IT, Entrepreneurship, Web, Internet, Motivation, Inspiration
Jun 18 2009

Cari modal untuk bisnis di bidang teknologi informasi (2)

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya disini. Kali ini saya akan menceritakan apa-apa saja yang disampaikan oleh sang techno venture tersebut kepada saya dalam acara UI Young and Smart Entrepreneur beberapa waktu yang lalu. Nama lengkapnya adalah Elwin Andririanto. Beliau adalah seorang pemilik perusahaan pemodal ventura di bidang teknologi. Ya, sebuah Venture Capital berbasis teknologi. Sesuatu yang sangat langka di Indonesia.

Contoh bisnis di bidang IT yang telah dimodali dan dibantu oleh Mas Elwin ini adalah Batik Fraktal dan Mobee Indonesia. Batik Fraktal merupakan penemuan seorang mahasiswa ITB yang memungkinkan kita untuk memunculkan pola-pola batik dari berbagai macam corak (batik jawa, batik bali, ulos, batik cina dsb) secara otomatis melalui komputer. Sementara Mobee merupakan perusahaan pembuat produk web renderer untuk perangkat mobile.

Mas Elwin ini adalah investor yang berbeda dengan investor-investor kebanyakan yang ada di Indonesia. Tidak seperti kebanyakan investor Indonesia yang ingin segera memetik hasil, Mas Elwin tahu betul bahwa bisnis di bidang IT itu butuh waktu penanaman yang lama sebelum bisa memetik hasilnya. Ini karena mas Elwin dulunya pernah bekerja di sebuah perusahaan produsen chip di Amerika. Semasa bekerja disana beliau sudah mengenal betul bagaimana berlangsungnya skema IT entrepreneurship di Amerika. Sebuah skema yang memungkinkan lahirnya begitu banyak perusahaan-perusahaan besar di bidang IT seperti Google, Sun, Microsoft dan lain sebagainya.

Pada saat acara kemarin mas Elwin menceritakan panjang lebar skema alur dana modal dari berbagai sumber sehingga bisa terkumpul ke Venture Capital yang kemudian akan didatangi oleh para calon entrepreneur kreatif yang ingin mewujudkan ide kreatifnya menjadi sebuah bisnis. Skema itulah yang tidak terjadi di Indonesia. Skema yang memang tampaknya masih sangat sulit dicapai dalam waktu dekat. Saya sendiri belum sepenuhnya paham dengan skema yang dijelaskan mas Elwin. Mas Elwin menceritakan mulai dari suku bunga, investment banking, family fund dan istilah-istilah lainnya yang bagi saya udah cukup njlimet. Walhasil, mohon maaf saya gak bisa menceritakan secara detail persis apa yang beliau ceritakan saat itu :p

Eniwei, kalau teman-teman punya ide bisnis di bidang IT. Kalau teman-teman membuat sebuah penemuan baru dibidang IT dan ingin menjadikannya sebuah bisnis. Mungkin bisa menghubungi mas Elwin ini untuk mendapatkan bantuan pemodalan dan pembimbingan. Mohon maaf saya tidak bisa memberikan informasi kontak mas Elwin secara terbuka di blog ini. Kalau teman-teman memang tertarik, silahkan japri saya saja elwat email atau YM atau handphone atau lewat manapun lah terserah.

Sukses selalu

Jun 10 2009

Cari modal untuk bisnis di bidang teknologi informasi?

Dulu saya pernah membuat tulisan berjudul Membangun Silicon Valley Indonesia. Disana saya menyampaikan bahwa ada dua faktor yang diperlukan untuk memunculkan tempat yang se-produktif Silicon Valley, yaitu kreativitas dan entrepreneurship. Urusan kreativitas bisa dibilang sebenarnya sudah dimiliki oleh bangsa kita. Yang masih kurang adalah entrepreneurship alias kewirausahaan.

Faktor entrepreneurship ini biasanya terhambat oleh urusan modal. Sulit bagi pejuang-pejuang IT di Indonesia yang punya jiwa kreatif untuk bisa mengimplementasikan hasil karyanya menjadi sebuah bisnis yang akan mendatangkan uang untuk negara kita tercinta ini. Di Silicon Valley sana, tak terhitung banyaknya Venture Capital (semacam perusahaan pemodal sekaligus inkubator bisnis) yang bersedia menanggung resiko besar untuk para mahasiswa-mahasiswa Amerika yang ingin menjajal ide kreatifnya untuk dibisniskan.

