Jan 19 2008
Tulisan ini merupakan tindak lanjut dari dua tulisan sebelumnya yaitu:
Setelah saya pikir-pikir, dua tulisan tersebut saling terkait.Bagaimana keterkaitannya, baca terus tulisan ini sampai selesai. Kalau pada 2 tulisn diatas saya hanya membahas MASALAH, maka kali ini saya akan membahas SOLUSI.
——————————————
kita mulai dari sini:
Ada orang yang memberikan komentar seperti dibawah ini (atau bisa lihat langsung disini) pada tulisan saya yang tentang suharto: (harus diapakan suharto?)
benarkah segala kejahatan yang telah dilakukannya begitu kejamnya??
benarkah apa yang telah diperbuatnya begitu tak berharga??
benarkah itu semua bukan cuma disebabkan oleh propaganda media dan hasil pemikiran opportunis yang sebenarnya tidak kenal benar-benar apa yang telah terjadi??
atau karena kebebasan itu sehingga semua tentangnya bisa demikian buruk??
bagi kami yang merasakan langsung bagaimana menjalani hidup menjadi rakyat kecil…
betapa kami merindukan kembali berada di masa2 dulu ketika beliau memerintah.
kami merasa sangat susah berada di jaman baru ini..
barangkali tak berlebihan jika kami begitu membenci reformasi..
jangan anda anggap semua orang berpikiran sama dengan anda tentang pak harto.
para pencetus reformasi ini sebenarnya orang-orang yang tidak punya konsep yang jelas tentang apa yang seharusnya dilakukan setelah cara lama dihancurkan, sehingga beginilah jadinya.
setelah tahu ternyata tidak mudah membangun semuanya, satu persatu minggir sebagai orang-orang yang gagal memimpin.
dan kami, rakyatlah yang menjadi korbannya.
wahai para bloggers, sadarlah bahwa anda termakan oleh provokasi dunia barat yang sebenarnya selalu ingin kita selalu dibawahnya. dengan jalan demokrasi atau bukan, seharusnya kita bangga memiliki cara sendiri dalam memakmurkan rakyat kita. jika demokrasi macam begini cuma membikin masyarakat jauh lebih susah dibanding zaman orde baru, apa kalian senang?
BEGITULAH TIPE MASYARAKAT INDONESIA..
ORIENTASINYA KABUR DAN TAK BISA MERUMUSKAN DENGAN JELAS APA YANG SEBENARNYA MEREKA BUTUHKAN..
SAYA BERDOA UNTUK KEHANCURAN REFORMASI!!
HANCURLAH REFORMASI YANG TIDAK BERMUTU DAN GANTILAH DENGAN FORMAT BARU TATA EKONOMI YANG MEMBUAT KAMI MUDAH MENDAPATKAN PEKERJAAN DAN TIDAK KESULITAN MENJALANI KEHIDUPAN DI NEGARA TERCINTA INI!
Komentar tersebut menunjukkan bahwa dia tidak benar-benar mengerti masalah yang sebenarnya terjadi di Indonesia selama kurun waktu orde baru berlangsung. Pada jaman suharto, segala sesuatu memang terlihat sangat stabil. Tidak ada masalah yang berarti. Rakyat merasa tentram dan sejahtera. Tapi sayangnya itu semua cuma tampilan luar.
Bagaimana kedok yang sebenarnya?
Keadaan yang sebenarnya sungguh sangat kacau. Potensi krisis moneter telah terjadi sejak lama. Sejak soeharto dan kroni-kroninya secara membabi buta berhutang pada pihak lain dengan alasan pembangunan. Potensi disintegrasi juga sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Kasus ambon, itu sebenarnya sudah terjadi sejak zaman suharto. Bagaimana pula dengan potensi diktator? kita dapat melihat kekejaman pemerintahannya pada peristiwa pembantaian massal di tanjung priuk. Belum lagi, potensi pembusukan birokrasi, pemeliharaan budaya korupsi dikalangan birokrasi. Semua itu terus tumbuh secara perlahan tapi pasti pada zaman soeharto. Walaupun memang tetap saja jasa soeharto bagi pembangunan negeri ini juga cukup besar.
Lalu kenapa selama ini kita tidak pernah tahu hal tersebut?
Karena tentu saja, pemerintahan soeharto telah dengan cangat cantik menutupi semua cacat tersebut. Waktu itu media masih sepenuhnya dikendalikan pemerintah. Masih ingat kan dengan program berita “dunia dalam berita” yang dipaksakan untuk ditayangkan pada seluruh stasiun televisi. Coba lihat berita yang muncul disana, kebanyakan berita-berita tentang betapa suksesnya pemerintahan orde baru. Semua cacat disembunyikan dengan sangat rapi.
Soeharto, pada masa pemerintahannya telah merakit bom waktu yang sedemikian besar. Dan kini, bom waktu itu telah meledak dengan sangat keras mengguncangkan setiap sendi kehidupan bangsa Indonesia.
