Dec 18 2007
Musim haji telah tiba. Suara-suara talbiyah telah bergema dari seluruh dunia menuju satu titik pusat makkah al mukarramah. Suara-suara tersebut bagaikan pusaran yang meliputi bumi dimana pusat pusaran tersebut adalah ka’bah baitullah. Segenap umat muslim dari segala penjuru bumi bertolak menuju pusat gema talbiyah tersebut.
Fenomena ini terjadi setiap tahun dibulan dzulhijjah. Banyak umat muslim yang begitu semangat dalam melakukan ibadah haji. Banyak umat muslim yang dalam hatinya tersimpan gelora besar untuk ‘menyapa’ Allah di padang Arafah. Namun sayangnya, tidak semua orang mampu untuk pergi ke makkah. faktor ketidakmampuan yang paling berpengaruh adalah faktor ekonomi. Begitu banyak orang-orang yang rindu pada ka’bah harus menyimpan dalam-dalam rasa rindunya itu karena tidak punya cukup biaya untuk berangkat ke tanah suci. Lalu darimana asalnya suara-suara talbiyah yang begitu keras menggema disekeliling bumi? Siapakah mereka yang setiap tahunnya memenuhi lingkaran thawaf ka’bah di masjidilharam. Kebanyak mereka berasal dari kalangan berada yang punya modal finansial yang kuat. Kebanyakan peserta haji setiap tahunnya berasal dari umat muslim di negara-negara teluk yang tanahnya telah diberkahi Allah dengan minyak yang melimpah.
Jika kondisi makkah saat musim haji dijadikan tolok ukur, mungkin kita akan melihat bahwa umat islam adalah umat yang makmur. Kita akan melihat bahwa umat islam adalah umat yang berdaya. Namun apakah semua itu benar? benarkah umat muslim rata-rata punya basis finansial yang kuat? benarkah sebagian besar umat muslim adalah umat yang kaya? jawabannya Tidak! mereka yang kaya, yang setiap tahunnya mengisi masjidilharam adalah hanya segelintir umat muslim. Mereka datang secara rutin ke makkah setiap tahun untuk melaksanakan ibdaha haji. 80% peserta haji pernah menjadi peserta haji sebelumnya. hanya 20% saja yang baru pertama kali naik haji.
Apakah mereka yang terus mengulang hajinya setiap tahun itu dapat dibenarkan? saya rasa TIDAK! bagaimana mungkin mereka dapat pergi dengan wajah penuh senyum ke arafah karen hendak “menyapa” Allah sementara diluar makkah banyak umat islam yang masih sibuk mempertahankan diri dari pembantaian, sibuk berpeluh-peluh mencari penyumbat rasa lapar. Bagaimana mungkin mereka dapat tiba di mekkah dengan hati sumringah sementara di palestina umat muslim harus meregang nyawa. Dulu Yusuf qardhawi pernah mengatakan pada umat muslim dinegara teluk supaya semua dana yang biasanya dipakai untuk berngakta haji disumbangkan saja ke mujahidin bosnia. Tapi mereka tidak menghiraukan seruan tersebut. Mereka menyahut dengan mengatakan “Kami tidak bisa meninggalkan ibadah haji, ka’bah seolah-olah memanggil-manggil menyeru kami… Hati kami sudah terpaut pada hajar aswad disana”
Ada sebuah kisah yang menarik berkenaan dengan hal ini:
pada suatu masa ada seoarang muslim yang dalam dirinya sudah begitu bergeloran niat untuk pergi berhaji. Dia bekerja keras sekuat tenaga supaya dapat mengumpulkan uang untuk pergi berhaji. Dia terus bekerja dan bekerja tak kenal lelah. Sampai pada akhirnya beliau berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk pergi berhaji. Kemudian saat tiba musim haji, beliau segera menpersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya. Pada saat hari keberangkatannya, beliau keluar dari rumah dengan sangat siap untuk bergegas menyambut seruan haji. Sebelum berangkat, dia menyempatkan diri untuk berpamitan dengan tetangga yang tinggal disebelah rumahnya. Ternyata dirumah tetangganya itu dia dapati tetangganya itu sedang tergeletak lemah tak berdaya, tak bisa melakukan apa-apa karena lapar. Dia segera tahu bahwa tetangganya itu sudah berhari-hari tidak makan. Dia tahu betul tetangganya itu membutuhkan pengobatan yang biayanya sama dengan biayanya untuk pergi berhaji. Kemudian di berpikir panjang, apa yang harus dilakukannya? apakah dia akan meninggalkan tetangganya dalam keadaan lemah sehingga dengan begitu dia dapat tetap melanjutkan perjalanannya ke baitullah? ataukah dia harus membatalkan kepergiannya, dan memberikan semua uang yg telah dikumpulkannya itu untuk biaya perawatan tetangganya itu?
Setelah berpikir baik-baik, akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan kepergiannya ke makkah dan menggunakan semua uang hasil jerih payahnya untuk biaya perawatan tetangganya. Dia urungkan niatnya selama bertahun-tahun untuk pergi berhaji demi tetangganya.