Di Indonesia, sebenarnya sudah ada dan bahkan cukup banyak pihak-pihak yang bersedia memberikan modal untuk para pengusaha. Tapi sayangnya, sedikit yang mau atau mengerti skema investasi di bidang IT. Berbisnis di bidang teknologi informasi ini butuh waktu yang lama sebelum akhirnya bisa memetik hasilnya. Lihat saja Sequioa Capital, salah satu Venture Capital pertama Google, yang bersedia memberikan sekian banyak modal kepada Google tanpa tahu persis bagaimana nantinya bisa mengkomersialkan Google. Waktu itu Google sama sekali belum berbentuk perusahaan yang punya keuntungan besar. Pada masa-masa awalnya, Google hanyalah sebuah halaman putih di rimba belantara web yang dilengkapi dengan sebuah textbox plus tombol bertuliskan search. Tidak lebih dari itu. Tak ada uang yang mengalir, tak ada prospek bisnis yang menjanjikan. Tapi kenapa Sequioa Capital tetap nekad memberikan dana untuk Google? Karena mereka tahu, besarnya prospek yang dimiliki Google. Mereka tahu bahwa akan banyak pengguna internet yang menggunakan Google. Jumlah pengguna yang massif inilah yang kemudian dilihat sebagai prospek. Bisa dibilang, prinsip para pemodal-pemodal IT di amerika itu: “Selama prospek penggunanya besar, Danai saja dulu, masalah uang pikirin nanti…“.

Nah… kebetulan saya (pada akhirnya) menemukan Techno Venture Capital aseli Indonesia. Pada saat acara UI Young and Smart Entrepreneur kemarin saya bertemu dengan salah satu (atau mungkin satu-satunya) pemilik Techno Venture Capital di Indonesia. Beliau mengerti betul bagaimana skema wirausaha IT di Amerika karena memang dulu beliau pernah bekerja disana. Dengan begitu, beliau tidak seperti investor-investor lain di Indonesia yang ingin segera memetik hasil. Beliau paham bahwa bisnis di bidang IT itu membutuhkan waktu yang lama untuk memetik hasilnya. Pada postingan selanjutnya nanti saya akan mencoba menceritakan lebih detail tentang apa yang beliau ceritakan ke saya pada acara tersebut.

Dijamin maknyuss ;-)

May 28 2009

Resep Sukses dari Pak Chairul Tandjung

Melanjutkan postingan saya yang berjudul Inspirasi Entrepreneurship dari Pak Chairul Tandjung. Saya ingin menyampaikan resep sukses yang disampaikan pak Chairul Tandjung saat menjadi pengisi seminar pembukaan UI Smart and Young Entrepreneur. Pada seminar itu, pak chairul tandjung memberikan 4 resep suksesnya. Ini dia:

Mulai dengan niat yang baik

Kalau kita ingin berbisnis, mulailah dengan niat yang baik. Niatkanlah usaha yang kita jalankan itu untuk memberi manfaat paling tidak untuk diri kita sendiri. Kalau sudah begitu berilah manfaat untuk keluarga kita. Dan yang jauh lebih baik lagi, niatkanlah bisnis kita untuk memberi manfaat pada orang lain.

Kerja keras

Pak Chairul tandjung bilang bahwa dulu waktu masih bujangan, beliau kerja 18 jam/hari. Wow… 8-O Saya cukup kaget mendengar hal itu. Itu berarti waktu istirahat pak Chairul dalam sehari hanya 3 jam. Setelah berkeluarga, barulah beliau mengurangi jam kerjanya menjadi 14 jam/hari (Tetep aja ya lebih banyak dari kebanyakan kita). Itu menunjukkan betapa kerasnya usaha yang ditempuh pak Chairul menuju kesuksesan. Memang begitulah jalan kesuksesan. Jalan itu membutuhkan pengorbanan yang besar dari kita.

Kerja cerdas

Kerja keras saja tentu tidak cukup. Coba lihat tukang gorengan atau tukang sayur atau tukang roti atau siapapun yang menjalankan usahanya sendiri di dekat rumah kita. Banyak pengusaha-pengusaha itu yang tidak pernah mengalami kemajuan dalam usahanya. Usahanya mandek di satu tempat, tidak pernah berkembang. Pengusaha-pengusaha informal itu biasanya adalah seorang pekerja keras, tapi mereka belum bekerja cerdas. Akhirnya usahany tidak berkembang. Pak Chairul Tandjung bilang bahwa bekerja keras saja tidak cukup. Kerja keras itu harus diiringi dengan kerja cerdas. Pak Chairul Tandjung memberikan contoh usahanya bekerja cerdas dengan salah satu usahanya sebagai penjual es krim. Dia membeli perusahaan es krim bernama Robin Baskin (Kalo gak salah). Usaha es krim itu sebelumnya berupa restoran khusus es krim. Positioning sebagai restoran es krim itu dinilai Pak Chairul sebagai strategi yang salah, karena duduk di restoran hanya untuk makan es krim bukanlah kultur orang Indonesia. Lalu Pak Chairul merubah total strategi penjualannya. Bukan lagi restoran melainkan kedai kecil. Dia menaruh kedai kecil itu di mal. Dia tidak menaruh 1 kedai untuk setiap mal melainkan 7 sampai 8 kedai. Kalau seseorang datang melewati salah satu kedai dan dia merasa tergiur dengan es krim itu, ada kemungkinan dia menunda dulu untuk membelinya. “Nanti ah… jalan-jalan dulu“. Nah nanti ketika sambil jalan-jalan ternyata ketemu lagi dengan kedai tersebut. Harapannya orang yang tadinya memang sudah tergiur akhirnya akan membeli. Itulah strategi dagang yang cerdas.