Dan bukti paling konkrit dari kejahatan orde baru ialah apa yang dialami sahabat saya di kejaksaan (baca ceritanya disini: busuknya pengadilan di Indonesia). Kejaksaan dengan budaya korupsi yang seperti itu merupakan salah satu dari sekian banyak produk busuk hasil karya para golongan karya di orde baru. Sulit sekali memperbaiki birokrasi yang telah rusak oleh korupsi yang telah membudaya itu.
Tapi dibalik semua itu, kita harus tetap yakin bahwa Indonesia dapat membaik. Perbaikan birokrasi memang sulit, tapi BISA!! Bagaimana caranya? tentunya kita tidak akan bisa memperbaikinya dalam jangka waktu yang sebentar. Upaya menghantam keras birokasi tersebut dengan hantaman yang sekeras-kerasnya tidak akan berhasil. Katakanlah, tiba-tiba sang presiden langsung turun tangan membersihkan sebuah kejaksaan negeri. Budaya korupsi tersebut akan hilang sesaat untuk kemudian kembali tumbuh subur sesuai dengan alur pembentukan awalnya.
Lalu bagaimana caranya supaya kita dapat memberantas kemungkaran tersebut? Satu-satunya cara paling efektif adlaah dengan memasukkan satu-persatu orang-orang yang bersih dan jujur pada lembaga birokrasi yang dimaksud. Tentunya ini akan butuh waktu yang sangat lama. Kita tidak akan bisa semerta-merta mengganti seluruh orang-orang biadab dengan orang-orang baik dalam satu waktu. Kita harus masukkan satu-persatu. Semua orang tersebut harus menempuh jenjang karir didalam sana supaya dapat memiliki posisi strategis. Semakin banyak jumlah mereka yang jujur masuk dan semakin banyak pula orang-orang tua dzholim yang sudah pensiun menikmati uang hasil kebiadabannya. Perlahan tapi pasti lembaga yang dimaksud akan terus membaik. Namun, memang selama perjalanannya, orang-orang baik dan jujur yang dimasukkan kesana harus dijaga dan juga mampu menjaga dirinya sendiri. Mentalnya harus kuat menghadapi tekanan birokrasi yang kotor. Jangan sampai ketika mereka masuk kesana, mereka justru tercemar dan ikut-ikutan bertingkah seperti para pelaku koruptor busuk tersebut. Dan kita juga perlu memanipulasi supaya mereka yang masuk kesana tidak tersingkir oleh birokrasi yang berlumpur. Supaya mereka tidak dikucilkan.
Memang akan butuh waktu yang sangat lama untuk melakukan hal tersebut. Paling cepat kita butuh waktu 10 tahun untuk memperbaiki SATU lembaga. Bagaimana dengan ratusan lembaga lain yang juga harus dibersihkan? Mungkin butuh waktu 1 atau 2 generasi untuk memperbaiki Indonesia. “Merusak jauh lebih mudah daripada memperbaiki”. Indonesia telah dirusak secara perlahan-lahan dalam kurun waktu 1 generasi. Itu berarti kita harus sabar dalam memperbaiki kondisi Indonesia kita. Kalau perusakan Indonesia dilakukan dalam kurun waktu 1 generasi, maka perbaikannya akan membutuhkan lebih lama dari itu.
Dan sekarang yang jadi pertanyaan adalah bagaimana menghasilkan SDM-SDM handala yang bersih dan jujur. Kalau ingin tahu jawabannya maka pergilah ke pengajian-pengajian yang ada di pelosok-pelosok perkampungan, tengoklah program mentoring keagamaan yang ada di sekolah, lihatlah program-program pengembangan karakter yang dilakukan untuk para anak muda. Jangan pernah meremehkan kegiatan-kegiatan seperti itu, kegiatan yang terlihat tampak kecil signifikansinya bagi bangsa. Justru inilah cara paling konkrit dan pasti untuk memperbaiki bangsa kita yang sedang terpuruk ini. Jika ini dijalankan secara serius dan massif maka hasilnya akan benar-benar mampu menghasilkan SDM-SDM yang profesional dan amanah yang mampu membawa negeri kita dari lembah kenistaan, menuju puncak kejayaan.
————
Ini dia yang saya maksud dengan ground voice alias suara akar rumput pada tulisan saya yang ini: potensi dan manfaat blog
Possibly Related posts:
There are 16 Responses to this post, want to join?
siip!!!!
itulah yang selalu kita dengar selama ini..
dan mungkin saya memang tidak mengerti semua itu walau sudah sering mendengarnya.
barangkali orang seperti kami( maaf, saya tidak merasa seorang diri karena saya jg sering ketemu orang yang berpikiran sama)
memang harus sedikit sabar menunggu. buktikan saja semua itu,
perlihatkan semua itu dengan kenyataan bahwa kami lebih nyaman saat ini. buatlah biaya sekolah murah, harga harga barang murah dan semuanya lebih mudah, atau walau semua itu mahal, buatlah kami mampu mengatasinya.
kami akan melihat semua itu.
jangan khawatir! kami akan mengakui bahwa kami salah, jika ternyata kemudian terbukti semuanya ternyata lebih mudah.
maaf komentarnya emosional!
semua itu tak lepas dari kesulitan yang secara langsung kami alami.