Dilain tempat Allah bertanya pada malaikat penjaga makkah “Berapa jumlah orang yang melaksanakan haji tahun ini”. kemudian malaikat menjawab ” ada 800.000 orang ya Allah”. Lalu Allah berfirman “ketahuilah diantara 800.000 orang yang datang ke makkah tahun ini tidak ada satupun yang hajinya diterima.” Dan justru satu-satunya orang yang ‘hajinya’ diterima oleh Allah SWT adalah orang tadi yang membatalkan kepergiannya ke makkah karena ingin membantu tetanggnya yang sedang kesulitan.
Oleh karena itu, diserukan pada seluruh umat muslim yang sudah pernah pergi haji sebelumnya untuk tidak lagi menunaikan ibadah haji pada tahun2 berikutnya. lebih baik uang yang anda punya itu dipakai untuk memberangkatkan orang lain yang sudah menggebu-begu untuk berhaji. Atau lebih baik uang tersebut dipakai untuk memberi makan ratusan fakir miskin yang tidak tahu apakah hari ini dia bisa makan atau tidak.
Possibly Related posts:
There are 12 Responses to this post, want to join?
belum mabrur mungkin hajinya :D,,,jadinya pengen haji terus atau ingin merenung di sana
setuju sama toni..itu urusan mereka untuk pergi berkali-kali untuk haji.
belom mambrur salah satunya, trus emang kalo selagi kita bisa kesana dengan duit yang ada, why not?? ke haji ato umroh bagi sekali yang udah ngerasain itu pengen lagi balik ke sana, mal. justru kalo bisa, setiap kali lo ada libur, pengen kesana hanya untuk umroh..(ini khusus untuk orang yang bener2 buat ibadah bukan buat show off ngasih tau dia kelebihan duit loh)
duit dan nafsu manakah yang harus dipilih?? Keduanya sejalan, dan itulah islam, memberikan pilihan mana yang engkau mau,
gua kalau punya duit banyak satu kali haji udah cukup selebihnya zakat bro
Ada alasan khusus kenapa haji dinamakan haji.. bukan ziarah atau semacamnya…
Petunjuk:
1. buka kamus Arab dan cari kata-kata dengan akar kata ‘hajj’
2. coba buka cerita-cerita tentang Agus Salim, terutama yang berkaitan dengan apa yang dia lakukan saat pergi Haji. (salah satunya ada di buku ‘Road to Mecca’ tulisan Muhammad Asad — mualaf, keturunan Yahudi Austria, hidup sezaman Agus Salim)
3. cari beberapa pengalaman orang yang hidupnya berubah total setelah pergi haji.. misalnya pengalaman El-Hajj Malik El-Shabbazz (Malcolm X). Kalau kata wikipedia, “According to the Autobiography, on this trip Malcolm viewed Muslims of different races interacting as equals and came to believe that Islam could transcend racial problems.”
dan bukan sebuah kebetulan, Idul Adha bertepatan dengan Haji. Salah satu fungsi Qurban (secara sosial) adalah, mencegah kelaparan di saat musim haji. Adalah ironis bila tahun lalu (eh atau dua tahun lalu?) jamaah haji kita sampai kelaparan. Padahal salah satu leluhur Rasulullah, terkenal sebagai orang yang memecah roti untuk dibagikan kepada para jamaah haji.
Baru menyadari setelah buka-buka AlQuran lagi..
Ibadah Haji itu, salah satunya ada di 22:26-37.
Aku mengutip ayat 27-28
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (27) supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir(28)”.
ayat 29 adalah rukun yang kita kenal sebagai haji.. Berarti sebenarnya secara eksplisit menggunakan rezeki mereka untuk membantu mereka yang lapar adalah prasyarat untuk haji.
@toni: klo tujuannya cuma buat pamer2an, mah gak bakalan mabrur
@pipit: tapi tetep aja klo menurut gw yg paling prioritas adalah mentingin umat, bukan keinginan pribadi utk bisa ksono terus. klo kita ngebiayain orang lain pergi haji itu kita juga dapet pahala hajinya dia lohhh…
@ladokutu: setuju banget sama ladokutu, Haji cukup sekali, diresapi benar2. klo dapet rezeki terus dari Allah mending buat ngebrangkatin orang lain naik haji
@kunderemp: makasi ya nar, udah ngasi tambahan ulasan yang menarik diserta dalil quran pula. jadi lebih kuat pendapatnya
tuhan tidak melakukan ibadah haji. tapi saya yakin bahwa tuhan akan bangga pada umatnya yang selalu meneladani sifat-sifat tuhan.salah satunya menyantuni terlebih dahulu saudara-saudaranya yang kekurangan.dalam urutan skala prioritas adalah menantunu saudara terlebih dahulu.karena kerinduan suasana ketuhanan yang gampang dan lebih mengena. sertas lebih bermanfaat dalam urutan skala prioritas.
@dhamrwulan: bner banget mas dharmwulan
ya Allah kabulkanlah do’a ku untuk bisa memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuaku dengan cara memberangkatkan kedua orang tuaku haji dan mungkin hanya inilah yang akan menjadikan hidupku sanagat bahagia.aminnnnn
Leave A Reply Here