Hasil serahkan sama Yang Di Atas

Inilah resep terakhir yang diberikan Pak Chairul. Apabila kita sudah mulai dengan niat yang baik, lalu kita sudah bekerja sedemikian keras dan tak lupa juga bekerja cerdas, namun ternyata hasilnya belum juga memuaskan. Maka itulah takdir yang diberikan oleh Allah. Tak perlu disesali, tak perlu kecewa. Apapun hasil yang diberikan oleh Allah, terima saja dan syukuri. Yakini saja bahwa memang itulah yang terbaik untuk kita.

Okeh… segitu aja, semoga bermanfaat.

May 25 2009

Indonesia Masa Depan Adalah Kegemilangan

Saya sangat tertegun membaca status salah satu friend saya di facebook. Friend yang satu ini adalah friend yang sangat istimewa. Dia adalah Shofwan Al-Banna Choiruzzad. Dia adalah senior saya di UI. Salah satu pentolan aktivis mahasiswa di UI ketika masih di kampus dulu. Dia adalah manusia dengan segudang prestasi. Prestasi mendunia. Salah satunya menjadi pemenang The 39th St Gallen Symposium.

“Mari percaya bahwa Indonesia masa depan adalah kisah tentang kegemilangan!” Shofwan Al-Banna Choiruzzad

Itu merupakan potongan dari status facebook-nya. Saat membaca kalimat itu saya tergetar. Sebuah kalimat penuh optimisme akan kejayaan Indonesia di masa depan. Sesuatu yang juga sudah lama saya impi-impikan. Sebuah pemikiran yang harusnya dipampatkan ke setiap sel otak seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita yakini dengan segenap jiwa kita bahwa negeri kita Indonesia tak akan selamanya terpuruk. Mari percaya bahwa kelak akan ada masanya saat Indonesia menjadi negara yang berdaya, bahkan adidaya.Negara pengayom dunia.

Jangan lagi ada pemikiran-pemikiran pesimis akan bangsa kita sendiri. Jangan lagi pernah mencemooh bangsa sendiri. “Orang indonesia mah … (some negative word)”, “Orang kita kan biasanya … (some negative word)”. Buang jauh semua kalimat-kalimat seperti itu yang selama ini banyak beredar di kalangan bangsa kita sendiri. Seolah kita mencaci maki diri kita sendiri.

Yakinlah bahwa suatu saat nanti Indonesia akan maju. Isi segenap benak kita dengan mimpi akan Indonesia yang madani. Penuhi pikiran kita dengan bayangan kondisi saat Nusantara berjaya. Gerakkan seluruh raga kita demi mencapai masa depan Indonesia yang penuh kegemilangan.

May 23 2009

usaha tanpa modal uang

Banyak orang yang ingin memulai usaha namun terhambat oleh modal uang. Mereka merasa tidak punya cukup modal (uang) untuk memulai usahanya. Padahal, uang bukanlah modal terpenting dalam berwirausaha. Banyak orang yang bisa memulai usaha tanpa modal uang sama sekali. Mereka mengandalkan kredibilitas dan integritas diri mereka sebagai modal utama mereka dalam berbisnis. Lalu bagaimana caranya bisa berbisnis tanpa modal uang? Berikut diantaranya:

Jadi penyalur

Kita bisa menjadi supplier produk tertentu kepada pihak tertentu tanpa modal uang. Dalam hal ini kita menjadi penengah antara pihak yang membutuhkan dengan pihak yang memiliki barang. Misal, pada sebuah tempat fotokopi, kita tahu mereka pasti membutuhkan supply kertas. Kebetulan kita tahu atau mengenal atau memiliki jaringan ke produsen kertas yang murah. Pada saat itulah kita bisa memanfaatkan posisi ini. Pertama, sampaikan kepada sang produsen bahwa kita berniat menjadi penyalur kertasnya. Minta sample kertas darinya. Kemudian datangi tempat fotokopi tadi, sodorkan kertas tersebut dan berikan penawaran sebaik mungkin. Buat mereka tertarik. Jika mereka tertarik, saat itu kita sudah bisa memulai usaha kita. Jadilah penengah dan ambil margin keuntungan dari setiap transaksi. Dan kita sudah memulai bisnis tanpa modal uang.Cara ini merupakan cara yang ditempuh Aristotle Onassis dalam mengawali bisnisnya.

Konsinyasi

Jika kita punya tempat, misalnya di rumah. Kita bisa memanfaatkan tempat tersebut untuk berbisnis konsinyasi. Ini adalah cara yang ditempuh kakak saya di rumah. Kebetulan rumah saya berada di pinggir jalan dan dekat dengan pasar Cipadu pusat tekstil Asia Tenggara (lebay :p ). Kakak saya berjualan bantal dan bed cover di rumah tanpa modal uang sama sekali. Dia hanya menawarkan kepada produsen bed cover yang dia kenal untuk menaruh barangnya di toko saya. Kakak saya itu hanya membantu menjualkan produk orang lain dan itu dia mulai tanpa modal uang. Saat ini usahanya iu bisa dibilang sudah cukup berkembang. Dengan sarana multiply di fia05.multiply.com, banyak orang dari luar jawa bahkan luar negeri yang memesan bantal dan/atau bed cover darinya.