Tapi apa yg disampaikan oleh komenter di atas juga ada benarnya, Mas: bahwa ketika reformasi dilakukan, terkesan kurang ada konsep yg jelas (atau disepakati bersama) terkait bagaimana model perubahan yg diinginkan. Hasrat yg dulu ada adalah mengubah/membalik kondisi. Tapi bagaimana selanjutnya?
Memang kemampuan kita untuk meruntuhkan sebuah bangunan peradaban harus disertai kemampuan kita untuk membangun kembali alternatif baginya.
Sialnya, mahasiswa kita dulu (skr juga) tidak/belum berada dalam kapasitas kompetensi yg mumpuni dan kewenangan yg jelas utk membentuk serta membesarkan bentuk peradaban alternatif itu. Apalagi dulu, sekedar utk menjatuhkan Suharto aja sudah bukan main energi dan kekuatan masif yg dibutuhkan.
Utk skr dan selanjutnya, mahasiswa memang sudah bisa bicara lantang mana yg benar dan mana yg salah. peran mahasiswa sbg moral force memang menuntut hal itu. tapi apakah itu saja sudah cukup?
wah wah wah…
bapak tua kok dimarahi… tetapi saya setuju ama tulisan diatas….
apa memang sudah dari benihnya negeri ini tidak akan bisa berubah
Serpertinya Indonesia mesti disterilkan dulu..
menggunakan disinfektan..
hwukwkwkwkw…
@oz: wah… keren, yang komen pertama mas oz yang kutipan komennya saya taro disini. Intinya jangan sampai kita juga cuma menunggu ya, kita juga harus langsung dengan inisiatif sendiri berkontribusi aktif untuk ikut memajukan bangsa kita sendiri
@Guntar: btul skali, sekarang yang kita perlukan adalah kepemimpinan yang kuat, bersih, jujur dan punya visi besar dalam membangun negeri kita. Emang reformasi ini masih belum punya arah, sekarang tugas kitalah ikut membantu mengarahkan reformasi ke arah yang benar
@dodot: SALAH, negeri ini PASTI bisa berubah, jangan ngucapin kata2 desperate gitu donk.
@namakamu: disterilin pake desinfektan apa gak malah keracunan
terimakasih sudah mampir dan semoga anda sekeluarga selalu dalam perlindungan -Nya. Amin
@andiku: maap, ini andiku yg mana yak? lupa nih udah mampir kemana aja? koq gak ada link nya?
tapi saya setuju komentar diatas,
hidup di zaman reformasi ini bukannya semakin tenang dan tentram malah semakin pusing saja.
buktinya bisa saya lihat di layar televisi tiap hari. pengrusakan pengrusakan dan kerusuhan yang dilakukan demonstran tak perduli itu demo mahasiswa, pedagang maupun pendukung partai maupun calon pemimpin daerah semakin membuat keadaan negara ini tambah semrawut..
orang-orang indonesia semakin nampak tidak beradab, tidak punya malu, hanya demi untuk selembar kupon makan seharga 2500 perak pun antrian orang-orang bisa menjadi rusuh, belum lagi rebutan sembako murah, belum lagi rebutan daging kurban.
malu-maluin banget, padahal rasanya masyarakat kita belum miskin-miskin amat. bandingkan dengan india atau yang lain.masyarakat kita sedikit sedikit nuntut. nuntut pelayanan tanpa menyadari bahwa tak ada sesuatupun didapat dengan gratis. rasanya masyarakat kita sudah berubah menjadi masyarakat yang beringas, tidak sabaran, tidak tau diri dan tidak tau malu.
jika melihat apa yang ditampilkan di TV setiap hari, saya setuju bahwa reformasi ini bukan membawa perubahan yang baik, tapi malah membawa sesuatu yang buruk. bukannya memperbaiki demokrasi tapi malah menciptakan anarki.
saya rasa kita harus melihat langsung pada kenyataan dan sejenak berpaling dari teori teori ‘wah’ yang ternyata para pencetusnya sendiri juga tak mampu menciptakan kestabilan dan kenyamanan di negara ini.
@jonny: kan saya udah bilang, bahwa perbaikan ini tentunya akan butuh waktu yg sangat lama, proses pengrusakan ini uda dilakukan dalam waktu yg sangat lama, jadi perbaikannya juga gak bisa instan donk. kita harus sabar dalam memajukan Indonesia. Jangan sampe kita cuma teriak2 sama reformator suruh2 buru beresin Indonesia tapi kita sendiri gak ngapa2in
boleh tahu apa yang sudah Kamal lakukan untuk memperbaiki negeri ini dalam waktu yang akan datang??
@akkhdaafif: hmm… jadi malu, apa ya yg udah ane kerjain, blom banyak sih, tapi insya Allah sudah mulai bergerak. contohnya menulis tulisan ini
ahh .. kesuwen kata orang Jogja ni ..
kenapa kita tidak bisa berani kayak China ??
Korupsi, jika memang terbukti = tembak mati. Kalau ada pihak yang nanti ribut karena HAM, pasti orang itu tidak tahu apa itu HAM yang benar2 HAKIKI.
Pingback & Trackback
Leave A Reply Here