengkan reformasi dan demokrasi, siasat usang Orba yang harusnya sudah dihapus dari negeri ini. Munculah SBY direkayasa menjadi pemenang presiden dalam pemilu 2004. SBY menang melalui pemilu curang rekayasa yang dilakukan sangat rapi melalui pemalsuan suara dan money politic yang diatur penguasa di sini melalui orang-orang Koramil, Kodim, Kodam, yang dicitrakan seakan-akan rakyat memang mayorits memilih SBY-JK. Sangat canggih. Kini era tipuan seperti itu tidak boleh terulang lagi mulai 2009.
Perlukan SBY-JK mundur? Zaman SBY sudah selesai. Mari kita sebagai mahasiswa, aktivis, buruh, pejuang rakyat, pembela rakyat kecil, tekan DPR terus agar segera melengserkan SBY. Si Banci SBY-JK hanya doyan bicara. Mari kita hancurkan pos-pos polisi, mobil-mobil bergincu dll dengan dahsyat. Lakukan dengan gerilya dan jangan hura-hura. Lakukan dengan cerdas dan pintar. Buat SBY-JK bertekuk lutut di kita kita mahasiswa pembela rakyat kecil dan pelurus ulang Indonesia yang telah jauh melenceng dari UUS 1945 dan Pancasila. Zaman SBY-JK sudah selesai. Mari kita tutup teater sandiwara SBY-JK, dan juga DPR kalau DPR tidak membela rakyat, dengan goncangkan Jakarta dan kota-kota besar seluruh Indonesia, dengan kerusuhan masif (huge riots), setelah aparat keamanan, polisi, membunuh tanpa Pancasila, tanpa perikemanusiaan, atas seorang teman dan sahabat kita Maftuh Fauzi, dengan kekerasan biadab!
Kita mahasiswa, buruh, nelayan, petani dan seluruh rakyat, kelas rendah menengah dan atas, kini saatnya mengganti presiden dan wakil presiden SBY-JK. Saatnya Indonesia memiliki presiden dan wakil presiden yang berwawasan internasional global, yang jujur, tulus, tegas, berani, membangun negara dengan cara-cara internasional, bukan cara-cara Orba yang curang. Tak ada peluang lagi bagi orang-orang warisan Orba berkuasa mendindas dan menyengsarakan rakyat. Indonesia sanat kaya sumber alam, mengapa dan anehnya rakyatnya sengsara sistemis. Sangat ironis. Kita terus maju, tanpa mundur seikitpun. Bila DPR tidak bergeming, tidak bertindak, maka kita bubarkan pula mereka. Kita duduki gedung itu!
WE ARE STUDENTS FIGHTING FOR JUSTICE NOT FOR ANSWERING YOUR QUESTIONIRE PLEASE. YOU MUST FIGHT FOR PEOPLE ALSO NOT FIGHT FOR STEALING STATE MONEY.

kamal87 said,  

@aRul: sebenarnya ungkaoan itu justru gak mau dikeluarin, cuman emang kita sering keceplosan ngeluarin kata2 tsb

kamal87 said,  

@sasya hasim: wah… panjang juga ya komennya, dibales seriusnya kapan2 aja ya :)

 Pingback & Trackback
 Post A Comment » jump to comment form  

↑ Back to top