Cari investor

Ini merupakan cara yang paling umum. Ini juga cara yang ditempuh oleh sang manusia terhebat sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW. Kala itu Nabi Muhammad memulai bisnisnya tanpa modal uang. Beliau hanya mengelola dana dari investor yang tidak lain tidak bukan adalah Siti Khadijah RA. Dengan integritas super tinggi, akhirnya beliau berhasil mengelola bisnisnya dengan gemilang dan mampu memutar dana investasi yang diberikan padanya berkali-kali lipat.

Patungan

Cara ini merupakan cara yang saya tempuh dulu waktu membangun perusahaan saya, Univind Web Development Company. Waktu memulai usaha saya itu, saya hampir tidak mengeluarkan uang sama sekali. Waktu itu malah justru saya baru kehilangan uang punya bapak saya yang harusnya dipakai untuk bayar kuliah. Kala itu, saya mengajak beberapa teman yang bisa diajak berbisnis. Akhirnya saya mendapatkan 5 manusia-manusia super yang hingga sekarang tetap menjadi rekan bisnis sekaligus sahabat-sahabat terdekat saya. Mereka adalah Yans, EkoIlman, Ikhlas dan Sipur. Untuk memulai bisnis itu, kami memerlukan dana untuk pembuatan kartu nama dan website. Untuk itu kami patungan masing-masing. Dan karena waktu itu saya belum punya uang, saya patungannya ngutang :p. Dan saya berhasil memulai bisnis tanpa modal uang.

Paling tidak itu empat cara berbisnis tanpa modal uang yang kepikiran di otak saya. Sebenarnya ada banyak lagi caranya. Dulu saya pernah ikut seminar bisnis dan disana disebutkan banyak sekali cara memulai usaha tanpa modal uang. Mungkin ada di antara Anda yang ingin menambahkan, sok atuh dipersilahkan ditulis di bagian komentar.

May 19 2009

Inspirasi Entrepreneurship dari Pak Chairul Tandjung

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar entrepreneur yang sangat keren. Seminar itu merupakan acara pembuka dari rangkaian program UI young and smart entrepreneur. Disana, saya mendapatkan banyak sekali inspirasi dari pembicara-pembicaranya yang hebat-hebat. Saya lupa daftar seluruh pembicara-pembicaranya. Catatannya ketinggalan di rumah. Jadi sekarang saya mau sedikit membagi apa yang saya dapatkan dari seminar itu. Pada postingan kali ini saya mau berbagi sharing yang saya dapat dari Pak Chairul Tandjung pemilik Para Group yang punya TransTV, Trans7, Bank Mega dan lain lain.

Pak Chairul Tandjung, Beliau adalah satu-satunya pengusaha yang pernah saya ikuti seminarnya yang sudah membangun bisnisnya mulai dari bisnis mikro sampai bisa menjadi level korporat. Pengusaha-pengusaha lain yang sering mengisi seminar biasanya belum sampai tingkatan korporat (Cuma tetep aja udah sukses). Satu hal yang tidak saya sangka-sangka adalah bahwa Pak Chairul Tandjung ini sama sekali tidak punya background bisnis. Dia kuliah di jurusan yang jauh sekali dari yang namanya bisnis-bisnisan. Beliau kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Pak Chairul Tandjung memulai kiprah usahanya sejak pertama kuliah. Waktu itu, beliau cuma bisnis fotokopian aja. Beliau bilang bahwa beliau dulu adalah ketua angkatan. Suatu saat di suatu mata kuliah di jurusannya, ada yang mewajibkan mahasiswa untuk memiliki diklat yang sudah diberikan dosen. Mahasiswa harus mem-fotokopinya sendiri. Kala itu (tahun 81-an kalau tidak salah), harga fotokopian di sekitar FKG UI adalah 500 rupiah. Kemudian beliau bilang bahwa beliau kenal seorang teman yang punya usaha percetakan dan mau memberi jasa fotokopi itu hanya dengan 150 rupiah. Walhasil, Pak Chairul berpikir ini adalah peluang bisnis. Maka, dia tawarkan jasa fotokopi itu ke teman-temannya seharga 300 rupiah. Tentu saja semua temannya tertarik, akhirnya 100 orang temannya itu menggunakan jasa fotokopinya. Dan itulah 15.000 (profit Rp. 150 x 100 orang) pertama yang dia dapatkan dari hasil usahanya sendiri. Pak Chairul bahwa uang pertama itu sangat penting, jauh lebih penting daripada 1 milyar kedua. Karena apa? karena uang pertama yang kita dapatkan dari hasil usaha kita itu akan menumbuhkan kepercayaan diri yang besar pada kita untuk melanjutkan bisnis kita.

Usahanya itu terus berlanjut sampai dia bisa mengancam melobi pihak dekanat kampusnya supaya bisa memberikan ruang kosong dibawah tangga di kampusnya sebagai tempat untuknya membuka usaha fotokopi. Jadilah pak chairul tandjung itu sebagai orang pertama yang punya usaha fotokopi di bawah tangga di kampus UI. Kini, sudah banyak tempat fotokopi semacam itu di UI. Dari sini kita bisa melihat bagaimana seharusnya kita senantiasa mampu mencari titik-titik peluang usaha dan segera memanfaatkannya.

Pada tahun ke empat beliau kuliah, akhirnya beliau bisa punya satu toko alat-alat kedokteran sendiri di daerah Senen. Namun, toko tersebut gagal merugi karena tempatnya itu sering jadi markas para aktivis mahasiswa disana. Beliau bilang teman-teman sesama aktivisnya itu gak tau diri juga (dengan nada bencana tentunya ;-) ) saat numpang di toko miliknya sampai-sampai toko itu bankrut dan harus ditutup. Pak Chairul menceritakan itu dengan sangat santai. Cara beliau bercerita menunjukkan pada kita bahwa kegagalan adalah hal yang sangat biasa dalam berwirausaha. Tak perlulah berlama-lama frustasi akan kegagalan-kegagalan itu. Pak Chairul juga tak lantas menyalahkan teman-temannya atas kebankrutan usahanya. Beliau hanya terus bangkit dan bergerak lagi.

Hmm… sebenarnya masih banyak yang ingin saya share dari apa yang disampaikan pak Chairul Tandjung. Tapi sepertinya postingan ini sudah kepanjangan. Jadi tunggu saja lanjutannya pada postingan selanjutnya ya… ;-)

May 14 2009

Tipe tulisan blog berkualitas

Beberapa waktu yang lalu saya ikut seminar yang salah satu pengisinya adalah salah satu pentolan blogger Indonesia, mas Budi Putra. Pada seminar tersebut mas Budi bercerita panjang lebar tentang blogging. Kenapa blogging itu baik? Bagaimana mendapatkan uang lewat blogging? Bagaimana ber-blogging ria secara bermanfaat dan lain sebagainya. Nah… pada postingan kali ini saya ingin membagi salah satu poinnya. Yaitu bagaimana membuat blog dengan tulisan yang berkualitas?

Dalam pemaparannya, mas Budi cuma menyampaikan 3 poin tipe tulisan blog berkualitas. Ketiga poin tersebut adalah:

Original

Postingan blog berkualitas hendaknya original alias self made alias ditulis dengan tangan sendiri (ya iyalah, masa sama tangan orang lain :) ). Maksudnya disini adalah tulisan yang dibuat di blog kita itu bukan sekedar tulisan copy paste dari blog atau situs lain. Blog juga hasil karya cipta. Kalau kita meng-copy paste berarti kita juga bisa termasuk melanggar hak cipta. Selain itu, yang dimaksud original disini juga termasuk tidak me-rewrite tulisan orang lain dengan penulisan yang agak dibeda-bedakan supaya tidak terlihat copas-nya. Ini juga tidak original. Contoh lainnya dari tulisan yang tidak original adalah men-translate mentah sebuah tulisan pada situs atau blog berbahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia tanpa izin yang punya tulisan. Ini juga termasuk tidak original. So, kalau mau buat tulisan di blog. Buatlah tulisan yang original benar-benar dari hasil daya pikir sendiri. Menggunakan referensi tentu tetap boleh. Asal jangan di kopi mentah begitu saja.

Bermanfaat

Ini dia yang paling saya suka. Saya suka kata-kata “bermanfaat bagi orang lain”. Di luar sana banyak sekali blog-blog yang bertebaran dan hanya diisi dengan curhat-curhat belaka. Well, saya sih tidak menyalahkan kalau blognya mau diisi apapun. Tapi akan jauh lebih baik kalau kita mengisinya dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat. kata mas Budi:

“Ngapain ngeblog kalau tulisannya cuma curhat2an doan, gak ada gunanya, paling pacar doank yang buka”

Seperti yang saya tulis pada postingan saya sebelumnya juga bahwa ngeblog itu adalah kegiatan yang gak guna dan buang buang waktu kecuali… (baca disini)

Well Written

(yang bener Well Written apa Well Wrote ya?) Dulu, saya kalau ngeblog itu asal tulis aja. Yang penting tulis aja yang banyak. Tidak usah terlalu memikirkan desain, tampilan, typo-typo tulisan dan lain sebagainya. Walhasil, blog saya itu dari sisi tulisan memang banyak tapi dari sisi kualitasnya bisa di bilang rendah. Kalau dihitung jumlah typo pada tulisan-tulisan lama saya itu. Wuiiihh… mungkin ratusan… lebih… (hmm… aroma-aroma iklan nih… :) ) Dan setelah diberi tahu seperti itu akhirnya saya mencoba tobat. Barulah setelah itu saya mencoba untuk ngeblog secara lebih rapih. Saya mulai mencoba ngeblog dengan tulisan yang baik, terstruktur, tidak acak-acakan, pokoknya rapih deh. Dengan begitu para pembaca blog kita juga bisa membacanya dengan nyaman.

Oke, sekian saja sharing dari saya. Semoga kita bisa terus membuat blog-blog berkualitas yang bermanfaat buat orang lain.

Semoga bermanfaat.

May 13 2009

Membangun Silicon Valley Indonesia

Apa yang sebenarnya terjadi di Silicon Valley? Kenapa tempat tersebut bisa menjadi pusat inovasi teknologi tinggi dunia? Kenapa bisa tumbuh begitu banyak perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia dari lembah tersebut? Kesuksesan wilayah tersebut didorong oleh dua faktor utama. Yaitu: kreatifitas inovasi dan entrepreneurship. Lalu bisakah kita membangun modal seperti itu di Indonesia? Mari ditelisik satu per satu.

Faktor pertama adalah kreatifitas dalam berinovasi. Di Lembah silikon tersebut terdapat sebuah universitas bernama Stanford University yang merupakan salah satu universitas terbesar didunia. Dari universitas tersebut banyak lahir perusahaan-perusahaan IT kelas dunia yang mampu merajai dunia IT. Mulai dari SUN Microsystem sampai dengan yang paling gress yaitu Google. Di Stanford, banyak sekali riset-riset yang merangsang inovasi teknologi tinggi. Kampus tersebut sangat produktif dalam menghasilkan produk-produk IT. Mahasiswa Stanford bisa dengan mudah menyalurkan berbagai ide inovatifnya untuk diimplementasikan secara nyata.

Faktor kedua adalah entreprenurship. Tanpa faktor ini, berbagai macam ide inovasi yang keluar dari elemen kampus tidak akan bisa berkembang. Tanpa faktor ini, semua kreasi tersebut hanya akan menjadi tumpukan laporan-laporan riset yang tidak terimplementasikan ke publik. Di lembah ini, terdapat begitu banyak capital venture dan angel investor yang berani mengeluarkan sejumlah besar uang uang untuk membiayai riset kreatif dari orang-orang di Stanford. Salah satu venture capital yang sangat terkenal adalah Sequoia Capital. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang telah membidani tumbuh kembangnya perusahaan-perusahaan IT seperti Yahoo, Google, Apple dsb (list lebih lengkap disini). Para angel investor di silicon valley bersedia mengambil resiko bersama sang kreator inovasi. Mereka bersedia membukakan peluang yang sangat besar untuk orang-orang yang punya ide inovatif. Mereka akan terus membantu menggiring perusahaan didikannya supaya bisa maju melesat dengan cepat. Dengan dukungan dari para venture capital inilah, IT entrepreneur di Silicon Valley dapat berkembang dengan mudah. Para inventor yang selama ini berkutat dikampus bisa melangkah sedikit keluar wilayah kampus untuk mencari dana, mendapat dukungan dan mengimplementasikan idenya.

Jika kita membandingkan kondisi tersebut dengan kondisi Indonesia, maka kita bisa menganalisis bagaimana sebenarnya langkah yang tepat untuk membuat model silicon valley di Indonesia. Menurut saya, di Indonesia, faktor pertama yaitu kreatifitas inovasi sebenarnya sudah dimiliki. Saya sangat yakin bahwa sebenarnya SDM IT di Indonesia itu mempunyai kualitas yang sangat tinggi (coba baca ini: harry.sufehmi.com – hacker Indonesia). Namun sayangnya, potensi besar dari SDM IT di Indonesia itu tidak terberdayakan sehingga banyak SDM IT Indonesia yang salah jalur. Ada yang memanfaatkan kepintarannya melalui jalur hitam (cracking, fraud dsb) dan ada juga yang akhirnya lebih tertarik untuk bekerja keluar negeri dan menyerahkan kecerdasan yang dimilikinya untuk perusahaan-perusahaan IT yang sudah besar seperti Microsoft, Oracle, Sun dsb. Hacker-hacker di Indonesia bisa dibilang termasuk hacker berkualitas.  Disamping itu, banyak pula orang Indonesia yang bekerja di Silicon Valley. Belum lagi kalau saya melihat kondisi di kampus saya, fasilkom UI. Beberapa waktu yang lalu, mahasiswa tingkat pertama di kampus saya diberi tugas mata kuliah DPBO (Dasar Pemrograman berorientasi objek) untuk membuat game. Mereka diberi kebebasan untuk membuat game apapun. Dan hasilnya terlihat sangat mengesankan. Hasil tugas mereka bisa dibilang outstanding. Itu membuktikan bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi yang sangat besar. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Asal potensi tersebut bisa diarahkan dengan baik, maka saya yakin IT di Indonesia dapat berkembang dengan sangat pesat.

Lalu bagaimana dengan kondisi entrepreneurship di Indonesia. Inilah yang saya lihat masih kurang berkembang. Sulit sekali bagi mereka yang punya ide inovatif untuk mendapatkan dana untuk risetnya. Kalaupun riset sudah dilakukan dan sudah ada hasil outputnya, biasanya tetap hanya berkutat dikampus. Hasil-hasil riset tersebut terpendam dan tak bisa berkembang karena tidak adanya pihak yang bersedia memberdayakan hasil riset tersebut untuk diimplementasikan di khalayak publik. Contoh konkrit dari kondisi ini adalah hasil riset lab JST (Jaringan Saraf Tiruan) di kampus saya. Yang saya tahu, lab riset tersebut sangat produktif, menghasilkan banyak produk-produk teknologi tinggi. Lab tersebut merupakan salah satu rujukan seluruh dunia untuk masalah neural network. Namun sayangnya hasil riset tersebut selama ini masih hanya berkutat dalam lingkup kampus. Seandainya ada pihak yang mau mendanai implementasi massifnya, pasti hasil riset tersebut akan lebih terasa manfaatnya.

Upaya untuk membangun model silicon valley di Indonesia sebenarnya sudah banyak, contohnya adalah: Bandung High Tech Valley, Bogor Cybertech Valley, Multimedia Infocom Resource di Yogyakarta dan Malang Information Techno Farm. Diantara 4 konsentrasi tersebut, mungkin yang paling serius digarap adalah BHTV (bandung High Tech Valley) yang digawangi oleh mas Budi Rahadjo. Mas Budi berpikir bahwa Bandung merupakan tempat paling kondusif untuk membangun model Silicon Valley Indonesia. Beliau berpikir seperti itu karena di Bandung sudah ada institusi riset seperti ITB, Unpad dsb yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi-inovasi kreatif layaknya Stanford University di Silicon Valley. Namun, saat ini proyek BHTV tersebut belum dapat berkembang karena kurangnya faktor yang kedua, faktor entrepreneurship. Kita masih sulit untuk menemukan capital venture yang mau membimbing para inovator dari kampus supaya produk inovatifnya dapat berkembang. Kita masih sulit menemukan angel investor yang berani mengambil resiko tinggi untuk membiayai ide yang belum tentu bisa sukses.

Faktor Entrepreneurship inilah yang harus kita dorong terus. Saya bersama teman-teman dari MaestroMuda juga sedang dan akan terus berusaha untuk menumbuhsuburkan iklim entrepreneurship di Indonesia. Semoga Indonesia bisa makin maju kedepannya.

May 10 2009

Usaha modal dengkul adalah MITOS!

Saat ini sedang ada semacam acara kontes sekaligus pelatihan entrepreneurship yang diadakan oleh Universitas Indonesia. Saya termasuk salah satu pesertanya. Acara itu diberi nama: UI Young and Smart Entrepreneur. Sampai sini masih belum ada masalah. Slogan acara ini adalah: Peluang wirausaha modal dengkul. Nah… Ini dia yang bermasalah. Slogan itu terlalu lebay :p

Kalimat dengan rangkaian kata-kata seperti ini memang banyak sekali meliputi buku-buku, seminar, website atau apapun itu yang berkaitan dengan entrepreneurship. Kalimat-kalimat bombastis bin fantastis itu dengan jumlahnya yang banyak dan beredar dimana-mana telah berhasil menutupi hakikat sebenarnya dari jalan entrepreneurship. Banyak yang akhirnya terpesona oleh semboyan-semboyan kulit tersebut yang memang sengaja dibuat cantik dan menawan. Akhirnya mereka terjebak dengan cara-cara bisnis yang sembrono dan tidak benar-benar terarah.

Melalui tulisan ini ingin saya tegaskan bahwa di dunia ini tidak pernah ada satupun bisnis yang hanya bermodalkan DENGKUL. Dengkul disini tentu saja bukan dalam artian sebenarnya. Gak mungkin juga kan cuma pake dengkul bisa bisnis :p. Kalimat itu menunjukkan seolah-olah bisnis itu tidak membutuhkan modal apapun sampai-sampai dengkul sekalipun bisa dijadikan modal.

Kenyataannya, sama sekali tidak begitu! Berbisnis adalah jalan yang penuh halangan dan rintangan. Ibaratnya Sun Go Kong yang lagi mencari kitab suci di barat :p. Untuk terjun sebagai pengusaha, seseorang harus memiliki banyak MODAL. Namun, pengertian modal disini harus diubah. Banyak orang yang berpikir bahwa modal itu berarti UANG. Pemikiran seperti SALAH BESAR. Modal terbesar para pengusaha adalah KREDIBILITAS dan INTEGRITAS pribadinya. Mereka mengerahkan segenap potensi yang mereka miliki untuk mulai menjalankan bisnis. Dan tentu saja tidak hanya bermodalkan dengkul.

Jadi, buang jauh pemikiran bahwa usaha bisa dilakukan dengan modal dengkul. Jangan mudah percaya dengan ribuan slogan-slogan cantik yang menghiasi berbagai macam momen dan event-event entrepreneurship. Sadari betul-betul bahwa bisnis membutuhkan modal yang besar, dan modal itu bukan uang, melainkan Integritas dan kredibilitas diri. Untuk itu, bangunlah integritas dan kredibilitas diri dari sekarang. Berperilakulah dengan akhlak yang baik. Pada saat itu, barulah kita bisa menjadi entrepreneur yang Insya Allah sukses. Amiiin :)

Sekian saja. Semoga bermanfaat.

May 06 2009

Haruskah mahasiswa IT jago pemrograman?

Di kalangan mahasiswa IT, isitlah jago pemrograman biasa dikatakan dengan frase yang lebih gampang disebut, yaitu jago ngoding. Apa itu ngoding? Ngoding itu bahasa keren dari nge-code. Tentu saja yang dimaksud disini adalah kode pemrograman. Itu sedikit penjelasan istilah, sekarang mari masuk ke topik intinya. Haruskah mahasiswa IT jago ngoding?

Dalam kurikulum standar bidang IT yanng dibuat oleh IEEE memang dikatakan bahwa kemampuan melakukan programming alias pemrograman alias nge-code alias ngoding itu termasuk kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua mahasiswa yang jurusan IT. Tak peduli apapun jurusan spesifiknya di bidang IT. Apakah dia berada jalur sistem informasi (salah satu jurusan di bidang IT yang lebih ke arah sosial), atau jurusan komputasional (lebih ke arah matematika saintifik) atau yang mengambil jurusan hardware, apalagi yang memang mengambil jurusan teknologi perangkat lunak. Semuanya digariskan untuk bisa menguasai pemrograman.

Lalu bagaimana kenyataan yang terjadi? Selama 3,5 tahun belakangan saya kuliah di jurusan IT di fasilkom UI tercinta ini saya menemukan tidak semua mahasiswa IT bisa ngoding. Bahkan seorang lulusan fakultas ilmu komputer UI sekalipun ada yang tidak berani mengambil sebuah proyek PHP kecil-kecilan hanya karena dia merasa tidak mampu ngoding. Banyak teman-teman saya di kampus yang sebenarnya benci ngoding. Tapi, seolah mereka terjebak oleh nasib mereka karena sudah terlanjur bercokol di jurusan ini. Akhirnya mereka, dengan setengah hati, mencoba belajar menjadi kodinger alias programmer yang baik. Namun, ada juga yang tak mau mengalah pada nasib mereka. Ada yang tetap bersikeras tak mau mengorbankan ketidaksukaan mereka pada baris-baris kode dengan tetap menjadi programmer setengah hati (yang satu ini termasuk saya :mrgreen: ). Golongan orang-orang seperti mereka ini pada akhirnya tersebar pada berbagai lingkup kerja lainnya. Ada yang menjadi konsultan, ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi desainer dan lain sebagainya. Dan mereka tetap dapat hidup bahagia tanpa harus dihantui oleh bayang-bayang baris kode pemrograman :)

Lalu, apakah itu berarti mahasiswa IT tidak mesti jago ngoding? tidak juga! Inilah pendapat saya. Seorang mahasiswa IT yang baik paling tidak harus memahami secara penuh KONSEP-KONSEP dasar pemrograman. Ingat, saya menekankan bahwa disini saya katakan KONSEP dan bukan bahasa pemrogramannya itu sendiri. Apa sih maksudnya konsep, contoh konsep itu misalnya konsep fungsi, loop, framework, OO, class/object, inheritance, declarative language, modular programming, kompilasi bahasa dan lain sebagainya. Itulah yang harus dipahami betul oleh seorang mahasiswa IT. Dengan bermodalkan pemahaman konsep yang mumpuni itu maka kita akan bisa dengan mudah mempelajari bahasa apapun: C, Java, C#, PHP, ASP, JSP, HTML, Javascript, Ajax, Pascal, Fortran, Assembly dsb.

Itulah alasan kenapa seharusnya kampus-kampus IT sebaiknya jangan mengajarkan satu bahasa tertentu pada mahasiswanya. Kalau begitu, nanti mereka akan bingung ketika harus berhadapan dengan bahasa lain. Saya sangat miris dengan kampus yang masih saja mengajarkan BAHASA Pascal, sementara tidak memberikan asupan KONSEP sama sekali. Kasihan sekali mahasiswa di kampus itu, sudah tidak mendapatkan asupan konsep, mereka juga hanya diajari bahasa JADUL yang sudah jarang dipakai lagi sekarang, Pascal.

Seharusnya kampus-kampus IT di seluruh Indonesia, baik yang kecil maupun yang besar. Lebih menitikberatkan pendidikannya pada konsep. Sehingga dewngan begitu, mahasiswanya akan lebih lincah dan lihai dalam menghadapi dunia kerja IT yang kejam ini :p Mereka bisa dengan percaya diri mengambil proyek berbahasa apapun. Dengan modal pemaahaman konsep yang kuat maka learning time mereka untuk satu bahasa baru bisa lebih cepat.

So, tenang saja, jadi mahasiswa IT gak harus jago ngoding koq. TAPI HARUS NGERTI KONSEPNYA!
OK, sekian saja, semoga bermanfaat :)


↑ Back to top